Di Kampung Beledug, Pernah Terdengar Ledakan dari Dalam Bumi

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Peta daerah Cintapada dan Maja tahun 1914-1916. (Sumber: Peta koleksi KITLV)
Peta daerah Cintapada dan Maja tahun 1914-1916. (Sumber: Peta koleksi KITLV)

Terdengar suara ledakan yang datang dari dalam bumi. Tidak setiap bulan, bahkan tidak setiap tahun terdengar ledakan atau bunyi ngabeledug. Namun, datangnya suara ngabeledug itu selang waktunya tidak tetap. Para pinisepuh di Blok Calingcing, Desa Sukasari Kidul, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, pernah mendengar tuturan dari orangtuanya, dari kakek-neneknya, bahwa di kampungnya pernah terdengar suara ledakan yang datang dalam dari dalam bumi. Mereka sudah lama tidak mendengar lagi suara beledug itu. Bunyi ngabeledug yang terjadi di kampungnya itulah yang mengispirasi penduduk zaman baheula yang mengawali tinggal di Desa Sukasari Kidul untuk menamai tempat mereka bermukim itu Dusun Beledug.  

Dalam bahasa Sunda (RA Danadibrata, 2015), lema beledug dapat berarti suara guludug atau petir di langit, atau suara letusan di kejauhan. Nama geografis yang terkait peristiwa meteorologis, seperti suara petir yang menggelegar, umumnya dinamai Gumuruh, bukan Beledug. Jadi, sangat mungkin, nama geografis Dusun Beledug terinspirasi oleh peristiwa yang berulang terdengarnya suara ngabeledug, suara ledakan di kejauhan. Ketika suara ngabeledug itu terdengar, tidak sedang terjadi letusan Gunung Cereme, yang jaraknya sekitar 10 km. Itulah yang menyebabkan para sepuh masa lalu yang bermukim di sana mengambil keyakinan, bahwa suara itu datang dari dalam bumi. 

Sebagai perbandingan, di Lombok Utara pernah diguncang gempa bumi yang terjadi pada tahun 2018, dengan kekuatan 6,9 - 7,0. Beberapa detik sebelum gempa bumi itu mengguncang, penduduk di permukiman yang terdampak kuat gempabumi, mendengar suara dentuman, ledakan, dan gemuruh seperti suara pesawat besar yang terbang rendah bergerak mendekat ke perkampungannya. Hanya beberapa detik kemudian dari gemuruh itu datang, terjadilah guncangan gempabumi yang dahsyat. Ketika gemuruh dan dentuman itu datang berulang, masyarakat dilanda ketakutan yang sangat mencekam.

Gempabumi di Lombok Utara itu termasuk gempa darat dengan kedalaman dangkal. Frekuensi getaran yang sangat tinggi itu akibat terjadinya deformasi batuan yang terjadi karena adanya perubahan posisi blok batuan karena patah, bergeser, turun di lajur sesar. Ketika frekuensi tinggi itu mencapai permukaan, menimbulkan suara beledug atau ledakan dan gemuruh.

Selain nama geografis Beledug, terdapat gejala kebumian lain yang menimbulkan suara dan menjadi nama geografis. Contoh di Cekungan Bandung, seperti Batureok yang berada di Desa Gudangkahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Batureok ini persis berada di garis Patahan/Sesar Lembang, yang bercabang dari lajur utama ke arah selatan mengikuti jalan raya Lembang, mulai pertigaan Jl Peneropongan Bintang hingga Pusdik Kowad. Contoh lain nama geografis yang bersumber dari suara, Ciharegem (geraman harimau), Cigalukguk (suara babi hutan), Cigenter, Cibaregbeg (suara air sungai yang sangat besar).

Bila pada masa lalu di Kampung Beledug terjadi ledakan yang bersumber dari dalam bumi, inilah beberapa kemungkinan yang menjadi penyebabnya. Pertama, Kampung Beledug di Kecamatan Argapura berada di pertemuan dua lajur sesar yang berarah tenggara–baratlaut (Djuri, 2011. Peta Geologi Lembar Arjawinangun, Pusat Survei Geologi, Badan Geologi). Dalam peta itu tergambar, lajur sesar sisi barat panjangnya sekitar 10 km, dengan bagian timur dari lajur itu yang relatif turun. Saat ini, penurunan itu dapat diukur tinggi dindingnya, ada yang mencapai 360 m, dengan lembah terendahnya yang dialiri sungai. Lajur sesar sisi timur melintasi Gunung Pucuk, panjangnya sekitar 11,5 km. 

Gejala kebumian lainnya yang menunjukkan terdapatnya lajur patahan setempat di sana adalah Talaga Sangiang, berupa gunung api maar, tipe gunung api terkecil, dengan kawahnya yang diisi air membentuk danau kawah. Talaga Sangiang berada di Desa Sagiang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka. 

Ada juga gejala kebumian berupa mata air panas yang terdapat di Kecamatan Argapura. Dan, yang menguatkan lainnya, terdapatnya gejala kebumian gunung api purba (dalam peta geologi ditulis dengan istilah batuan terobosan), seperti Gunung Sela, serta gunungapi muda Gunung Cereme.

Nama geografis Kampung Beledug di Kecamatan Argapura, terinspirasi karena adanya suara ngabeledug atau ledakan yang terjadi di sana. Boleh jadi peristiwa itu terjadi jauh sebelum alat-alat pencatat getaran dari dalam bumi yang mulai dipasang pada awal abad ke-20 di Pasir Gegerbeas, sekitar 9 km dari kawah Gunung Cereme.

Gejala kebumian pada masa lalu yang menimbulkan suara ledakan, suara beledug dari dalam bumi yang terdengar oleh penduduk di sana, dapat diperkirakan penyebabnya karena gempabumi. Suara beledug itu ditimbulkan oleh frekuensi getaran yang sampai di permukaan akibat terjadinya deformasi batuan. Hal itu dapat terjadi karena adanya gempa bumi tektonik yang bersumber dari satu di antara dua lajur sesar, atau bersumber dari keduanya. Bisa juga suara beledug itu bersumber dari gempa bumi vulkanik dari Gunung Cereme. 

Penyebab suara beledug dalam tulisan ini bisa saja salah, dan nama geografis Kampung Beledug pun bisa tidak dikenali lagi. Tapi yang paling penting dari nama geografis Kampung Beledug di Kecamatan Argapura itu adalah untuk tindakan mitigasi. Apa yang harus dilakukan oleh semua kalangan sebelum gempa bumi terjadi, ketika gempabumi, dan setelah gempa bumi. Tanpa kesadaran bersama, tanpa upaya bersama, pengingat dari nama geografis itu menjadi tak bermakna apa-apa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)