Refleksi Awal Bulan Mei: Belajar dari Perilaku Binatang

kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan Jumat 01 Mei 2026, 10:40 WIB
Boli dan Cimol berbagi tempat dan pengasuhan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kurniawan Abuwijdan)

Boli dan Cimol berbagi tempat dan pengasuhan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kurniawan Abuwijdan)

Mungkinkah kita belajar dari perilaku binatang?

Pertanyaan ini mungkin terdengar nyeleneh. Masa iya manusia—yang disebut sebagai makhluk paling mulia—harus belajar dari binatang? Namun jika direnungkan lebih dalam, pertanyaan ini justru membuka ruang kesadaran: bahwa kebenaran dan hikmah bisa datang dari mana saja, termasuk dari makhluk yang sering kita anggap lebih rendah.

Tulisan ini lahir dari pengamatan sederhana di rumah, tentang empat ekor kucing betina: Boli, Moli, Ice Cream, dan Cimol. Mereka bukan kucing ras mahal, bukan pula hewan peliharaan yang sejak awal dirawat secara khusus. Mereka hanyalah kucing kampung yang datang, tinggal, lalu menjadi bagian dari kehidupan kami.

Namun dari merekalah, pelajaran besar itu muncul.

Boli adalah yang pertama melahirkan. Empat anak kucing lahir dengan warna yang beragam—ada yang bermata seperti panda, ada yang belang, ada pula yang abu-abu. Semuanya tampak sehat dan menggemaskan.

Namun beberapa hari setelah melahirkan, Boli mengalami luka serius akibat perkelahian dengan kucing lain. Luka itu membuatnya menyendiri di sudut rumah dan tidak lagi menyusui anak-anaknya.

Kami mencoba mengambil alih peran itu. Dengan dot kecil dan susu formula, anak-anak kucing itu kami rawat. Tidak mudah—mereka menolak di awal, namun perlahan belajar menerima.

Sayangnya, alam memiliki caranya sendiri. Satu per satu anak Boli tidak bertahan. Hingga tersisa dua ekor saja.

Dari sini saja, sudah ada pelajaran tentang keterbatasan manusia. Bahwa sebaik apa pun usaha menggantikan peran alami, tetap ada hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya kita ambil alih.

Di tengah situasi itu, muncul kejadian yang tak terduga.

Ice Cream, yang saat itu juga sedang hamil, mulai menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Ia mendekati saya, mengeong seolah ingin “berbicara”, lalu menunjukkan tempat yang ia pilih untuk melahirkan—sebuah rak buku bagian bawah.

Setelah kami siapkan dengan kain, ia masuk dengan tenang. Ada ekspresi yang sulit dijelaskan—seolah ada rasa lega, bahkan seperti “ucapan terima kasih”.

Keesokan harinya, Ice Cream kembali mendekat. Kali ini ia seperti meminta izin untuk membawa dua anak Boli ke tempatnya.

Dan benar saja. Dua anak kucing itu ia pindahkan, lalu ia melahirkan dua anaknya sendiri.

Kini, ia merawat empat anak sekaligus—dua anaknya, dan dua anak “keponakannya”.

Apakah ini kebetulan? Atau ada naluri empati yang bekerja?

Kita mungkin tidak punya jawaban pasti. Tapi yang terlihat jelas adalah: ia mengambil tanggung jawab yang bukan miliknya.

Kisah berikutnya datang dari Moli.

Seperti Ice Cream, Moli juga “memberi tanda” saat akan melahirkan. Setelah disiapkan tempat, ia melahirkan empat anak dengan lancar.

Beberapa hari kemudian, giliran Cimol.

Namun berbeda dari kebiasaan kucing yang mencari tempat tersembunyi, Cimol justru mendekati kotak tempat Moli berada. Ia mengeong, seolah meminta izin.

Setelah “diizinkan”, ia masuk dan mendekati Moli. Yang terjadi kemudian sungguh menarik: Moli menjilati tubuh Cimol, seakan membantu proses persalinannya.

Tak lama, Cimol melahirkan empat anak.

Satu kotak, dua induk, delapan anak.

Mereka berbagi tempat. Berbagi peran. Bahkan berbagi tanggung jawab sebagai “orang tua”.

Dari empat kucing ini, kita belajar banyak hal sederhana namun dalam:

Tentang empati—ketika Ice Cream merawat anak yang bukan miliknya.
Tentang tanggung jawab—ketika peran yang kosong diisi oleh yang lain.
Tentang etika—ketika Cimol “meminta izin” sebelum masuk ke ruang orang lain.
Tentang kerja sama—ketika Moli membantu proses kelahiran saudaranya.

Nilai-nilai yang justru semakin mahal dalam kehidupan manusia modern.

Di tengah kehidupan hari ini, kita sering menyaksikan hal yang berbanding terbalik.

Orang membuang sampah sembarangan, seolah lingkungan bukan tanggung jawab bersama.
Empati menjadi tipis, tergantikan oleh kepentingan pribadi.
Bantuan seringkali dihitung untung-rugi.
Bahkan hal sederhana seperti mempermudah urusan orang lain pun terasa berat.

Ungkapan seperti “tidak ada makan siang gratis” atau “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah” seolah menjadi prinsip hidup sebagian orang.

Belum lagi kisah-kisah penyerobotan lahan, konflik kepemilikan, hingga praktik yang mengabaikan keadilan—semua menunjukkan bagaimana manusia bisa kehilangan nurani.

Padahal sejatinya, saling membantu adalah fitrah.

Menariknya, di saat manusia kadang kehilangan arah, binatang justru menunjukkan naluri dasar yang “lurus”.

Kita sering mendengar kisah anjing yang merawat anak kucing, atau lumba-lumba yang menolong manusia di laut. Bahkan dalam keseharian, hewan hanya mengambil seperlunya untuk bertahan hidup—tidak serakah, tidak berlebihan.

Ilustrasi seekor anjing betina dan seekor anak kucing. (Sumber: AI)
Ilustrasi seekor anjing betina dan seekor anak kucing. (Sumber: AI)

Bandingkan dengan manusia: ketika kesempatan terbuka, seringkali bukan sekadar mengambil yang dibutuhkan, tetapi mengambil sebanyak mungkin yang bisa diambil.

Di sinilah letak ironi itu.

Al-Qur’an telah mengingatkan dalam QS Al-A’raf ayat 179:

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memilik hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka memiliki mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh)  dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”

Ayat ini bukan merendahkan manusia, tetapi justru mengingatkan: kemuliaan manusia terletak pada bagaimana ia menggunakan hati, akal, dan inderanya.

Jika semua itu tidak digunakan, maka derajat itu bisa jatuh—bahkan lebih rendah dari binatang.

Refleksi awal bulan Mei ini menjadi pengingat sederhana:

Bahwa kebaikan tidak selalu datang dari tempat yang kita duga.
Bahwa empati tidak selalu diajarkan lewat teori, tetapi lewat pengamatan.
Dan bahwa menjadi manusia seutuhnya bukan hanya soal berpikir, tetapi juga tentang merasa dan peduli.

Empat ekor kucing di rumah itu mungkin tidak pernah tahu bahwa mereka sedang “mengajar”.

Namun dari mereka, kita diingatkan kembali tentang arti menjadi manusia. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Mei 2026, 14:25

Hari Pendidikan Nasional 2026: Akses, Mutu, Relevansi, dan Efisiensi di Tengah Wacana Penataan Program Studi

Pendidikan adalah investasi peradaban. Setiap kebijakan, harus diarahkan untuk memastikan bahwa investasi itu benar-benar menghasilkan manusia yang unggul, berdaya, dan siap menghadapi masa depan.

Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)
Wisata & Kuliner 03 Mei 2026, 11:58

Kebun Teh Ciater, Wisata Hijau dengan Sejarah Panjang di di Kaki Gunung Tangkuban Parahu

Dari eksploitasi kolonial hingga wisata populer, Kebun Teh Ciater menyuguhkan sejarah dan panorama alam yang menenangkan.

Kebun Teh Ciater, Subang. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 09:36

Hardiknas 2026: Partisipasi Semesta Tanpa Fondasi Kuat Berisiko Jadi Semu

Partisipasi semesta dalam pendidikan tinggi menghadapi tantangan kualitas, relevansi prodi, dan kesejahteraan dosen, sehingga perlu penguatan kebijakan berbasis data dan kolaborasi.

Potret Ki Hadjar Dewantara yang dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 03 Mei 2026, 09:12

Mereka Tak Melihat Dunia, Tapi Dunia Perlu Melihat Mereka

Kisah pelajar difabel di SLB ABCD Caringin yang belajar mandiri, menghadapi keterbatasan, dan menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya serta layak mendapat perhatian dan kesempatan setara.

Fathur Rohman M. Farel dan Aulia Ramadhani, siswa SLB ABCD Caringin, menjalani proses belajar dengan cara masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 08:37

Renjana: Hidup yang Tertunda di Bandung

Bandung bukan sekadar tempat hidup, tetapi ruang bertahan. Melalui Renjana, tulisan ini membaca kesabaran, kerja, dan pengorbanan sebagai hidup yang terus tertunda.

Gitar disebuah taman kecil. (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 07:12

Buruh, Kerja, dan Ibadah

Saatnya menempatkan empat falsafah kerja: ikhlas, cerdas, keras, dan tuntas.

Aksi Hari Buruh di Dago Diwarnai Pembakaran Water Barrier (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 02 Mei 2026, 18:34

Langkah Panjang Tatang Bangun SLB ABCD Caringin bagi Anak Difabel di Bandung

Kisah Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, yang berjuang membangun sekolah difabel dari rumah demi membuka akses pendidikan inklusif di Bandung.

Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, mendedikasikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak difabel di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 02 Mei 2026, 18:34

Ketika Api Menjadi Guru: Pelajaran Bertahan Hidup Mengatasi Kebakaran Tanpa Panik

Kunjungan edukatif yang mengajak peserta masuk lebih dalam ke dunia para penjaga garis terdepan dari ancaman api.

Acara "Siaga Rumah Aman 2026" pada 2 Mei 2026, di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 02 Mei 2026, 12:47

Di Tengah Riuh Stasiun Bandung, Musisi Tunanetra Menemukan Irama Kehidupan

Di tengah hiruk-pikuk Stasiun Bandung, musisi tunanetra menghadirkan harmoni yang tak hanya menghibur, tetapi juga menjadi cara mereka bertahan, berkarya, dan menantang stigma.

Virly Aulyvia, Rendra Jaya Ambara, dan Martin Aflatun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 02 Mei 2026, 12:01

Panduan Wisata Pantai Ujung Genteng Sukabumi: Estimasi Biaya, Penginapan dan Spot Pilihan

Panduan lengkap Ujung Genteng Sukabumi mulai dari rute perjalanan, biaya tiket, penginapan, hingga pantai terbaik dan konservasi penyu.

Pantai Tenda Biru Ujung Genteng Sukabumi. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 01 Mei 2026, 20:54

Terima Kasih Kawan! Jalan Masih Panjang

Hari ini 1 Mei 2026, ayobandung.id tepat berusia satu tahun. Ini adalah catatan reflektif.

ayobandung.id mensyukuri perjalanan 1 tahun. (Sumber: Unsplash | Foto: Marcel Eberle)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 20:01

Potret Buruh Perempuan di Bandung: Independent Woman atau Tuntutan Kapitalisme?

Independent women acap kali lahir dari kesadaran seorang perempuan untuk berdikari sebagai manusia. Tapi apakah buruh perempuan juga lahir dari itu atau menjelma dari sistem kapitalis?

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 01 Mei 2026, 18:04

Jangan Anggap Sepele, Kelalaian Kecil di Rumah Bisa Picu Kebakaran Besar

Kelalaian kecil di rumah seperti listrik dan gas bisa memicu kebakaran besar. Simak langkah sederhana untuk mencegah dan melindungi diri serta keluarga dari risiko kebakaran.

Petugas Damkar Kota Bandung melakukan pendinginan usai kebakaran kios barang bekas di Jalan Soekarno-Hatta, Kamis (26/3/2026) dini hari yang menghanguskan belasan bangunan tanpa korban jiwa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 01 Mei 2026, 15:40

Jelajah Taman Cimanuk, Ruang Publik Bersejarah di Pusat Indramayu

Jelajahi Taman Cimanuk Indramayu dengan panduan lengkap mencakup sejarah pelabuhan, fasilitas taman, serta aktivitas santai di ruang publik kota.

Taman Cimanuk, Indramayu.
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 14:58

Di Kampung Beledug, Pernah Terdengar Ledakan dari Dalam Bumi

Dalam bahasa Sunda (RA Danadibrata, 2015), lema beledug dapat berarti suara guludug atau petir di langit, atau suara letusan di kejauhan.

Peta daerah Cintapada dan Maja tahun 1914-1916. (Sumber: Peta koleksi KITLV)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 12:40

Membaca May Day, sebagai Proses Komunikasi

Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026 dimaknai sebagai arena komunikasi publik, tempat buruh merebut ruang sosial, membentuk agenda, dan menegosiasikan kuasa di era digital.

Sejumlah buruh perempuan melakukan aksi peringatan Hari Perempuan Internasional di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (8/3/2018). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 10:40

Refleksi Awal Bulan Mei: Belajar dari Perilaku Binatang

Mungkinkah kita belajar dari perilaku binatang?

Boli dan Cimol berbagi tempat dan pengasuhan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kurniawan Abuwijdan)
Beranda 01 Mei 2026, 04:20

Potret Kehidupan Warga Usia Senja di Kecamatan dengan Jumlah Lansia Terbanyak di Kota Bandung

Potret keseharian warga lanjut usia di kecamatan dengan jumlah lansia terbanyak di Kota Bandung, menghadapi tantangan kesehatan, ekonomi, dan kesepian di tengah perubahan kota.

Lili Sutisna menikmati masa lansianya dengan aktif bekerja dan mengurus kebun kecilnya di Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 20:12

Tema Ayo Netizen Mei 2026: Bersabar, Bekerja, dan Berkorban demi Hidup di Bandung

Mei bukan sekadar bulan kelima dalam kalender. Di Bandung, Mei adalah bulan yang sesak.

Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mayantara 30 Apr 2026, 18:41

Kehidupan Sehari-hari sebagai ‘Arsip’

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari.

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari. (Sumber: Pexels | Foto: Şevval Pirinççi)