Refleksi Awal Bulan Mei: Belajar dari Perilaku Binatang

4 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan
Boli dan Cimol berbagi tempat dan pengasuhan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kurniawan Abuwijdan)
Boli dan Cimol berbagi tempat dan pengasuhan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kurniawan Abuwijdan)

Mungkinkah kita belajar dari perilaku binatang?

Pertanyaan ini mungkin terdengar nyeleneh. Masa iya manusia—yang disebut sebagai makhluk paling mulia—harus belajar dari binatang? Namun jika direnungkan lebih dalam, pertanyaan ini justru membuka ruang kesadaran: bahwa kebenaran dan hikmah bisa datang dari mana saja, termasuk dari makhluk yang sering kita anggap lebih rendah.

Tulisan ini lahir dari pengamatan sederhana di rumah, tentang empat ekor kucing betina: Boli, Moli, Ice Cream, dan Cimol. Mereka bukan kucing ras mahal, bukan pula hewan peliharaan yang sejak awal dirawat secara khusus. Mereka hanyalah kucing kampung yang datang, tinggal, lalu menjadi bagian dari kehidupan kami.

Namun dari merekalah, pelajaran besar itu muncul.

Boli adalah yang pertama melahirkan. Empat anak kucing lahir dengan warna yang beragam—ada yang bermata seperti panda, ada yang belang, ada pula yang abu-abu. Semuanya tampak sehat dan menggemaskan.

Namun beberapa hari setelah melahirkan, Boli mengalami luka serius akibat perkelahian dengan kucing lain. Luka itu membuatnya menyendiri di sudut rumah dan tidak lagi menyusui anak-anaknya.

Kami mencoba mengambil alih peran itu. Dengan dot kecil dan susu formula, anak-anak kucing itu kami rawat. Tidak mudah—mereka menolak di awal, namun perlahan belajar menerima.

Sayangnya, alam memiliki caranya sendiri. Satu per satu anak Boli tidak bertahan. Hingga tersisa dua ekor saja.

Dari sini saja, sudah ada pelajaran tentang keterbatasan manusia. Bahwa sebaik apa pun usaha menggantikan peran alami, tetap ada hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya kita ambil alih.

Di tengah situasi itu, muncul kejadian yang tak terduga.

Ice Cream, yang saat itu juga sedang hamil, mulai menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Ia mendekati saya, mengeong seolah ingin “berbicara”, lalu menunjukkan tempat yang ia pilih untuk melahirkan—sebuah rak buku bagian bawah.

Setelah kami siapkan dengan kain, ia masuk dengan tenang. Ada ekspresi yang sulit dijelaskan—seolah ada rasa lega, bahkan seperti “ucapan terima kasih”.

Keesokan harinya, Ice Cream kembali mendekat. Kali ini ia seperti meminta izin untuk membawa dua anak Boli ke tempatnya.

Dan benar saja. Dua anak kucing itu ia pindahkan, lalu ia melahirkan dua anaknya sendiri.

Kini, ia merawat empat anak sekaligus—dua anaknya, dan dua anak “keponakannya”.

Apakah ini kebetulan? Atau ada naluri empati yang bekerja?

Kita mungkin tidak punya jawaban pasti. Tapi yang terlihat jelas adalah: ia mengambil tanggung jawab yang bukan miliknya.

Kisah berikutnya datang dari Moli.

Seperti Ice Cream, Moli juga “memberi tanda” saat akan melahirkan. Setelah disiapkan tempat, ia melahirkan empat anak dengan lancar.

Beberapa hari kemudian, giliran Cimol.

Namun berbeda dari kebiasaan kucing yang mencari tempat tersembunyi, Cimol justru mendekati kotak tempat Moli berada. Ia mengeong, seolah meminta izin.

Setelah “diizinkan”, ia masuk dan mendekati Moli. Yang terjadi kemudian sungguh menarik: Moli menjilati tubuh Cimol, seakan membantu proses persalinannya.

Tak lama, Cimol melahirkan empat anak.

Satu kotak, dua induk, delapan anak.

Mereka berbagi tempat. Berbagi peran. Bahkan berbagi tanggung jawab sebagai “orang tua”.

Dari empat kucing ini, kita belajar banyak hal sederhana namun dalam:

Tentang empati—ketika Ice Cream merawat anak yang bukan miliknya.
Tentang tanggung jawab—ketika peran yang kosong diisi oleh yang lain.
Tentang etika—ketika Cimol “meminta izin” sebelum masuk ke ruang orang lain.
Tentang kerja sama—ketika Moli membantu proses kelahiran saudaranya.

Nilai-nilai yang justru semakin mahal dalam kehidupan manusia modern.

Di tengah kehidupan hari ini, kita sering menyaksikan hal yang berbanding terbalik.

Orang membuang sampah sembarangan, seolah lingkungan bukan tanggung jawab bersama.
Empati menjadi tipis, tergantikan oleh kepentingan pribadi.
Bantuan seringkali dihitung untung-rugi.
Bahkan hal sederhana seperti mempermudah urusan orang lain pun terasa berat.

Ungkapan seperti “tidak ada makan siang gratis” atau “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah” seolah menjadi prinsip hidup sebagian orang.

Belum lagi kisah-kisah penyerobotan lahan, konflik kepemilikan, hingga praktik yang mengabaikan keadilan—semua menunjukkan bagaimana manusia bisa kehilangan nurani.

Padahal sejatinya, saling membantu adalah fitrah.

Menariknya, di saat manusia kadang kehilangan arah, binatang justru menunjukkan naluri dasar yang “lurus”.

Kita sering mendengar kisah anjing yang merawat anak kucing, atau lumba-lumba yang menolong manusia di laut. Bahkan dalam keseharian, hewan hanya mengambil seperlunya untuk bertahan hidup—tidak serakah, tidak berlebihan.

Ilustrasi seekor anjing betina dan seekor anak kucing. (Sumber: AI)
Ilustrasi seekor anjing betina dan seekor anak kucing. (Sumber: AI)

Bandingkan dengan manusia: ketika kesempatan terbuka, seringkali bukan sekadar mengambil yang dibutuhkan, tetapi mengambil sebanyak mungkin yang bisa diambil.

Di sinilah letak ironi itu.

Al-Qur’an telah mengingatkan dalam QS Al-A’raf ayat 179:

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memilik hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka memiliki mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh)  dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”

Ayat ini bukan merendahkan manusia, tetapi justru mengingatkan: kemuliaan manusia terletak pada bagaimana ia menggunakan hati, akal, dan inderanya.

Jika semua itu tidak digunakan, maka derajat itu bisa jatuh—bahkan lebih rendah dari binatang.

Refleksi awal bulan Mei ini menjadi pengingat sederhana:

Bahwa kebaikan tidak selalu datang dari tempat yang kita duga.
Bahwa empati tidak selalu diajarkan lewat teori, tetapi lewat pengamatan.
Dan bahwa menjadi manusia seutuhnya bukan hanya soal berpikir, tetapi juga tentang merasa dan peduli.

Empat ekor kucing di rumah itu mungkin tidak pernah tahu bahwa mereka sedang “mengajar”.

Namun dari mereka, kita diingatkan kembali tentang arti menjadi manusia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)