Refleksi Awal Bulan Mei: Belajar dari Perilaku Binatang

4 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan Jumat 01 Mei 2026, 10:40 WIB
Boli dan Cimol berbagi tempat dan pengasuhan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kurniawan Abuwijdan)

Boli dan Cimol berbagi tempat dan pengasuhan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kurniawan Abuwijdan)

Mungkinkah kita belajar dari perilaku binatang?

Pertanyaan ini mungkin terdengar nyeleneh. Masa iya manusia—yang disebut sebagai makhluk paling mulia—harus belajar dari binatang? Namun jika direnungkan lebih dalam, pertanyaan ini justru membuka ruang kesadaran: bahwa kebenaran dan hikmah bisa datang dari mana saja, termasuk dari makhluk yang sering kita anggap lebih rendah.

Tulisan ini lahir dari pengamatan sederhana di rumah, tentang empat ekor kucing betina: Boli, Moli, Ice Cream, dan Cimol. Mereka bukan kucing ras mahal, bukan pula hewan peliharaan yang sejak awal dirawat secara khusus. Mereka hanyalah kucing kampung yang datang, tinggal, lalu menjadi bagian dari kehidupan kami.

Namun dari merekalah, pelajaran besar itu muncul.

Boli adalah yang pertama melahirkan. Empat anak kucing lahir dengan warna yang beragam—ada yang bermata seperti panda, ada yang belang, ada pula yang abu-abu. Semuanya tampak sehat dan menggemaskan.

Namun beberapa hari setelah melahirkan, Boli mengalami luka serius akibat perkelahian dengan kucing lain. Luka itu membuatnya menyendiri di sudut rumah dan tidak lagi menyusui anak-anaknya.

Kami mencoba mengambil alih peran itu. Dengan dot kecil dan susu formula, anak-anak kucing itu kami rawat. Tidak mudah—mereka menolak di awal, namun perlahan belajar menerima.

Sayangnya, alam memiliki caranya sendiri. Satu per satu anak Boli tidak bertahan. Hingga tersisa dua ekor saja.

Dari sini saja, sudah ada pelajaran tentang keterbatasan manusia. Bahwa sebaik apa pun usaha menggantikan peran alami, tetap ada hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya kita ambil alih.

Di tengah situasi itu, muncul kejadian yang tak terduga.

Ice Cream, yang saat itu juga sedang hamil, mulai menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Ia mendekati saya, mengeong seolah ingin “berbicara”, lalu menunjukkan tempat yang ia pilih untuk melahirkan—sebuah rak buku bagian bawah.

Setelah kami siapkan dengan kain, ia masuk dengan tenang. Ada ekspresi yang sulit dijelaskan—seolah ada rasa lega, bahkan seperti “ucapan terima kasih”.

Keesokan harinya, Ice Cream kembali mendekat. Kali ini ia seperti meminta izin untuk membawa dua anak Boli ke tempatnya.

Dan benar saja. Dua anak kucing itu ia pindahkan, lalu ia melahirkan dua anaknya sendiri.

Kini, ia merawat empat anak sekaligus—dua anaknya, dan dua anak “keponakannya”.

Apakah ini kebetulan? Atau ada naluri empati yang bekerja?

Kita mungkin tidak punya jawaban pasti. Tapi yang terlihat jelas adalah: ia mengambil tanggung jawab yang bukan miliknya.

Kisah berikutnya datang dari Moli.

Seperti Ice Cream, Moli juga “memberi tanda” saat akan melahirkan. Setelah disiapkan tempat, ia melahirkan empat anak dengan lancar.

Beberapa hari kemudian, giliran Cimol.

Namun berbeda dari kebiasaan kucing yang mencari tempat tersembunyi, Cimol justru mendekati kotak tempat Moli berada. Ia mengeong, seolah meminta izin.

Setelah “diizinkan”, ia masuk dan mendekati Moli. Yang terjadi kemudian sungguh menarik: Moli menjilati tubuh Cimol, seakan membantu proses persalinannya.

Tak lama, Cimol melahirkan empat anak.

Satu kotak, dua induk, delapan anak.

Mereka berbagi tempat. Berbagi peran. Bahkan berbagi tanggung jawab sebagai “orang tua”.

Dari empat kucing ini, kita belajar banyak hal sederhana namun dalam:

Tentang empati—ketika Ice Cream merawat anak yang bukan miliknya.
Tentang tanggung jawab—ketika peran yang kosong diisi oleh yang lain.
Tentang etika—ketika Cimol “meminta izin” sebelum masuk ke ruang orang lain.
Tentang kerja sama—ketika Moli membantu proses kelahiran saudaranya.

Nilai-nilai yang justru semakin mahal dalam kehidupan manusia modern.

Di tengah kehidupan hari ini, kita sering menyaksikan hal yang berbanding terbalik.

Orang membuang sampah sembarangan, seolah lingkungan bukan tanggung jawab bersama.
Empati menjadi tipis, tergantikan oleh kepentingan pribadi.
Bantuan seringkali dihitung untung-rugi.
Bahkan hal sederhana seperti mempermudah urusan orang lain pun terasa berat.

Ungkapan seperti “tidak ada makan siang gratis” atau “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah” seolah menjadi prinsip hidup sebagian orang.

Belum lagi kisah-kisah penyerobotan lahan, konflik kepemilikan, hingga praktik yang mengabaikan keadilan—semua menunjukkan bagaimana manusia bisa kehilangan nurani.

Padahal sejatinya, saling membantu adalah fitrah.

Menariknya, di saat manusia kadang kehilangan arah, binatang justru menunjukkan naluri dasar yang “lurus”.

Kita sering mendengar kisah anjing yang merawat anak kucing, atau lumba-lumba yang menolong manusia di laut. Bahkan dalam keseharian, hewan hanya mengambil seperlunya untuk bertahan hidup—tidak serakah, tidak berlebihan.

Ilustrasi seekor anjing betina dan seekor anak kucing. (Sumber: AI)
Ilustrasi seekor anjing betina dan seekor anak kucing. (Sumber: AI)

Bandingkan dengan manusia: ketika kesempatan terbuka, seringkali bukan sekadar mengambil yang dibutuhkan, tetapi mengambil sebanyak mungkin yang bisa diambil.

Di sinilah letak ironi itu.

Al-Qur’an telah mengingatkan dalam QS Al-A’raf ayat 179:

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memilik hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka memiliki mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh)  dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”

Ayat ini bukan merendahkan manusia, tetapi justru mengingatkan: kemuliaan manusia terletak pada bagaimana ia menggunakan hati, akal, dan inderanya.

Jika semua itu tidak digunakan, maka derajat itu bisa jatuh—bahkan lebih rendah dari binatang.

Refleksi awal bulan Mei ini menjadi pengingat sederhana:

Bahwa kebaikan tidak selalu datang dari tempat yang kita duga.
Bahwa empati tidak selalu diajarkan lewat teori, tetapi lewat pengamatan.
Dan bahwa menjadi manusia seutuhnya bukan hanya soal berpikir, tetapi juga tentang merasa dan peduli.

Empat ekor kucing di rumah itu mungkin tidak pernah tahu bahwa mereka sedang “mengajar”.

Namun dari mereka, kita diingatkan kembali tentang arti menjadi manusia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 18 Jun 2026, 06:40

Merawat Cahaya di Tengah Rimba Digital

Hijrah digital mengajarkan tentang perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Sudah saatnya memastikan jemari kita menjadi jalan hadirnya kebaikan bagi sesama, kemaslahatan umat.

Ilustrasi muslimah sedang membaca alquran digital. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 06:24

Pesepeda Tewas di Jalan Soekarno-Hatta: Apakah Kita Terlalu Cepat Menyalahkan Korban?

Kecelakaan pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta mengingatkan bahwa keselamatan jalan bukan hanya soal perilaku pengguna, tetapi juga kualitas infrastruktur yang tersedia.

Polisi melakukan olah TKP. (Sumber: Dok. Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 20:29

Di Balik Publikasi Digital Program Operasi Katarak Gratis

Analisis publikasi digital program operasi katarak gratis Summarecon Agung dalam melihat konsistensi pesan, strategi komunikasi, dan pengelolaan citra perusahaan melalui berbagai media

Penulis sedang menganalisis teknik penulisan Summarecon Agung Tbk dari tiga platform.
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 20:09

Tamasya ke Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih, Oase Hijau di Tengah Kota Surabaya

Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih Surabaya merupakan bekas TPA yang disulap menjadi ruang terbuka hijau dengan taman tematik dan fasilitas rekreasi.

Taman Harmoni & Hutan Bambu Keputih jadi tempat wisata favorit di Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Linimasa 17 Jun 2026, 19:12

Hikayat Taman Alun-alun Regol, Dari Bantaran Sungai Tempat Pembuangan Sampah Menjadi Tumpuan UMKM Hingga Tak Terawat

Kisah Alun-alun Regol Bandung yang berubah dari bantaran sungai penuh sampah menjadi ruang publik lalu mulai meredup.

Alun-alun Regol, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 19:09

Toponimi Lembang (Bagian 2)

Dengan mempelajari ilmu Toponimi kita jadi lebih tahu akar sejarah sebuah kawasan, termasuk sejarah Lembang.

Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 18:01

Mampukah Mahasiswa Menjaga Konsentrasi Belajar dari Distraksi Media Sosial?

Media sosial bisa jadi teman belajar atau justru pengganggu konsentrasi. Tulisan ini membahas cara mahasiswa tetap fokus dan produktif tanpa harus meninggalkan dunia digital.

Ilustrasi gangguan media sosial. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 17:30

Rupiah Melemah, BBM Naik: Ibulah yang Paling Dulu Merasakan Dampaknya

Rupiah melemah, BBM naik, dan biaya hidup kian mencekik. Ibulah yang paling dulu merasakan dampaknya. Lalu, apa akar persoalan sebenarnya?

Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 17:05

Itinerary 1–2 Hari Surabaya: Telusur Sejarah, Kuliner Legendaris, dan Wajah Baru Kota Pahlawan

Rekomendasi itinerary Surabaya untuk 1–2 hari, mulai Tugu Pahlawan, Ampel, hingga kuliner legendaris.

Balai Kota Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:58

Seni sebagai Perlawanan: Dari Raden Saleh ke Era Digital

Peran seni sebagai perlawanan, baik pada masa Raden Saleh maupun era digital saat ini.

Ilustrasi lukisan karya Raden Saleh dan seni modern. (Sumber: istimewa)
Bandung 17 Jun 2026, 16:44

Menghidupkan Ekosistem F&B Lewat Industry Night 2026, Saat Komunitas dan Kolaborasi Menjadi Kunci Bertahan

Dinamika industri F&B kini tidak lagi sekadar bicara soal persaingan menu viral atau estetika visual semata, melainkan bergeser ke arah kekuatan kolektif yang digerakkan oleh komunitas.

Di Industry Night, batas-batas kompetisi dilebur menjadi energi positif yang mendorong lahirnya koneksi, inspirasi baru, serta pertumbuhan usaha yang berkelanjutan secara bersama-sama. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:33

Hubungan Dagang Banten dan Lampung dalam Perniagaan Lada Abad ke-17

Menengok kembali sejarah perdagangan lada abad ke-17 di Banten dan Lampung.

Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:47

Topeng Banjet : Warisan Budaya yang Mulai Tergerus Waktu

Kesenian Topeng Banjet yang ada sejak awal abad ke-20 merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Karawang.

Topeng Banjet merupakan kesenian tradisional khas Karawang, Jawa Barat. (Sumber: Wonderful Indonesia)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:27

Geliat Industri vs Infrastruktur Sukabumi Utara: Jalan Pakuwon Mendesak untuk Dibenahi

Kami memahami bahwa perbaikan total membutuhkan waktu, namun kami tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya.

Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:48

Membangun Stigma Positif Kesadaran Kolektif dalam Pajak

Narasi tentang pajak, sering kali menjadi stigma negatif dalam kehidupan sosial. Apa karena masyarakat masih berpikir stereotip, atau tata kelola pajak yang dianggap kurang adil.

Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:27

Sebelum Selebgram Ada Japanisasi: Propaganda Kecantikan dari 1943

Ketika iklan makeup dijadikan daya tarik propaganda pada masa Pendudukan Jepang 1942-1945.

Iklan Bedak Virgin dalam majalah Djawa Baroe edisi 15 Juli 1945 (Sumber: Website : universiteitleiden.nl)
Beranda 17 Jun 2026, 08:59

Cerita Pekerja Informal yang Ngalong di Tengah Cuaca Dingin Kota Bandung yang Kian Menggigit

Cerita para pekerja informal di Bandung yang terpaksa "ngalong" demi mencari nafkah di tengah cuaca Kota Bandung yang kian menggigit.

Di tengah udara dingin yang menggigit, Raja tetap setia berjualan cilok kuah hingga menjelang subuh di kawasan Dago Cikapayang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 08:01

Maradona, Malvinas, Juni dan Bandung

Sebuah memori siaran pertandingan Piala Dunia 1986 yang memunculkan legenda sepak bola dunia Maradona serta serunya masyarakat Bandung menonton saat itu

Ilustrasi Maradona. (Sumber: Flickr | Foto: Diego3336)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 07:12

Ambisi di Balik Coretax

Sistem Coretax dirilis untuk menyatukan 19 proses bisnis pajak lama.

Ilustrasi web coretax DJP. (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:34

Nama Geografis yang Bersumber dari Alat dan Cara Memasak

Toponimi telah mengabadikan kata yang produktif digunakan di suatu daerah, pada saat nama geografis itu diberikan.

Gentong untuk menampung air bersih masih terus dibuat oleh para pembuat gerabah. (Sumber: Istimewa)