Kota ini Tak Lagi Sama(Pah) Tanpamu

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Rabu 29 Apr 2026, 16:54 WIB
Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Mengenang Kota Bandung di era masa lalu memang selalu menyenangkan. Sebagai anak dari kedua orang tua yang memiliki budaya dan suku yang berbeda—aku cukup senang bisa terlahir di Kota Bandung. Menurut cerita yang sering disenandungkan oleh Ibu tentang kelahiranku juga tentang Kota Bandung tempoe doloe—selalu menjadi hal yang menyenangkan bagiku.

Menurut ibu dulu aku lahir di paraji (dukun beranak) bernama Mak Euis- bukan di bidan atau Rumah Sakit seperti yang sering anak-anak sekarang alami. Menariknya nama asli aku saat ini tertulis karena sebuah kesalahan dan kurang telitinya Mak Euis. Dulu ibu bilang kalau namaku adalah Diaz Azhari tapi karena faktor kesalahan paraji berubahlah menjadi Dias Ashari. Sebetulnya aku sangat suka jika namaku tertulis di surat lahir dengan Diaz Azhari—rasanya lebih keren dan sedikit kebarat-baratan. Namun menjelang dewasa aku menyadari bahwa nama adalah sebuah doa—meski ada sedikit kesalahan tapi namaku masih memilki arti yang tidak kalah baik.

Ibu sering menceritakan bahwa dulu sebelum krisis moneter melanda Indonesia, harga barang-barang terlampau murah. Ibu menceritakan bahwa dengan upah kerja sebagai pembantu rumah tangga bisa mengumpulkan emas beberapa gram sebagai akseroris juga barang investasi untuk masa depan. Harga bahan pokok untuk masak pun terasa tidak terlalu membebankan kondisi rumah tangga yang baru seumur jagung. Menariknya selain harga murah juga kualitas barang sudah teruji oleh waktu. Di rumah ibu ada lemari kayu jati yang masih kokoh berdiri padahal sudah mengalami beberapa kali pindahan selama ibu mengontrak.

Aku sering mendengar cerita Bandung di masa lalu dari ibu. Kata Ibu, cuaca Bandung saat itu sangat romantis. Di pagi hari dengan suhu udara yang sangat dingin juga diselimuti oleh kabut yang membuat suasana semakin syahdu. Menurut ibu yang berasal dari suku Jawa—cuaca  Bandung itu sangat magical. Pagi hari bisa mendadak hujan gerimis—menjelang pukul 09:00 berubah menjadi hangat dengan sinar mentari yang muncul dengan malu-malu—mendadak pukul 12:00 hujan rintik muncul kembali dengan udara yang sejuk dan syahdu.

Dibandingkan dengan eraku saat ini—rasanya sangat sulit menemukan kondisi ini kecuali di Bandung Selatan seperti Ciwidey atau tempat-tempat lainnya di Kota Bandung yang masih memiliki vegetasi hutan yang sangat baik.

Terlepas dari lebih dan kurangnya kota ini – Bandung tetap menjadi rumah yang paling hangat ketika aku masih kecil. Bermain di pematangan sawah sembari menangkap impun (ikan dengan ukuran kecil) bahkan beberapa anak laki-laki sering ngurek belut (memancing belut) yang hasil tangkapannya dimasak lalu dimakan bersama di saung (gubug). Kenangan itu tak lama karena sawah cepat berganti dengan bangunan tinggi pabrik yang membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

Seingatku juga waktu kecil aku jarang menemukan gunungan sampah sebanyak hari ini. Bandung dengan julukan kota kembangnya pun sedikit mulai bergeser dengan julukan kota sampah—terlebih setelah julukan “The City of Pig” dilontarkan oleh warga negara Bulgaria, Inna Savova.

Menurutku lonjakan sampah di kota Bandun memang akumulasi jumlah sampai yang sulit terurai dari zaman dahulu hingga sekarang. Mungkin saja sampah yang pernah aku buang saat kecil ke tempat sampah masih memiliki struktur yang utuh hingga hari ini. Melonjaknya pertumbuhan penduduk juga menjadi salah satu faktor kenapa Bandung makin penuh dengan sampah. Ditambah sebagai kota wisata—lonjakan sampah juga dipicu dari sumbangan pengujung yang datang ke kota Bandung.

Tak dipungkiri gaya hidup konsumtif dari masyarakat era kini meningkatkan produksi sampah plastik untuk memenuhi kebutuhan permintaan pasar. Dan tidak kalah penting yang menjadi masalah krusial adalah keterbatasan infrastruktur pengeloaan sampah itu sendiri. Banyak dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tak sanggup lagi menerima kiriman sampah karena kapasitas daya tampungnya yang semakin terus menyusut. Sehingga sampah banyak menumpuk di pinggir trotoar, di sekitar pasar tradisional, di sepanjang aliran Sungai dan lingkungan masyarakat.

Seminggu yang lalu ketika saya melewati TPS Batununggal rasanya ruas jalan sebelah kiri ini portalnya masih bisa dilalui kendaraan motor atau mobil. Namun berselang sepekan sedikit kaget karena portal tertutup dan setelah mengambil jalur kanan ternyata terdapat tumpukan sampah yang menggunung menutupi sejumlah ruas jalan. Sampah-sampah itu hanya ditutupi dengan terpal untuk sedikit menutupi aroma bau yang sebetulnya masih tercium dengan aroma yang menyengat. Sepertinya penutupan ini juga sebagai upaya jika hujan turun sampah tidak akan mudah hanyut oleh air.

Menurut saya pengelolaan sampah di Bandung belum terintegrasi dan dikelola dengan baik. Tentu hal tersebut banyak faktor penyebabnya. Namun berdasarkan pengamatan saya sampah di kota Bandung tidak bisa dijadikan hal sepele karena mungkin dampak buruknya akan segera terasa. Masalah kecil tapi utama sebetulnya ada di pola hidup dan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah. Namun berbicara soal merubah hidup banyak orang memang bukan hal yang mudah. Perlu waktu yang lama jika kesadaran tidak tumbuh dari dalam diri sendiri.

Saya pribadi pernah membayangkan jika petugas di TPS atau TPA bisa diperbanyak jumlahnya untuk mengelola pemilihan sampah. Misalnya sampah organic bisa dikelola dan diproduksi untuk bisa menghasilkan sampah pupuk organik yang kemudian bisa dijual ke Pangalengan atau Lembang yang membutuhkan untuk keperluan Perkebunan. Mungkin saja produk pupuk juga bisa digunakan untuk suplay ke kota lain. Sementara sampah anorganik bisa kembali didaur ulang dan menjadi produk yang lebih bermanfaat. Tentu pekerjaan berat yang dilakukan oleh petugas kebersihan bisa diapresiasi dengan gaji yang layak dan pemantauan kualitas kesehatannya dengan pemenuhan makanan yang kaya gizi.

Cara yang paling rasional adalah mengendalikan manusia atau masyarakat dalam jumlah kecil yaitu petugas pengelolaan sampah. Sembari terus berupaya mendisiplinkan pengelolaan sampah—edukasi atau bahkan konseling juga bisa terus digaungkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan sampah.

Kota ini (Bandung) tak lagi sampah tanpamu. Yah mungkin kota Bandung tidak akan terus memproduksi sampah jika masyarakatnya tidak ada. Namun hal ini tentu mustahil. Maka langkah terkecil yang bisa kita lakukan di rumah setidaknya bisa mengurangi beban dari Kota Bandung. Mari terus menjaga kota Bandung sebagai tempat yang hangat untuk pulang ataupun menetap. Mari terus berupaya menjaga kebersihan kota Bandung dari diri kita masing-masing. Seperti halnya “Keburukan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir” begitu pun dengan kesadaran terhadap masalah sampah. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Beranda 29 Apr 2026, 18:48

Mereka yang Agamanya Pernah ‘Dihapus’ dari KTP, Kini Gencar Menebar Hal Baik

Hidup pada masa Orde Baru tidaklah mudah. Terutama jika keturunan Tionghoa dan beragama Konghucu.

Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 16:54

Kota ini Tak Lagi Sama(Pah) Tanpamu

Tidak ada langkah yang lebih realistis untuk mengatasi masalah sampah di Kota Bandung selain mengendalikan petugas pengelola sampah dan terus mengedukasi masyarakat

Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 15:35

Heritage: Mana yang Usang, Mana yang (harus) Terbuang

Konsep warisan kita sangat dibentuk oleh kolonialisme. Oleh karena itu, tulisan ini jadi ajakan dekonstruksi warisan yang elitis menjadi lebih inklusif, emansipatif, dan adil bagi pemilik properti.

Gedung-gedung peninggalan masa kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Neermana Studio)
Beranda 29 Apr 2026, 15:16

Mengurus Sampah Kota Bandung Bukan Hal Ringan, Biaya "Segunung" Harus Dikeluarkan Setiap Hari

Kelola ribuan ton sampah setiap hari, Kota Bandung harus mengeluarkan ribuan liter BBM demi memastikan ratusan armada pengangkut tetap bergerak menyisir lingkungan warga.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bandung 29 Apr 2026, 15:05

Tren Intimate Wedding di Bandung, Afrodite WO: Tonjolkan Karakter Pengantin dan Kesesuaian Venue

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan.

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 13:36

Dari Pesantren ke Panggung Nasional: Perjalanan Hayyun Halimatul Ummah Menjadi Duta Santri

Kisah Hayyun Halimatul Ummah, santri dari keluarga sederhana yang menembus Duta Santri Nasional lewat ketekunan, keberanian, dan tekad untuk bermanfaat.

Hayyun Halimatul Ummah ketika dinobatkan sebagai Duta Santri Nasional pada malam grand final. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 13:34

Panduan Wisata Pemandian Cipanas Garut, Pilih Tempat Sesuai Gaya Liburanmu di Kaki Gunung Guntur

Panduan wisata Cipanas Garut, mengulas sejarah dua abad, sumber air panas alami, serta pilihan pemandian dan resort terbaik di kaki Gunung Guntur.

Kawasan Wisata Cipanas Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 29 Apr 2026, 10:30

Beban Berat Pengangkutan Sampah di Kota Bandung, Sehari Habiskan BBM Setara 457 Galon Air Mineral

Setiap hari, bahan bakar yang dipakai untuk mengangkut sampah di Bandung setara ratusan galon air minum. Jumlah ini menggambarkan betapa besar energi yang dibutuhkan hanya untuk menjaga kota tetap ber

Aktivitas pengangkutan sampah menuju TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Selasa 6 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Beranda 29 Apr 2026, 09:15

Kota Bandung Kewalahan Hadapi 1.500 Ton Sampah per Hari, Armada Tertahan, TPA Kian Tertekan

Bandung menghadapi lonjakan sampah hingga 1.500 ton per hari. Armada tersendat akibat antrean dan kuota TPA, membuat pengangkutan melambat dan tumpukan sampah kian meluas.

Truk sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung sedang mengangkut sampah pada 18 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Bob Yanuar Muslim)
Beranda 29 Apr 2026, 08:45

Diskar Kota Bandung Ungkap Daftar Kecamatan dengan Tingkat Kejadian Kebakaran Tertinggi

Diskar mengungkap sejumlah kecamatan dengan tingkat kejadian kebakaran tertinggi di Bandung, dipicu kepadatan permukiman, instalasi listrik, dan meningkat saat musim kemarau.

Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung melakukan pendinginan pada kios material barang bekas yang terbakar di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 07:36

Menjelang 1 Mei di Bandung: Buruh Menghidupi Ekonomi Negara, tapi Siapa yang Menghidupi Mereka?

Selama buruh masih dihadapkan pada upah yang belum sepenuhnya layak, harga kebutuhan yang terus naik, dan kepastian kerja yang rapuh, maka tidak ada kata perjuangan buruh telah selesai.

Di tengah hiruk pikuk Bandung, ada mereka yang terus bekerja agar kota tetap hidup. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdul Ridwan)
Bandung 28 Apr 2026, 20:52

Memperkuat "Imunitas" Finansial Warga Jabar, Mengapa Kampus Harus Jadi Garda Depan Melawan Pinjol?

Tanpa "imunitas" atau literasi keuangan yang kuat, kemudahan akses digital justru menjadi pintu masuk menuju jeratan utang yang menghancurkan ekonomi keluarga.

Edukasi keuangan harus masuk ke jantung pendidikan untuk menciptakan ekosistem keuangan yang sehat dan bertanggung jawab. (Sumber: OJK Jawa Barat)
Wisata & Kuliner 28 Apr 2026, 20:40

Panduan Wisata Tanjung Duriat Sumedang, Panorama 360 Derajat Waduk Jatigede

Tanjung Duriat Sumedang menawarkan panorama 360 derajat Waduk Jatigede dengan pemandangan bukit dan air luas dari satu titik.

Wahana Hammock Net di Tanjung Duriat Sumedang. (Sumber: Tanjung Duriat)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 18:04

Sering Salah Pakai Tanda Titik? Kenali Aturannya Biar Bagus Tulisanmu

Tanda titik, meski tampak sederhana, banyak orang masih keliru dalam penggunaannya.

Tanda titik, meski tampak sederhana, banyak orang masih keliru dalam penggunaannya. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Linimasa 28 Apr 2026, 16:56

Jejak Perkebunan Kina di Bandung, Tinggal Puing Tak Terurus

Dulu kuasai 90 persen pasar dunia, pabrik kina Kertasari kini jadi puing akibat gempa, penyerobotan lahan, dan kebijakan

Pabrik Kina pertama di Kabupaten Bandung sudah hampir tak berwujud. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ikon 28 Apr 2026, 16:06

Hikayat Tanjakan Emen, Jalur Horor di Subang yang telan Banyak Korban

Sejarah Tanjakan Emen dari kisah sopir oplet 1956 hingga menjadi jalur rawan kecelakaan akibat geometri jalan berbahaya.

Tanjakan Emen, Subang. (Sumber: Google Earth)
Bandung 28 Apr 2026, 15:21

Transformasi Seserahan, dari Sekadar Tradisi Menjadi Simbol Gaya Hidup dan Personal Branding

Seserahan kini tak lagi sekadar hantaran sebagai perwujudan janji suci kedua mempelai, tapi bergeser menjadi bagian dari personal branding dan karakter calon pengantin.

Seserahan kini tak lagi sekadar hantaran sebagai perwujudan janji suci kedua mempelai, tapi bergeser menjadi bagian dari personal branding dan karakter calon pengantin. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 15:01

Naik Angkot dari Soreang ke Kopo Tak Seindah dalam Lagu

Bagi mereka yang setiap hari melintasi Kopo, kemacetan parah bukan hal baru.

Kemacetan kendaraan mengular di salah satu ruas jalan di Bandung, mencerminkan padatnya mobilitas warga di tengah aktivitas harian. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Rizki)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 11:32

Komunitas HaikuKu Indonesia, Merawat Puisi dalam Sunyi

Berawal dari ruang maya bernama Facebook, ribuan orang berkumpul karena satu kesamaan yaitu kecintaan pada puisi.

Komunitas Haikuku Indonesia akur, rukun dan guyub. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 28 Apr 2026, 09:25

Tujuh Tahun Menunggu, Penghuni Rumah Deret Tamansari Menagih Janji Penghidupan

Setelah 7 tahun menanti, penghuni Rumah Deret Tamansari kini menagih janji hunian layak dan ruang usaha yang belum terpenuhi di tengah sempitnya ruang hidup dan trauma penggusuran.

Wawan (duduk) di lorong rumah deret Tamansari, ia berusaha bertahan dengan pekerjaan serabutan di tengah perubahan hidup pascarelokasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)