Kota ini Tak Lagi Sama(Pah) Tanpamu

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Mengenang Kota Bandung di era masa lalu memang selalu menyenangkan. Sebagai anak dari kedua orang tua yang memiliki budaya dan suku yang berbeda—aku cukup senang bisa terlahir di Kota Bandung. Menurut cerita yang sering disenandungkan oleh Ibu tentang kelahiranku juga tentang Kota Bandung tempoe doloe—selalu menjadi hal yang menyenangkan bagiku.

Menurut ibu dulu aku lahir di paraji (dukun beranak) bernama Mak Euis- bukan di bidan atau Rumah Sakit seperti yang sering anak-anak sekarang alami. Menariknya nama asli aku saat ini tertulis karena sebuah kesalahan dan kurang telitinya Mak Euis. Dulu ibu bilang kalau namaku adalah Diaz Azhari tapi karena faktor kesalahan paraji berubahlah menjadi Dias Ashari. Sebetulnya aku sangat suka jika namaku tertulis di surat lahir dengan Diaz Azhari—rasanya lebih keren dan sedikit kebarat-baratan. Namun menjelang dewasa aku menyadari bahwa nama adalah sebuah doa—meski ada sedikit kesalahan tapi namaku masih memilki arti yang tidak kalah baik.

Ibu sering menceritakan bahwa dulu sebelum krisis moneter melanda Indonesia, harga barang-barang terlampau murah. Ibu menceritakan bahwa dengan upah kerja sebagai pembantu rumah tangga bisa mengumpulkan emas beberapa gram sebagai akseroris juga barang investasi untuk masa depan. Harga bahan pokok untuk masak pun terasa tidak terlalu membebankan kondisi rumah tangga yang baru seumur jagung. Menariknya selain harga murah juga kualitas barang sudah teruji oleh waktu. Di rumah ibu ada lemari kayu jati yang masih kokoh berdiri padahal sudah mengalami beberapa kali pindahan selama ibu mengontrak.

Aku sering mendengar cerita Bandung di masa lalu dari ibu. Kata Ibu, cuaca Bandung saat itu sangat romantis. Di pagi hari dengan suhu udara yang sangat dingin juga diselimuti oleh kabut yang membuat suasana semakin syahdu. Menurut ibu yang berasal dari suku Jawa—cuaca  Bandung itu sangat magical. Pagi hari bisa mendadak hujan gerimis—menjelang pukul 09:00 berubah menjadi hangat dengan sinar mentari yang muncul dengan malu-malu—mendadak pukul 12:00 hujan rintik muncul kembali dengan udara yang sejuk dan syahdu.

Dibandingkan dengan eraku saat ini—rasanya sangat sulit menemukan kondisi ini kecuali di Bandung Selatan seperti Ciwidey atau tempat-tempat lainnya di Kota Bandung yang masih memiliki vegetasi hutan yang sangat baik.

Terlepas dari lebih dan kurangnya kota ini – Bandung tetap menjadi rumah yang paling hangat ketika aku masih kecil. Bermain di pematangan sawah sembari menangkap impun (ikan dengan ukuran kecil) bahkan beberapa anak laki-laki sering ngurek belut (memancing belut) yang hasil tangkapannya dimasak lalu dimakan bersama di saung (gubug). Kenangan itu tak lama karena sawah cepat berganti dengan bangunan tinggi pabrik yang membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

Seingatku juga waktu kecil aku jarang menemukan gunungan sampah sebanyak hari ini. Bandung dengan julukan kota kembangnya pun sedikit mulai bergeser dengan julukan kota sampah—terlebih setelah julukan “The City of Pig” dilontarkan oleh warga negara Bulgaria, Inna Savova.

Menurutku lonjakan sampah di kota Bandun memang akumulasi jumlah sampai yang sulit terurai dari zaman dahulu hingga sekarang. Mungkin saja sampah yang pernah aku buang saat kecil ke tempat sampah masih memiliki struktur yang utuh hingga hari ini. Melonjaknya pertumbuhan penduduk juga menjadi salah satu faktor kenapa Bandung makin penuh dengan sampah. Ditambah sebagai kota wisata—lonjakan sampah juga dipicu dari sumbangan pengujung yang datang ke kota Bandung.

Tak dipungkiri gaya hidup konsumtif dari masyarakat era kini meningkatkan produksi sampah plastik untuk memenuhi kebutuhan permintaan pasar. Dan tidak kalah penting yang menjadi masalah krusial adalah keterbatasan infrastruktur pengeloaan sampah itu sendiri. Banyak dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tak sanggup lagi menerima kiriman sampah karena kapasitas daya tampungnya yang semakin terus menyusut. Sehingga sampah banyak menumpuk di pinggir trotoar, di sekitar pasar tradisional, di sepanjang aliran Sungai dan lingkungan masyarakat.

Seminggu yang lalu ketika saya melewati TPS Batununggal rasanya ruas jalan sebelah kiri ini portalnya masih bisa dilalui kendaraan motor atau mobil. Namun berselang sepekan sedikit kaget karena portal tertutup dan setelah mengambil jalur kanan ternyata terdapat tumpukan sampah yang menggunung menutupi sejumlah ruas jalan. Sampah-sampah itu hanya ditutupi dengan terpal untuk sedikit menutupi aroma bau yang sebetulnya masih tercium dengan aroma yang menyengat. Sepertinya penutupan ini juga sebagai upaya jika hujan turun sampah tidak akan mudah hanyut oleh air.

Menurut saya pengelolaan sampah di Bandung belum terintegrasi dan dikelola dengan baik. Tentu hal tersebut banyak faktor penyebabnya. Namun berdasarkan pengamatan saya sampah di kota Bandung tidak bisa dijadikan hal sepele karena mungkin dampak buruknya akan segera terasa. Masalah kecil tapi utama sebetulnya ada di pola hidup dan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah. Namun berbicara soal merubah hidup banyak orang memang bukan hal yang mudah. Perlu waktu yang lama jika kesadaran tidak tumbuh dari dalam diri sendiri.

Saya pribadi pernah membayangkan jika petugas di TPS atau TPA bisa diperbanyak jumlahnya untuk mengelola pemilihan sampah. Misalnya sampah organic bisa dikelola dan diproduksi untuk bisa menghasilkan sampah pupuk organik yang kemudian bisa dijual ke Pangalengan atau Lembang yang membutuhkan untuk keperluan Perkebunan. Mungkin saja produk pupuk juga bisa digunakan untuk suplay ke kota lain. Sementara sampah anorganik bisa kembali didaur ulang dan menjadi produk yang lebih bermanfaat. Tentu pekerjaan berat yang dilakukan oleh petugas kebersihan bisa diapresiasi dengan gaji yang layak dan pemantauan kualitas kesehatannya dengan pemenuhan makanan yang kaya gizi.

Cara yang paling rasional adalah mengendalikan manusia atau masyarakat dalam jumlah kecil yaitu petugas pengelolaan sampah. Sembari terus berupaya mendisiplinkan pengelolaan sampah—edukasi atau bahkan konseling juga bisa terus digaungkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan sampah.

Kota ini (Bandung) tak lagi sampah tanpamu. Yah mungkin kota Bandung tidak akan terus memproduksi sampah jika masyarakatnya tidak ada. Namun hal ini tentu mustahil. Maka langkah terkecil yang bisa kita lakukan di rumah setidaknya bisa mengurangi beban dari Kota Bandung. Mari terus menjaga kota Bandung sebagai tempat yang hangat untuk pulang ataupun menetap. Mari terus berupaya menjaga kebersihan kota Bandung dari diri kita masing-masing. Seperti halnya “Keburukan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir” begitu pun dengan kesadaran terhadap masalah sampah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)