Naik Angkot dari Soreang ke Kopo Tak Seindah dalam Lagu

5 menit baca
Dudung Ridwan
Ditulis oleh Dudung Ridwan diterbitkan
Kemacetan kendaraan mengular di salah satu ruas jalan di Bandung, mencerminkan padatnya mobilitas warga di tengah aktivitas harian. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Rizki)
Kemacetan kendaraan mengular di salah satu ruas jalan di Bandung, mencerminkan padatnya mobilitas warga di tengah aktivitas harian. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Rizki)

Ti Soreang ka Kopo

ti Soreang ka Kopo kana angkot nu hejo
ngan sorangan, kuring diuk di tukangeun

ti Soreang ka Kopo kana angkot nu hejo
tos ulin ti imah wargi ngan areuweuh

tadi na mah kuring na teh rek tuluy ka Ciwidey
ngan sorangan kuring sieun da teu nyaho

kuring lieur rek ka mana
rek tataros kuring era
kuring lieur rek ka mana
rek tataros teu bisa basa Sunda
tungtungna mah balik deui ka imah

…

Lagu “Ti Soreang ka Kopo” dari Jafanisun pernah hits di era 2014-2020. Lagu itu bercerita tentang pengalaman seorang pria asal Tanggerang di Bandung. Ia tengah melakukan perjalanan dari Soreang ke Kopo menggunakan angkot hijau. Namun ia tidak hapal jalan, yang pada akhirnya kembali lagi ke rumahnya di Tanggerang.

Jafanisun mungkin tak menyangka daerah Kopo—yang menjadi seting lagu itu—kini tengah viral dan jadi perbincangan hangat di media sosial. Viral karena meme humor, kemacetan lalu lintas, serta banjir yang sering melanda.

Tiba-tiba saya ingin mengikuti jejak sosok laki-laki dalam lagu “Ti Soreang ka Kopo”-nya Jafanisun. Sekaligus ingin mengenang kembali pengalaman—setelah puluhan tahun—naik angkot rute Panjang, Soreang-Kopo.

Hari itu akhir di  Ramadhan. Maghribnya ada undangan buka puasa bersama dari teman-teman masa saya kuliah dulu di sekitaran Talaga Bodas, Kota Bandung. Teman saya menunggu pukul 16.00 di bawah flyover Kopo. Takut telat, saya berangkat naik angkot dari perempatan lampu merah Gading Tutuka, Soreang, pukul 13.00 WIB.

Siang itu panas sekali. Lalulintas begitu hiruk pikuk. Angkot yang saya tumpangi melaju, membawa tumpangan 5 orang. Pak sopir masih tungak tengok kiri-kanan, cari tumpangan.

Di pertigaan Warunglobak, di sekitar Patung Strawberi, angkot berhenti. Pertigaan Warunglobak termasuk denyut nadi perekonomian Soreang. Pernah disebut sebagai segitiga emasnya Soreang tapi kurang berhasil. Ruko-ruko banyak yang kosong. Tapi, para UMKM baik berupa warung maupun roda dorong bertebaran di pinggir jalan. 

Pelan-pelan menggeliat ramai. Apalagi kalau hari Minggu ada pasar kaget yang meluber hingga pinggir jalan. Tapi, ketahuilah kawasan ini termasuk titik macet dan titik banjir jika musim hujan datang.

“Bandung! Bandung!” Pak Sopir kembali berteriak. Seorang penumpang naik.

Angkot melaju agak pelan ke kawasan Katapang. Sebelum SPBU Katapang, tampak di sebelah kanan ruko-ruko pusat pergudangan. Di kawasan ini—kalau hujan besar—jalanan tertutup air. Tinggi air selutut orang dewasa. Drainase tidak berjalan baik. Posisi selokan berada di atas jalan.

Sebelum tiba ke pertigaan Katapang, ada titik macet berikutnya. Angkot melewati pabrik sepatu yang cukup besar di sebelah kanan. Sore menjelang magrib adalah saatnya karyawan pabrik--yang ratusan bahkan mungkin ribuan itu--pulang. 

Puluhan angkot ngetem, siap menarik penumpang. Sepeda motor para penjemput karyawan dan gojek parkir berjejer di pinggir jalan dan memenuhi parkiran supermarket yang berada dekat situ. Para pedagang kaki lima sibuk melayani para karyawan yang lapar. Kalau sudah begini, kawasan ini jadi titik macet permanen. Kemacetannya mengular dari selatan hingga Warunglobak, dari sebelah utara hingga Asia Sport.

Saat itu pukul 13.30. Sebentar lagi lewat pusatnya kawasan Katapang—perempatan lampu merah. Di sebelah kiri ada dua SDIT; Borma; Superindo; ruko, warung hingga pedagang ayam bakar dan es cendol Katapang yang terkenal itu. 

Angkot berhenti agak lama. Cari penumpang. Masih panas. Aku menyeka keringat. Dua orang penumpang naik. Angkot melaju lagi. Melewati pabrik sepatu Asia Sport di sebelah kiri. Sebelum bangkrut, pabrik itu pernah berjaya memproduksi sepatu merek-merek terkenal.

Ilustrasi angkot Kopo-Soreang. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: mil)
Ilustrasi angkot Kopo-Soreang. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: mil)

Bojongbuah adalah titik macet berikutnya. Ini kawasan pabrik. Pabrik peralatan naik gunung, pabrik kue, dan pabrik lainnya ada di sini. Jangan tanya keruwetan dan kemacetan di kawasan ini saat bubaran karyawan pabrik. Terlalu banyak detail untuk diceritakan--meskipun para petugas polisi sering siaga. Untunglah saat angkot yang saya tumpangi lewat tidak pas waktu bubaran pabrik.

Setelah melewati Bojongbuah, angkot melaju agak kencang. Beberapa penumpang naik dan turun di Cilampeni. Melewati jembatan Citarum terus ke Komplek Lanud Sulaiman. Di sekitar Cicukang angkot tersendat sebentar karena ada simpangan—Cicukang, Kopo Permai, Manglid. Setelah itu, angkot melaju lebih cepat karena jalan besar. SMP, SMA Margahayu, dan Patung Kapal terlewati. Di sekitar ini saat macet adalah waktu bubaran sekolah. Biasanya tidak lama, kok. Boleh dibilang inilah jalur tercepat di jalan Kopo-Soreang.

Angkot akan tersendat sebelum Jalan Dengdek—karena memang jalannya tidak rata—sebelum pertigaan Sukamenak ke arah Cibaduyut. Selain titik macet, kawasan Jalan Dengdek ini terkenal langganan banjir. Maklum di tempat ini tempat bertemunya beberapa jalur sungai.

Kalau hujan besar, tinggi air di kawasan ini hingga mencapai satu meter membuat kendaraan bermotor dan sebagian mobil tidak bisa melintas. Kalau sudah begini, kendaraan dari jalur selatan akan balik lagi melewati jalan Lanud Sulaiman atau Manglid kemudian masuk komplek Taman Kopo Indah. Sementara dari utara, kendaraan melewati Pasar Sayati Lama keluar dari Jalan Manglid atau lewat Jalan Sukamenak keluar di Lanud Sulaiman.

Untunglah saat itu bukan musim hujan, angkot yang saya tumpangi berjalan padat merayap seperti siput di tengah ramainya kendaraan. Maju sedikit, lalu terdiam lama. Begitulah selepas dari jalan Dengdek lewat pertigaan Sukamenak, kawasan padat Pasar Sayati, Bihbul, bawah jalan tol, dan Miko Mall.

Dari keluar Tol Kopo menuju persimpangan Flyover Kopo—tempat janjian kami--berjarak kurang lebih 1,5 kilometer. Tapi, perjalanan  kami membutuhkan 30-40 menit. Durasi itu terasa lebih lama dari yang seharusnya karena kemacetan dan kepadatan lalu lintas menyergap di sepanjang jalan.

Sejak awal memasuki ruas jalan, ritme kendaraan sudah tersendat. Laju roda terhenti berkali-kali. Arus lalu lintas kerap terputus oleh kendaraan yang menyeberang menuju persimpangan.

Situasi kian ruwet saat kendaraan besar seperti truk melintas, membuat ruang jalan yang sempit terasa makin sesak. 

Menariknya, meski kondisi jalan semrawut, para pengendara jarang membunyikan klakson kecuali sesekali bersahutan dalam situasi tertentu. Namun, bagi mereka yang setiap hari melintasi Kopo, kondisi ini bukan hal baru. Rutinitas mereka selalu diawali dengan perjuangan menerobos kepadatan di Jalan Raya Kopo. 

Di depan sebelum flyover banyak simpangan: Cibolerang; rumah sakit, dan kawasan pergudangan. Lalu, dua jalan legendaris di Kota Bandung yaitu Cibaduyut dan Caringin. Kita tahu bahwa Cibaduyut adalah sentra sepatu dan Caringin adalah pasar induk terbesar di kawasan Bandung. 

Saya turun dari angkot di bawah flyover Kopo pas pukul 16.00. Tiga jam naik angkot dari Soreang ke Kopo tak seindah dalam lagu Jafanisun.

Untunglah kawan saya sudah menunggu. Ia tampak tersenyum menghampiri saya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)