Naik Angkot dari Soreang ke Kopo Tak Seindah dalam Lagu

Dudung Ridwan
Ditulis oleh Dudung Ridwan diterbitkan Selasa 28 Apr 2026, 15:01 WIB
Kemacetan kendaraan mengular di salah satu ruas jalan di Bandung, mencerminkan padatnya mobilitas warga di tengah aktivitas harian. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Rizki)

Kemacetan kendaraan mengular di salah satu ruas jalan di Bandung, mencerminkan padatnya mobilitas warga di tengah aktivitas harian. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Rizki)

Ti Soreang ka Kopo

ti Soreang ka Kopo kana angkot nu hejo
ngan sorangan, kuring diuk di tukangeun

ti Soreang ka Kopo kana angkot nu hejo
tos ulin ti imah wargi ngan areuweuh

tadi na mah kuring na teh rek tuluy ka Ciwidey
ngan sorangan kuring sieun da teu nyaho

kuring lieur rek ka mana
rek tataros kuring era
kuring lieur rek ka mana
rek tataros teu bisa basa Sunda
tungtungna mah balik deui ka imah

Lagu “Ti Soreang ka Kopo” dari Jafanisun pernah hits di era 2014-2020. Lagu itu bercerita tentang pengalaman seorang pria asal Tanggerang di Bandung. Ia tengah melakukan perjalanan dari Soreang ke Kopo menggunakan angkot hijau. Namun ia tidak hapal jalan, yang pada akhirnya kembali lagi ke rumahnya di Tanggerang.

Jafanisun mungkin tak menyangka daerah Kopo—yang menjadi seting lagu itu—kini tengah viral dan jadi perbincangan hangat di media sosial. Viral karena meme humor, kemacetan lalu lintas, serta banjir yang sering melanda.

Tiba-tiba saya ingin mengikuti jejak sosok laki-laki dalam lagu “Ti Soreang ka Kopo”-nya Jafanisun. Sekaligus ingin mengenang kembali pengalaman—setelah puluhan tahun—naik angkot rute Panjang, Soreang-Kopo.

Hari itu akhir di  Ramadhan. Maghribnya ada undangan buka puasa bersama dari teman-teman masa saya kuliah dulu di sekitaran Talaga Bodas, Kota Bandung. Teman saya menunggu pukul 16.00 di bawah flyover Kopo. Takut telat, saya berangkat naik angkot dari perempatan lampu merah Gading Tutuka, Soreang, pukul 13.00 WIB.

Siang itu panas sekali. Lalulintas begitu hiruk pikuk. Angkot yang saya tumpangi melaju, membawa tumpangan 5 orang. Pak sopir masih tungak tengok kiri-kanan, cari tumpangan.

Di pertigaan Warunglobak, di sekitar Patung Strawberi, angkot berhenti. Pertigaan Warunglobak termasuk denyut nadi perekonomian Soreang. Pernah disebut sebagai segitiga emasnya Soreang tapi kurang berhasil. Ruko-ruko banyak yang kosong. Tapi, para UMKM baik berupa warung maupun roda dorong bertebaran di pinggir jalan. 

Pelan-pelan menggeliat ramai. Apalagi kalau hari Minggu ada pasar kaget yang meluber hingga pinggir jalan. Tapi, ketahuilah kawasan ini termasuk titik macet dan titik banjir jika musim hujan datang.

“Bandung! Bandung!” Pak Sopir kembali berteriak. Seorang penumpang naik.

Angkot melaju agak pelan ke kawasan Katapang. Sebelum SPBU Katapang, tampak di sebelah kanan ruko-ruko pusat pergudangan. Di kawasan ini—kalau hujan besar—jalanan tertutup air. Tinggi air selutut orang dewasa. Drainase tidak berjalan baik. Posisi selokan berada di atas jalan.

Sebelum tiba ke pertigaan Katapang, ada titik macet berikutnya. Angkot melewati pabrik sepatu yang cukup besar di sebelah kanan. Sore menjelang magrib adalah saatnya karyawan pabrik--yang ratusan bahkan mungkin ribuan itu--pulang. 

Puluhan angkot ngetem, siap menarik penumpang. Sepeda motor para penjemput karyawan dan gojek parkir berjejer di pinggir jalan dan memenuhi parkiran supermarket yang berada dekat situ. Para pedagang kaki lima sibuk melayani para karyawan yang lapar. Kalau sudah begini, kawasan ini jadi titik macet permanen. Kemacetannya mengular dari selatan hingga Warunglobak, dari sebelah utara hingga Asia Sport.

Saat itu pukul 13.30. Sebentar lagi lewat pusatnya kawasan Katapang—perempatan lampu merah. Di sebelah kiri ada dua SDIT; Borma; Superindo; ruko, warung hingga pedagang ayam bakar dan es cendol Katapang yang terkenal itu. 

Angkot berhenti agak lama. Cari penumpang. Masih panas. Aku menyeka keringat. Dua orang penumpang naik. Angkot melaju lagi. Melewati pabrik sepatu Asia Sport di sebelah kiri. Sebelum bangkrut, pabrik itu pernah berjaya memproduksi sepatu merek-merek terkenal.

Ilustrasi angkot Kopo-Soreang. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: mil)
Ilustrasi angkot Kopo-Soreang. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: mil)

Bojongbuah adalah titik macet berikutnya. Ini kawasan pabrik. Pabrik peralatan naik gunung, pabrik kue, dan pabrik lainnya ada di sini. Jangan tanya keruwetan dan kemacetan di kawasan ini saat bubaran karyawan pabrik. Terlalu banyak detail untuk diceritakan--meskipun para petugas polisi sering siaga. Untunglah saat angkot yang saya tumpangi lewat tidak pas waktu bubaran pabrik.

Setelah melewati Bojongbuah, angkot melaju agak kencang. Beberapa penumpang naik dan turun di Cilampeni. Melewati jembatan Citarum terus ke Komplek Lanud Sulaiman. Di sekitar Cicukang angkot tersendat sebentar karena ada simpangan—Cicukang, Kopo Permai, Manglid. Setelah itu, angkot melaju lebih cepat karena jalan besar. SMP, SMA Margahayu, dan Patung Kapal terlewati. Di sekitar ini saat macet adalah waktu bubaran sekolah. Biasanya tidak lama, kok. Boleh dibilang inilah jalur tercepat di jalan Kopo-Soreang.

Angkot akan tersendat sebelum Jalan Dengdek—karena memang jalannya tidak rata—sebelum pertigaan Sukamenak ke arah Cibaduyut. Selain titik macet, kawasan Jalan Dengdek ini terkenal langganan banjir. Maklum di tempat ini tempat bertemunya beberapa jalur sungai.

Kalau hujan besar, tinggi air di kawasan ini hingga mencapai satu meter membuat kendaraan bermotor dan sebagian mobil tidak bisa melintas. Kalau sudah begini, kendaraan dari jalur selatan akan balik lagi melewati jalan Lanud Sulaiman atau Manglid kemudian masuk komplek Taman Kopo Indah. Sementara dari utara, kendaraan melewati Pasar Sayati Lama keluar dari Jalan Manglid atau lewat Jalan Sukamenak keluar di Lanud Sulaiman.

Untunglah saat itu bukan musim hujan, angkot yang saya tumpangi berjalan padat merayap seperti siput di tengah ramainya kendaraan. Maju sedikit, lalu terdiam lama. Begitulah selepas dari jalan Dengdek lewat pertigaan Sukamenak, kawasan padat Pasar Sayati, Bihbul, bawah jalan tol, dan Miko Mall.

Dari keluar Tol Kopo menuju persimpangan Flyover Kopo—tempat janjian kami--berjarak kurang lebih 1,5 kilometer. Tapi, perjalanan  kami membutuhkan 30-40 menit. Durasi itu terasa lebih lama dari yang seharusnya karena kemacetan dan kepadatan lalu lintas menyergap di sepanjang jalan.

Sejak awal memasuki ruas jalan, ritme kendaraan sudah tersendat. Laju roda terhenti berkali-kali. Arus lalu lintas kerap terputus oleh kendaraan yang menyeberang menuju persimpangan.

Situasi kian ruwet saat kendaraan besar seperti truk melintas, membuat ruang jalan yang sempit terasa makin sesak. 

Menariknya, meski kondisi jalan semrawut, para pengendara jarang membunyikan klakson kecuali sesekali bersahutan dalam situasi tertentu. Namun, bagi mereka yang setiap hari melintasi Kopo, kondisi ini bukan hal baru. Rutinitas mereka selalu diawali dengan perjuangan menerobos kepadatan di Jalan Raya Kopo. 

Di depan sebelum flyover banyak simpangan: Cibolerang; rumah sakit, dan kawasan pergudangan. Lalu, dua jalan legendaris di Kota Bandung yaitu Cibaduyut dan Caringin. Kita tahu bahwa Cibaduyut adalah sentra sepatu dan Caringin adalah pasar induk terbesar di kawasan Bandung. 

Saya turun dari angkot di bawah flyover Kopo pas pukul 16.00. Tiga jam naik angkot dari Soreang ke Kopo tak seindah dalam lagu Jafanisun.

Untunglah kawan saya sudah menunggu. Ia tampak tersenyum menghampiri saya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dudung Ridwan
Tentang Dudung Ridwan
Jurnalis dan Pengamat Bulutangkis

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)