Gedung Sate Rapi di Depan, Kacau di Belakang?

5 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
Spanduk dari Massa Solidaritas Para Pekerja Pariwisata Jawa Barat dipasang di pagar Gedung Sate, Senin 21 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Spanduk dari Massa Solidaritas Para Pekerja Pariwisata Jawa Barat dipasang di pagar Gedung Sate, Senin 21 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Bandung sudah lama dikenal sebagai kota yang cantik dan memiliki pusat-pusat yang penuh makna. Salah satunya adalah Gedung Sate, yang berdiri sebagai simbol dan sangat terikat pada identitas kota. Gedung Sate bukan hanya bangunan pemerintahan, melainkan titik temu antara sejarah, ruang publik, dan wajah Bandung yang terus diperlihatkan. Kawasan ini tidak pernah sepenuhnya diam, selalu menjadi pusat perhatian dan cermin bagaimana kota ini dibangun dan diatur.

Gedung Sate muncul dari gagasan besar tentang pembangunan pusat pemerintahan yang direncanakan sejak masa kolonial. Dibangun oleh Kolonel Geni V.L. Slors bersama arsitek J. Gerber, kawasan ini dirancang di atas lahan luas dengan tata letak simetris yang berorientasi selatan dan utara, membentang dari depan gedung ke utara hingga sejajar dengan Gunung Tangkuban Parahu. Rancangannya memadukan gaya Renaissance Italia, serta sentuhan Moorish pada jendela, dan pengaruh Asia pada bagian atap menara. Dari keseluruhan rencana besar tersebut, hanya sebagian yang terwujud, dan Gedung Sate menjadi bangunan yang paling mencolok sekaligus bertahan sebagai pusat pemerintahan hingga kini.

Perjalanan Gedung Sate juga tidak berhenti sebagai simbol administratif. Setelah kemerdekaan, gedung ini menjadi tempat perjuangan ketika para pemuda dan pegawai Departemen Pekerjaan Umum mempertahankannya pada peristiwa 3 Desember 1945 dari serangan tentara Sekutu dan Belanda. Meskipun persenjataan terbatas, mereka tetap melawan, yang menyebabkan korban jiwa yang kemudian dikenang sebagai bagian dari sejarah Hari Bakti Pekerjaan Umum.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa sejak awal, pembangunan dan pengelolaan ruang tidak pernah berdiri sendiri sebagai proyek fisik. Hal ini melekat pada semangat pengabdian dan kepentingan publik. Gedung Sate tidak hanya merepresentasikan kekuasaan tetapi juga menjadi simbol bagaimana pembangunan seharusnya memiliki makna yang lebih dalam daripada hanya penampilan.

Setelah lebih dari satu abad sejak awal pembangunannya pada awal abad ke-20, kawasan Gedung Sate kembali ditata oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Penataan ini memberikan wajah baru yang lebih rapi di pusat kota, seolah menghidupkan kembali kawasan simbolik Bandung. Penataan tersebut, mulai memperlihatkan kontras yang semakin jelas antara pembaruan di pusat kota dan kondisi di bagian lain.

Gedung Sate (Sumber: bandung.go.id)
Gedung Sate (Sumber: bandung.go.id)

Rapi di Depan: Penataan Halaman dan Penyatuan Gasibu

Penataan kawasan Gedung Sate oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ditegaskan hanya menyentuh area luar atau halaman, tanpa mengubah bangunan utama yang berstatus cagar budaya. Fokusnya diarahkan untuk merapikan ruang terbuka sekaligus menghubungkan Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu agar aktivitas publik tidak lagi meluber ke jalan. Halaman dijadikan pusat pembenahan, sebagai ruang untuk menampung aktivitas masyarakat dalam kawasan yang lebih tertib.

Langkah ini memang menghadirkan perubahan yang langsung terlihat. Ruang yang sebelumnya terpisah kini diarahkan menjadi satu kesatuan yang lebih terbuka dan terorganisir. Kawasan pusat kota tampak lebih rapi, dengan fungsi yang mulai diatur ulang agar tidak mengganggu lalu lintas. Penyatuan Gedung Sate dan Gasibu menjadi simbol penataan yang menghadirkan kesan bahwa kota sedang bergerak menuju keteraturan. Bahkan, Dedi Mulyadi menegaskan pilihan kebijakan ini dengan pernyataan, “Ayo pilih mana? Pilih uangnya saya habiskan tapi tidak ada yang marah, atau pilih saya gunakan untuk kepentingan yang bermanfaat,” sebagai bentuk pembelaan atas penggunaan anggaran.

Akan tetapi, penataan yang ditampilkan begitu rapi di depan justru memperlihatkan batasnya sendiri. Pernyataan tersebut terdengar tegas, tetapi pada saat yang sama membuat persoalan kota menjadi pilihan yang sederhana. Padahal yang dipersoalkan bukan sekadar digunakan atau tidaknya anggaran, melainkan bagaimana arah penggunaannya. Ketika pembenahan difokuskan pada bagian yang paling terlihat, hasilnya bukan kota yang benar-benar tertata, melainkan hanya tampak rapi di permukaan. Bagian depan dibenahi, sementara persoalan di belakang tetap berulang tanpa penanganan yang setara.

Kacau di Belakang: Kesemrawutan yang Masih Nyata

Di tengah proyek penyatuan kawasan Gedung Sate, Dedi Mulyadi justru menemukan fakta yang berlawanan di lapangan. Kontras itu makin terlihat. Penataan kawasan Gedung Sate justru dibarengi temuan kondisi kota yang berantakan di sekitarnya. Ketika Dedi Mulyadi meninjau langsung, ia menemukan tumpukan sampah, trotoar yang tidak terawat, hingga keberadaan tunawisma di fasilitas umum. Ini bukan persoalan kecil atau insidental, melainkan gambaran nyata bagaimana ruang kota masih dibiarkan berjalan tanpa pengelolaan yang konsisten. Penataan besar dilakukan, tetapi persoalan dasar justru masih terlihat di depan mata.

Situasi ini memperlihatkan ketimpangan yang sulit ditutupi. Di satu sisi, proyek penyatuan halaman dan penataan infrastruktur jalan digarap serius demi estetika dan wajah kota. Di sisi lain, hal-hal mendasar seperti kebersihan, ketertiban, dan fungsi ruang publik masih harus diingatkan berulang kali. Bahkan dalam proses proyek itu sendiri, Dedi Mulyadi sampai mengingatkan agar jalan tidak kotor oleh aktivitas alat berat, termasuk meminta ban kendaraan dibersihkan sebelum keluar ke jalan umum. Hal yang seharusnya menjadi standar dasar justru masih harus diawasi secara langsung.

Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan Bandung bukan sekadar kurang proyek, tetapi lemahnya konsistensi dalam mengelola kota. Instruksi penertiban pedagang kaki lima (PKL) dan parkir liar hingga dorongan agar Satpol PP bertindak tegas menunjukkan bahwa masalahnya sudah lama ada, tetapi tidak pernah benar-benar ditangani secara menyeluruh. Ketika pembangunan fisik digenjot, sementara pengelolaan ruang sehari-hari masih terseok, maka hasilnya bukan kota yang tertata, melainkan kota yang rapi di satu titik dan kacau di banyak tempat.

Yang terlihat di Bandung hari ini bukan perubahan yang utuh, melainkan ketimpangan yang semakin gamblang antara yang dirapikan dan yang diabaikan. Kawasan seperti Gedung Sate memang tampil lebih tertib dan terhubung, tetapi itu hanya menyentuh lapisan terluar dari persoalan kota.

Ketika penataan berhenti pada ruang yang paling terlihat, sementara masalah mendasar terus berulang di tempat lain, maka yang terjadi bukan pembenahan, melainkan sekadar mempercantik tampilan. Di saat yang sama, arah pembangunan ini juga mulai menggeser makna yang lebih dalam. Gedung Sate yang telah berdiri lebih dari satu abad bukan hanya soal bentuk fisik, tetapi juga ruang dan sejarah yang melekat di sekitarnya. Jika perubahan terus didorong atas nama estetika, maka risikonya bukan sekadar perubahan wajah kota, tetapi juga perlahan bisa mengaburkan nilai historisnya.

Selama pembangunan masih sibuk merapikan yang tampak di depan dan enggan menyentuh persoalan yang sebenarnya, Bandung tidak benar-benar berubah, hanya dibuat terlihat lebih baik. Kawasan seperti Gedung Sate boleh saja makin rapi, tetapi itu tidak menghapus kenyataan bahwa masalah kota tetap hidup di tempat lain. (*)

REFERENSI

Syafei, F, R. (2026). “Penataan Gedung Sate Ditegaskan Hanya di Halaman, Dedi Mulyadi: Bangunan Utama Tetap Dilindungi”. Kompas.com

Bapenda Jabar. (2026). “PENYATUAN HALAMAN GEDUNG SATE TAK HILANGKAN FUNGSI JALAN | KDM MURKA LIHAT KESEMRAWUTAN”.

DBMPR Jawa barat. (n.d.). “Sejarah Gedung Sate dan Hari Bakti PU”.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)