Ketika Lari Pagi Berhenti di Aroma Sate dan Soto Madura: Cerita Hangat Keluarga Perantau di Bandung

6 menit baca
Syahiratul Maghfiroh
Ditulis oleh Syahiratul Maghfiroh diterbitkan
Yana, putri sulung keluarga Mustofa, sibuk memanggang sate ayam di depan kedai Soto dan Sate Ayam Khas Madura. (Foto: Syahiratul Mghfiroh)
Yana, putri sulung keluarga Mustofa, sibuk memanggang sate ayam di depan kedai Soto dan Sate Ayam Khas Madura. (Foto: Syahiratul Mghfiroh)

Saya memulai lari pagi dari kawasan Tritan Point, lalu keluar melalui gerbang menuju Jalan Soekarno-Hatta. Suasana terasa segar dan tenang, udara pagi yang lembap berpadu dengan kesejukan sisa hujan semalam, menghadirkan aroma tanah basah yang menenangkan. Hingga tiba-tiba aroma kaldu gurih menyelinap di antara udara pagi.

Bau sedap itu datang dari sebuah kedai sederhana bertuliskan Soto dan Sate Ayam Khas Madura. Asap tipis dari panci kuah soto melingkar ke udara, membawa aroma kaldu yang gurih itu terbawa oleh angin. Cukup untuk membuat siapa pun yang melintas tergoda untuk berhenti sejenak.

Kedai sederhana itu dikelola oleh keluarga Mustofa dan Shada, pasangan asal Bangkalan, Madura, yang merantau ke Bandung sejak 2015. Dari balik kepulan asap kuah soto tampak Yana,putri sulung mereka yang baru berusia delapan belas tahun sibuk membantu melayani pembeli.

Usai lulus dari sekolah menengah di kampung halamannya, Yana kini tinggal bersama orang tuanya dan menghabiskan hari-harinya di kedai ini, meneruskan usaha keluarga yang sudah berdiri hampir sepuluh tahun.

Di sela kesibukannya melayani pelanggan, Yana menyimpan mimpi yang belum sempat ia wujudkan. Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi tenaga Kesehatan, awalnya ingin menjadi bidan, namun tinggi badannya tak memenuhi syarat. Ia sempat mencoba mendaftar jurusan keperawatan, tapi biaya kuliah dan hidup di perantauan membuat berfikir ulang sehingga langkahnya tertunda.

“Kalau rezeki enggak ke mana,” ujarnya pelan.

“Saya nabung dulu, siapa tahu tahun depan bisa lanjut.”

Di balik aroma gurih kuah soto yang mengepul setiap pagi, tersimpan kisah panjang perjuangan keluarga kecil ini. Mustofa dan istrinya, Shada, dulu sempat merantau ke Malaysia untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Namun nasib berkata lain, hidup di negeri orang tak selalu mudah. Karena sering harus berpindah tempat dan berurusan dengan kejaran aparat, keduanya akhirnya memutuskan pulang ke tanah kelahiran.

Sayangnya, di Madura mereka tak menemukan banyak peluang. Hingga suatu hari, seorang kerabat yang tinggal di Bandung menawarkan untuk mencari tempat sehingga dapat memulai usaha kecil. Dari situlah perjalanan kedai soto dan sate ayam ini dimulai. Sebuah langkah sederhana yang kemudian menjadi sumber penghidupan keluarga mereka sejak 2015.

Perjalanan berjualan pun tak selalu mulus. Kedai mereka sudah beberapa kali digusur karena perubahan tata ruang dan pembangunan area parkir. Dari depan kampus STIKES, berpindah ke pinggir jalan, hingga kini menetap di area yang lebih kecil di pinggir jalan  Soekarno-Hatta kearah bundaran Cibiru.

“Kalau tanahnya bukan milik sendiri, ya harus siap pindah. Kadang baru ramai pembeli, sudah disuruh pergi lagi,” cerita Yana mengenang perjuangan ayahnya.

Namun dari ketidakpastian itu, keluarga Mustofa belajar arti keteguhan. Setiap pagi, bapak Mustofa tetap datang lebih awal untuk menyiapkan rebusan ayam, sementara ibu Shada meracik bumbu halus dari bawang merah, bawang putih, kunyit, ketumbar, dan udang rebon—bahan rahasia yang memberi cita rasa gurih khas Madura.

Bagi mereka, memasak bukan sekadar mencari nafkah, tapi juga cara menjaga kenangan kampung halaman agar tetap hidup di perantauan.

“Biar orang Bandung tahu juga, begini rasa soto Madura yang asli,” kata Yana sambil menuang kuah panas ke mangkuk pelanggan.

Ada semangat sederhana dalam setiap gerak mereka: menjaga kehangatan, menghidupi keluarga, dan menyajikan rasa yang jujur. Dari tangan mereka yang tak pernah lelah, soto ayam ini bukan hanya soal makanan, tapi juga tentang cinta, perjuangan, dan rumah yang mereka bawa jauh dari pulau asalnya.

Dari kejauhan saja, aroma kaldu ayam yang mendidih perlahan sudah lebih dulu menggoda. Kuahnya kekuningan, bening tapi kaya minyak alami dari lemak ayam yang meleleh perlahan selama direbus lebih dari satu jam. Di atas kompor, panci besar itu terus mengepulkan asap tipis, menebarkan wangi kunyit, bawang putih, dan udang rebon yang jadi rahasia kelezatan khas Madura.

Disini saya memesan soto ayam sebagai menu utama ditambah nasi. Ketika semangkuk soto disajikan, tampilannya sederhana hanya dengan potongan ayam suwir berpadu dengan bihun putih, kol, dan taburan daun seledri.

Tapi begitu sendok pertama menyentuh bibir, rasa gurihnya langsung mengisi seluruh mulut. Kuahnya ringan tapi berlapis, ada rasa asin lembut dari udang rebon, gurih dari kaldu ayam kampung dan rasa pedas halus dari lada yang membuat tubuh terasa hangat. Setiap suapan membawa sensasi yang menenangkan, seolah memeluk pagi yang lembap di Bandung.

Tekstur isinya pun seimbang. Ayamnya empuk, kolnya masih sedikit renyah, sementara bihun yang menyerap kuah terasa lembut di lidah. Tak ada rasa yang mendominasi, semuanya berpadu seperti harmoni rasa yang diracik dengan tangan sabar dan pengalaman panjang. Soto ini tidak mengejar kemewahan tampilan, tapi mengandalkan kejujuran rasa seperti karakter orang-orang Madura yang apa adanya.

Yana bercerita, resep soto ini diwariskan langsung dari keluarga di Bangkalan. Tak ada takaran pasti, semua dilakukan berdasarkan kebiasaan dan rasa.

“Kalau sudah terbiasa, tahu sendiri kapan bumbunya pas,” katanya sambil menambahkan sedikit garam ke dalam rebusan. Dari cerita itu, jelas terlihat bahwa soto ini bukan sekadar menu jualan, tapi juga warisan rasa yang terus dijaga lintas generasi.

Soto hangat dan nasi putih, teman pagi yang sempurna di Bandung yang dimasak dengan cita rasa dan perjuangan keluarga perantau Madura. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syahiratul Maghfiroh)
Soto hangat dan nasi putih, teman pagi yang sempurna di Bandung yang dimasak dengan cita rasa dan perjuangan keluarga perantau Madura. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syahiratul Maghfiroh)

Yang membuatnya berbeda dari banyak soto lain di Bandung adalah penggunaan udang rebon bahan kecil tapi penting yang jarang dipakai pada soto khas Jawa Barat. Sentuhan rebon inilah yang memberi rasa gurih laut dan aroma khas yang tidak mudah dilupakan. Bumbu halus yang digiling manual juga memberi rasa lebih “hidup”, jauh dari sensasi instan bumbu pabrikan.

Tak heran jika pelanggan yang datang bukan hanya warga sekitar, tetapi juga mahasiswa dan pekerja yang sengaja mampir sebelum beraktivitas.

Bagi kamu yang ingin mencicipi sendiri semangkuk kehangatan dari Soto dan Sate Ayam Khas Madura ini, kedai keluarga Mustofa bisa kamu temukan di pinggir Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, tak jauh dari Tritan Point.

Kedai ini buka setiap hari, dari pagi hingga sore hari, dan selalu ramai dikunjungi pelanggan tetap maupun pembeli yang kebetulan melintas. Dengan harga mulai dari Rp18.000, kamu sudah bisa menikmati seporsi soto ayam lengkap dengan nasi hangat. Porsi yang pas untuk memulai hari atau mengisi tenaga di tengah aktivitas.

Meski soto ayam menjadi menu andalan yang paling sering dipesan, sate ayamnya juga wajib dicoba. Daging ayamnya empuk, dibakar hingga kecokelatan dengan olesan bumbu kacang khas Madura yang gurih dan sedikit manis. Paduan keduanya soto dan sate ayam menjadi kombinasi sempurna antara cita rasa hangat dan aroma bakaran yang menggoda.

Jadi, jika suatu pagi kamu melewati jalan ini dan mencium wangi kaldu yang samar di udara, jangan ragu untuk berhenti sejenak. Karena di balik kepulan asap dan suara wajan yang beradu, tersaji semangkuk kelezatan yang lahir dari kerja keras dan cinta sederhana keluarga perantau Madura.

Setelah menikmati semangkuk soto yang menghangatkan tubuh, saya sempat berbincang sebentar dengan Yana sebelum berpamitan. Ia tersenyum, lalu kembali sibuk melayani pelanggan yang baru datang.

Saya keluar dari kedai dengan perut kenyang dan hati yang hangat. Rasa gurih soto masih tertinggal di lidah, sementara aroma kaldu seolah mengikuti di belakang. Di kota besar yang bergerak cepat, kedai kecil ini menjadi pengingat bahwa kehangatan tak selalu dicari di rumah, kadang cukup ditemukan di semangkuk soto, di pinggir jalan yang lembap, bersama cerita keluarga yang tak pernah menyerah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Syahiratul Maghfiroh
Mahasiswa Aktif UIN Sunan Gunung Djati Bandung Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 11:09

Bobotoh Layak Menuntut Persib Lebih daripada Sekadar Juara

Klab besar di dunia hampir tidak pernah mendefinisikan dirinya hanya melalui jumlah piala yang mereka koleksi.

Bobotoh Persib sedang berkonvoi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Lukman Hidayat/Magang)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 08:00

Ci Manuk, Sungai Suci Penuh Do’a untuk Kekuatan Jiwa

Ci Manuk itu bukan berasal dari kata "manuk" yang berarti burung, tapi berasal dari kata "manu", dari bahasa Sanskerta.

Bandar Dermayu, tertulis dalam peta abad ke-16. Peta ini merupakan potongan dari Nova tabula insularum Javae, Sumatrae, Borneonis et aliarum Malaccam usque, 1598. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 07:42

Republik Tanpa Akuntabilitas

Kekuasaan yang menolak pertanggungjawaban sesungguhnya sedang mengingkari hakikatnya sebagai amanah rakyat.

Sebuah aksi penolakan Jokowi di Jawa Barat. Bandung 14 Juli 2026 di Depan DPRD Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:45

Sisi Lain Kota Bandung: Kebiasaan Lama yang Berulang Kembali

Bahkan peringatan "Kesurupan" pun tetap tidak menghentikan oknum pembuang sampah sembarangan di kawasan Cibaduyut.

Peringatan Hantu dan CCTV pun tidak mengurungkan niat seseorang untuk membuang sampah sembarangan (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 18:03

MPLS Tanpa Bully

Sekolah yang ramah bukanlah tempat menimba ilmu yang sekadar bebas dari perundungan. Rumah kedua itu harus menjadi ruang bersama yang membuat setiap anak pulang dengan senyum yang lebih lebar

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 17:22

Dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap Pedagang Kantin dan UMKM Sekolah

Saya tertarik membahas topik ini karena menunjukkan dampak Program Makan Bergizi Gratis bagi siswa, pedagang kantin, dan UMKM sekolah.

FAGI Jabar ingatkan bahwa tugas utama guru adalah mengajar, bukan mengurusi MBG. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 16:23

Benang-Benang Asing dalam Tenun Tradisi Nusantara: Jejak Budaya Eropa dalam Perubahan Kebaya dan Identitas Sosial.

Membahas pengaruh budaya Eropa terhadap perubahan kebaya sebagai busana tradisional dan simbol identitas sosial di Nusantara pada masa kolonial.

Wanita Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 15:41

Mengenalkan Sekolah lewat MPLS yang Ramah bagi Anak

Selama ini, banyak orang yang membahas tentang pentingnya sekolah yang ramah bagi anak. Seperti apa sekolah ramah anak itu? 

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ikon 15 Jul 2026, 15:24

Hikayat Sport Center Arcamanik, Dari Arena PON Menjadi Pusat Sport Tourism

Sport Center Arcamanik bertransformasi dari venue PON 2016 menjadi pusat olahraga, wisata keluarga, dan kuliner Bandung.

Anak-anak bermain layangan di sekitar area Sport Center Arcamanik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jul 2026, 15:22

Tak Terbendung Lautan Festival di Kota Bandung

Jika menelisik pada festival unggulan tahunan di kota Bandung tersebut, maka sudah pasti masyarakat kota Bandung dimanjakan.

Peserta saat mengikuti Festival Asia Afrika 2026 di kawasan Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Sabtu 11 Juli 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)