Ketika Lari Pagi Berhenti di Aroma Sate dan Soto Madura: Cerita Hangat Keluarga Perantau di Bandung

Syahiratul Maghfiroh
Ditulis oleh Syahiratul Maghfiroh diterbitkan Minggu 23 Nov 2025, 16:25 WIB
Yana, putri sulung keluarga Mustofa, sibuk memanggang sate ayam di depan kedai Soto dan Sate Ayam Khas Madura. (Foto: Syahiratul Mghfiroh)

Yana, putri sulung keluarga Mustofa, sibuk memanggang sate ayam di depan kedai Soto dan Sate Ayam Khas Madura. (Foto: Syahiratul Mghfiroh)

Saya memulai lari pagi dari kawasan Tritan Point, lalu keluar melalui gerbang menuju Jalan Soekarno-Hatta. Suasana terasa segar dan tenang, udara pagi yang lembap berpadu dengan kesejukan sisa hujan semalam, menghadirkan aroma tanah basah yang menenangkan. Hingga tiba-tiba aroma kaldu gurih menyelinap di antara udara pagi.

Bau sedap itu datang dari sebuah kedai sederhana bertuliskan Soto dan Sate Ayam Khas Madura. Asap tipis dari panci kuah soto melingkar ke udara, membawa aroma kaldu yang gurih itu terbawa oleh angin. Cukup untuk membuat siapa pun yang melintas tergoda untuk berhenti sejenak.

Kedai sederhana itu dikelola oleh keluarga Mustofa dan Shada, pasangan asal Bangkalan, Madura, yang merantau ke Bandung sejak 2015. Dari balik kepulan asap kuah soto tampak Yana,putri sulung mereka yang baru berusia delapan belas tahun sibuk membantu melayani pembeli.

Usai lulus dari sekolah menengah di kampung halamannya, Yana kini tinggal bersama orang tuanya dan menghabiskan hari-harinya di kedai ini, meneruskan usaha keluarga yang sudah berdiri hampir sepuluh tahun.

Di sela kesibukannya melayani pelanggan, Yana menyimpan mimpi yang belum sempat ia wujudkan. Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi tenaga Kesehatan, awalnya ingin menjadi bidan, namun tinggi badannya tak memenuhi syarat. Ia sempat mencoba mendaftar jurusan keperawatan, tapi biaya kuliah dan hidup di perantauan membuat berfikir ulang sehingga langkahnya tertunda.

“Kalau rezeki enggak ke mana,” ujarnya pelan.

“Saya nabung dulu, siapa tahu tahun depan bisa lanjut.”

Di balik aroma gurih kuah soto yang mengepul setiap pagi, tersimpan kisah panjang perjuangan keluarga kecil ini. Mustofa dan istrinya, Shada, dulu sempat merantau ke Malaysia untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Namun nasib berkata lain, hidup di negeri orang tak selalu mudah. Karena sering harus berpindah tempat dan berurusan dengan kejaran aparat, keduanya akhirnya memutuskan pulang ke tanah kelahiran.

Sayangnya, di Madura mereka tak menemukan banyak peluang. Hingga suatu hari, seorang kerabat yang tinggal di Bandung menawarkan untuk mencari tempat sehingga dapat memulai usaha kecil. Dari situlah perjalanan kedai soto dan sate ayam ini dimulai. Sebuah langkah sederhana yang kemudian menjadi sumber penghidupan keluarga mereka sejak 2015.

Perjalanan berjualan pun tak selalu mulus. Kedai mereka sudah beberapa kali digusur karena perubahan tata ruang dan pembangunan area parkir. Dari depan kampus STIKES, berpindah ke pinggir jalan, hingga kini menetap di area yang lebih kecil di pinggir jalan  Soekarno-Hatta kearah bundaran Cibiru.

“Kalau tanahnya bukan milik sendiri, ya harus siap pindah. Kadang baru ramai pembeli, sudah disuruh pergi lagi,” cerita Yana mengenang perjuangan ayahnya.

Namun dari ketidakpastian itu, keluarga Mustofa belajar arti keteguhan. Setiap pagi, bapak Mustofa tetap datang lebih awal untuk menyiapkan rebusan ayam, sementara ibu Shada meracik bumbu halus dari bawang merah, bawang putih, kunyit, ketumbar, dan udang rebon—bahan rahasia yang memberi cita rasa gurih khas Madura.

Bagi mereka, memasak bukan sekadar mencari nafkah, tapi juga cara menjaga kenangan kampung halaman agar tetap hidup di perantauan.

“Biar orang Bandung tahu juga, begini rasa soto Madura yang asli,” kata Yana sambil menuang kuah panas ke mangkuk pelanggan.

Ada semangat sederhana dalam setiap gerak mereka: menjaga kehangatan, menghidupi keluarga, dan menyajikan rasa yang jujur. Dari tangan mereka yang tak pernah lelah, soto ayam ini bukan hanya soal makanan, tapi juga tentang cinta, perjuangan, dan rumah yang mereka bawa jauh dari pulau asalnya.

Dari kejauhan saja, aroma kaldu ayam yang mendidih perlahan sudah lebih dulu menggoda. Kuahnya kekuningan, bening tapi kaya minyak alami dari lemak ayam yang meleleh perlahan selama direbus lebih dari satu jam. Di atas kompor, panci besar itu terus mengepulkan asap tipis, menebarkan wangi kunyit, bawang putih, dan udang rebon yang jadi rahasia kelezatan khas Madura.

Disini saya memesan soto ayam sebagai menu utama ditambah nasi. Ketika semangkuk soto disajikan, tampilannya sederhana hanya dengan potongan ayam suwir berpadu dengan bihun putih, kol, dan taburan daun seledri.

Tapi begitu sendok pertama menyentuh bibir, rasa gurihnya langsung mengisi seluruh mulut. Kuahnya ringan tapi berlapis, ada rasa asin lembut dari udang rebon, gurih dari kaldu ayam kampung dan rasa pedas halus dari lada yang membuat tubuh terasa hangat. Setiap suapan membawa sensasi yang menenangkan, seolah memeluk pagi yang lembap di Bandung.

Tekstur isinya pun seimbang. Ayamnya empuk, kolnya masih sedikit renyah, sementara bihun yang menyerap kuah terasa lembut di lidah. Tak ada rasa yang mendominasi, semuanya berpadu seperti harmoni rasa yang diracik dengan tangan sabar dan pengalaman panjang. Soto ini tidak mengejar kemewahan tampilan, tapi mengandalkan kejujuran rasa seperti karakter orang-orang Madura yang apa adanya.

Yana bercerita, resep soto ini diwariskan langsung dari keluarga di Bangkalan. Tak ada takaran pasti, semua dilakukan berdasarkan kebiasaan dan rasa.

“Kalau sudah terbiasa, tahu sendiri kapan bumbunya pas,” katanya sambil menambahkan sedikit garam ke dalam rebusan. Dari cerita itu, jelas terlihat bahwa soto ini bukan sekadar menu jualan, tapi juga warisan rasa yang terus dijaga lintas generasi.

Soto hangat dan nasi putih, teman pagi yang sempurna di Bandung yang dimasak dengan cita rasa dan perjuangan keluarga perantau Madura. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syahiratul Maghfiroh)
Soto hangat dan nasi putih, teman pagi yang sempurna di Bandung yang dimasak dengan cita rasa dan perjuangan keluarga perantau Madura. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syahiratul Maghfiroh)

Yang membuatnya berbeda dari banyak soto lain di Bandung adalah penggunaan udang rebon bahan kecil tapi penting yang jarang dipakai pada soto khas Jawa Barat. Sentuhan rebon inilah yang memberi rasa gurih laut dan aroma khas yang tidak mudah dilupakan. Bumbu halus yang digiling manual juga memberi rasa lebih “hidup”, jauh dari sensasi instan bumbu pabrikan.

Tak heran jika pelanggan yang datang bukan hanya warga sekitar, tetapi juga mahasiswa dan pekerja yang sengaja mampir sebelum beraktivitas.

Bagi kamu yang ingin mencicipi sendiri semangkuk kehangatan dari Soto dan Sate Ayam Khas Madura ini, kedai keluarga Mustofa bisa kamu temukan di pinggir Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, tak jauh dari Tritan Point.

Kedai ini buka setiap hari, dari pagi hingga sore hari, dan selalu ramai dikunjungi pelanggan tetap maupun pembeli yang kebetulan melintas. Dengan harga mulai dari Rp18.000, kamu sudah bisa menikmati seporsi soto ayam lengkap dengan nasi hangat. Porsi yang pas untuk memulai hari atau mengisi tenaga di tengah aktivitas.

Meski soto ayam menjadi menu andalan yang paling sering dipesan, sate ayamnya juga wajib dicoba. Daging ayamnya empuk, dibakar hingga kecokelatan dengan olesan bumbu kacang khas Madura yang gurih dan sedikit manis. Paduan keduanya soto dan sate ayam menjadi kombinasi sempurna antara cita rasa hangat dan aroma bakaran yang menggoda.

Jadi, jika suatu pagi kamu melewati jalan ini dan mencium wangi kaldu yang samar di udara, jangan ragu untuk berhenti sejenak. Karena di balik kepulan asap dan suara wajan yang beradu, tersaji semangkuk kelezatan yang lahir dari kerja keras dan cinta sederhana keluarga perantau Madura.

Setelah menikmati semangkuk soto yang menghangatkan tubuh, saya sempat berbincang sebentar dengan Yana sebelum berpamitan. Ia tersenyum, lalu kembali sibuk melayani pelanggan yang baru datang.

Saya keluar dari kedai dengan perut kenyang dan hati yang hangat. Rasa gurih soto masih tertinggal di lidah, sementara aroma kaldu seolah mengikuti di belakang. Di kota besar yang bergerak cepat, kedai kecil ini menjadi pengingat bahwa kehangatan tak selalu dicari di rumah, kadang cukup ditemukan di semangkuk soto, di pinggir jalan yang lembap, bersama cerita keluarga yang tak pernah menyerah. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Syahiratul Maghfiroh
Mahasiswa Aktif UIN Sunan Gunung Djati Bandung Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

Pengetahuan dan Imajinasi

Ayo Netizen 21 Nov 2025, 19:34 WIB
Pengetahuan dan Imajinasi

News Update

Ayo Netizen 28 Nov 2025, 23:00 WIB

Trotoar di Bandung: Jalan Kaki di Zaman Sandal Jepit ke Zaman Sneaker Premium

Trotoar di Bandung bukan sekadar tempat berjalan, tapi panggung kehidupan kota — kadang panggung tragedi, kadang komedi, seringnya keduanya sekaligus.
Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Biz 28 Nov 2025, 21:27 WIB

Membangun Kebiasaan Aman di Jalan Bersama Sadulur Bikers Bandung Timur

Keselamatan berkendara di Bandung kini bukan lagi sekadar kampanye, melainkan sebuah kesadaran yang perlahan tumbuh menjadi budaya.
Ilustrasi. Keselamatan berkendara di Bandung kini bukan lagi sekadar kampanye, melainkan sebuah kesadaran yang perlahan tumbuh menjadi budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 20:51 WIB

An Se Young Ratu Bulu Tangkis Korea yang Berhati Bersih dan Senang Berbagi

Sepanjang 2025, An Se Young berhasil menjuarai 10 dari 14 turnamen internasional yang ia ikuti.
Sepanjang 2025, An Se Young (kiri) berhasil menjuarai 10 dari 14 turnamen internasional yang ia ikuti. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kim Sunjoo)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 19:11 WIB

Cadasngampar dan Cicadas Itu Endapan Material Letusan Gunung Api 

Menelisik asal-asul nama geografis Cicadas dan Cadasngampar.
Cadasngampar di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Ayo Jelajah 28 Nov 2025, 18:46 WIB

Hikayat Kota Hantu Semipalatinsk, Halaman Belakang Uni Soviet yang jadi Kuburan Senyap Radiasi

Kisah suram Semipalatinsk, situs uji coba nuklir Soviet yang meninggalkan radiasi dengan jejak 456 ledakan nuklir, jutaan penduduk terdampak, dan kota yang membeku dalam kesunyian
Tampakan Semipalatinsk di Semey, Kazakhstan dan bekas lokasi uji coba senjata nuklir utama Uni Soviet dari tahun 1949 hingga 1989 (Sumber: Google Earth)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 18:37 WIB

Tren Olahraga Pilates: Solusi Kebugaran Holistik untuk Gaya Hidup Urban Bandung

Maulia Putri seorang praktisi gaya hidup sehat di Bandung, menceritakan manfaat pilates yang menjadikan latihan ini sebagai rutinitas.
Dua perempuan sedang melakukan latihan pilates pada Sabtu Siang, (08/11/25) di Studio Pilates Mekarwangi, Bojongloa Kidul, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penuis | Foto: Maya Amelia)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 18:15 WIB

Menyalakan Kehidupan Malam di Tengah Hening Lembang

Saat malam mulai turun di kaki Gunung Burangrang, kawasan Dusun Bambu berubah menjadi ruang wisata penuh cahaya.
Cahaya lampu menghiasi suasana malam di area wisata Dusun Bambu Lembang, (06/10/2025) (Foto: Dokumentasi Pihak Narasumber.)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 17:20 WIB

Kreativitas Generasi Z Bawa Warna Baru bagi Industri Pernikahan Bandung

Inovasi Gen Z dari Marlina mendorong Indhira Wedding Organizer berkembang pesat di Bandung.
Tim Indhira Wedding Organizer mengatur prosesi pernikahan adat Sunda di Bandung dengan detail dan kehangatan (18/10/2025). (Sumber: Indhira Wedding Organizer)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 17:03 WIB

Inovasi Risol yang Menggabungkan Citra Rasa Modern dan Pelestarian Budaya Sunda

Mourisol menyajikan risol premium dengan 8 varian rasa unik. Ukurannya besar, cocok sebagai pengganti makan berat.
Gambar 1.1 Rissol yang menjadi keunggulan Mourisol (5/11/2025) (Foto: (Sumber:Maura))
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 16:49 WIB

Makna Budaya Siraman dalam Pernikahan Adat Sunda

Pengantin asal Bandung, memilih melaksanakan tradisi siraman sebelum prosesi pernikahannya sebagai bentuk penyucian diri dan pelestarian budaya adat Sunda.
Mutiara Syoba’ah sedang melakukan budaya sakral siraman sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, Jumat (14/01/2022) (Sumber: Dokumentasi Wedding Organizer | Foto: Ali Solehudin)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 16:39 WIB

Ko Dalang Menghidupkan Warisan Wayang Golek di Tengah Arus Modernisasi Budaya

Wayang Golek dihidupkan Ko Dalang Irfan lewat inovasi bahasa, durasi, dan alur modern.
Ko Dalang menampilkan pertunjukan Wayang Golek di Saung Angklung Udjo diiringi  dengan musik tradisional Sunda, Kamis (6/11/25), Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ishanna Nagi)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 15:24 WIB

Mengulik Gedung Kosong 30 Tahun yang Disulap Jadi Rumah Hantu Braga

Wahana seru sekaligus uji nyali di tengah Kota Bandung.
Tampak depan Rumah Hantu Braga di Jalan Braga, Kota Bandung, Rabu 29 September 2025. (Foto: (Sumber: Dokumentasi Penulis | foto: Muhammad Amril Fathurrahman Rovery)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 14:29 WIB

Perluasan Area Petting Zoo Farmhouse Lembang: Pengalaman Belajar yang Menarik dan Seru

Wisata edukasi bernuansa Eropa yang terletak di dataran tinggi wilayah Bandung.
Seoarang anak memberi makan kelinci di area petting zoo Farmhouse Lembang (Sabtu 8/11/25). (Sumber: Fauzi Ananta)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 13:01 WIB

Olahraga Musim Dingin di Tengah Hangatnya Kota Kembang

Sensasi meluncur di atas es dengan latar taman hijau, arena semi outdoor pertama di Indonesia ini jadi spot seru.
Pengunjung menikmati kegiatan bermain ice skating pada sore hari di Garden Ice Rink, Paris Van Java, Bandung (14/09/2025). (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 10:42 WIB

Tips Mancing Gacor dari Komunitas! Wajib Tahu Komposisi Bahan terhadap Kualitas Umpan Ikan

Yang bikin Umpan TMK beda dari yang lain, bahan-bahannya bukan asal-asalan.
Team TOMCAT FISHING mengikuti lomba memancing acara DR FISHING Competition dan mendapatkan hadiah uang tunai pada 17 September 2025. (Sumber: Radhit Adhiyaksa Hermanto | Foto: Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 09:33 WIB

Pelari Kalcer Merapat! Komunitas Olahraga Gen-Z Hadir di Kota Bandung

Berawal dari rasa FOMO, para Gen-Z di Bandung mulai menjadikan olahraga sebagai pilihan gaya hidup.
Para Anggota Olahraguys Sedang Melakukan Persiapan Untuk Kegiatan FunRun X Mad.Cultureid, Sukajadi, Kota Bandung (21/10/2025) (Sumber: Olahraguys | Foto: Olahraguys)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 08:59 WIB

Yoga Outdoor, Tren Hidup Sehat di Bandung

Sanggar Senam Vinisa menawarkan kelas untuk semua usia, memberi relaksasi, ketenangan, dan interaksi sosial, dengan tarif terjangkau.
Peserta melakukan yoga bersama di outdoor, Podomoro Park, Kabupaten Bandung pada Minggu (2/11/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wan Maulida Kusuma Syazci)
Ayo Netizen 27 Nov 2025, 20:14 WIB

Pintu Rumah yang Tidak Pernah Tertutup

Pak Katenen seorang ASN yang bertugas di bagian Bimbingan Mental di TNI AU Lanud Sulaiman.
Ilustrasi rumah di dekat lingkungan pesantren. (Sumber: Ilustrasi AI)
Ayo Biz 27 Nov 2025, 19:55 WIB

Potensi Bisnis Mall Bandung Menguat di Tengah Tren Konsumsi dan Gaya Hidup Urban

Mall di Bandung tidak lagi sekadar menjadi ruang transaksi, melainkan telah bertransformasi menjadi destinasi pengalaman yang menyatukan belanja, hiburan, kuliner, dan interaksi sosial.
Ilustrasi. Mall di Bandung tidak lagi sekadar menjadi ruang transaksi, melainkan telah bertransformasi menjadi destinasi pengalaman yang menyatukan belanja, hiburan, kuliner, dan interaksi sosial. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Jelajah 27 Nov 2025, 18:36 WIB

Hikayat Johny Indo, Robin Hood Garut Pemburu Harta Orang Kaya

Kisah lengkap Johny Indo, si Robin Hood Garut yang merampok orang kaya, kabur dari penjara, hingga membintangi banyak film aksi.
Johny Indo, Robin Hood dari Garut.