Antara Kurma dan Bala-Bala

kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan Minggu 01 Mar 2026, 09:28 WIB
kurma, bala-bala dan gorengan menu yang selalu hadir saat berbuka. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

kurma, bala-bala dan gorengan menu yang selalu hadir saat berbuka. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Menjelang sore hari, wajah kota berubah. Jalan raya padat oleh kendaraan, sementara trotoar dan sudut-sudut gang dipenuhi warga yang berburu takjil sambil ngabuburit—istilah yang sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Selama Ramadhan, kepadatan itu terasa meningkat. Pabrik dan kantor memberlakukan jam pulang lebih awal agar karyawan bisa berbuka bersama keluarga. Sore menjadi lebih hidup dari biasanya.

Pedagang musiman pun tumbuh subur. Meja-meja sederhana, gerobak dorong, hingga mobil yang dimodifikasi berjejer menawarkan aneka makanan dan minuman. Dari yang manis hingga pedas, dari kolak dan sop buah hingga aneka kue basah, semuanya menggoda. Namun ada satu yang hampir selalu hadir di setiap sudut: gorengan.

Di Jawa Barat, ada anekdot yang sering terdengar menjelang waktu berbuka: “Berbuka dengan kurma itu sunah, tapi berbuka dengan bala-bala itu wajib.”

Tentu saja ini hanya gurauan. Namun justru karena itulah kalimat ini terasa begitu dekat. Hampir di setiap sudut jalan menjelang maghrib, penjual gorengan menjadi pusat perhatian. Bala-bala, tahu isi, tempe goreng, hingga pisang goreng tersusun rapi di etalase sederhana, seolah menjadi “menu resmi” berbuka puasa.

Aroma gorengan hangat bercampur dengan suasana sore Ramadhan menciptakan pengalaman yang khas. Orang yang biasanya tidak terlalu menyukai gorengan pun bisa tiba-tiba berubah pikiran. Ada rasa kebersamaan yang muncul ketika menunggu waktu berbuka sambil memegang plastik berisi bala-bala, atau saat keluarga mengelilingi meja dengan piring-piring kecil berisi takjil.

Di sinilah Ramadhan menunjukkan wajahnya yang unik: perpaduan antara nilai spiritual dan budaya sehari-hari.

Secara ajaran, berbuka puasa memang dianjurkan dengan sesuatu yang manis dan sederhana, seperti kurma atau air putih. Kesederhanaan itu mengandung makna syukur dan pengendalian diri setelah seharian berpuasa. Namun dalam perjalanan waktu, tradisi masyarakat ikut memberi warna. Bala-bala menjadi simbol obrolan ringan, kehangatan keluarga, dan kegembiraan kecil saat azan maghrib berkumandang.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)

Saya sering bertanya pada diri sendiri, di tengah euforia berburu takjil: apakah kita berbuka untuk menguatkan ibadah, atau justru menjadikannya ajang pelampiasan setelah seharian menahan lapar?

Bulan puasa juga identik dengan perubahan pola hidup. Waktu makan lebih teratur, ritme aktivitas lebih terjaga, dan banyak orang mulai mengurangi kebiasaan yang kurang sehat. Kita pun sering mendengar ungkapan yang populer dikutip dalam berbagai kajian, “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat.” Pesan ini terasa relevan dengan kehidupan modern. Puasa mengajarkan tubuh untuk beristirahat dari pola konsumsi berlebihan dan melatih keseimbangan.

Ironisnya, tantangan terbesar justru datang saat berbuka. Setelah seharian menahan diri, meja makan bisa berubah menjadi arena “balas dendam kuliner”. Di sinilah anekdot tentang bala-bala terasa seperti cermin kecil tentang diri kita—lucu, tetapi juga menyentil.

Ramadhan pada akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, melainkan tentang belajar secukupnya. Secukupnya dalam makan, secukupnya dalam keinginan, dan secukupnya dalam menikmati dunia.

Baca Juga: 13 Abreviasi yang Paling Sering Muncul di Bulan Ramadan

Gorengan tidak salah, bala-bala tidak keliru, dan tradisi berburu takjil bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Justru di situlah Ramadhan terasa hidup—ada tawa, ada kebersamaan, ada cerita kecil yang kelak akan dikenang.

Yang penting adalah menjaga keseimbangan antara sunah yang dianjurkan dan kebiasaan yang menyenangkan. Kurma mengingatkan kita pada kesederhanaan, sementara bala-bala mengingatkan kita pada kebersamaan.

Dan ketika Ramadhan berlalu, yang tersisa bukan hanya pahala ibadah, tetapi juga kenangan tentang meja berbuka, tawa keluarga, dan mungkin… sepiring bala-bala yang dimakan bersama. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 15:16

Fariz R.M. Mengasah Bermusiknya di Bandung

Pernah tinggal dan memulai menajamkan karier bermusiknya di Kota Bandung pada awal tahun 1980-an.

Fariz R.M. - Musik Rasta. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 13:51

TikTok, Trotoar, dan Eksistensi

Ihwal kreativitas digital memang layak dirayakan, tetapi ruang publik tetap menyimpan fungsi sosial yang tak bisa sepenuhnya dapat digantikan oleh layar.

Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 12:16

Strategi Industri Kuliner Jabar Menyiasati Kelangkaan Plastik Akibat Konflik Iran–Israel

Kenaikan harga dan kelangkaan plastik akibat konflik Iran–Israel memengaruhi UMKM kuliner di Jawa Barat.

Ilustrasi bahan plastik. (Sumber: Pixels | Foto: Castorly Stock)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 10:43

Bandung dan Hasrat yang Disublimasi: Membaca Fenomena Nongkrong sebagai Pelarian Psikis

Menuliskan budaya nongkrong di Kota Bandung dalam kacamata Sigmund Freud.

Salah satu suasana kafe di Kota Bandung (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Haifa Rukanta)
Sejarah 16 Apr 2026, 10:42

Hikayat Cadas Pangeran, Jejak Derita Pribumi Sepanjang Jalan Raya Daendels

Cadas Pangeran jadi saksi kerja paksa era Daendels, ribuan rakyat tewas demi proyek Jalan Raya Pos di Jawa Barat.

Jalan di Cadas Pangeran antara tahun 1910-1930-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 08:54

Dengan Puisi Bandung Menghias Sanggul Ibu Pertiwi

Bandung sangat pantas dinobatkan sebagai kota puisi, atau setidaknya kota yang sangat puitis.

Ilustrasi dengan Puisi Bandung menghias sanggul Ibu Pertiwi. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 20:00

Artemis II: Kepulangan Empat Astronot dan Langkah Menuju Misi Bulan Berikutnya

Kelanjutan kisah 4 astronot dengan Kesuksesan misi Artemis II, yang menjadi dasar evaluasi bagi misi berikutnya, yakni Artemis III dalam program eksplorasi Bulan, oleh NASA.

Empat astronot Artemis II berhasil mendarat di Samudra Pasifik, lepas pantai San Diego, setelah menyelesaikan misi mengelilingi Bulan. (Sumber: NASA)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 19:22

Belajar Membaca Jalanan Bandung dari Dalam Angkot

Angkot di Bandung bertahan tanpa sistem yang jelas. Banyak pengguna beralih ke transportasi umum daring karena kepastian layanan, namun kondisi ini justru turut memperparah kemacetan.

Sejak lama, angkot menjadi bagian dari keseharian mobilitas warga Kota Bandung, meski kini perannya mulai tergeser oleh moda transportasi umum daring. (Foto: Irfan Alfaritsi/ayobandung.com)
Bandung 15 Apr 2026, 18:23

Collab Magnet: Cara Bangun Kolaborasi yang Tepat di Era Zaman Penuh Kreativitas

Intip strategi menjadi Collab Magnet di industri kreatif bersama Mirsha Shahnaz Azahra. Pahami pentingnya relevansi, kredibilitas, dan nilai brand dalam kolaborasi.

Mirsha, Co-founder sekaligus Brand Director Monday Coffee Bandung memahami konsep kolaborasi yang efektif membutuhkan waktu, bahkan proses trial and error masih menjadi bumbu harian dalam perjalanannya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 18:01

Ketar-ketir Perajin Tahu Tempe, Adakah Insentif dari Pemkot Bandung?

Kebijakan impor kedelai yang diterapkan ternyata belum menyeimbangkan pasokan kedelai di dalam negeri.

Perajin menyelesaikan pembuatan tempe di Jalan Muararajeun, Kota Bandung, (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 17:14

Dari Bandung ke Lembang: Kota Sejuk yang Menjadi Ruang Nyaman bagi Pendatang

Perubahan suasana dari hiruk pikuk Kota Kandung menuju ketenangan yang lebih alami di Lembang.

Farmhouse Lembang. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 15 Apr 2026, 16:42

Panduan Wisata Stone Garden Padalarang, Taman Batu Karst dengan Jejak Laut Purba

Stone Garden Padalarang menawarkan lanskap batu kapur purba, jalur trekking ringan, serta nilai geologi dan arkeologi unik dalam satu destinasi wisata alam.

Objek wisata Stone Garden, Padalarang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 15 Apr 2026, 15:20

Meruntuhkan Standar Kecantikan, Mengapresiasi Keunikan

Pandangan tentang kecantikan tak lagi tunggal. Setiap individu memiliki keunikan yang layak diapresiasi, tanpa harus mengikuti standar yang membatasi.

Suasana beauty class yang hangat dan suportif, tempat para peserta belajar, bereksperimen, dan membangun rasa percaya diri bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 13:50

Jantung Konektivitas Kota yang Kurang Sehat dan Masalah Polusi Udara

Stasiun Hall adalah jantung transportasi yang setiap hari memompa sistem transportasi khususnya bagi penglaju dan pendatang.

Monumen Sepur Lempung di Stasiun Hall sebelah selatan yang merupakan ikon konektivitas kota Bandung sepanjang zaman (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)