Antara Kurma dan Bala-Bala

3 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan
kurma, bala-bala dan gorengan menu yang selalu hadir saat berbuka. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
kurma, bala-bala dan gorengan menu yang selalu hadir saat berbuka. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Menjelang sore hari, wajah kota berubah. Jalan raya padat oleh kendaraan, sementara trotoar dan sudut-sudut gang dipenuhi warga yang berburu takjil sambil ngabuburit—istilah yang sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Selama Ramadhan, kepadatan itu terasa meningkat. Pabrik dan kantor memberlakukan jam pulang lebih awal agar karyawan bisa berbuka bersama keluarga. Sore menjadi lebih hidup dari biasanya.

Pedagang musiman pun tumbuh subur. Meja-meja sederhana, gerobak dorong, hingga mobil yang dimodifikasi berjejer menawarkan aneka makanan dan minuman. Dari yang manis hingga pedas, dari kolak dan sop buah hingga aneka kue basah, semuanya menggoda. Namun ada satu yang hampir selalu hadir di setiap sudut: gorengan.

Di Jawa Barat, ada anekdot yang sering terdengar menjelang waktu berbuka: “Berbuka dengan kurma itu sunah, tapi berbuka dengan bala-bala itu wajib.”

Tentu saja ini hanya gurauan. Namun justru karena itulah kalimat ini terasa begitu dekat. Hampir di setiap sudut jalan menjelang maghrib, penjual gorengan menjadi pusat perhatian. Bala-bala, tahu isi, tempe goreng, hingga pisang goreng tersusun rapi di etalase sederhana, seolah menjadi “menu resmi” berbuka puasa.

Aroma gorengan hangat bercampur dengan suasana sore Ramadhan menciptakan pengalaman yang khas. Orang yang biasanya tidak terlalu menyukai gorengan pun bisa tiba-tiba berubah pikiran. Ada rasa kebersamaan yang muncul ketika menunggu waktu berbuka sambil memegang plastik berisi bala-bala, atau saat keluarga mengelilingi meja dengan piring-piring kecil berisi takjil.

Di sinilah Ramadhan menunjukkan wajahnya yang unik: perpaduan antara nilai spiritual dan budaya sehari-hari.

Secara ajaran, berbuka puasa memang dianjurkan dengan sesuatu yang manis dan sederhana, seperti kurma atau air putih. Kesederhanaan itu mengandung makna syukur dan pengendalian diri setelah seharian berpuasa. Namun dalam perjalanan waktu, tradisi masyarakat ikut memberi warna. Bala-bala menjadi simbol obrolan ringan, kehangatan keluarga, dan kegembiraan kecil saat azan maghrib berkumandang.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)

Saya sering bertanya pada diri sendiri, di tengah euforia berburu takjil: apakah kita berbuka untuk menguatkan ibadah, atau justru menjadikannya ajang pelampiasan setelah seharian menahan lapar?

Bulan puasa juga identik dengan perubahan pola hidup. Waktu makan lebih teratur, ritme aktivitas lebih terjaga, dan banyak orang mulai mengurangi kebiasaan yang kurang sehat. Kita pun sering mendengar ungkapan yang populer dikutip dalam berbagai kajian, “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat.” Pesan ini terasa relevan dengan kehidupan modern. Puasa mengajarkan tubuh untuk beristirahat dari pola konsumsi berlebihan dan melatih keseimbangan.

Ironisnya, tantangan terbesar justru datang saat berbuka. Setelah seharian menahan diri, meja makan bisa berubah menjadi arena “balas dendam kuliner”. Di sinilah anekdot tentang bala-bala terasa seperti cermin kecil tentang diri kita—lucu, tetapi juga menyentil.

Ramadhan pada akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, melainkan tentang belajar secukupnya. Secukupnya dalam makan, secukupnya dalam keinginan, dan secukupnya dalam menikmati dunia.

Baca Juga: 13 Abreviasi yang Paling Sering Muncul di Bulan Ramadan

Gorengan tidak salah, bala-bala tidak keliru, dan tradisi berburu takjil bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Justru di situlah Ramadhan terasa hidup—ada tawa, ada kebersamaan, ada cerita kecil yang kelak akan dikenang.

Yang penting adalah menjaga keseimbangan antara sunah yang dianjurkan dan kebiasaan yang menyenangkan. Kurma mengingatkan kita pada kesederhanaan, sementara bala-bala mengingatkan kita pada kebersamaan.

Dan ketika Ramadhan berlalu, yang tersisa bukan hanya pahala ibadah, tetapi juga kenangan tentang meja berbuka, tawa keluarga, dan mungkin… sepiring bala-bala yang dimakan bersama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)