Menjelang sore hari, wajah kota berubah. Jalan raya padat oleh kendaraan, sementara trotoar dan sudut-sudut gang dipenuhi warga yang berburu takjil sambil ngabuburit—istilah yang sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Selama Ramadhan, kepadatan itu terasa meningkat. Pabrik dan kantor memberlakukan jam pulang lebih awal agar karyawan bisa berbuka bersama keluarga. Sore menjadi lebih hidup dari biasanya.
Pedagang musiman pun tumbuh subur. Meja-meja sederhana, gerobak dorong, hingga mobil yang dimodifikasi berjejer menawarkan aneka makanan dan minuman. Dari yang manis hingga pedas, dari kolak dan sop buah hingga aneka kue basah, semuanya menggoda. Namun ada satu yang hampir selalu hadir di setiap sudut: gorengan.
Di Jawa Barat, ada anekdot yang sering terdengar menjelang waktu berbuka: “Berbuka dengan kurma itu sunah, tapi berbuka dengan bala-bala itu wajib.”
Tentu saja ini hanya gurauan. Namun justru karena itulah kalimat ini terasa begitu dekat. Hampir di setiap sudut jalan menjelang maghrib, penjual gorengan menjadi pusat perhatian. Bala-bala, tahu isi, tempe goreng, hingga pisang goreng tersusun rapi di etalase sederhana, seolah menjadi “menu resmi” berbuka puasa.
Aroma gorengan hangat bercampur dengan suasana sore Ramadhan menciptakan pengalaman yang khas. Orang yang biasanya tidak terlalu menyukai gorengan pun bisa tiba-tiba berubah pikiran. Ada rasa kebersamaan yang muncul ketika menunggu waktu berbuka sambil memegang plastik berisi bala-bala, atau saat keluarga mengelilingi meja dengan piring-piring kecil berisi takjil.
Di sinilah Ramadhan menunjukkan wajahnya yang unik: perpaduan antara nilai spiritual dan budaya sehari-hari.
Secara ajaran, berbuka puasa memang dianjurkan dengan sesuatu yang manis dan sederhana, seperti kurma atau air putih. Kesederhanaan itu mengandung makna syukur dan pengendalian diri setelah seharian berpuasa. Namun dalam perjalanan waktu, tradisi masyarakat ikut memberi warna. Bala-bala menjadi simbol obrolan ringan, kehangatan keluarga, dan kegembiraan kecil saat azan maghrib berkumandang.

Saya sering bertanya pada diri sendiri, di tengah euforia berburu takjil: apakah kita berbuka untuk menguatkan ibadah, atau justru menjadikannya ajang pelampiasan setelah seharian menahan lapar?
Bulan puasa juga identik dengan perubahan pola hidup. Waktu makan lebih teratur, ritme aktivitas lebih terjaga, dan banyak orang mulai mengurangi kebiasaan yang kurang sehat. Kita pun sering mendengar ungkapan yang populer dikutip dalam berbagai kajian, “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat.” Pesan ini terasa relevan dengan kehidupan modern. Puasa mengajarkan tubuh untuk beristirahat dari pola konsumsi berlebihan dan melatih keseimbangan.
Ironisnya, tantangan terbesar justru datang saat berbuka. Setelah seharian menahan diri, meja makan bisa berubah menjadi arena “balas dendam kuliner”. Di sinilah anekdot tentang bala-bala terasa seperti cermin kecil tentang diri kita—lucu, tetapi juga menyentil.
Ramadhan pada akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, melainkan tentang belajar secukupnya. Secukupnya dalam makan, secukupnya dalam keinginan, dan secukupnya dalam menikmati dunia.
Baca Juga: 13 Abreviasi yang Paling Sering Muncul di Bulan Ramadan
Gorengan tidak salah, bala-bala tidak keliru, dan tradisi berburu takjil bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Justru di situlah Ramadhan terasa hidup—ada tawa, ada kebersamaan, ada cerita kecil yang kelak akan dikenang.
Yang penting adalah menjaga keseimbangan antara sunah yang dianjurkan dan kebiasaan yang menyenangkan. Kurma mengingatkan kita pada kesederhanaan, sementara bala-bala mengingatkan kita pada kebersamaan.
Dan ketika Ramadhan berlalu, yang tersisa bukan hanya pahala ibadah, tetapi juga kenangan tentang meja berbuka, tawa keluarga, dan mungkin… sepiring bala-bala yang dimakan bersama. (*)
