AYOBANDUNG.ID -- Setiap tahun, begitu kalender menunjuk Ramadan, bahasa kita ikut berubah. Percakapan di grup WhatsApp mendadak penuh singkatan. Spanduk masjid berjejer akronim. Bahkan notifikasi di HP pun ikut-ikutan padat.
Dan entah kenapa, semua orang seolah sudah tahu artinya, bahkan tanpa pernah benar-benar belajar.
Tapi tunggu dulu. Sudah tahu semua belum? Yuk, kita bedah satu per satu akronim sosial paling populer di bulan suci, plus beberapa kata lokal yang mungkin belum pernah kamu dengar.
Paling Sering Muncul di Grup WA
BUKBER — Buka Bersama
Ini ratunya akronim Ramadan. Satu kata yang otomatis bikin kamu mikir: mau pakai baju apa? Reservasi di mana? Bukber bukan sekadar makan bareng, ini ritual reuni tahunan yang punya kekuatan magis: mempertemukan orang-orang yang sudah lama tidak saling menyapa.
BUBAR — Buka Bareng
Saudara kembar bukber, tapi lebih santai. Kalau bukber terasa formal dan perlu booking tempat, bubar biasanya lebih spontan — mampir ke warung depan masjid atau ngumpul di teras rumah teman. Istilah ini lebih sering dipakai di kalangan tongkrongan atau komunitas yang tidak terlalu ribet soal formalitas.
SOTR — Sahur On The Road
Akronim yang lahir dari semangat anak muda dan komunitas sosial. Konsepnya sederhana: sahur bersama di jalanan, sambil berbagi makanan dengan orang-orang yang membutuhkan. Walau namanya 'on the road', praktiknya kini sering lebih terorganisir, ada panitia, ada koordinasi, ada dokumentasi. Intinya tetap sama: sahur sambil berbuat baik.
NGABUBURIT — Ngalantung bari Ngadagoan Burit-burit
Sebetulnya kata ini sudah punya arti mandiri di KBBI. Meski begitu, belakang dipopulerkan akronim khas Sundanya. Dalam Kamus Bahasa Sunda LBBs, ngabuburit berasal dari kata 'ngalantung' (bersantai) dan 'burit' (sore/menjelang maghrib). Mulanya hanya dikenal di Jawa Barat, kini seluruh Indonesia pakai kata ini untuk menyebut aktivitas menunggu waktu buka puasa. Bukti nyata bahwa bahasa daerah bisa jadi lingua franca.

Akronim di Sekitar Masjid
KULTUM — Kuliah Tujuh Menit
Ceramah singkat yang biasanya mengisi jeda sebelum atau sesudah shalat tarawih. Namanya saja sudah jujur: tujuh menit. Sayangnya dalam praktik, kultum bisa melar jadi dua kali lipatnya. Tapi tidak apa-apa, isinya tetap bermanfaat, dan jamaah sudah maklum.
TARLING — Tarawih Keliling
Tradisi berpindah-pindah masjid saat shalat tarawih. Ada yang motivasinya ibadah murni, ada yang sekalian wisata masjid, ada pula yang ikut-ikutan teman. Apapun alasannya, tarling punya fungsi sosial yang kuat: mempererat silaturahmi antarwarga dan antarkomunitas.
SANLAT — Pesantren Kilat
Program Ramadan andalan di sekolah-sekolah. Dalam satu kata sudah tercakup: kajian keislaman, tadarus Al-Qur'an, lomba-lomba, dan tentu saja — menginap di aula sekolah yang jadi momen paling dikenang. Bagi banyak orang, sanlat adalah kenangan masa kecil yang tidak terlupakan.

Akronim Lokal yang Mulai Dikenal Luas
NGEBAKSO — Ngobrol Bareng Sebelum Sahur
Belum sepopuler bukber, tapi mulai sering muncul di komunitas-komunitas anak muda Bandung dan Jawa Barat. Konsepnya simpel: ngumpul ngobrol sebelum waktu sahur tiba. Kadang disertai camilan, kadang cuma duduk-duduk sambil menunggu imsak. Lebih santai dari SOTR, lebih bermakna dari sekadar rebahan.
TASBEH — Tarawih Sambil Begadang
Istilah informal yang beredar di kalangan remaja masjid. Menggambarkan kebiasaan menjalankan tarawih lalu lanjut begadang bareng hingga sahur. Bukan akronim resmi, tapi nyata dipakai di lapangan — bukti bahwa bahasa slang Ramadan terus berkembang dari akar komunitas.
NGAMPUNG — Ngaji Bareng Kampung
Akronim yang lebih sering dipakai di pedesaan Jawa Barat. Merujuk pada kegiatan mengaji bersama warga kampung, biasanya setelah isya atau tarawih. Ada yang dilaksanakan di mushola, ada pula yang bergiliran dari rumah ke rumah. Tradisi ini menjaga rasa kebersamaan yang sering hilang di kota.
Baca Juga: 13 Abreviasi yang Paling Sering Muncul di Bulan Ramadan
Yang menarik dari akronim-akronim ini bukan sekadar kepraktisannya. Lebih dari itu, mereka adalah cermin bagaimana Ramadan dirayakan: penuh kebersamaan, penuh aktivitas, penuh makna sosial. Dari bukber yang melampaui batas usia, SOTR yang menyentuh sisi kemanusiaan, hingga ngabuburit yang mengangkat kearifan lokal ke panggung nasional — semua punya cerita.
Dan setiap tahun, kamus akronim ini terus bertambah. Karena selama Ramadan masih datang, bahasa kita pun akan terus bergerak mengikutinya. (*)
