Bahasa Sunda dalam Ritme Ramadan

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Rabu 25 Feb 2026, 18:42 WIB
Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.ID -- Di tanah Sunda, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah. Periode ini hadir sebagai perubahan ritme, baik ritme waktu, ritme suara, dan ritme sosial, yang bahkan terekam dalam kosakata sehari-hari. Bahasa Sunda menyimpan jejak pengalaman kolektif itu melalui kata-kata berawalan “nga-”: ngabuburit, nyubuh, ngabeubeurang, ngadulag. Setiap istilah bukan hanya penanda aktivitas, melainkan arsip budaya yang hidup.

Ambil contoh ngabuburit. Di kota seperti Bandung, kata ini menjelma fenomena sosial. Menjelang magrib, orang-orang bergerak ke ruang publik: alun-alun, taman kota, trotoar yang dipenuhi pedagang takjil. Aktivitas “menunggu” berubah menjadi peristiwa kolektif. Anak muda berjalan santai, keluarga duduk beralas tikar, pedagang meracik kolak dan es buah. Dalam satu-dua jam sebelum azan, terjadi perputaran ekonomi musiman yang signifikan. Ramadan menciptakan pasar temporer yang fleksibel, cair, dan berbasis kebutuhan emosional sekaligus spiritual.

Namun Ramadan tidak hanya tentang senja. Ada juga nyubuh, istilah yang merujuk pada aktivitas selepas sahur dan salat Subuh. Di kampung-kampung, suasana pagi Ramadan terasa berbeda: lebih hening, tetapi juga lebih intim. Sebagian warga memilih tetap terjaga, berbincang ringan di teras masjid atau rumah. Anak-anak yang biasanya sulit bangun pagi justru tampak antusias. Dalam ruang ini, waktu seakan melambat. Subuh menjadi titik temu antara kesadaran spiritual dan solidaritas sosial.

Siang hari menghadirkan istilah lain: ngabeubeurang. Secara literal berarti “menjalani waktu siang”, tetapi dalam konteks Ramadan, istilah ini memuat makna ketahanan. Bekerja, belajar, atau berdagang sambil menahan lapar dan dahaga menjadi pengalaman kolektif. Ritme produktivitas sering kali menyesuaikan: tempo sedikit lebih landai, percakapan lebih hemat energi. Di sini, puasa bukan hanya ritual privat, melainkan kontrak sosial yang disepakati bersama. Semua orang memahami kondisi satu sama lain.

Ketika malam tiba, lanskap suara berubah. Tradisi ngadulag (menabuh bedug untuk membangunkan sahur) masih bisa ditemui di sejumlah kampung Priangan. Anak-anak dan remaja berkeliling dengan tabuhan sederhana, kadang diselingi tawa dan gurauan. Bedug menjadi penanda waktu sekaligus simbol kebersamaan. Meski pengeras suara dan alarm ponsel semakin dominan, bunyi dulag tetap memiliki daya emosional yang khas: mengikat memori kolektif lintas generasi.

Selepas tarawih, masjid bertransformasi menjadi ruang pendidikan dan interaksi melalui tadarusan. Remaja duduk melingkar, membaca Al-Qur’an bergiliran hingga larut malam. Di sela bacaan, ada canda, ada koreksi tajwid, ada teh hangat yang dibagi rata. Ramadan menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat pembelajaran informal.

Memasuki sepuluh malam terakhir, suasana mencapai puncaknya pada malam nujuh likur (malam ke-27 Ramadan). Di beberapa perkampungan, warga menyalakan lampu minyak atau obor sebagai simbol menyambut kemungkinan turunnya Lailatul Qadar. Cahaya-cahaya kecil itu membentuk lanskap puitik di antara gelapnya malam. Tradisi ini sederhana, tetapi sarat makna: harapan akan keberkahan dan ampunan.

Ada pula praktik nganteuran, mengantar makanan berbuka kepada tetangga. Piring dan rantang berpindah tangan, sering kali tanpa perhitungan setara. Hari ini mengirim kolak, besok menerima gorengan atau lauk sederhana. Pola distribusi ini memperlihatkan ekonomi berbasis kepercayaan. Nilainya tidak selalu diukur dalam rupiah, melainkan dalam rasa saling memiliki.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sebagai contoh, berikut ini delapan istilah Sunda selama Bulan Puasa:

1. Ngabuburit

Aktivitas menunggu waktu magrib menjelang berbuka. Di kota seperti Bandung, praktik ini berkembang menjadi fenomena ruang publik: alun-alun, taman kota, hingga kawasan kuliner dadakan.

Secara ekonomi, ini menciptakan pasar musiman untuk pedagang takjil, UMKM minuman manis, hingga parkir dadakan.

2. Nyubuh

Istilah untuk aktivitas selepas sahur dan salat Subuh, sering diisi dengan pengajian atau tetap terjaga hingga pagi. Di beberapa kampung, ini menjadi momen interaksi sosial antarwarga sebelum aktivitas kerja dimulai.

3. Ngabeubeurang

Secara literal berarti “beraktivitas di siang hari.” Dalam konteks Ramadan, ini merujuk pada bagaimana orang menjalani rutinitas sambil berpuasa—dengan ritme kerja yang kadang lebih lambat dan suasana yang lebih tenang.

4. Ngadulag

Membangunkan sahur dengan menabuh bedug keliling kampung. Biasanya dilakukan anak-anak dan remaja. Tradisi ini khas berlangsung selama Ramadan saja.

5. Tarawih Keliling

Salat tarawih berpindah-pindah dari satu musala ke musala lain dalam satu kampung. Selain ibadah, ini memperkuat solidaritas lokal.

6. Tadarusan

Membaca Al-Qur’an bersama selepas tarawih hingga larut malam. Masjid berubah menjadi ruang pendidikan dan ruang sosial.

7. Malam Nujuh Likur

Tradisi malam ke-27 Ramadan, dengan menyalakan lampu atau obor sebagai simbol menyambut Lailatul Qadar. Biasanya dilakukan di perkampungan Sunda.

8. Nganteuran (Berbagi Hidangan Buka)

Mengantar makanan berbuka ke tetangga. Praktik distribusi pangan berbasis solidaritas ini muncul hampir eksklusif selama Ramadan.

Baca Juga: Ketika Lema Arab Menjadi Milik Indonesia: Perjalanan Kosakata Ramadan

Menariknya, hampir semua istilah itu berawalan “nga-”, bentuk morfologis yang menandai tindakan. Awalan itu mengubah konsep menjadi aksi, waktu menjadi pengalaman, dan individu menjadi bagian dari kolektif.

Modernisasi tentu membawa perubahan. Di pusat kota, ngabuburit bisa beralih menjadi agenda komersial; ngadulag tergantikan notifikasi digital; tadarusan bersaing dengan gawai. Namun esensinya tetap bertahan: Ramadan sebagai momentum memperlambat diri dan memperkuat relasi.

Dari subuh hingga malam, dari bunyi bedug hingga cahaya obor, Ramadan menata ulang kehidupan sehari-hari. Dan dalam setiap kata berawalan “nga-”, tersimpan cerita tentang bagaimana masyarakat merawat tradisi, menegosiasikan perubahan, dan menjaga kebersamaan di tengah arus zaman. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)
Seni Budaya 03 Mar 2026, 16:37

Sejarah Batik Pekalongan, Warisan Budaya dari Pantura Sejak 1802

Sejak awal 1800-an, batik di Pekalongan berkembang dari perdagangan pesisir hingga diakui UNESCO sebagai bagian jejaring kota kreatif dunia.

Kain sarung motif batik Pekalongan tahun 1980-an di Museum Honolulu. (Sumber: Wikimedia)