Bahasa Sunda dalam Ritme Ramadan

4 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.ID -- Di tanah Sunda, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah. Periode ini hadir sebagai perubahan ritme, baik ritme waktu, ritme suara, dan ritme sosial, yang bahkan terekam dalam kosakata sehari-hari. Bahasa Sunda menyimpan jejak pengalaman kolektif itu melalui kata-kata berawalan “nga-”: ngabuburit, nyubuh, ngabeubeurang, ngadulag. Setiap istilah bukan hanya penanda aktivitas, melainkan arsip budaya yang hidup.

Ambil contoh ngabuburit. Di kota seperti Bandung, kata ini menjelma fenomena sosial. Menjelang magrib, orang-orang bergerak ke ruang publik: alun-alun, taman kota, trotoar yang dipenuhi pedagang takjil. Aktivitas “menunggu” berubah menjadi peristiwa kolektif. Anak muda berjalan santai, keluarga duduk beralas tikar, pedagang meracik kolak dan es buah. Dalam satu-dua jam sebelum azan, terjadi perputaran ekonomi musiman yang signifikan. Ramadan menciptakan pasar temporer yang fleksibel, cair, dan berbasis kebutuhan emosional sekaligus spiritual.

Namun Ramadan tidak hanya tentang senja. Ada juga nyubuh, istilah yang merujuk pada aktivitas selepas sahur dan salat Subuh. Di kampung-kampung, suasana pagi Ramadan terasa berbeda: lebih hening, tetapi juga lebih intim. Sebagian warga memilih tetap terjaga, berbincang ringan di teras masjid atau rumah. Anak-anak yang biasanya sulit bangun pagi justru tampak antusias. Dalam ruang ini, waktu seakan melambat. Subuh menjadi titik temu antara kesadaran spiritual dan solidaritas sosial.

Siang hari menghadirkan istilah lain: ngabeubeurang. Secara literal berarti “menjalani waktu siang”, tetapi dalam konteks Ramadan, istilah ini memuat makna ketahanan. Bekerja, belajar, atau berdagang sambil menahan lapar dan dahaga menjadi pengalaman kolektif. Ritme produktivitas sering kali menyesuaikan: tempo sedikit lebih landai, percakapan lebih hemat energi. Di sini, puasa bukan hanya ritual privat, melainkan kontrak sosial yang disepakati bersama. Semua orang memahami kondisi satu sama lain.

Ketika malam tiba, lanskap suara berubah. Tradisi ngadulag (menabuh bedug untuk membangunkan sahur) masih bisa ditemui di sejumlah kampung Priangan. Anak-anak dan remaja berkeliling dengan tabuhan sederhana, kadang diselingi tawa dan gurauan. Bedug menjadi penanda waktu sekaligus simbol kebersamaan. Meski pengeras suara dan alarm ponsel semakin dominan, bunyi dulag tetap memiliki daya emosional yang khas: mengikat memori kolektif lintas generasi.

Selepas tarawih, masjid bertransformasi menjadi ruang pendidikan dan interaksi melalui tadarusan. Remaja duduk melingkar, membaca Al-Qur’an bergiliran hingga larut malam. Di sela bacaan, ada canda, ada koreksi tajwid, ada teh hangat yang dibagi rata. Ramadan menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat pembelajaran informal.

Memasuki sepuluh malam terakhir, suasana mencapai puncaknya pada malam nujuh likur (malam ke-27 Ramadan). Di beberapa perkampungan, warga menyalakan lampu minyak atau obor sebagai simbol menyambut kemungkinan turunnya Lailatul Qadar. Cahaya-cahaya kecil itu membentuk lanskap puitik di antara gelapnya malam. Tradisi ini sederhana, tetapi sarat makna: harapan akan keberkahan dan ampunan.

Ada pula praktik nganteuran, mengantar makanan berbuka kepada tetangga. Piring dan rantang berpindah tangan, sering kali tanpa perhitungan setara. Hari ini mengirim kolak, besok menerima gorengan atau lauk sederhana. Pola distribusi ini memperlihatkan ekonomi berbasis kepercayaan. Nilainya tidak selalu diukur dalam rupiah, melainkan dalam rasa saling memiliki.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sebagai contoh, berikut ini delapan istilah Sunda selama Bulan Puasa:

1. Ngabuburit

Aktivitas menunggu waktu magrib menjelang berbuka. Di kota seperti Bandung, praktik ini berkembang menjadi fenomena ruang publik: alun-alun, taman kota, hingga kawasan kuliner dadakan.

Secara ekonomi, ini menciptakan pasar musiman untuk pedagang takjil, UMKM minuman manis, hingga parkir dadakan.

2. Nyubuh

Istilah untuk aktivitas selepas sahur dan salat Subuh, sering diisi dengan pengajian atau tetap terjaga hingga pagi. Di beberapa kampung, ini menjadi momen interaksi sosial antarwarga sebelum aktivitas kerja dimulai.

3. Ngabeubeurang

Secara literal berarti “beraktivitas di siang hari.” Dalam konteks Ramadan, ini merujuk pada bagaimana orang menjalani rutinitas sambil berpuasa—dengan ritme kerja yang kadang lebih lambat dan suasana yang lebih tenang.

4. Ngadulag

Membangunkan sahur dengan menabuh bedug keliling kampung. Biasanya dilakukan anak-anak dan remaja. Tradisi ini khas berlangsung selama Ramadan saja.

5. Tarawih Keliling

Salat tarawih berpindah-pindah dari satu musala ke musala lain dalam satu kampung. Selain ibadah, ini memperkuat solidaritas lokal.

6. Tadarusan

Membaca Al-Qur’an bersama selepas tarawih hingga larut malam. Masjid berubah menjadi ruang pendidikan dan ruang sosial.

7. Malam Nujuh Likur

Tradisi malam ke-27 Ramadan, dengan menyalakan lampu atau obor sebagai simbol menyambut Lailatul Qadar. Biasanya dilakukan di perkampungan Sunda.

8. Nganteuran (Berbagi Hidangan Buka)

Mengantar makanan berbuka ke tetangga. Praktik distribusi pangan berbasis solidaritas ini muncul hampir eksklusif selama Ramadan.

Baca Juga: Ketika Lema Arab Menjadi Milik Indonesia: Perjalanan Kosakata Ramadan

Menariknya, hampir semua istilah itu berawalan “nga-”, bentuk morfologis yang menandai tindakan. Awalan itu mengubah konsep menjadi aksi, waktu menjadi pengalaman, dan individu menjadi bagian dari kolektif.

Modernisasi tentu membawa perubahan. Di pusat kota, ngabuburit bisa beralih menjadi agenda komersial; ngadulag tergantikan notifikasi digital; tadarusan bersaing dengan gawai. Namun esensinya tetap bertahan: Ramadan sebagai momentum memperlambat diri dan memperkuat relasi.

Dari subuh hingga malam, dari bunyi bedug hingga cahaya obor, Ramadan menata ulang kehidupan sehari-hari. Dan dalam setiap kata berawalan “nga-”, tersimpan cerita tentang bagaimana masyarakat merawat tradisi, menegosiasikan perubahan, dan menjaga kebersamaan di tengah arus zaman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)