Ramadan di Indonesia tidak hanya menghadirkan perubahan ritme hidup, tetapi juga perubahan bahasa. Dalam satu bulan, percakapan sehari-hari dipenuhi istilah yang jarang digunakan di luar musim puasa. Orang berbicara tentang sahur, imsak, tarawih, zakat, hingga Lailatulqadar. Kata-kata ini terasa begitu familiar, tetapi tidak semuanya lahir dari bahasa Indonesia.
Sebagian besar justru berasal langsung dari bahasa Arab, sebagai bahasa yang menjadi medium utama tradisi Islam. Namun menariknya, ketika masuk ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia, istilah-istilah tersebut tidak selalu dipakai persis seperti dalam konteks asalnya. Ada yang maknanya tetap, ada yang mengalami penyesuaian, bahkan ada yang berkembang menjadi sistem sosial tersendiri.
Bahasa Ramadan di Indonesia, dengan demikian, bukan sekadar terjemahan ajaran agama. Ia adalah hasil interaksi antara tradisi Islam global dan praktik lokal yang berkembang selama berabad-abad.
Berikut beberapa istilah berakar dari bahasa Arab yang paling sering terdengar selama Ramadan, beserta makna asli dan perubahan penggunaannya dalam masyarakat Indonesia.
Sahur
Kata sahur berasal dari bahasa Arab suḥūr ataupun saḥar yang merujuk pada aktivitas makan menjelang fajar sebelum memulai puasa. Dalam tradisi Islam, sahur dianjurkan karena memberi kekuatan fisik sekaligus memiliki nilai spiritual.
Di Indonesia, makna ini tetap dipertahankan. Namun praktiknya berkembang menjadi ritual sosial yang khas. Banyak daerah memiliki tradisi membangunkan sahur bersama, dengan kentongan, pengeras suara, atau pawai keliling.
Fenomena ini menunjukkan bahwa istilah yang awalnya merujuk pada aktivitas individual berubah menjadi pengalaman kolektif. Bahasa tetap sama, tetapi praktik sosialnya berkembang mengikuti budaya lokal.
Imsak
Secara etimologis, imsak berasal dari kata Arab imsākan, yang berarti menahan atau menghentikan. Dalam konteks puasa, makna dasarnya adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.
Namun dalam praktik di Indonesia, imsak memiliki makna yang lebih teknis: waktu peringatan beberapa menit sebelum azan subuh. Jadwal imsak bahkan dicetak resmi setiap Ramadan, disiarkan media, dan menjadi referensi publik.
Perubahan ini menunjukkan proses institusionalisasi bahasa. Istilah teologis berkembang menjadi kategori waktu yang bersifat administratif dan praktis.
Tarawih
Tarāwīḥ adalah kata dalam bahasa Arab, bentuk jamak dari tarwīḥah, yang berarti “istirahat”. Nama ini merujuk pada jeda yang dilakukan di antara rangkaian rakaat salat malam selama Ramadan.
Makna literal ini jarang disadari oleh masyarakat umum. Bagi kebanyakan orang Indonesia, tarawih dipahami semata sebagai salat malam khusus Ramadan.
Meski makna dasarnya tidak berubah, kesadaran terhadap asal kata sering memudar. Bahasa tetap digunakan, tetapi sejarah semantiknya jarang diketahui.

Zakat dan fitrah
Dalam bahasa Arab, Kata zakat merupakan turunan dari zakā, yang berarti penyucian atau pertumbuhan. Dalam ajaran Islam, zakat berfungsi sebagai mekanisme distribusi kekayaan sekaligus penyucian harta.
Sementara itu, zakat fitrah adalah kewajiban khusus menjelang Idulfitri, berkaitan dengan kata fiṭrah yang berarti keadaan asal atau kesucian dasar manusia.
Di Indonesia, kedua istilah ini berkembang menjadi sistem sosial ekonomi yang terorganisasi. Ada lembaga resmi pengelola zakat, mekanisme distribusi, hingga kampanye publik setiap Ramadan.
Bahasa religius di sini tidak hanya menggambarkan konsep spiritual, tetapi juga membentuk institusi ekonomi nyata dalam masyarakat.
Lailatulqadar
Lailatulqadar berasal dari frasa Arab laylat al-qadr, yang secara harfiah berarti malam kemuliaan atau malam penetapan. Dalam tradisi Islam, malam ini diyakini memiliki nilai ibadah yang sangat besar dan terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Di Indonesia, istilah ini sering digunakan bukan hanya dalam konteks teologis, tetapi juga sebagai simbol puncak spiritual Ramadan. Banyak kegiatan keagamaan, pengajian, dan ibadah intensif dikaitkan dengan pencarian malam ini.
Bahasa teologis berkembang menjadi simbol pengalaman religius yang sangat emosional dan kolektif.
Takjil
Berbeda dari istilah lain yang relatif stabil, takjil justru mengalami perubahan makna paling drastis.
Dalam bahasa Arab, ta’jīl berarti menyegerakan. Dalam konteks puasa, ia merujuk pada anjuran untuk segera berbuka ketika waktunya tiba.
Namun di Indonesia, takjil hampir selalu berarti makanan ringan pembuka puasa. Perubahan ini terjadi karena kebiasaan berbuka dengan hidangan sederhana lebih dahulu sebelum makan utama.
Bahasa yang awalnya menunjuk tindakan kini menunjuk benda. Ini contoh nyata bagaimana praktik budaya dapat menggeser makna kata.
Baca Juga: Mapag Puasa
Jika dilihat secara keseluruhan, istilah Arab dalam Ramadan Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai istilah keagamaan formal. Sebagian menjadi bagian dari sistem waktu, sebagian menjadi struktur sosial, sebagian lagi mengalami pergeseran makna karena kebiasaan lokal.
Proses ini menunjukkan bahwa bahasa tidak pernah statis. Ketika berpindah lintas wilayah dan budaya, kata-kata beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat yang menggunakannya.
Bahasa Arab membawa konsep teologis, tetapi masyarakat Indonesia memberi konteks sosial baru. Hasilnya adalah praktik Ramadan yang tetap berakar pada ajaran Islam, tetapi memiliki karakter khas Nusantara. (*)
