Nostalgia Dapur Ramadan Tempo Dulu ala Pembaca Mangle

3 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Majalah Mangle terbitan tahun 1960-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Majalah Mangle terbitan tahun 1960-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Di Bandung tempo dulu, bulan puasa hadir dengan ritme yang lebih pelan bedug masjid bersahut-sahutan menjelang magrib, aroma kolak dari dapur warga menguar ke gang-gang sempit, dan anak-anak berlarian membawa lampu senter seolah ikut menyambut datangnya waktu berbuka.

Ada masa ketika inspirasi menu buka puasa tidak datang dari layar ponsel, melainkan dari lembaran majalah yang dibaca berulang-ulang hingga kertasnya menguning. Salah satu saksi zaman itu adalah Majalah Manglé, majalah berbahasa Sunda yang pada dekade 1960-an rutin memuat kiriman resep dari para pembacanya yang tinggal di Bandung maupun kota-kota lain di Jawa Barat. Kolom Istri Binangkit rubriknya sederhana, tetapi justru di situlah pesonanya, resep ditulis apa adanya, memakai bahasa dapur sehari-hari yang akrab di telinga pembaca.

Didirikan di Bogor pada 21 November 1957, Manglé lahir dari gagasan sejumlah tokoh budaya seperti Oeton Moechtar, Rochamina Sudarmika, Wahyu Wibisana, Sukanda Kartasasmita, Saléh Danasasmita, Utay Muchtar, dan Alibasah Kartapranata.

Nama “Manglé” sendiri berarti untaian bunga atau ranggeuyan kembang, sebuah metafora bagi ragam isi yang dirangkai dalam satu terbitan. Kini Majalah Mangle terbit dan beredar di Bandung, dan dikelola oleh Pusat Budaya Sunda Unpad majalah ini tetap bertahan sebagai salah satu media daerah tertua di Indonesia. Pada masa jayanya, khususnya 1960-an hingga 1970-an, oplahnya bahkan mencapai sekitar 90.000–150.000 eksemplar.

Istri Binangkit, kolom yang memuat menu masakan tempo doeloe. (Sumber: Majalah Mangle)
Istri Binangkit, kolom yang memuat menu masakan tempo doeloe. (Sumber: Majalah Mangle)

Bayangkan suasana sore menjelang magrib di kampung-kampung yang berada di Kota Bandung dan daerah Jawa Barat masa itu. Dapur kayu berasap tipis, ulekan batu berbunyi ritmis, dan di tangan seorang ibu terbuka halaman resep bertajuk Kueh Bidadari. Kudapan ini dibuat dari tepung ketan yang diadon, digoreng, lalu dilapisi gula kental. Namanya terdengar anggun, rasanya pun konon selembut sebutannya, manis legit sebagai pembuka puasa.

Tak kalah menggoda ada Ulukutek Leuntja, sayur khas yang di daerah Tarogong dikenal dengan nama “Djingdjiring.” Leunca mentah, oncom goreng, tomat, dan sambal diracik jadi satu. Tekniknya khas dapur kampung, sambal diaduk lebih dulu sampai rasanya matang, baru bahan utama dimasukkan. Hasilnya segar, pedas, dan harum menu sederhana yang membuat nasi hangat terasa istimewa.

Sementara itu, resep Urab Tjau Kulutuk menunjukkan betapa kreatifnya dapur tradisional. Tauge mentah dicampur kelapa parut berbumbu lalu dibungkus daun praktis, hemat, sekaligus ramah lingkungan jauh sebelum istilah itu populer. Menariknya, resep ini dikirim pembaca bernama Ny. Purwikarsi dari Talaga, menandakan bahwa majalah kala itu menjadi ruang berbagi resep lintas daerah semacam “media sosial” versi cetak.

Kin Sanubary bersama Bu Aam Amalia sastrawan Sunda ti Majalah Mangle. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Kin Sanubary bersama Bu Aam Amalia sastrawan Sunda ti Majalah Mangle. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Yang membuat rubrik seperti ini terasa hangat bukan hanya daftar bahannya, melainkan juga bahasa yang dipakai. Istilah seperti dikumbah, direndos, atau dijait bukan sekadar instruksi memasak, tetapi penanda zaman. Bahasa daerah hadir sebagai medium pengetahuan, bukan hanya alat percakapan.

Melihat kembali menu Ramadan tempo dulu, kita diingatkan pada filosofi lama yakni masakan tak harus mewah untuk terasa istimewa. Cukup bahan dari kebun, bumbu dari dapur, dan waktu yang diisi kesabaran. Dari situlah lahir hidangan yang bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan ingatan.

Baca Juga: Kenangan Indah Menonton Film di Bioskop Bandung Era 1980-an dalam Nuansa Ramadan

Rubrik resep lawas ini akhirnya bukan sekadar catatan kuliner. Ia adalah kapsul waktu yang menyimpan aroma dapur, bunyi ulekan, dan rasa kebersamaan yang kini semakin jarang terdengar.

Ramadan masa itu mungkin tanpa gemerlap lampu dan gawai, tetapi justru dalam kesederhanaannya tersimpan kehangatan yang kini dirindukan, ketika satu kota terasa seperti satu keluarga yang menunggu azan magrib bersama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)