Menjaga Kesucian Ramadan, Merawat Lingkungan

4 menit baca
Henri Sinurat
Ditulis oleh Henri Sinurat diterbitkan
Masjid Pusdai Bandung. (Sumber: Freepik @rako349)
Masjid Pusdai Bandung. (Sumber: Freepik @rako349)

Baru-baru ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan peringatan dini kepada kepala daerah di kawasan Bandung Raya terkait potensi lonjakan timbulan sampah selama Ramadan 1447 H. Peringatan ini berangkat dari fakta yang tidak ringan. Perubahan pola konsumsi masyarakat selama bulan puasa dan menjelang Idulfitri selalu diikuti peningkatan volume sampah.

Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, menyampaikan bahwa dari sekitar 1.200 ton sampah yang masuk setiap hari ke TPPAS Sarimukti, kurang lebih 600 ton merupakan sampah organik sisa makanan. Artinya, setengah dari beban harian tempat pembuangan akhir berasal dari makanan yang tidak habis dikonsumsi.

Temuan dari BRIN melalui peneliti PRIMA, Sumaryati, semakin memperjelas gambaran tersebut. Berdasarkan asesmen terhadap 144 responden di Bandung Raya, volume sampah meningkat hingga 40 persen selama Ramadan dan Idulfitri. Peningkatan didorong oleh penyajian makanan berlebih, konsumsi parcel, serta penggunaan alat makan sekali pakai. Sampah plastik, styrofoam, dan organik tercatat naik hingga 42,2 persen.

Data tersebut menyampaikan refleksi penting bagi masyarakat. Ramadan secara normatif dipahami sebagai bulan pengendalian diri, dengan penekanan pada disiplin, kesederhanaan, dan kepedulian sosial. Akan tetapi, dalam dinamika keseharian, terlihat adanya kecenderungan peningkatan konsumsi. Ragam hidangan berbuka disajikan dalam jumlah lebih banyak, aktivitas perdagangan takjil meningkat, serta distribusi parcel dan hampers meluas. Pertumbuhan aktivitas ekonomi ini pada saat yang sama berimplikasi pada bertambahnya volume sampah yang dihasilkan.

Persoalan yang muncul bukan pada ajaran Ramadan, melainkan pada pola konsumsi modern yang melekat di dalamnya. Keinginan menyajikan makanan dalam jumlah besar sebagai simbol kebersamaan sering kali melampaui kebutuhan riil. Kekhawatiran kekurangan makanan mendorong orang memasak atau membeli lebih banyak dari yang sanggup dihabiskan. Akhirnya, sisa makanan berakhir di tempat sampah.

Sampah organik yang menumpuk di tempat pembuangan menghasilkan gas metana, salah satu kontributor emisi gas rumah kaca. Sementara plastik dan styrofoam membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai. Beban pengelolaan meningkat, kapasitas pengolahan memiliki batas, dan risiko penumpukan menjadi ancaman nyata bagi kota.

Bandung Raya bukan wilayah yang bebas dari persoalan sampah. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa krisis dapat muncul ketika volume melebihi daya tampung. Jika lonjakan hingga 40 persen terjadi tanpa langkah pengendalian, tekanan terhadap sistem pengelolaan akan semakin berat.

Perubahan Prilaku

Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)

Perubahan perilaku menjadi kunci. Upaya ini perlu dimulai dari keluarga. Perencanaan menu berbuka yang realistis dapat menekan pemborosan. Membeli makanan sesuai kebutuhan, bukan berdasarkan dorongan sesaat atau tren media sosial, merupakan langkah awal yang konkret. Kebiasaan membawa wadah sendiri saat membeli takjil dapat mengurangi sampah kemasan secara signifikan.

Makanan yang masih layak konsumsi dapat dibagikan kepada tetangga atau komunitas sekitar sebelum terbuang. Sampah organik dapat dipilah dan diolah menjadi kompos skala rumah tangga. Praktik seperti ini sudah dijalankan di berbagai lingkungan dan terbukti mengurangi beban ke tempat pembuangan akhir.

Pada tingkat komunitas, panitia buka bersama dapat mengurangi penggunaan alat makan sekali pakai. Masjid, sekolah, dan kantor dapat mendorong peserta membawa peralatan makan pribadi. Edukasi mengenai pemilahan sampah perlu diperkuat, terutama menjelang Ramadan ketika volume konsumsi meningkat.

Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam memperkuat kampanye Ramadan ramah lingkungan. Dukungan terhadap bank sampah, optimalisasi pengolahan sampah organik, serta sosialisasi yang konsisten menjadi bagian dari strategi jangka menengah. Namun kebijakan tidak akan efektif tanpa kesadaran warga.

Ramadan setiap tahun menghadirkan ruang perenungan yang mendalam. Bulan ini mengingatkan tentang arti pengendalian diri dan kepekaan sosial terhadap sesama. Mengurangi pemborosan makanan selaras dengan nilai-nilai tersebut. Karena itu, upaya mengurangi pemborosan makanan sejalan dengan semangat yang hendak dibangun dalam mengurangi jumlah sampah.

Baca Juga: Kampung Gajah: Viral ketika Berjaya dan karena Tercium 'Bau Busuk'

Perlu disadari bahwa setiap bahan pangan menempuh rantai produksi yang Panjang. Mulai dari pengolahan lahan, penggunaan air dan energi, proses distribusi, hingga akhirnya tersaji di meja makan. Ketika makanan terbuang, bukan hanya produk akhirnya yang hilang, tetapi juga seluruh sumber daya dan tenaga yang menyertainya. Dalam konteks ini, pengelolaan konsumsi menjadi wujud tanggung jawab moral sekaligus ekologis.

Budaya parcel dan konsumsi kemasan juga perlu ditinjau ulang. Inovasi dapat diarahkan pada penggunaan kemasan ramah lingkungan atau konsep berbagi yang minim limbah. Kreativitas sosial dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab ekologis.

Indonesia tengah bersiap menuju 2045. Bonus demografi dan pertumbuhan ekonomi membutuhkan fondasi sosial yang kuat. Kepedulian terhadap lingkungan termasuk bagian dari modal tersebut. Kota yang bersih dan sistem pengelolaan sampah yang tertata mencerminkan kedewasaan masyarakat.

Ramadan 1447 H dapat menjadi momentum pembenahan. Perubahan tidak selalu lahir dari kebijakan besar. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali menghasilkan dampak lebih nyata. Mengambil makanan secukupnya, menolak tambahan kantong plastik, dan memilah sampah dari rumah merupakan bentuk disiplin sehari-hari. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Henri Sinurat
Tentang Henri Sinurat
Analis Kebijakan Pusat Pembelajaran Dan Strategi Kebijakan Talenta Aparatur Sipil Negara Nasional Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 26 Agu 2026, 12:42

Jelajah Goa Sunyaragi, Labirin Batu Karang di Jantung Kota Cirebon

Jelajahi Goa Sunyaragi Cirebon, kompleks bersejarah dengan lorong batu karang, arsitektur unik, tiket masuk, dan tips berkunjung.

Wisata Goa Sunyaragi Cirebon. (Sumber: Instagram @goasunyaragi)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 12:23

Peringkat Nabi Muhammad saw. Dalam Kasus Tabloid Monitor Tahun 1990

Kisah tahun 1990 ini, berawal dari survei 50 tokoh yang dikagumi oleh pembaca tabloid Monitor dan memunculkan demonstrasi masyarakat

Klarifikasi dan permintaan Tabloid Monitor atas edisi 15 Oktober 1990 yang kontroversial. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 10:28

Pasar Baru Bandung dan Penyakit 'Kota Branding'

Upaya pem-branding-an memang penting. Kota perlu dikenal. Kawasan perlu memiliki daya tarik. Tetapi, branding hanyalah lapisan paling luar dari sebuah ekosistem. 

Pasar Baru Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Regia Ramadhina Revalgian/Magang)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 08:44

Jika Pohon-Pohon di Kalimantan Bisa Bernyanyi dan Hewan di Dalamnya Bisa Bicara

Manusia seringkali lupa bahwa di bumi ini mereka hidup tidak sendirian melainkan berdampingan dengan mahluk hidup lainnya yang juga harus dijaga kelestariannya.

Orang utan di hutan Kalimantan. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Morgan)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 07:38

Nama, Doa, dan Ikhtiar

Yang membuat nama menjadi bermakna bukan hanya rangkaian hurufnya. Ada harapan orang tua, perjalanan hidup yang mengiringinya, dan tanggung jawab pemilik nama untuk menjadikan doa sebagai kehidupan.

Ilustrasi nama orang sunda yang sudah hampir punah. (Sumber: Pixabay by Pexels)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 18:01

Mengurangi Emisi Karbon Semen Lewat Campuran Bubuk Basalt

Produksi semen konvensional menyumbang emisi karbon dunia secara signifikan. Penggunaan bubuk basalt dapat menggantikan sebagian porsi semen konvensional tanpa merusak karakteristiknya.

Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)