Official Persib Logo
1933
1933

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan Minggu 24 Mei 2026, 09:41 WIB
Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)

Persib  Bandung atau sekarang oleh netizen dipanggil Encib merupakan klub sepak bola yang menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola nasional sejak masa sistem perserikatan. Dalam lintasan perjalanan prestasi, Persib tidak selalu bebas hambatan. Pada dekade tahun 1970-an, Persib sempat mengalami kemunduran prestasi yang cukup panjang namun mampu bangkit dan tegak kembali pada masa tahun 1980-an.

Masa keterpurukan tersebut menjadi wajah penting dalam lintasan sejarah prestasi Persib, karena dari kegagalan itu lahir semangat pembaruan dan kebangkitan. Banyak faktor yang menyebabkan prestasi Persib menurun, diantaranya mulai dari masalah regenerasi pemain, lemahnya sistem manajemen, hingga ketatnya persaingan sepak bola nasional. Akan tetapi, melalui pembinaan yang lebih baik dan munculnya pemain-pemain berbakat, Persib kembali mampu menjadi klub yang disegani.

Salah satu penyebab menurunnya prestasi Persib adalah masalah regenerasi pemain. Banyak pemain senior yang mulai menurun performanya, sedangkan pemain muda yang muncul belum mampu menggantikan peran mereka. Persib saat itu masih bergantung kepada beberapa pemain lama yang sebenarnya sudah melewati masa emas. Klub-klub internal Persib memang banyak melahirkan pemain berbakat, tetapi proses pembinaannya belum terorganisasi dengan baik. Akibatnya, Persib sering kekurangan pemain muda berkualitas yang siap tampil di level tertinggi.

Masalah lain yang juga memengaruhi prestasi Persib adalah kondisi manajemen klub. Pada masa itu, sepak bola Indonesia masih dikelola secara amatir belum profesional yang artinya biaya klub ditanggung oleh pemerintah daerah. Banyak klub Perserikatan mengalami kesulitan dana dan fasilitas latihan yang terbatas. Persib pun menghadapi persoalan serupa. Pemain sering berlatih dengan fasilitas sederhana dan belum mendapatkan dukungan seprofesional seperti sekarang.

Era tahun 1970-an merupakan masa persaingan yang sangat keras di kompetisi Perserikatan. Klub-klub dari berbagai daerah memiliki dukungan pemerintah daerah dan masyarakat yang sangat besar. Persaingan tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga dalam pembinaan pemain. Akan tetapi, melalui pembinaan yang lebih baik dan munculnya pemain-pemain berbakat, Persib akhirnya mampu kembali menjadi klub yang disegani.

Di awal dekade tahun 1980-an, ketika tampilan sepak bola Bandung sedang kehilangan daya pikatnya, datanglah seorang pria asing berwajah tegas dari Polandia Marek Janota. Ia bukan sekadar pelatih. Ia datang seperti badai gurun yang mengguncang setiap sudut kelemahan di tubuh Persib. Dengan peluit keras, tatapan dingin, dan latihan fisik tanpa ampun, Janota mengubah lapangan latihan menjadi kawah candradimuka pembentukan mental para calon legenda maung Bandung.

Berkat kepiawaiannya lahirlah generasi emas Persib. Diantaranya nama-nama seperti Ajat Sudrajat Robby Darwis, Sukowiyono, Suryamin, Iwan Sunarya, Wawan Karnawan, Walter Sulu, Cornelis dan Sobur mulai muncul sebagai kekuatan baru pemain sepak bola. Marek Janota tidak hanya mencari pemain berbakat di klub internal Persib, tetapi juga ia berburu ke lapangan-lapangan tarkam di pelosok Jawa Barat. Salah satunya berhasil menemukan mutiara dari Lembang yaitu Robby Darwis yang ikonik dengan ucapannya "Halik ku aing."

Kehadirannya menjadi titik balik kebangkitan Persib Bandung setelah masa sulit pada akhir 1970-an. Dari tim yang sempat terpuruk, Persib perlahan menjelma menjadi raksasa Perserikatan yang ditakuti lawan. Stadion Siliwangi milik Kodam III Siliwangi kembali riuh bergemuruh. Bobotoh mulai percaya bahwa Maung Bandung akan kembali mengaum dan menerkam musuh-musuhnya.

Persib Piala Soeratin 1980 diperkuat Ade Mulyono, Yusuf Bachtiar, Ajat Sudrajat, Wawan Hermawan(kiper), Wawan Karnawan, dll. (Sumber: Facebook | Foto: Planet Bola)
Persib Piala Soeratin 1980 diperkuat Ade Mulyono, Yusuf Bachtiar, Ajat Sudrajat, Wawan Hermawan(kiper), Wawan Karnawan, dll. (Sumber: Facebook | Foto: Planet Bola)

Marek Janota mungkin datang dari negeri yang jauh, tetapi semangat dan warisannya melekat kuat di tanah Pasundan. Ia bukan hanya pelatih asing pertama Persib, tetapi ia adalah mesin pencetak generasi emas yang membentuk identitas Persib era tahun 1980-1983 yaitu keras, berani, dan penuh harga diri.

Kehadiran pelatih yang mampu membangun mental pemain juga sangat berpengaruh. Persib tidak lagi hanya mengandalkan semangat bertanding, tetapi juga strategi permainan yang lebih terorganisasi. Pada pertengahan hingga akhir 1980-an, Persib mulai menunjukkan kebangkitan yang nyata. Klub ini memiliki banyak pemain berkualitas yang kemudian dikenal sebagai generasi emas Persib.

Kebangkitan Persib mencapai puncaknya ketika klub ini berhasil meraih gelar juara Perserikatan pada musim 1986 setelah 25 tahun tanpa gelar juara. Gelar tersebut menjadi sangat berarti karena mengakhiri masa panjang keterpurukan Persib sejak era 1970-an. Sebelumnya tahun 1983 dan 1985, Persib harus puas menjadi runner-up setelah digagalkan PSMS Medan.

Beres laga kompetisi Perserikatan, di tahun 1986 Persib juga memenangkan Piala Sultan Hassanal Bolkiah di Brunei. Ketika final, Persib yang saat itu meminjam libero Herry Kiswanto dari klub Galatama Krama Yudha Tiga Berlian serta Yusuf Bachtiar dari Perkesa 78 Sidoarjo, mengalahkan tim nasional Malaysia. Gol kemenangan Persib diciptakan oleh Yusuf Bachtiar yang kemudian menjadi pemain kunci Persib di Liga Indonesia.

Keberhasilan itu bukan datang secara tiba-tiba, melainkan hasil kerja keras selama bertahun-tahun. Persib membuktikan bahwa klub yang mengalami keterpurukan tetap bisa bangkit jika memiliki pembinaan yang baik, manajemen yang solid, dan dukungan masyarakat. Kesuksesan Persib pada era 1980-an kemudian menjadi pondasi kuat bagi kejayaan klub pada tahun-tahun berikutnya. Banyak pemain generasi tahun 1980-an yang akhirnya menjadi legenda Persib dan sepak bola Indonesia.

Persib adalah klub yang membakar jiwa masyarakat penggemar sepak bola di Jawa Barat, tidak hanya sebatas Kota Bandung. Persib bukan sekedar klub sepak bola Kota Bandung, tetapi sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat Sunda seluruhnya. Jika Persib bertanding, bukan hanya masyarakat Bandung saja yang merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan klub tersebut, namun setiap hati masyarakat Jawa Barat terpaut.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, dukungan dari bobotoh membuat para pemain Persib atau encib semakin termotivasi untuk tampil maksimal. Bahkan ketika Persib mengalami kekalahan, masyarakat tetap memberikan dukungan agar tim bangkit kembali. Hasil pembinaan dan pembenahan yang dilakukan Persib akhirnya mulai terlihat. Sejak masa tahun 1980-an, Persib kembali menjadi salah satu tim kuat di kompetisi Perserikatan. Permainan Persib menjadi lebih terorganisasi, disiplin, dan penuh semangat. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

bram herdiana
Tentang bram herdiana
GURU SMK PARIWISATA TELKOM BANDUNG

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 09:41

Bandung: Kota Ramah Pejalan Kaki dan Disabilitas yang Masih Sebatas Slogan

Trotoar Bandung masih dipenuhi puing proyek, parkir liar, dan aktivitas lain yang mengurangi hak pejalan kaki serta aksesibilitas penyandang disabilitas.

Kondisi trotoar di Jalan Pungkur, Kota Bandung dipenuhi puing galian proyek utilitas, Kamis (21/5/2026) pagi. (Foto: Arif Budiman)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)