Persib Bandung atau sekarang oleh netizen dipanggil Encib merupakan klub sepak bola yang menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola nasional sejak masa sistem perserikatan. Dalam lintasan perjalanan prestasi, Persib tidak selalu bebas hambatan. Pada dekade tahun 1970-an, Persib sempat mengalami kemunduran prestasi yang cukup panjang namun mampu bangkit dan tegak kembali pada masa tahun 1980-an.
Masa keterpurukan tersebut menjadi wajah penting dalam lintasan sejarah prestasi Persib, karena dari kegagalan itu lahir semangat pembaruan dan kebangkitan. Banyak faktor yang menyebabkan prestasi Persib menurun, diantaranya mulai dari masalah regenerasi pemain, lemahnya sistem manajemen, hingga ketatnya persaingan sepak bola nasional. Akan tetapi, melalui pembinaan yang lebih baik dan munculnya pemain-pemain berbakat, Persib kembali mampu menjadi klub yang disegani.
Salah satu penyebab menurunnya prestasi Persib adalah masalah regenerasi pemain. Banyak pemain senior yang mulai menurun performanya, sedangkan pemain muda yang muncul belum mampu menggantikan peran mereka. Persib saat itu masih bergantung kepada beberapa pemain lama yang sebenarnya sudah melewati masa emas. Klub-klub internal Persib memang banyak melahirkan pemain berbakat, tetapi proses pembinaannya belum terorganisasi dengan baik. Akibatnya, Persib sering kekurangan pemain muda berkualitas yang siap tampil di level tertinggi.
Masalah lain yang juga memengaruhi prestasi Persib adalah kondisi manajemen klub. Pada masa itu, sepak bola Indonesia masih dikelola secara amatir belum profesional yang artinya biaya klub ditanggung oleh pemerintah daerah. Banyak klub Perserikatan mengalami kesulitan dana dan fasilitas latihan yang terbatas. Persib pun menghadapi persoalan serupa. Pemain sering berlatih dengan fasilitas sederhana dan belum mendapatkan dukungan seprofesional seperti sekarang.
Era tahun 1970-an merupakan masa persaingan yang sangat keras di kompetisi Perserikatan. Klub-klub dari berbagai daerah memiliki dukungan pemerintah daerah dan masyarakat yang sangat besar. Persaingan tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga dalam pembinaan pemain. Akan tetapi, melalui pembinaan yang lebih baik dan munculnya pemain-pemain berbakat, Persib akhirnya mampu kembali menjadi klub yang disegani.
Di awal dekade tahun 1980-an, ketika tampilan sepak bola Bandung sedang kehilangan daya pikatnya, datanglah seorang pria asing berwajah tegas dari Polandia Marek Janota. Ia bukan sekadar pelatih. Ia datang seperti badai gurun yang mengguncang setiap sudut kelemahan di tubuh Persib. Dengan peluit keras, tatapan dingin, dan latihan fisik tanpa ampun, Janota mengubah lapangan latihan menjadi kawah candradimuka pembentukan mental para calon legenda maung Bandung.
Berkat kepiawaiannya lahirlah generasi emas Persib. Diantaranya nama-nama seperti Ajat Sudrajat Robby Darwis, Sukowiyono, Suryamin, Iwan Sunarya, Wawan Karnawan, Walter Sulu, Cornelis dan Sobur mulai muncul sebagai kekuatan baru pemain sepak bola. Marek Janota tidak hanya mencari pemain berbakat di klub internal Persib, tetapi juga ia berburu ke lapangan-lapangan tarkam di pelosok Jawa Barat. Salah satunya berhasil menemukan mutiara dari Lembang yaitu Robby Darwis yang ikonik dengan ucapannya "Halik ku aing."
Kehadirannya menjadi titik balik kebangkitan Persib Bandung setelah masa sulit pada akhir 1970-an. Dari tim yang sempat terpuruk, Persib perlahan menjelma menjadi raksasa Perserikatan yang ditakuti lawan. Stadion Siliwangi milik Kodam III Siliwangi kembali riuh bergemuruh. Bobotoh mulai percaya bahwa Maung Bandung akan kembali mengaum dan menerkam musuh-musuhnya.

Marek Janota mungkin datang dari negeri yang jauh, tetapi semangat dan warisannya melekat kuat di tanah Pasundan. Ia bukan hanya pelatih asing pertama Persib, tetapi ia adalah mesin pencetak generasi emas yang membentuk identitas Persib era tahun 1980-1983 yaitu keras, berani, dan penuh harga diri.
Kehadiran pelatih yang mampu membangun mental pemain juga sangat berpengaruh. Persib tidak lagi hanya mengandalkan semangat bertanding, tetapi juga strategi permainan yang lebih terorganisasi. Pada pertengahan hingga akhir 1980-an, Persib mulai menunjukkan kebangkitan yang nyata. Klub ini memiliki banyak pemain berkualitas yang kemudian dikenal sebagai generasi emas Persib.
Kebangkitan Persib mencapai puncaknya ketika klub ini berhasil meraih gelar juara Perserikatan pada musim 1986 setelah 25 tahun tanpa gelar juara. Gelar tersebut menjadi sangat berarti karena mengakhiri masa panjang keterpurukan Persib sejak era 1970-an. Sebelumnya tahun 1983 dan 1985, Persib harus puas menjadi runner-up setelah digagalkan PSMS Medan.
Beres laga kompetisi Perserikatan, di tahun 1986 Persib juga memenangkan Piala Sultan Hassanal Bolkiah di Brunei. Ketika final, Persib yang saat itu meminjam libero Herry Kiswanto dari klub Galatama Krama Yudha Tiga Berlian serta Yusuf Bachtiar dari Perkesa 78 Sidoarjo, mengalahkan tim nasional Malaysia. Gol kemenangan Persib diciptakan oleh Yusuf Bachtiar yang kemudian menjadi pemain kunci Persib di Liga Indonesia.
Keberhasilan itu bukan datang secara tiba-tiba, melainkan hasil kerja keras selama bertahun-tahun. Persib membuktikan bahwa klub yang mengalami keterpurukan tetap bisa bangkit jika memiliki pembinaan yang baik, manajemen yang solid, dan dukungan masyarakat. Kesuksesan Persib pada era 1980-an kemudian menjadi pondasi kuat bagi kejayaan klub pada tahun-tahun berikutnya. Banyak pemain generasi tahun 1980-an yang akhirnya menjadi legenda Persib dan sepak bola Indonesia.

Persib adalah klub yang membakar jiwa masyarakat penggemar sepak bola di Jawa Barat, tidak hanya sebatas Kota Bandung. Persib bukan sekedar klub sepak bola Kota Bandung, tetapi sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat Sunda seluruhnya. Jika Persib bertanding, bukan hanya masyarakat Bandung saja yang merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan klub tersebut, namun setiap hati masyarakat Jawa Barat terpaut.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, dukungan dari bobotoh membuat para pemain Persib atau encib semakin termotivasi untuk tampil maksimal. Bahkan ketika Persib mengalami kekalahan, masyarakat tetap memberikan dukungan agar tim bangkit kembali. Hasil pembinaan dan pembenahan yang dilakukan Persib akhirnya mulai terlihat. Sejak masa tahun 1980-an, Persib kembali menjadi salah satu tim kuat di kompetisi Perserikatan. Permainan Persib menjadi lebih terorganisasi, disiplin, dan penuh semangat. (*)
