Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

5 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)

Persib  Bandung atau sekarang oleh netizen dipanggil Encib merupakan klub sepak bola yang menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola nasional sejak masa sistem perserikatan. Dalam lintasan perjalanan prestasi, Persib tidak selalu bebas hambatan. Pada dekade tahun 1970-an, Persib sempat mengalami kemunduran prestasi yang cukup panjang namun mampu bangkit dan tegak kembali pada masa tahun 1980-an.

Masa keterpurukan tersebut menjadi wajah penting dalam lintasan sejarah prestasi Persib, karena dari kegagalan itu lahir semangat pembaruan dan kebangkitan. Banyak faktor yang menyebabkan prestasi Persib menurun, diantaranya mulai dari masalah regenerasi pemain, lemahnya sistem manajemen, hingga ketatnya persaingan sepak bola nasional. Akan tetapi, melalui pembinaan yang lebih baik dan munculnya pemain-pemain berbakat, Persib kembali mampu menjadi klub yang disegani.

Salah satu penyebab menurunnya prestasi Persib adalah masalah regenerasi pemain. Banyak pemain senior yang mulai menurun performanya, sedangkan pemain muda yang muncul belum mampu menggantikan peran mereka. Persib saat itu masih bergantung kepada beberapa pemain lama yang sebenarnya sudah melewati masa emas. Klub-klub internal Persib memang banyak melahirkan pemain berbakat, tetapi proses pembinaannya belum terorganisasi dengan baik. Akibatnya, Persib sering kekurangan pemain muda berkualitas yang siap tampil di level tertinggi.

Masalah lain yang juga memengaruhi prestasi Persib adalah kondisi manajemen klub. Pada masa itu, sepak bola Indonesia masih dikelola secara amatir belum profesional yang artinya biaya klub ditanggung oleh pemerintah daerah. Banyak klub Perserikatan mengalami kesulitan dana dan fasilitas latihan yang terbatas. Persib pun menghadapi persoalan serupa. Pemain sering berlatih dengan fasilitas sederhana dan belum mendapatkan dukungan seprofesional seperti sekarang.

Era tahun 1970-an merupakan masa persaingan yang sangat keras di kompetisi Perserikatan. Klub-klub dari berbagai daerah memiliki dukungan pemerintah daerah dan masyarakat yang sangat besar. Persaingan tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga dalam pembinaan pemain. Akan tetapi, melalui pembinaan yang lebih baik dan munculnya pemain-pemain berbakat, Persib akhirnya mampu kembali menjadi klub yang disegani.

Di awal dekade tahun 1980-an, ketika tampilan sepak bola Bandung sedang kehilangan daya pikatnya, datanglah seorang pria asing berwajah tegas dari Polandia Marek Janota. Ia bukan sekadar pelatih. Ia datang seperti badai gurun yang mengguncang setiap sudut kelemahan di tubuh Persib. Dengan peluit keras, tatapan dingin, dan latihan fisik tanpa ampun, Janota mengubah lapangan latihan menjadi kawah candradimuka pembentukan mental para calon legenda maung Bandung.

Berkat kepiawaiannya lahirlah generasi emas Persib. Diantaranya nama-nama seperti Ajat Sudrajat Robby Darwis, Sukowiyono, Suryamin, Iwan Sunarya, Wawan Karnawan, Walter Sulu, Cornelis dan Sobur mulai muncul sebagai kekuatan baru pemain sepak bola. Marek Janota tidak hanya mencari pemain berbakat di klub internal Persib, tetapi juga ia berburu ke lapangan-lapangan tarkam di pelosok Jawa Barat. Salah satunya berhasil menemukan mutiara dari Lembang yaitu Robby Darwis yang ikonik dengan ucapannya "Halik ku aing."

Kehadirannya menjadi titik balik kebangkitan Persib Bandung setelah masa sulit pada akhir 1970-an. Dari tim yang sempat terpuruk, Persib perlahan menjelma menjadi raksasa Perserikatan yang ditakuti lawan. Stadion Siliwangi milik Kodam III Siliwangi kembali riuh bergemuruh. Bobotoh mulai percaya bahwa Maung Bandung akan kembali mengaum dan menerkam musuh-musuhnya.

Persib Piala Soeratin 1980 diperkuat Ade Mulyono, Yusuf Bachtiar, Ajat Sudrajat, Wawan Hermawan(kiper), Wawan Karnawan, dll. (Sumber: Facebook | Foto: Planet Bola)
Persib Piala Soeratin 1980 diperkuat Ade Mulyono, Yusuf Bachtiar, Ajat Sudrajat, Wawan Hermawan(kiper), Wawan Karnawan, dll. (Sumber: Facebook | Foto: Planet Bola)

Marek Janota mungkin datang dari negeri yang jauh, tetapi semangat dan warisannya melekat kuat di tanah Pasundan. Ia bukan hanya pelatih asing pertama Persib, tetapi ia adalah mesin pencetak generasi emas yang membentuk identitas Persib era tahun 1980-1983 yaitu keras, berani, dan penuh harga diri.

Kehadiran pelatih yang mampu membangun mental pemain juga sangat berpengaruh. Persib tidak lagi hanya mengandalkan semangat bertanding, tetapi juga strategi permainan yang lebih terorganisasi. Pada pertengahan hingga akhir 1980-an, Persib mulai menunjukkan kebangkitan yang nyata. Klub ini memiliki banyak pemain berkualitas yang kemudian dikenal sebagai generasi emas Persib.

Kebangkitan Persib mencapai puncaknya ketika klub ini berhasil meraih gelar juara Perserikatan pada musim 1986 setelah 25 tahun tanpa gelar juara. Gelar tersebut menjadi sangat berarti karena mengakhiri masa panjang keterpurukan Persib sejak era 1970-an. Sebelumnya tahun 1983 dan 1985, Persib harus puas menjadi runner-up setelah digagalkan PSMS Medan.

Beres laga kompetisi Perserikatan, di tahun 1986 Persib juga memenangkan Piala Sultan Hassanal Bolkiah di Brunei. Ketika final, Persib yang saat itu meminjam libero Herry Kiswanto dari klub Galatama Krama Yudha Tiga Berlian serta Yusuf Bachtiar dari Perkesa 78 Sidoarjo, mengalahkan tim nasional Malaysia. Gol kemenangan Persib diciptakan oleh Yusuf Bachtiar yang kemudian menjadi pemain kunci Persib di Liga Indonesia.

Keberhasilan itu bukan datang secara tiba-tiba, melainkan hasil kerja keras selama bertahun-tahun. Persib membuktikan bahwa klub yang mengalami keterpurukan tetap bisa bangkit jika memiliki pembinaan yang baik, manajemen yang solid, dan dukungan masyarakat. Kesuksesan Persib pada era 1980-an kemudian menjadi pondasi kuat bagi kejayaan klub pada tahun-tahun berikutnya. Banyak pemain generasi tahun 1980-an yang akhirnya menjadi legenda Persib dan sepak bola Indonesia.

Persib adalah klub yang membakar jiwa masyarakat penggemar sepak bola di Jawa Barat, tidak hanya sebatas Kota Bandung. Persib bukan sekedar klub sepak bola Kota Bandung, tetapi sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat Sunda seluruhnya. Jika Persib bertanding, bukan hanya masyarakat Bandung saja yang merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan klub tersebut, namun setiap hati masyarakat Jawa Barat terpaut.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, dukungan dari bobotoh membuat para pemain Persib atau encib semakin termotivasi untuk tampil maksimal. Bahkan ketika Persib mengalami kekalahan, masyarakat tetap memberikan dukungan agar tim bangkit kembali. Hasil pembinaan dan pembenahan yang dilakukan Persib akhirnya mulai terlihat. Sejak masa tahun 1980-an, Persib kembali menjadi salah satu tim kuat di kompetisi Perserikatan. Permainan Persib menjadi lebih terorganisasi, disiplin, dan penuh semangat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)