Kala Maung Bandung Persib Diam-Diam Jadi Duta Indonesia

Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan Minggu 05 Apr 2026, 08:40 WIB
Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saat mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saat mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

DIPLOMASI kadang lahir dari ruang-ruang yang tampak sederhana, dari percakapan santai, ketika hubungan antarbangsa tumbuh tanpa disadari, tanpa tekanan, dan tanpa protokol yang kaku.

Inilah yang tampaknya terjadi dalam pertemuan sejumlah anggota tim Maung Bandung Persib dengan Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Fabien Penone, di Jakarta, Selasa (24/3/2026) silam.

Pertemuan tersebut tentu saja bukan sekadar agenda simbolik. Ia seperti celah kecil yang membuka kemungkinan besar lewat jalur-jalur nonformal, tatkala kita bisa berbicara ke dunia tanpa selalu bergantung pada negara sebagai satu-satunya kanal diplomasi. 

Aktor non-negara

Dalam khazanah hubungan internasional kontemporer, kita mengenal apa yang disebut sebagai aktor non-negara. Dulu, negara adalah segalanya di ranah diplomasi. Sekarang, tidak lagi. Korporasi, Non-Governmental Organization (NGO), bahkan klab sepak bola seperti Persib, bisa menjadi aktor dalam percaturan global.

Jelas, Persib bukan kementerian. Juga bukan  lembaga resmi negara. Tapi, ia punya basis massa, identitas, dan daya tarik emosional yang sering kali tidak dimiliki negara.

Dan justru karena itu, ia bisa bergerak lebih luwes. Tidak kaku. Tidak terlalu dibebani kepentingan formal, dan lebih mudah diterima sebagai “teman” daripada “aktor politik”.

Dalam hal ini, kita bisa membaca pertemuan tim Persib dengan Duta Besar Prancis itu lewat kacamata soft power dari Joseph Nye, yang intinya bahwa pengaruh tidak selalu datang dari kekuatan militer atau ekonomi, tapi dari daya tarik budaya, nilai, dan kedekatan emosional.

Nah, sepak bola punya daya tarik itu. Ia lintas bahasa, lintas ideologi, dan lintas kelas sosial. Oleh sebab itu, ketika tim Persib hadir dalam ruang diplomatik, ia membawa sesuatu yang tidak bisa dibawa oleh pidato resmi: rasa.

Indonesia, setidaknya hingga saat ini, tidak dikenal sebagai kekuatan militer global. Ekonominya memang besar, tapi belum dominan. Maka, aspek soft power menjadi relevan, bahkan penting.

Sayangnya, selama ini, soft power Indonesia masih berjalan sendiri-sendiri. Sektor budaya bergerak dengan jalurnya sendiri, pariwisata berjalan dengan agendanya sendiri. Begitu juga sektor olahraga. Belum terlihat adanya orkestrasi besar yang mampu menyatukan seluruh elemen ini dalam satu narasi nasional yang kuat.

Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)

Padahal, potensi yang dimiliki sangat besar, yakni kemampuan untuk mengintegrasikan budaya, pariwisata, dan olahraga sebagai satu kekuatan diplomasi yang saling menguatkan. Dalam konteks ini, olahraga bukan sekadar kompetisi, tetapi juga pintu masuk untuk memperkenalkan identitas budaya dan destinasi Indonesia ke dunia.

Di titik inilah, Persib secara tidak langsung menunjukkan bahwa potensi itu nyata. Dari Bandung, sebuah klab sepak bola mampu menjadi simpul yang menghubungkan berbagai dimensi: basis suporter yang militan sebagai kekuatan sosial, identitas lokal Sunda sebagai kekayaan budaya, serta daya tarik kota sebagai destinasi wisata.

Jujur saja, Persib bukan hanya sebatas klab sepakbola, tetapi representasi yang hidup dari bagaimana olahraga bisa menjadi medium promosi budaya dan pariwisata sekaligus.

Jalur koneksi

Dunia kita hari ini tidak lagi soal siapa paling kuat, tapi siapa paling terhubung. Relasi tidak lagi satu jalur, tapi berlapis-lapis.

Dalam konteks itu, sepak bola menjadi salah satu jalur koneksi. Ia mungkin terlihat kecil, tapi dampaknya bisa menjalar ke ekonomi, budaya, bahkan politik.

Mari kita lihat data sederhana. Industri sepak bola global nilainya diperkirakan mencapai lebih dari 600 miliar dolar AS jika dihitung dari seluruh ekosistemnya, yang mencakup hak siar, sponsor, merchandise, hingga pariwisata.

Di Indonesia, kompetisi Liga 1, yang kemudian resmi berganti nama menjadi Super League (atau secara komersial disebut BRI Super League), memang belum sebesar itu. Akan tetapi, basis suporternya sangat kuat. Persib sendiri punya jutaan pendukung, baik offline maupun digital.

Artinya, ada kapital sosial yang besar. Dan kapital sosial, dalam ekonomi modern, bisa diterjemahkan menjadi kapital ekonomi maupun kepital politik.

Ketika ada pemain Prancis merapat ke Persib, misalnya, itu bukan hanya soal kebutuhan taktik di lapangan belaka. Itu juga soal jaringan, yakni akses ke pasar, ke sponsor, maupun ke perhatian global.

Di titik inilah mencuat satu pertanyaan: apakah sepakbola Indonesia sadar bahwa ia sedang bermain di level yang berbeda? Bukan lagi sekadar level kompetisi domestik, tetapi level di mana sepak bola bersinggungan langsung dengan arus ekonomi global, jejaring internasional, dan bahkan kepentingan lintas negara.

Jika kesadaran itu tidak ada, maka semua ini berisiko hanya menjadi kebetulan yang lewat begitu saja. Ia tampak besar di permukaan, tetapi tidak meninggalkan jejak yang berarti.

Yang tersisa kemudian hanyalah momen -- ramai sejenak, lalu hilang --tanpa pernah sempat diolah menjadi momentum yang benar-benar menggeser posisi kita dalam peta yang lebih luas.

Representasi Tatar Sunda

Ditilik dari aspek budaya, sepak bola tak pelak juga membawa identitas. Seperti disinggung di muka, Persib bukan sekadar klab sepakbola, ia representasi Bandung, bahkan Tatar Sunda maupun Jawa Barat. Ada nilai, ada cara pandang, ada cerita di dalamnya.

Ketika tim Persib berinteraksi dengan dunia luar, maka yang dibawa bukan hanya narasi sepakbola, tapi juga identitas. Ini yang dalam teori hubungan internasional disebut sebagai cultural diplomacy.

Masalahnya, Indonesia tak jarang kurang percaya diri dengan identitasnya sendiri. Kita kadang lebih sibuk meniru daripada menampilkan jati diri kita yang asli.

Padahal, dunia tidak selalu mencari yang sempurna. Dunia sering justru tertarik pada yang otentik. Persib, dengan segala kekhasannya, punya itu. Dan justru ini yang bisa menjadi kekuatan identitas dan daya tarik.

Dari perspektif ekonomi politik, momen pertemuan tim Persib dengan Duta Besar Prancis  juga bisa dibaca sebagai strategi diversifikasi. Artinya, Indonesia tidak hanya bergantung pada satu atau dua mitra besar, tapi bisa membuka banyak jalur relasi.

Dalam dunia yang makin terfragmentasi -- antara Barat, Tiongkok, dan kekuatan lainnya -- jalur nonformal, seperti pertemuan sejumlah anggota Tim Persib dengan Duta Besar Prancis, menjadi penting. Pasalnya, ia lebih fleksibel, lebih cair. Dan sering kali, lebih tahan terhadap konflik geopolitik.

Kendati demikian, toh tetap ada risiko. Dalam hal ini, negara kita bisa saja hanya menjadi pasar, yakni tempat pemain asing datang, sponsor masuk, namun nilai tambahnya tidak banyak kembali ke dalam negeri.

Di sinilah pentingnya kesadaran strategis, bahwa diplomasi lewat jalur non-formal ini harus mampu diolah, bukan dibiarkan.

Tim Persib sendiri mungkin tidak pernah bermaksud menjadi aktor diplomatik. Akan tetapi, realitas global hari ini justru ikut membuatnya berada di posisi itu.

Dan mungkin, justru lewat jalur non-formal seperti yang dilakukan tim Persib itulah Indonesia bisa menemukan cara baru untuk bisa lebih hadir dan lebih dikenal di panggung mondial. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Apr 2026, 03:31

Doa Manusia, Semesta, dan Tuhan

Di dalam perspektif manusia, bahwa setiap ucapan adalah doa, dan karma terkadang menjadi sesuatu hal yang memabukkan.

Ilustrasi umat Islam sedang berdoa. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)