DIPLOMASI kadang lahir dari ruang-ruang yang tampak sederhana, dari percakapan santai, ketika hubungan antarbangsa tumbuh tanpa disadari, tanpa tekanan, dan tanpa protokol yang kaku.
Inilah yang tampaknya terjadi dalam pertemuan sejumlah anggota tim Maung Bandung Persib dengan Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Fabien Penone, di Jakarta, Selasa (24/3/2026) silam.
Pertemuan tersebut tentu saja bukan sekadar agenda simbolik. Ia seperti celah kecil yang membuka kemungkinan besar lewat jalur-jalur nonformal, tatkala kita bisa berbicara ke dunia tanpa selalu bergantung pada negara sebagai satu-satunya kanal diplomasi.
Aktor non-negara
Dalam khazanah hubungan internasional kontemporer, kita mengenal apa yang disebut sebagai aktor non-negara. Dulu, negara adalah segalanya di ranah diplomasi. Sekarang, tidak lagi. Korporasi, Non-Governmental Organization (NGO), bahkan klab sepak bola seperti Persib, bisa menjadi aktor dalam percaturan global.
Jelas, Persib bukan kementerian. Juga bukan lembaga resmi negara. Tapi, ia punya basis massa, identitas, dan daya tarik emosional yang sering kali tidak dimiliki negara.
Dan justru karena itu, ia bisa bergerak lebih luwes. Tidak kaku. Tidak terlalu dibebani kepentingan formal, dan lebih mudah diterima sebagai “teman” daripada “aktor politik”.
Dalam hal ini, kita bisa membaca pertemuan tim Persib dengan Duta Besar Prancis itu lewat kacamata soft power dari Joseph Nye, yang intinya bahwa pengaruh tidak selalu datang dari kekuatan militer atau ekonomi, tapi dari daya tarik budaya, nilai, dan kedekatan emosional.
Nah, sepak bola punya daya tarik itu. Ia lintas bahasa, lintas ideologi, dan lintas kelas sosial. Oleh sebab itu, ketika tim Persib hadir dalam ruang diplomatik, ia membawa sesuatu yang tidak bisa dibawa oleh pidato resmi: rasa.
Indonesia, setidaknya hingga saat ini, tidak dikenal sebagai kekuatan militer global. Ekonominya memang besar, tapi belum dominan. Maka, aspek soft power menjadi relevan, bahkan penting.
Sayangnya, selama ini, soft power Indonesia masih berjalan sendiri-sendiri. Sektor budaya bergerak dengan jalurnya sendiri, pariwisata berjalan dengan agendanya sendiri. Begitu juga sektor olahraga. Belum terlihat adanya orkestrasi besar yang mampu menyatukan seluruh elemen ini dalam satu narasi nasional yang kuat.

Padahal, potensi yang dimiliki sangat besar, yakni kemampuan untuk mengintegrasikan budaya, pariwisata, dan olahraga sebagai satu kekuatan diplomasi yang saling menguatkan. Dalam konteks ini, olahraga bukan sekadar kompetisi, tetapi juga pintu masuk untuk memperkenalkan identitas budaya dan destinasi Indonesia ke dunia.
Di titik inilah, Persib secara tidak langsung menunjukkan bahwa potensi itu nyata. Dari Bandung, sebuah klab sepak bola mampu menjadi simpul yang menghubungkan berbagai dimensi: basis suporter yang militan sebagai kekuatan sosial, identitas lokal Sunda sebagai kekayaan budaya, serta daya tarik kota sebagai destinasi wisata.
Jujur saja, Persib bukan hanya sebatas klab sepakbola, tetapi representasi yang hidup dari bagaimana olahraga bisa menjadi medium promosi budaya dan pariwisata sekaligus.
Jalur koneksi
Dunia kita hari ini tidak lagi soal siapa paling kuat, tapi siapa paling terhubung. Relasi tidak lagi satu jalur, tapi berlapis-lapis.
Dalam konteks itu, sepak bola menjadi salah satu jalur koneksi. Ia mungkin terlihat kecil, tapi dampaknya bisa menjalar ke ekonomi, budaya, bahkan politik.
Mari kita lihat data sederhana. Industri sepak bola global nilainya diperkirakan mencapai lebih dari 600 miliar dolar AS jika dihitung dari seluruh ekosistemnya, yang mencakup hak siar, sponsor, merchandise, hingga pariwisata.
Di Indonesia, kompetisi Liga 1, yang kemudian resmi berganti nama menjadi Super League (atau secara komersial disebut BRI Super League), memang belum sebesar itu. Akan tetapi, basis suporternya sangat kuat. Persib sendiri punya jutaan pendukung, baik offline maupun digital.
Artinya, ada kapital sosial yang besar. Dan kapital sosial, dalam ekonomi modern, bisa diterjemahkan menjadi kapital ekonomi maupun kepital politik.
Ketika ada pemain Prancis merapat ke Persib, misalnya, itu bukan hanya soal kebutuhan taktik di lapangan belaka. Itu juga soal jaringan, yakni akses ke pasar, ke sponsor, maupun ke perhatian global.
Di titik inilah mencuat satu pertanyaan: apakah sepakbola Indonesia sadar bahwa ia sedang bermain di level yang berbeda? Bukan lagi sekadar level kompetisi domestik, tetapi level di mana sepak bola bersinggungan langsung dengan arus ekonomi global, jejaring internasional, dan bahkan kepentingan lintas negara.
Jika kesadaran itu tidak ada, maka semua ini berisiko hanya menjadi kebetulan yang lewat begitu saja. Ia tampak besar di permukaan, tetapi tidak meninggalkan jejak yang berarti.
Yang tersisa kemudian hanyalah momen -- ramai sejenak, lalu hilang --tanpa pernah sempat diolah menjadi momentum yang benar-benar menggeser posisi kita dalam peta yang lebih luas.
Representasi Tatar Sunda
Ditilik dari aspek budaya, sepak bola tak pelak juga membawa identitas. Seperti disinggung di muka, Persib bukan sekadar klab sepakbola, ia representasi Bandung, bahkan Tatar Sunda maupun Jawa Barat. Ada nilai, ada cara pandang, ada cerita di dalamnya.
Ketika tim Persib berinteraksi dengan dunia luar, maka yang dibawa bukan hanya narasi sepakbola, tapi juga identitas. Ini yang dalam teori hubungan internasional disebut sebagai cultural diplomacy.
Masalahnya, Indonesia tak jarang kurang percaya diri dengan identitasnya sendiri. Kita kadang lebih sibuk meniru daripada menampilkan jati diri kita yang asli.
Padahal, dunia tidak selalu mencari yang sempurna. Dunia sering justru tertarik pada yang otentik. Persib, dengan segala kekhasannya, punya itu. Dan justru ini yang bisa menjadi kekuatan identitas dan daya tarik.
Dari perspektif ekonomi politik, momen pertemuan tim Persib dengan Duta Besar Prancis juga bisa dibaca sebagai strategi diversifikasi. Artinya, Indonesia tidak hanya bergantung pada satu atau dua mitra besar, tapi bisa membuka banyak jalur relasi.
Dalam dunia yang makin terfragmentasi -- antara Barat, Tiongkok, dan kekuatan lainnya -- jalur nonformal, seperti pertemuan sejumlah anggota Tim Persib dengan Duta Besar Prancis, menjadi penting. Pasalnya, ia lebih fleksibel, lebih cair. Dan sering kali, lebih tahan terhadap konflik geopolitik.
Kendati demikian, toh tetap ada risiko. Dalam hal ini, negara kita bisa saja hanya menjadi pasar, yakni tempat pemain asing datang, sponsor masuk, namun nilai tambahnya tidak banyak kembali ke dalam negeri.

Di sinilah pentingnya kesadaran strategis, bahwa diplomasi lewat jalur non-formal ini harus mampu diolah, bukan dibiarkan.
Tim Persib sendiri mungkin tidak pernah bermaksud menjadi aktor diplomatik. Akan tetapi, realitas global hari ini justru ikut membuatnya berada di posisi itu.
Dan mungkin, justru lewat jalur non-formal seperti yang dilakukan tim Persib itulah Indonesia bisa menemukan cara baru untuk bisa lebih hadir dan lebih dikenal di panggung mondial. (*)
