Kala Maung Bandung Persib Diam-Diam Jadi Duta Indonesia

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saat mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saat mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

DIPLOMASI kadang lahir dari ruang-ruang yang tampak sederhana, dari percakapan santai, ketika hubungan antarbangsa tumbuh tanpa disadari, tanpa tekanan, dan tanpa protokol yang kaku.

Inilah yang tampaknya terjadi dalam pertemuan sejumlah anggota tim Maung Bandung Persib dengan Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Fabien Penone, di Jakarta, Selasa (24/3/2026) silam.

Pertemuan tersebut tentu saja bukan sekadar agenda simbolik. Ia seperti celah kecil yang membuka kemungkinan besar lewat jalur-jalur nonformal, tatkala kita bisa berbicara ke dunia tanpa selalu bergantung pada negara sebagai satu-satunya kanal diplomasi. 

Aktor non-negara

Dalam khazanah hubungan internasional kontemporer, kita mengenal apa yang disebut sebagai aktor non-negara. Dulu, negara adalah segalanya di ranah diplomasi. Sekarang, tidak lagi. Korporasi, Non-Governmental Organization (NGO), bahkan klab sepak bola seperti Persib, bisa menjadi aktor dalam percaturan global.

Jelas, Persib bukan kementerian. Juga bukan  lembaga resmi negara. Tapi, ia punya basis massa, identitas, dan daya tarik emosional yang sering kali tidak dimiliki negara.

Dan justru karena itu, ia bisa bergerak lebih luwes. Tidak kaku. Tidak terlalu dibebani kepentingan formal, dan lebih mudah diterima sebagai “teman” daripada “aktor politik”.

Dalam hal ini, kita bisa membaca pertemuan tim Persib dengan Duta Besar Prancis itu lewat kacamata soft power dari Joseph Nye, yang intinya bahwa pengaruh tidak selalu datang dari kekuatan militer atau ekonomi, tapi dari daya tarik budaya, nilai, dan kedekatan emosional.

Nah, sepak bola punya daya tarik itu. Ia lintas bahasa, lintas ideologi, dan lintas kelas sosial. Oleh sebab itu, ketika tim Persib hadir dalam ruang diplomatik, ia membawa sesuatu yang tidak bisa dibawa oleh pidato resmi: rasa.

Indonesia, setidaknya hingga saat ini, tidak dikenal sebagai kekuatan militer global. Ekonominya memang besar, tapi belum dominan. Maka, aspek soft power menjadi relevan, bahkan penting.

Sayangnya, selama ini, soft power Indonesia masih berjalan sendiri-sendiri. Sektor budaya bergerak dengan jalurnya sendiri, pariwisata berjalan dengan agendanya sendiri. Begitu juga sektor olahraga. Belum terlihat adanya orkestrasi besar yang mampu menyatukan seluruh elemen ini dalam satu narasi nasional yang kuat.

Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)

Padahal, potensi yang dimiliki sangat besar, yakni kemampuan untuk mengintegrasikan budaya, pariwisata, dan olahraga sebagai satu kekuatan diplomasi yang saling menguatkan. Dalam konteks ini, olahraga bukan sekadar kompetisi, tetapi juga pintu masuk untuk memperkenalkan identitas budaya dan destinasi Indonesia ke dunia.

Di titik inilah, Persib secara tidak langsung menunjukkan bahwa potensi itu nyata. Dari Bandung, sebuah klab sepak bola mampu menjadi simpul yang menghubungkan berbagai dimensi: basis suporter yang militan sebagai kekuatan sosial, identitas lokal Sunda sebagai kekayaan budaya, serta daya tarik kota sebagai destinasi wisata.

Jujur saja, Persib bukan hanya sebatas klab sepakbola, tetapi representasi yang hidup dari bagaimana olahraga bisa menjadi medium promosi budaya dan pariwisata sekaligus.

Jalur koneksi

Dunia kita hari ini tidak lagi soal siapa paling kuat, tapi siapa paling terhubung. Relasi tidak lagi satu jalur, tapi berlapis-lapis.

Dalam konteks itu, sepak bola menjadi salah satu jalur koneksi. Ia mungkin terlihat kecil, tapi dampaknya bisa menjalar ke ekonomi, budaya, bahkan politik.

Mari kita lihat data sederhana. Industri sepak bola global nilainya diperkirakan mencapai lebih dari 600 miliar dolar AS jika dihitung dari seluruh ekosistemnya, yang mencakup hak siar, sponsor, merchandise, hingga pariwisata.

Di Indonesia, kompetisi Liga 1, yang kemudian resmi berganti nama menjadi Super League (atau secara komersial disebut BRI Super League), memang belum sebesar itu. Akan tetapi, basis suporternya sangat kuat. Persib sendiri punya jutaan pendukung, baik offline maupun digital.

Artinya, ada kapital sosial yang besar. Dan kapital sosial, dalam ekonomi modern, bisa diterjemahkan menjadi kapital ekonomi maupun kepital politik.

Ketika ada pemain Prancis merapat ke Persib, misalnya, itu bukan hanya soal kebutuhan taktik di lapangan belaka. Itu juga soal jaringan, yakni akses ke pasar, ke sponsor, maupun ke perhatian global.

Di titik inilah mencuat satu pertanyaan: apakah sepakbola Indonesia sadar bahwa ia sedang bermain di level yang berbeda? Bukan lagi sekadar level kompetisi domestik, tetapi level di mana sepak bola bersinggungan langsung dengan arus ekonomi global, jejaring internasional, dan bahkan kepentingan lintas negara.

Jika kesadaran itu tidak ada, maka semua ini berisiko hanya menjadi kebetulan yang lewat begitu saja. Ia tampak besar di permukaan, tetapi tidak meninggalkan jejak yang berarti.

Yang tersisa kemudian hanyalah momen -- ramai sejenak, lalu hilang --tanpa pernah sempat diolah menjadi momentum yang benar-benar menggeser posisi kita dalam peta yang lebih luas.

Representasi Tatar Sunda

Ditilik dari aspek budaya, sepak bola tak pelak juga membawa identitas. Seperti disinggung di muka, Persib bukan sekadar klab sepakbola, ia representasi Bandung, bahkan Tatar Sunda maupun Jawa Barat. Ada nilai, ada cara pandang, ada cerita di dalamnya.

Ketika tim Persib berinteraksi dengan dunia luar, maka yang dibawa bukan hanya narasi sepakbola, tapi juga identitas. Ini yang dalam teori hubungan internasional disebut sebagai cultural diplomacy.

Masalahnya, Indonesia tak jarang kurang percaya diri dengan identitasnya sendiri. Kita kadang lebih sibuk meniru daripada menampilkan jati diri kita yang asli.

Padahal, dunia tidak selalu mencari yang sempurna. Dunia sering justru tertarik pada yang otentik. Persib, dengan segala kekhasannya, punya itu. Dan justru ini yang bisa menjadi kekuatan identitas dan daya tarik.

Dari perspektif ekonomi politik, momen pertemuan tim Persib dengan Duta Besar Prancis  juga bisa dibaca sebagai strategi diversifikasi. Artinya, Indonesia tidak hanya bergantung pada satu atau dua mitra besar, tapi bisa membuka banyak jalur relasi.

Dalam dunia yang makin terfragmentasi -- antara Barat, Tiongkok, dan kekuatan lainnya -- jalur nonformal, seperti pertemuan sejumlah anggota Tim Persib dengan Duta Besar Prancis, menjadi penting. Pasalnya, ia lebih fleksibel, lebih cair. Dan sering kali, lebih tahan terhadap konflik geopolitik.

Kendati demikian, toh tetap ada risiko. Dalam hal ini, negara kita bisa saja hanya menjadi pasar, yakni tempat pemain asing datang, sponsor masuk, namun nilai tambahnya tidak banyak kembali ke dalam negeri.

Di sinilah pentingnya kesadaran strategis, bahwa diplomasi lewat jalur non-formal ini harus mampu diolah, bukan dibiarkan.

Tim Persib sendiri mungkin tidak pernah bermaksud menjadi aktor diplomatik. Akan tetapi, realitas global hari ini justru ikut membuatnya berada di posisi itu.

Dan mungkin, justru lewat jalur non-formal seperti yang dilakukan tim Persib itulah Indonesia bisa menemukan cara baru untuk bisa lebih hadir dan lebih dikenal di panggung mondial. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)