Siswa Tahun 1980-an adalah Generasi Tangguh

4 menit baca
bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan
Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)

Ada satu kalimat yang sering terbaca di media sosial, dari generasi pelajar tahun 1980-an ketika melihat kondisi siswa masa kini “Dulu, kami mah digebug, dicubit, dijewer, dikepret, ditampar atau ditendang tapi tetap sekolah dan hormat sama guru.” Kalimat itu bukan sekadar nostalgia. Di dalamnya ada cerita panjang tentang bagaimana kerasnya kehidupan pelajar pada masa itu membentuk mental yang berbeda dengan sebagian siswa zaman sekarang yang sering dianggap lebih sensitif dan mudah mengeluh bahkan mager alias doyan rebahan.

Hukuman fisik dianggap sesuatu yang biasa. Siswa yang tidak mengerjakan PR, bukunya dibanting atau dijewer bahkan disuruh berdiri di depan kelas. Yang ribut saat pelajaran bisa dilempar penghapus atau dipukul penggaris. Rambut gondrong sedikit dicukur asal-asalan. Bergerombol di depan di luar pintu kelas, langsung digampar. Datang terlambat ? Siap-siap berdiri di lapangan sambil hormat pada tiang bendera di bawah matahari. Tahun 1980-an adalah masa ketika sekolah bukan hanya tempat meraih pengetahuan, tetapi juga pendidikan adab dan penempaan mental. Guru pada masa itu dikenal tegas, bahkan keras dalam menempa para siswa.

Aneh memang jika dilihat dengan ukuran zaman sekarang. Namun bagi siswa generasi tahun 1980-an, itu dianggap bagian dari pendidikan disiplin. Orang tua pun jarang membela ketika anaknya di hukum guru. Kalimat yang sering muncul justru, “Ya itu karena kamu salah, makanya dihukum guru.” Guru punya wibawa yang luar biasa tinggi. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi dianggap orang tua kedua.

Guru dan para orang tua selalu kompak dalam bahu membahu mendidik anak-anaknya. Jarang ada orang tua yang melaporkan perihal perilaku guru dalam mendidik dan mengajar anak-anak mereka. Generasi saat itu hidup dalam budaya yang menganggap keras adalah cara mendidik agar anak tidak manja. Maka anak-anak zaman itu tumbuh dengan mental baja, tahan banting. karena keadaanlah mereka terbiasa menghadapi tekanan berat tanpa mendramatisir situasi.

Siswa tahun 1980-an juga hidup dalam keterbatasan. Tidak semua siswa punya sepatu bagus. Ada beberapa yang berangkat sekolah naik sepeda, naik angkutan umum yang rutenya belum terlalu banyak, menunggu dan mengejar bus kota, bahkan ada yang berjalan kaki cukup jauh. Sepeda motor masih barang mewah, jarang siswa pakai sepeda motor namun ada istilahnya satu dua saja yang memakainya. Bahkan yang nekad terkadang naik mobil pick up yang sedang melaju meski lambat atau istilah Bandungnya 'ngadogar".

Buku pelajaran dipakai turun-temurun. Tas sekolah kadang cuma tas kain sederhana. Tidak ada pendingin ruangan, tidak ada proyektor, apalagi internet. Kalau mau menyelesaikan PR atau mencari bahan tugas harus ke perpustakaan baik di sekolah maupun milik pemerintah bisa juga meminjam buku teman. Membeli buku bagi yang mampu adalah pilihan gampang tinggal mencari di toko-toko buku, pasar buku Palasari, dan Cikapundung alu-alun.

Namun di balik segala keterbatasan itu, ada semangat yang kuat. Anak-anak sekolah dulu terbiasa mandiri dan rajin membantu orang tuanya. Pulang sekolah membantu orang tua berdagang, ke sawah, mencari rumput untuk ternak atau menjaga warung bahkan siang-sore banyak siswa yang berdagang makanan dan minuman dengan cara ngambil dari bandar. Mereka, generasi siswa tahun 1980-an sangat mengerti bahwa hidup memang keras sehingga pendidikan menjadi jalan untuk memperbaiki nasib. Keyakinan mereka begitu tinggi bahwa sekolah menjadi salah satu cara dominan untuk merenggut masa depan yang lebih baik.

Melihat situasi saat ini jika membandingkan antara siswa generasi tahun 1980-an dengan siswa generasi sekarang nampak jelas karakter yang berbeda. Generasi 1980-an kuat secara fisik dan mental karena hidup dalam kerasnya keterbatasan. Sementara generasi sekarang hidup dalam dunia yang lebih praktis, terkoneksi tetapi juga lebih rumit secara psikologis dan sering diidentikan sebagai generasi mager atau rebahan.

Meski begitu ada nilai penting dari kehidupan siswa generasi tahun 1980-an yang layak diturunkan kepada generasi sekarang, yaitu daya juang, mental pantang menyerah dan rasa hormat pada guru. Dulu anak sekolah tidak gampang menyerah hanya karena gagal ujian. Tidak gampang depresi hanya karena dimarahi guru. Mereka terbiasa bangkit dan menghadapi masalah secara langsung.

Namun generasi lama juga perlu belajar memahami generasi sekarang. Kekerasan fisik bukan solusi pendidikan. Tidak semua cubitan atau pukulan dan tamparan, tendangan bisa dibenarkan atas nama disiplin. Banyak anak yang sebenarnya membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi. Pendidikan seharusnya membentuk karakter tanpa harus melukai fisik maupun mental.

Mungkin yang hilang dari sebagian siswa sekarang bukan kecerdasan, melainkan ketangguhan. Mereka pintar menggunakan teknologi, tetapi belum tentu kuat menghadapi tekanan hidup. Padahal kehidupan nyata tidak selalu memberi kenyamanan. Dunia kerja tidak peduli apakah seseorang mudah tersinggung atau tidak. Hidup tetap menuntut disiplin, tanggung jawab, dan daya tahan mental.

Karena itu, generasi sekarang sebenarnya tidak perlu mengalami kekerasan seperti dulu untuk menjadi kuat. Yang dibutuhkan adalah pembiasaan menghadapi tantangan, belajar bertanggung jawab, dan tidak selalu mencari jalan paling mudah. Orang tua juga jangan mudah melindungi anak hingga kehilangan kemampuan dalam menyelesaikan masalah.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling dimanjakan, tetapi siapa yang paling mampu bertahan ketika keadaan sulit datang. Generasi pelajar tahun 1980-an telah membuktikan bahwa kerasnya kehidupan bisa melahirkan manusia-manusia tangguh. Tinggal bagaimana generasi sekarang mengambil pelajaran untuk menjadi generasi tangguh, tanpa harus menerima kekerasan yang sama seperti yang dialami siswa generasi tahun 1980-an. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

bram herdiana
Tentang bram herdiana
GURU SMK PARIWISATA TELKOM BANDUNG

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)