Siswa Tahun 1980-an adalah Generasi Tangguh

bram herdiana
Ditulis oleh bram herdiana diterbitkan Kamis 21 Mei 2026, 09:21 WIB
Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)

Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)

Ada satu kalimat yang sering terbaca di media sosial, dari generasi pelajar tahun 1980-an ketika melihat kondisi siswa masa kini “Dulu, kami mah digebug, dicubit, dijewer, dikepret, ditampar atau ditendang tapi tetap sekolah dan hormat sama guru.” Kalimat itu bukan sekadar nostalgia. Di dalamnya ada cerita panjang tentang bagaimana kerasnya kehidupan pelajar pada masa itu membentuk mental yang berbeda dengan sebagian siswa zaman sekarang yang sering dianggap lebih sensitif dan mudah mengeluh bahkan mager alias doyan rebahan.

Hukuman fisik dianggap sesuatu yang biasa. Siswa yang tidak mengerjakan PR, bukunya dibanting atau dijewer bahkan disuruh berdiri di depan kelas. Yang ribut saat pelajaran bisa dilempar penghapus atau dipukul penggaris. Rambut gondrong sedikit dicukur asal-asalan. Bergerombol di depan di luar pintu kelas, langsung digampar. Datang terlambat ? Siap-siap berdiri di lapangan sambil hormat pada tiang bendera di bawah matahari. Tahun 1980-an adalah masa ketika sekolah bukan hanya tempat meraih pengetahuan, tetapi juga pendidikan adab dan penempaan mental. Guru pada masa itu dikenal tegas, bahkan keras dalam menempa para siswa.

Aneh memang jika dilihat dengan ukuran zaman sekarang. Namun bagi siswa generasi tahun 1980-an, itu dianggap bagian dari pendidikan disiplin. Orang tua pun jarang membela ketika anaknya di hukum guru. Kalimat yang sering muncul justru, “Ya itu karena kamu salah, makanya dihukum guru.” Guru punya wibawa yang luar biasa tinggi. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi dianggap orang tua kedua.

Guru dan para orang tua selalu kompak dalam bahu membahu mendidik anak-anaknya. Jarang ada orang tua yang melaporkan perihal perilaku guru dalam mendidik dan mengajar anak-anak mereka. Generasi saat itu hidup dalam budaya yang menganggap keras adalah cara mendidik agar anak tidak manja. Maka anak-anak zaman itu tumbuh dengan mental baja, tahan banting. karena keadaanlah mereka terbiasa menghadapi tekanan berat tanpa mendramatisir situasi.

Siswa tahun 1980-an juga hidup dalam keterbatasan. Tidak semua siswa punya sepatu bagus. Ada beberapa yang berangkat sekolah naik sepeda, naik angkutan umum yang rutenya belum terlalu banyak, menunggu dan mengejar bus kota, bahkan ada yang berjalan kaki cukup jauh. Sepeda motor masih barang mewah, jarang siswa pakai sepeda motor namun ada istilahnya satu dua saja yang memakainya. Bahkan yang nekad terkadang naik mobil pick up yang sedang melaju meski lambat atau istilah Bandungnya 'ngadogar".

Buku pelajaran dipakai turun-temurun. Tas sekolah kadang cuma tas kain sederhana. Tidak ada pendingin ruangan, tidak ada proyektor, apalagi internet. Kalau mau menyelesaikan PR atau mencari bahan tugas harus ke perpustakaan baik di sekolah maupun milik pemerintah bisa juga meminjam buku teman. Membeli buku bagi yang mampu adalah pilihan gampang tinggal mencari di toko-toko buku, pasar buku Palasari, dan Cikapundung alu-alun.

Namun di balik segala keterbatasan itu, ada semangat yang kuat. Anak-anak sekolah dulu terbiasa mandiri dan rajin membantu orang tuanya. Pulang sekolah membantu orang tua berdagang, ke sawah, mencari rumput untuk ternak atau menjaga warung bahkan siang-sore banyak siswa yang berdagang makanan dan minuman dengan cara ngambil dari bandar. Mereka, generasi siswa tahun 1980-an sangat mengerti bahwa hidup memang keras sehingga pendidikan menjadi jalan untuk memperbaiki nasib. Keyakinan mereka begitu tinggi bahwa sekolah menjadi salah satu cara dominan untuk merenggut masa depan yang lebih baik.

Melihat situasi saat ini jika membandingkan antara siswa generasi tahun 1980-an dengan siswa generasi sekarang nampak jelas karakter yang berbeda. Generasi 1980-an kuat secara fisik dan mental karena hidup dalam kerasnya keterbatasan. Sementara generasi sekarang hidup dalam dunia yang lebih praktis, terkoneksi tetapi juga lebih rumit secara psikologis dan sering diidentikan sebagai generasi mager atau rebahan.

Meski begitu ada nilai penting dari kehidupan siswa generasi tahun 1980-an yang layak diturunkan kepada generasi sekarang, yaitu daya juang, mental pantang menyerah dan rasa hormat pada guru. Dulu anak sekolah tidak gampang menyerah hanya karena gagal ujian. Tidak gampang depresi hanya karena dimarahi guru. Mereka terbiasa bangkit dan menghadapi masalah secara langsung.

Namun generasi lama juga perlu belajar memahami generasi sekarang. Kekerasan fisik bukan solusi pendidikan. Tidak semua cubitan atau pukulan dan tamparan, tendangan bisa dibenarkan atas nama disiplin. Banyak anak yang sebenarnya membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi. Pendidikan seharusnya membentuk karakter tanpa harus melukai fisik maupun mental.

Mungkin yang hilang dari sebagian siswa sekarang bukan kecerdasan, melainkan ketangguhan. Mereka pintar menggunakan teknologi, tetapi belum tentu kuat menghadapi tekanan hidup. Padahal kehidupan nyata tidak selalu memberi kenyamanan. Dunia kerja tidak peduli apakah seseorang mudah tersinggung atau tidak. Hidup tetap menuntut disiplin, tanggung jawab, dan daya tahan mental.

Karena itu, generasi sekarang sebenarnya tidak perlu mengalami kekerasan seperti dulu untuk menjadi kuat. Yang dibutuhkan adalah pembiasaan menghadapi tantangan, belajar bertanggung jawab, dan tidak selalu mencari jalan paling mudah. Orang tua juga jangan mudah melindungi anak hingga kehilangan kemampuan dalam menyelesaikan masalah.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling dimanjakan, tetapi siapa yang paling mampu bertahan ketika keadaan sulit datang. Generasi pelajar tahun 1980-an telah membuktikan bahwa kerasnya kehidupan bisa melahirkan manusia-manusia tangguh. Tinggal bagaimana generasi sekarang mengambil pelajaran untuk menjadi generasi tangguh, tanpa harus menerima kekerasan yang sama seperti yang dialami siswa generasi tahun 1980-an. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

bram herdiana
Tentang bram herdiana
GURU SMK PARIWISATA TELKOM BANDUNG

Berita Terkait

News Update

Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 17:17

Cintapada, Padasuka, Padaasih, Toponim yang Merekam Kekayaan Alam dan Kekhawatiran

Kata 'pada' terdapat dalam berbagai kata dan sering terkait dengan makna alam, tempat, atau daerah.

Kampung Cipadakati di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Peta: Google maps)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 16:00

Jelajah Kuliner Roti Bandung, dari Bakery Viral Kekinian hingga Toko Jadul Legendaris

Bandung punya banyak bakery populer, mulai dari artisan sourdough modern hingga toko roti jadul dengan resep yang hampir tidak berubah.

Ilustrasi roti hits di Bandung.
Ayo Biz 21 Mei 2026, 15:38

Ketika QRIS Jadi ‘Game Changer’ Ekosistem Pembayaran Nasional, UMKM Terbantu Signifikan

QRIS adalah game changer dalam ekosistem pembayaran nasional.

Pegawai Cikopi Mang Eko saat melayani konsumen di Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 21 Mei 2026, 14:48

Dari Tragedi Sampah ke Konservasi, Wajah Baru Eks TPA Leuwigajah

Dua dekade setelah longsor maut 2005, eks TPA Leuwigajah kini dijadikan area konservasi di Cimahi.

Lahan eks TPA Leuwigajah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 12:20

Ketika Reformasi Mulai Bergulir

Di tengah tekanan Orde Baru yang masih terasa, pers mulai tampil lebih berani.

Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 09:21

Siswa Tahun 1980-an adalah Generasi Tangguh

Ketangguhan para siswa tahun 1980-an adalah jawaban dalam menangani bebagai permasalahan generasinya.

Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 08:32

Bandung Review, Membangun Kesadaran Kolektif

Hegemoni sosial seharusnya menjadi semangat untuk membangun kesadaran kolektif, dengan mengadopsi nilai-nilai lokal seperti someah, silih asah, silih asih dan silih asuh untuk membangun kota inklusif

Keramaian kawasan Cikapundung Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas kota. (Foto: Agus Wahyudi)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 08:00

Panduan Wisata ke Kampung Turis Karawang, Oase Pedesaan di Balik Kota Industri

Kampung Turis Karawang menawarkan wisata alam, sawah terasering, waterpark, kuliner Sunda, hingga villa dan camping di kawasan Tegalwaru.

Kampung Turis Karawang.
Ayo Biz 20 Mei 2026, 20:38

Suara QRIS di Gang Sempit yang Menemani Dimsum Inmons Raup Omzet Rp350 Juta

Dimsum Inmons dari UMKM rumahan menjadi brand dengan omzet tidak kurang dari Rp 350 juta per bulan.

Ani Andriyani (baju merah; pemilik Dimsum Inmons) bersama para karyawannya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Biz 20 Mei 2026, 19:54

Perjalanan Dimsum Inmons dari Gang Sempit Cicadas ke Pasar Nasional

Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil, membuktikan bahwa konsistensi dan inovasi bisa mengantarkan produk lokal ke pasar yang jauh lebih luas.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 20 Mei 2026, 17:59

Cerita Iwong, Bobotoh yang Hidupkan Legenda Persib Lewat Patung Resin

Kisah Iwong, bobotoh asal Bandung yang membuat patung Bojan Hodak, Jajang Nurjaman, hingga Umuh Muhtar.

Iwong, Bobotoh Persib yang membuat patung Bojan Hodak, Jajang Nurjaman, Indra Tohir dan Umuh Muhtar. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 17:34

Bertahan di Dunia Praktisi yang Membedakan Mahasiswa Berdasarkan Alamamater

Almamater bukan salah satu tolak ukur bagi kualitas seorang mahasiswa.

Almamater bukan salah satu tolak ukur bagi kualitas seorang mahasiswa. Sehingga memberikan kesempatan yang sama dalam hal belajar adalah hak yang harus diberikan secara penuh tanpa membeda-bedakan. (Sumber: Sumber Gambar: Ilustrasi AI)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 15:21

Profil Dr. Dewi Turgarini: Pionir Wisata Gastronomi dan Pelestari Warisan Budaya Indonesia

Dalam diskursus pariwisata kontemporer di Indonesia, Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., berdiri sebagai figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional.

Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional. (Sumber: UPI)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)