Ada satu kalimat yang sering terbaca di media sosial, dari generasi pelajar tahun 1980-an ketika melihat kondisi siswa masa kini “Dulu, kami mah digebug, dicubit, dijewer, dikepret, ditampar atau ditendang tapi tetap sekolah dan hormat sama guru.” Kalimat itu bukan sekadar nostalgia. Di dalamnya ada cerita panjang tentang bagaimana kerasnya kehidupan pelajar pada masa itu membentuk mental yang berbeda dengan sebagian siswa zaman sekarang yang sering dianggap lebih sensitif dan mudah mengeluh bahkan mager alias doyan rebahan.
Hukuman fisik dianggap sesuatu yang biasa. Siswa yang tidak mengerjakan PR, bukunya dibanting atau dijewer bahkan disuruh berdiri di depan kelas. Yang ribut saat pelajaran bisa dilempar penghapus atau dipukul penggaris. Rambut gondrong sedikit dicukur asal-asalan. Bergerombol di depan di luar pintu kelas, langsung digampar. Datang terlambat ? Siap-siap berdiri di lapangan sambil hormat pada tiang bendera di bawah matahari. Tahun 1980-an adalah masa ketika sekolah bukan hanya tempat meraih pengetahuan, tetapi juga pendidikan adab dan penempaan mental. Guru pada masa itu dikenal tegas, bahkan keras dalam menempa para siswa.
Aneh memang jika dilihat dengan ukuran zaman sekarang. Namun bagi siswa generasi tahun 1980-an, itu dianggap bagian dari pendidikan disiplin. Orang tua pun jarang membela ketika anaknya di hukum guru. Kalimat yang sering muncul justru, “Ya itu karena kamu salah, makanya dihukum guru.” Guru punya wibawa yang luar biasa tinggi. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi dianggap orang tua kedua.
Guru dan para orang tua selalu kompak dalam bahu membahu mendidik anak-anaknya. Jarang ada orang tua yang melaporkan perihal perilaku guru dalam mendidik dan mengajar anak-anak mereka. Generasi saat itu hidup dalam budaya yang menganggap keras adalah cara mendidik agar anak tidak manja. Maka anak-anak zaman itu tumbuh dengan mental baja, tahan banting. karena keadaanlah mereka terbiasa menghadapi tekanan berat tanpa mendramatisir situasi.
Siswa tahun 1980-an juga hidup dalam keterbatasan. Tidak semua siswa punya sepatu bagus. Ada beberapa yang berangkat sekolah naik sepeda, naik angkutan umum yang rutenya belum terlalu banyak, menunggu dan mengejar bus kota, bahkan ada yang berjalan kaki cukup jauh. Sepeda motor masih barang mewah, jarang siswa pakai sepeda motor namun ada istilahnya satu dua saja yang memakainya. Bahkan yang nekad terkadang naik mobil pick up yang sedang melaju meski lambat atau istilah Bandungnya 'ngadogar".
Buku pelajaran dipakai turun-temurun. Tas sekolah kadang cuma tas kain sederhana. Tidak ada pendingin ruangan, tidak ada proyektor, apalagi internet. Kalau mau menyelesaikan PR atau mencari bahan tugas harus ke perpustakaan baik di sekolah maupun milik pemerintah bisa juga meminjam buku teman. Membeli buku bagi yang mampu adalah pilihan gampang tinggal mencari di toko-toko buku, pasar buku Palasari, dan Cikapundung alu-alun.
Namun di balik segala keterbatasan itu, ada semangat yang kuat. Anak-anak sekolah dulu terbiasa mandiri dan rajin membantu orang tuanya. Pulang sekolah membantu orang tua berdagang, ke sawah, mencari rumput untuk ternak atau menjaga warung bahkan siang-sore banyak siswa yang berdagang makanan dan minuman dengan cara ngambil dari bandar. Mereka, generasi siswa tahun 1980-an sangat mengerti bahwa hidup memang keras sehingga pendidikan menjadi jalan untuk memperbaiki nasib. Keyakinan mereka begitu tinggi bahwa sekolah menjadi salah satu cara dominan untuk merenggut masa depan yang lebih baik.
Melihat situasi saat ini jika membandingkan antara siswa generasi tahun 1980-an dengan siswa generasi sekarang nampak jelas karakter yang berbeda. Generasi 1980-an kuat secara fisik dan mental karena hidup dalam kerasnya keterbatasan. Sementara generasi sekarang hidup dalam dunia yang lebih praktis, terkoneksi tetapi juga lebih rumit secara psikologis dan sering diidentikan sebagai generasi mager atau rebahan.
Meski begitu ada nilai penting dari kehidupan siswa generasi tahun 1980-an yang layak diturunkan kepada generasi sekarang, yaitu daya juang, mental pantang menyerah dan rasa hormat pada guru. Dulu anak sekolah tidak gampang menyerah hanya karena gagal ujian. Tidak gampang depresi hanya karena dimarahi guru. Mereka terbiasa bangkit dan menghadapi masalah secara langsung.
Namun generasi lama juga perlu belajar memahami generasi sekarang. Kekerasan fisik bukan solusi pendidikan. Tidak semua cubitan atau pukulan dan tamparan, tendangan bisa dibenarkan atas nama disiplin. Banyak anak yang sebenarnya membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi. Pendidikan seharusnya membentuk karakter tanpa harus melukai fisik maupun mental.

Mungkin yang hilang dari sebagian siswa sekarang bukan kecerdasan, melainkan ketangguhan. Mereka pintar menggunakan teknologi, tetapi belum tentu kuat menghadapi tekanan hidup. Padahal kehidupan nyata tidak selalu memberi kenyamanan. Dunia kerja tidak peduli apakah seseorang mudah tersinggung atau tidak. Hidup tetap menuntut disiplin, tanggung jawab, dan daya tahan mental.
Karena itu, generasi sekarang sebenarnya tidak perlu mengalami kekerasan seperti dulu untuk menjadi kuat. Yang dibutuhkan adalah pembiasaan menghadapi tantangan, belajar bertanggung jawab, dan tidak selalu mencari jalan paling mudah. Orang tua juga jangan mudah melindungi anak hingga kehilangan kemampuan dalam menyelesaikan masalah.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling dimanjakan, tetapi siapa yang paling mampu bertahan ketika keadaan sulit datang. Generasi pelajar tahun 1980-an telah membuktikan bahwa kerasnya kehidupan bisa melahirkan manusia-manusia tangguh. Tinggal bagaimana generasi sekarang mengambil pelajaran untuk menjadi generasi tangguh, tanpa harus menerima kekerasan yang sama seperti yang dialami siswa generasi tahun 1980-an. (*)
