Bertahan di Dunia Praktisi yang Membedakan Mahasiswa Berdasarkan Alamamater

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Almamater bukan salah satu tolak ukur bagi kualitas seorang mahasiswa. Sehingga memberikan kesempatan yang sama dalam hal belajar adalah hak yang harus diberikan secara penuh tanpa membeda-bedakan. (Sumber: Sumber Gambar: Ilustrasi AI)
Almamater bukan salah satu tolak ukur bagi kualitas seorang mahasiswa. Sehingga memberikan kesempatan yang sama dalam hal belajar adalah hak yang harus diberikan secara penuh tanpa membeda-bedakan. (Sumber: Sumber Gambar: Ilustrasi AI)

Membicarakan pendidikan di Indonesia secara garis besar memang belum sepenuhnya merata. Masih banyak mereka yang punya mimpi dan harapan yang tinggi untuk berkuliah pupus begitu saja. Baru-baru ini ada berita yang belum terlalu viral tentang seorang remaja Perempuan bernama Nalince Wamang (17) yang berasal dari Tembagapura, Mimika, Papua Tengah yang tewas tertembak saat mendulang emas untuk mengumpulkan biaya kuliah. Miris memang saat biaya APBN dihamburkan untuk program MBG.

Faktanya masalah pendidikan tidak hanya mengecam daerah pinggiran yang berkaitan dengan akses dan fasilitas serta sumber daya manusia yang belum mumpuni. Namun masalah yang sama krusialnya juga terjadi kepada sebagian mahasiswa yang tinggal di daerah perkotaan.

Seorang mahasiswa akan matang baik secara mental, ilmu serta keahlian jika mereka tidak hanya berkecimpung di dalam kelas tapi bisa bersinggungan langsung dengan dunia praktisi serta sosialisasi dengan masyarakat. Namun di Indonesia sendiri belum semua kampus bisa menyeimbangkan antara keilmuan serta keahlian praktis.

Beberapa jurusan yang berkaitan dengan profesi seperti dokter dan apoteker biasanya akan mendapatkan porsi yang lebih banyak untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan praktik secara langsung di lapangan. Hal tersebut dilakukan guna mahasiswa tidak hanya mendapatkan gambaran saja mengenai ilmu yang mereka pelajari—melainkan merasakan pengalaman secara langsung terhadap tindakan atau penyelesaian masalah langsung dengan pasien di lapangan.

Misalnya saja mahasiswa apoteker yang harus menjalankan kegiatan PKPA (Praktik Kerja Profesi Apoteker) yang biasanya dilaksanakan dibeberapa wahana seperti apotek, klinik, rumah sakit, PBF (Pedagang Besar Farmasi), puskesmas hingga Industri farmasi. Kegiatan ini tidak hanya bisa menambahkan keahlian bagi mahasiswa melainkan cara bagi mahasiswa bagaimana bisa terus beradaptasi dengan orang-orang dan pekerjaan baru setiap hari. Terlebih dunia farmasi merupakan dunia yang cukup dinamis perkembangannya.

Bukan hal tabu ketika mahasiswa masuk ke dunia praktisi mereka akan mendapatkan perlakuan yang berbeda dari para preseptornya. Beberapa kampus besar di Bandung seperti ITB, UNPAD, UBK punya tempat khusus bagi beberapa tempat PKPA. Sementara kampus kecil dan belum terlalu famous siap-siap saja belajar seadanya dan selalu menjadi opsi terakhir dalam segala kegiatan yang berlangsung di tempat PKPA.

Hal ini juga dikuatkan dengan pernyataan yang pernah disampaikan oleh seorang dosen praktisi saat di undang ke kampus saya. Beliau mengatakan bahwa di dunia praktisi khususnya Industri Farmasi beberapa mahasiswa di kampus ternama seperti ITB diperbolehkan untuk memiliki kesempatan mengoperasikan mesin atau alat produksi sementara biasanya kampus lain hanya menerima teori saja.

Ya begitulah faktanya di dunia industruri hanya kampus terpilih yang bisa mendapatkan kesempatan lebih. Tidak adil ? tentu tapi bagaimana lagi- sistem tersebut sangat sulit untuk disentuh

Yaps begitulah perbedaan perilaku yang sering terjadi di lingkungan praktisi. Sebetulnya saya tidak paham dengan para preseptor atau pembimbing yang tidak bisa memperlakukan adil terhadap semua mahasiswa yang punya satu niat yang sama yaitu belajar dan diajari secara maksimal. Padahal saya yakin semua mahasiswa yang masuk ke dalam dunia praktisi untuk mencari ilmu pasti sudah membayar biaya sesuai kesepakatan yang telah dikordinasikan oleh kampus. Jika biaya yang dikeluarkan sama tapi kenapa perlakuannya harus berbeda?

Saya selalu merasa tidak adil dengan perilaku demikian—padahal dari manapun mahasiswa berasal mereka tetap memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya tanpa di judge terlebih dahulu hanya karena berbeda warna almamater. Saya mengakui dunia praktisi seringkali diduduki oleh mereka lulusan kampus ternama tapi bukan menjadi hal yang etis ketika mendiskriminasi hanya karena mahasiswa lainnya berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda.

Sebelum kuliah PKPA saya pernah masuk ke jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Disanalah saya bertemu dengan seorang pembimbing lapangan yang membuka kesempatan yang sama dan menilai kualitas mahasiswa berdasarkan skillnya bukan hanya dari warna almamater.

Ketertarikan saya terhadap dunia kepenulisan membawa saya untuk memilih Ayo Media (ayobandung.com) sebagai tempat belajar atau magang selama satu bulan. Masih saya ingat seorang pembimbing lapangan sekaligus menjabat editor saat itu menyambut saya dengan tangan terbuka saat izin melaksanakan kegiatan magang di tempat tersebut.

Satu hal yang saya ingat saat itu beliau mengatakan bahwa untuk masuk menjadi mahasiswa magang maka perlu tahu sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam menulis. Maka saya diminta untuk membuat dua tulisan dengan tema apapun.

Saat itu saya merasa diterima—merasa diberikan kesempatan yang sama dengan kampus lain di tengah pesimisme saya yang berasal dari kampus biasa.

Saya selalu berharap jika para preseptor atau pembimbing di lapangan bisa berlaku adil terhadap mahasiswanya. Karena potensi terbaik tidak selalu ditentukan berdasarkan faktor warna almamater. Bukankah tugas terbaik seorang preseptor adalah menemukan bakat terbaik dari setiap individu yang tentunya bisa menjadi rekan sejawat yang bisa melanjutkan eksistensi sebuah keilmuan. Juga sudah menjadi tugas preseptor jika mahasiswanya belum paham yaitu dengan menjelaskan bukan dengan menjudgenya.

Salah itu lumrah bagi mahasiswa karena yang sempurna itu bagi mereka yang sudah memiliki pengalaman dan jam terbang jauh seperti para preseptor. Maka saya selalu geram jika kegiatan diskriminasi di lingkungan praktisi ini masih saja tetap terjadi dari tahun ke tahun.

Maka saya akan selalu berterimakasih kepada pembimbing lapangan saya di ayobandung.com saat dulu saya menjadi mahasiswa. Berkat kebijaksanaan beliau saya bisa menemukan hal yang benar-benar saya sukai dari menulis. Mengetahui kelemahan dari hasil evaluasi juga mendapatkan semangat dan apresiasi ketika tulisan yang saya publikasikan di ayobandung menunjukkan progres yang lebih baik dari sebelumnya.

Tulisan ini tentu saya dedikasikan kepada beliau—semoga kebaikan beliau selalu menggema bagi siapa saja yang berkesempatan mengenalnya. Juga tulisan ini saya dedikasikan kepada mereka yang masih mendapatkan diskriminasi di dunia praktisi saat menjadi mahasiswa. Tolong jangan diam dan menerima semuanya begitu saja. Suarakan.. lawan dan minta keadilan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)