Bertahan di Dunia Praktisi yang Membedakan Mahasiswa Berdasarkan Alamamater

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Rabu 20 Mei 2026, 17:34 WIB
Almamater bukan salah satu tolak ukur bagi kualitas seorang mahasiswa. Sehingga memberikan kesempatan yang sama dalam hal belajar adalah hak yang harus diberikan secara penuh tanpa membeda-bedakan. (Sumber: Sumber Gambar: Ilustrasi AI)

Almamater bukan salah satu tolak ukur bagi kualitas seorang mahasiswa. Sehingga memberikan kesempatan yang sama dalam hal belajar adalah hak yang harus diberikan secara penuh tanpa membeda-bedakan. (Sumber: Sumber Gambar: Ilustrasi AI)

Membicarakan pendidikan di Indonesia secara garis besar memang belum sepenuhnya merata. Masih banyak mereka yang punya mimpi dan harapan yang tinggi untuk berkuliah pupus begitu saja. Baru-baru ini ada berita yang belum terlalu viral tentang seorang remaja Perempuan bernama Nalince Wamang (17) yang berasal dari Tembagapura, Mimika, Papua Tengah yang tewas tertembak saat mendulang emas untuk mengumpulkan biaya kuliah. Miris memang saat biaya APBN dihamburkan untuk program MBG.

Faktanya masalah pendidikan tidak hanya mengecam daerah pinggiran yang berkaitan dengan akses dan fasilitas serta sumber daya manusia yang belum mumpuni. Namun masalah yang sama krusialnya juga terjadi kepada sebagian mahasiswa yang tinggal di daerah perkotaan.

Seorang mahasiswa akan matang baik secara mental, ilmu serta keahlian jika mereka tidak hanya berkecimpung di dalam kelas tapi bisa bersinggungan langsung dengan dunia praktisi serta sosialisasi dengan masyarakat. Namun di Indonesia sendiri belum semua kampus bisa menyeimbangkan antara keilmuan serta keahlian praktis.

Beberapa jurusan yang berkaitan dengan profesi seperti dokter dan apoteker biasanya akan mendapatkan porsi yang lebih banyak untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan praktik secara langsung di lapangan. Hal tersebut dilakukan guna mahasiswa tidak hanya mendapatkan gambaran saja mengenai ilmu yang mereka pelajari—melainkan merasakan pengalaman secara langsung terhadap tindakan atau penyelesaian masalah langsung dengan pasien di lapangan.

Misalnya saja mahasiswa apoteker yang harus menjalankan kegiatan PKPA (Praktik Kerja Profesi Apoteker) yang biasanya dilaksanakan dibeberapa wahana seperti apotek, klinik, rumah sakit, PBF (Pedagang Besar Farmasi), puskesmas hingga Industri farmasi. Kegiatan ini tidak hanya bisa menambahkan keahlian bagi mahasiswa melainkan cara bagi mahasiswa bagaimana bisa terus beradaptasi dengan orang-orang dan pekerjaan baru setiap hari. Terlebih dunia farmasi merupakan dunia yang cukup dinamis perkembangannya.

Bukan hal tabu ketika mahasiswa masuk ke dunia praktisi mereka akan mendapatkan perlakuan yang berbeda dari para preseptornya. Beberapa kampus besar di Bandung seperti ITB, UNPAD, UBK punya tempat khusus bagi beberapa tempat PKPA. Sementara kampus kecil dan belum terlalu famous siap-siap saja belajar seadanya dan selalu menjadi opsi terakhir dalam segala kegiatan yang berlangsung di tempat PKPA.

Hal ini juga dikuatkan dengan pernyataan yang pernah disampaikan oleh seorang dosen praktisi saat di undang ke kampus saya. Beliau mengatakan bahwa di dunia praktisi khususnya Industri Farmasi beberapa mahasiswa di kampus ternama seperti ITB diperbolehkan untuk memiliki kesempatan mengoperasikan mesin atau alat produksi sementara biasanya kampus lain hanya menerima teori saja.

Ya begitulah faktanya di dunia industruri hanya kampus terpilih yang bisa mendapatkan kesempatan lebih. Tidak adil ? tentu tapi bagaimana lagi- sistem tersebut sangat sulit untuk disentuh

Yaps begitulah perbedaan perilaku yang sering terjadi di lingkungan praktisi. Sebetulnya saya tidak paham dengan para preseptor atau pembimbing yang tidak bisa memperlakukan adil terhadap semua mahasiswa yang punya satu niat yang sama yaitu belajar dan diajari secara maksimal. Padahal saya yakin semua mahasiswa yang masuk ke dalam dunia praktisi untuk mencari ilmu pasti sudah membayar biaya sesuai kesepakatan yang telah dikordinasikan oleh kampus. Jika biaya yang dikeluarkan sama tapi kenapa perlakuannya harus berbeda?

Saya selalu merasa tidak adil dengan perilaku demikian—padahal dari manapun mahasiswa berasal mereka tetap memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya tanpa di judge terlebih dahulu hanya karena berbeda warna almamater. Saya mengakui dunia praktisi seringkali diduduki oleh mereka lulusan kampus ternama tapi bukan menjadi hal yang etis ketika mendiskriminasi hanya karena mahasiswa lainnya berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda.

Sebelum kuliah PKPA saya pernah masuk ke jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Disanalah saya bertemu dengan seorang pembimbing lapangan yang membuka kesempatan yang sama dan menilai kualitas mahasiswa berdasarkan skillnya bukan hanya dari warna almamater.

Ketertarikan saya terhadap dunia kepenulisan membawa saya untuk memilih Ayo Media (ayobandung.com) sebagai tempat belajar atau magang selama satu bulan. Masih saya ingat seorang pembimbing lapangan sekaligus menjabat editor saat itu menyambut saya dengan tangan terbuka saat izin melaksanakan kegiatan magang di tempat tersebut.

Satu hal yang saya ingat saat itu beliau mengatakan bahwa untuk masuk menjadi mahasiswa magang maka perlu tahu sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam menulis. Maka saya diminta untuk membuat dua tulisan dengan tema apapun.

Saat itu saya merasa diterima—merasa diberikan kesempatan yang sama dengan kampus lain di tengah pesimisme saya yang berasal dari kampus biasa.

Saya selalu berharap jika para preseptor atau pembimbing di lapangan bisa berlaku adil terhadap mahasiswanya. Karena potensi terbaik tidak selalu ditentukan berdasarkan faktor warna almamater. Bukankah tugas terbaik seorang preseptor adalah menemukan bakat terbaik dari setiap individu yang tentunya bisa menjadi rekan sejawat yang bisa melanjutkan eksistensi sebuah keilmuan. Juga sudah menjadi tugas preseptor jika mahasiswanya belum paham yaitu dengan menjelaskan bukan dengan menjudgenya.

Salah itu lumrah bagi mahasiswa karena yang sempurna itu bagi mereka yang sudah memiliki pengalaman dan jam terbang jauh seperti para preseptor. Maka saya selalu geram jika kegiatan diskriminasi di lingkungan praktisi ini masih saja tetap terjadi dari tahun ke tahun.

Maka saya akan selalu berterimakasih kepada pembimbing lapangan saya di ayobandung.com saat dulu saya menjadi mahasiswa. Berkat kebijaksanaan beliau saya bisa menemukan hal yang benar-benar saya sukai dari menulis. Mengetahui kelemahan dari hasil evaluasi juga mendapatkan semangat dan apresiasi ketika tulisan yang saya publikasikan di ayobandung menunjukkan progres yang lebih baik dari sebelumnya.

Tulisan ini tentu saya dedikasikan kepada beliau—semoga kebaikan beliau selalu menggema bagi siapa saja yang berkesempatan mengenalnya. Juga tulisan ini saya dedikasikan kepada mereka yang masih mendapatkan diskriminasi di dunia praktisi saat menjadi mahasiswa. Tolong jangan diam dan menerima semuanya begitu saja. Suarakan.. lawan dan minta keadilan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)