Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Nabillah Luthfiyana
Ditulis oleh Nabillah Luthfiyana diterbitkan Selasa 13 Jan 2026, 10:19 WIB
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.

Menjelang Ujian Akhir Semester, satu hal yang selalu langka bagi mahasiswa bukan cuma waktu, tapi juga tempat yang kondusif untuk menyelesaikan tugas. Perpustakaan penuh, kosan terlalu berisik, dan rumah sering kali terlalu nyaman untuk benar-benar fokus.

Di titik itulah kafe berubah fungsi bukan lagi sekadar tempat nongkrong, tapi ruang kerja alternatif. Salah satu yang paling sering jadi pilihan mahasiswa Bandung belakangan ini adalah Fore Coffee di kawasan Sumarecon Bandung.

Bukan tanpa alasan kafe ini ramai oleh mahasiswa dengan laptop terbuka, headset terpasang, dan wajah tegang khas orang dikejar deadline. Fore Coffee Sumarecon Bandung menawarkan kombinasi yang secara realistis dibutuhkan untuk “nugas serius”: wifi stabil, suasana adem, dan ruang yang cukup luas.

Hal pertama yang terasa saat masuk ke kafe ini adalah temperatur ruangan yang nyaman. Tidak pengap, tidak berisik berlebihan. Ini poin krusial yang sering diremehkan mahasiswa saat memilih tempat nugas. Banyak kafe punya kopi enak, tapi gagal menyediakan lingkungan yang mendukung fokus. Di Fore Coffee Sumarecon, suasana dibuat cukup tenang tanpa terasa kaku cukup hidup untuk bikin betah, tapi tidak sampai mengganggu konsentrasi.

Keunggulan lain yang membuat kafe ini menonjol adalah konsep dua lantai. Lantai bawah biasanya menjadi area yang lebih aktif, cocok untuk diskusi kelompok atau sekadar mengerjakan tugas ringan. Sementara lantai atas menawarkan suasana yang lebih tenang, sering jadi incaran mahasiswa yang benar-benar butuh fokus penuh. Pembagian ruang ini terlihat sederhana, tapi dampaknya signifikan: pengunjung bisa memilih ritme kerja sesuai kebutuhan, bukan dipaksa beradaptasi dengan satu suasana saja.

Soal fasilitas, Fore Coffee tidak bermain setengah-setengah. Akses wifi yang relatif stabil menjadi faktor utama mengapa kafe ini konsisten dipilih untuk mengerjakan tugas, terutama yang membutuhkan riset daring atau pengumpulan lewat platform digital. Ditambah lagi, penataan meja dan kursinya cukup ramah untuk kerja berjam-jam tidak terasa sempit, dan masih manusiawi untuk punggung yang sudah lelah.

Baca Juga: Mencuci Otak Saat Tidur: Mengapa Begadang secara Biologis Merusak Otak

Tentu, kopi tetap menjadi identitas utama Fore Coffee. Menu minuman yang familiar dan konsisten memberi keuntungan lain: mahasiswa tidak perlu berpikir terlalu banyak untuk memesan. Ini terdengar sepele, tapi saat deadline menumpuk, keputusan kecil yang dipermudah justru membantu menjaga fokus tetap pada pekerjaan utama.

Pada akhirnya, Fore Coffee Sumarecon Bandung bukan sekadar kafe yang “instagramable” atau ikut tren. Ia menjelma menjadi ruang bertahan hidup akademik, terutama saat tekanan UAS mulai terasa nyata. Tempat ini memenuhi kebutuhan dasar mahasiswa yang sering diabaikan: ruang yang nyaman, koneksi internet yang bisa diandalkan, dan suasana yang mendukung produktivitas.

Bagi mahasiswa, memilih tempat nugas bukan soal gaya, tapi strategi. Dan Fore Coffee Sumarecon Bandung, sadar atau tidak, sudah memposisikan diri sebagai salah satu strategi paling masuk akal menjelang UAS. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nabillah Luthfiyana
nothing impossible

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Jan 2026, 13:13 WIB

Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Kesenjangan Pusat Kota yang Diperhatikan dan Pinggiran Kota yang Terlupakan
Halte Cicaheum, Kota Bandung, yang sudah mulai usang dan banyak tumpukan sampah di belakang bangku, (3/12/25). (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Putriana Basar)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 11:37 WIB

Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua

Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.
Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an. (Sumber: Pexels | Foto: Rachel Claire)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 10:19 WIB

Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 09:34 WIB

Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Dua)

Di sekitar kampus IKIP Bandung (UPI), Jalan Setiabudhi dulu berjajar penjual pisang Lembang.
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 07:50 WIB

Ngopi, Duduk, dan Biarkan Pikiran Bernapas

Bagi Kopi menawarkan ruang sederhana dan hangat di tengah malam yang tenang.
Sederhana saja, secangkir kopi dan ketenangan di Bagi Kopi. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 20:01 WIB

Pentingnya Pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai Upaya Memperkuat Sistem Tata Kelola Pemerintahan

RUU Perampasan Aset hadir sebagai instrumen yang dapat menutup celah tindak korupsi.
Ilustrasi kriminalitas. (Sumber: Pexels | Foto: Kindel Media)
Ayo Jelajah 12 Jan 2026, 19:17 WIB

Hikayat Perburuan Komplotan Komunis Bandung, Priangan dalam Kepungan Polisi Kolonial

Operasi besar polisi kolonial memburu komplotan komunis di Bandung dan Priangan pada 1927 yang membuat kota hidup dalam kecurigaan.
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 18:47 WIB

Menyelami Riuhnya Ekspresi Seniman Bandung: Dari Ruang Kreatif Hingga Panggung Kontemporer

Di balik hiruk-pikuk jalan dan lalu lintasnya, Bandung tak pernah kehabisan nada, warna, dan kisah. Kota ini bukan sekadar pusat kuliner dan fashion, tetapi juga menjadi ruang ekspresi generasi seni.
Suasana pembukaan Pasar Seni ITB. (Sumber: fsrd,itb)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 18:27 WIB

Rumah Pertama Jadi Mimpi Jauh, 65 Pesimis Gen Z Pesimis Mampu Membeli

Memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z.
Ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 17:26 WIB

Tumbler Dan Gejala Sosial Baru

gejala sosial tentang gaya hidup membeli tumbler
Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:49 WIB

Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian

Gen Z sering dianggap generasi manja, padahal banyak dari mereka yang memikul beban finansial keluarga di pundaknya.
Ilustrasi cicilan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Shvets)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 16:38 WIB

Saat Angka Pengangguran Masih Tinggi, Keterampilan Jadi Harapan Baru

Salah satu penyebab utama tingginya pengangguran adalah ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan pasar.
Pelatihan perbaikan AC dan handphone Ini ditujukan bagi masyarakat tidak mampu agar mereka memiliki keterampilan praktis yang bisa langsung diaplikasikan. (Sumber: Dok BSI Maslahat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:07 WIB

Es Pisang Ijo Saparua: Perpaduan Sederhana Rasa Luar Biasa

Rekomendasi es viral yang enak di Kota Bandung sambil olahraga pagi menjelang siang.
Foto diambil langsung di Saparua Sport sambil menikmati indahnya pemandangan. (Foto: Rizki Hidayat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:47 WIB

‘Kojo’ Persib Beckham Putra Kembali jadi Pahlawan dan Ulangi Selebrasi ‘Ngahodhod Katirisan’

Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23.
Beckham lahir di Bandung, 29 Oktober 2001. Ia dikenal sebagai talenta muda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia U-23. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 15:06 WIB

Kang Deddy, Yeuh … KBU dan KBS Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Perizinan tidak boleh dipandang sebagai instrumen pemasukan atau sumber pendapatan daerah semata—sebuah cara “menjual” ruang kepada investor—karena logika ini sangat rentan menyimpang.
Satu sudut Bandung Utara, Bojong Koneng Atas. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 13:28 WIB

Algoritma, FOMO, dan Rapuhnya Nalar Publik di Ruang Digital

Kebutuhan akan algoritma adalah keniscayaan dengan literasi numerasi sebagai fondasinya untuk memaknai angka di balik fenomena sosial
Media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Beranda 12 Jan 2026, 12:30 WIB

Setelah Sukses di Bandung, ISMN Sambangi Semarang Perkuat Jejaring dengan 50 Media Sosial Lokal

Sebelumnya, sekitar 50 pengelola akun informasi lokal, kreator digital, influencer, dan praktisi media berkumpul dalam ISMN Meet Up Bandung 2025 di Nara Park, Kota Bandung, Selasa, 2 Desember 2025.
Indonesia Social Media Network (ISMN) Meet Up 2026 di Semarang digelar Selasa, 13 Januari 2026.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 11:49 WIB

Premanisme, Irama Sosial Bandung, dan Mengenang ‘Preman Pensiun’

Di luar fiksi, realitas komunitas preman di Bandung memang masih menjadi isu sosial yang diperhatikan pihak berwajib dan masyarakat.
Kang Mus alias Epi Kusnandar. (Sumber: Bion Studio)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 10:36 WIB

Menyingkap Sisi Tersembunyi Bandung di Pameran Selepas Reda

Liputan pameran “Selepas Reda” menyoroti karya seniman muda UPI yang membaca ulang Bandung melalui dialektika alter ego, menghadirkan refleksi tentang kota, identitas, dan realitas sosialnya.
Bandung berdiri di atas harapan, kekacauan, luka-luka kecil, dan pertanyaan yang tidak kunjung selesai. (Sumber: Unsplash | Foto: Aditya Enggar Perdana)