AYOBANDUNG.ID -- Memasuki awal 2026, industri oral care di Indonesia mengalami pergeseran signifikan. Pasta gigi kini tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan kebersihan, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup yang menekankan estetika.
Riset global dari Fortune Business Insights pada 2025 memproyeksikan pasar pemutih gigi akan mencapai USD 12,77 miliar pada 2032, dengan lebih dari separuh pangsa pasar berasal dari pasta gigi pemutih. Angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan gigi putih menjadi prioritas utama, terutama di kalangan generasi muda.
Millennials dan Gen Z menjadi motor penggerak tren ini. Mereka tumbuh dalam era media sosial, di mana senyum putih bersih sering diasosiasikan dengan kesehatan, profesionalisme, dan daya tarik personal.
Data dari Research and Markets memperkirakan pasar oral care rumah tangga di Asia Pasifik akan mencapai USD 1,3 miliar pada 2026. Tren konsumsi kopi, teh, dan rokok yang tinggi di kalangan generasi ini justru memperkuat kebutuhan akan produk yang mampu menjaga penampilan gigi tetap cerah.
Kesadaran estetika yang semakin kuat membuat pasta gigi pemutih menjadi simbol status baru. Bagi Millennials dan Gen Z, gigi putih bukan sekadar soal kesehatan, melainkan bagian dari identitas sosial yang ditampilkan dalam interaksi sehari-hari. Hal ini menjadikan pasta gigi pemutih sebagai produk yang tidak hanya fungsional, tetapi juga aspiratif.
Namun, pertumbuhan pasar ini diiringi tantangan. Laporan konsumen Mintel pada 2025 menyoroti bahwa konsumen kini semakin kritis terhadap label produk. Mereka menuntut transparansi bahan baku, terutama untuk produk yang digunakan langsung di tubuh. Konsumen tidak lagi sekadar mencari hasil instan, melainkan juga keamanan jangka panjang. Hal ini memaksa produsen beradaptasi dengan standar baru yang lebih ketat.
Data dari Portal Satu Data BPOM (2025) menunjukkan peningkatan registrasi produk oral care dengan klaim pemutih gigi, di mana lebih dari 30% produk baru yang masuk kategori pasta gigi mengandung bahan aktif pemutih yang diklaim aman.
Tren ini sejalan dengan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan, yang menyoroti tingginya prevalensi masalah gigi kuning akibat konsumsi kopi dan teh, serta teknik menyikat gigi yang kurang tepat. Fakta ini memperkuat kebutuhan akan produk pemutih gigi yang aman dan efektif.
Country Manager usmile Indonesia & Malaysia, Michelle, menegaskan bahwa konsumen Indonesia kini memasuki era oral healthcare yang baru. Hal ini mencerminkan bagaimana inovasi teknologi menjadi jawaban atas kebutuhan konsumen yang semakin kompleks.
“Penggunaan teknologi Fluoride Calcium Powder (FCap) dan Hydroxyapatite (HAP) kini menjadi sebuah standar baru bagi mereka yang menginginkan gigi putih tanpa rasa ngilu,” kata Michelle.
Secara teknis, FCap merupakan teknologi proprietary water-free yang berfungsi mempercepat perbaikan enamel dan pemutihan gigi hingga 2,5 kali lipat dibanding pasta gigi pemutih pada umumnya.
Teknologi ini menghantarkan kalsium dan ion fosfat ke pori-pori mikro gigi, sehingga memberikan perlindungan ekstra terhadap erosi akibat konsumsi makanan dan minuman asam maupun perubahan suhu ekstrem. Inovasi ini menjadi daya tarik utama bagi generasi muda yang menginginkan hasil cepat tanpa efek samping.
FCap bekerja sinergis dengan HAP, mineral alami penyusun gigi yang berfungsi memperbaiki dan memperkuat enamel melalui proses remineralisasi. Mekanismenya mengisi retakan mikro pada enamel sehingga permukaan gigi menjadi lebih halus dan kuat.
Hasilnya, gigi mampu memantulkan cahaya lebih baik dan tampak lebih cerah tanpa mengikis lapisan pelindungnya. Kombinasi teknologi ini menjawab kebutuhan konsumen yang semakin menuntut kualitas.
Potensi pasar di Indonesia sangat besar, mengingat populasi muda yang dominan dan penetrasi digital yang tinggi. Dengan e-commerce dan media sosial sebagai kanal utama, produk pemutih gigi memiliki peluang besar untuk menjangkau konsumen secara lebih personal dan masif. Brand yang mampu memanfaatkan kanal digital dengan narasi edukatif akan memenangkan hati generasi muda.
Meski demikian, tantangan edukasi tetap menjadi faktor penting. Konsumen perlu memahami perbedaan antara pemutih gigi yang aman dan produk yang berisiko. Edukasi dari brand, asosiasi kesehatan gigi, dan pemerintah menjadi kunci menjaga kepercayaan. Tanpa edukasi yang memadai, pasar bisa dibanjiri produk yang tidak memenuhi standar, yang pada akhirnya merugikan konsumen dan industri.
Analisis kompetitif menunjukkan bahwa pasar semakin padat dengan masuknya brand internasional dan lokal. Inovasi teknologi, diferensiasi produk, dan strategi pemasaran berbasis digital menjadi faktor penentu keberhasilan. Brand yang mampu menggabungkan hasil estetika dengan keamanan jangka panjang akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan.
Pada akhirnya, tren pasta gigi pemutih di kalangan Millennials dan Gen Z bukan sekadar fenomena estetika, melainkan pergeseran paradigma dalam oral care. Dengan potensi pasar yang besar, tantangan transparansi label, dan kebutuhan edukasi, industri dituntut menghadirkan produk yang aman, inovatif, dan relevan dengan gaya hidup generasi muda.
Alternatif produk pasta gigi pemutih atau kebutuhan serupa:
