JPO di Lokasi Strategis Kota Bandung Kinclong, yang di Pinggiran Dibiarkan Seadanya

5 menit baca
Halwa Raudhatul Ilham Maulana
Ditulis oleh Halwa Raudhatul , Ilham Maulana diterbitkan
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di dekat Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di dekat Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah padatnya arus kendaraan Kota Bandung, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) menjadi infrastruktur penting yang seharusnya menjamin keselamatan pejalan kaki. JPO dirancang sebagai ruang aman yang memisahkan manusia dari lalu lintas kendaraan bermotor. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua JPO di Kota Bandung mendapatkan perlakuan dan perhatian yang sama.

Ketimpangan fasilitas dan pemeliharaan JPO terlihat jelas, bahkan pada jembatan penyeberangan yang lokasinya berdekatan. Faktor strategis kawasan kerap menjadi penentu seberapa layak sebuah JPO dirawat dan digunakan. Perbedaan itu menciptakan wajah ganda fasilitas publik: ada yang nyaman dan representatif, ada pula yang sekadar “masih bisa dilewati”.

Perbandingan paling mencolok terlihat pada JPO Asia Afrika dan JPO Pasar Baru. Dua jembatan ini berada di pusat kota dan tidak berjauhan, namun menghadirkan kondisi yang sangat kontras. JPO Asia Afrika tampil bersih, terang, dan dirancang dengan pendekatan historis. Di dalamnya terdapat mini exhibition yang menjelaskan titik-titik wisata Kota Bandung, menjadikan JPO ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyeberangan, tetapi juga ruang edukasi dan daya tarik visual kota.

Sebaliknya, kondisi JPO Pasar Baru masih menyisakan sejumlah persoalan mendasar. Lantainya menggunakan plat baja yang menimbulkan bunyi berisik saat diinjak, memunculkan rasa tidak nyaman bagi pengguna, terutama lansia.

Jembatan Penyebarangan Orang di Pasar Baru, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Jembatan Penyebarangan Orang di Pasar Baru, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

“Sebenarnya mudah. Cuman kalau orang tua harus ada yang menemani,” ujar salah satu warga yang tengah melintasi JPO Pasar Baru, Arif Dwi Putra (25).

Bagi warga sekitar yang telah lama beraktivitas di kawasan tersebut, kondisi fisik JPO turut memengaruhi perilaku pejalan kaki. Tangga yang curam dan tinggi membuat sebagian orang memilih menyeberang langsung di jalan.

“(Tangga nya) curam dan tinggi. Jadi pada nyebrang aja, nggak lewat JPO,” ucap salah satu pedagang yang sudah berjualan sejak 2004 di bawah JPO ini, Aceng (53).

Persoalan tidak berhenti pada akses. Masalah kebersihan dan keamanan juga menjadi sorotan.

“Itu kan ada banyak gembel malam-malam kadang kencing di atas,” tambah Aceng.

Papan pemberitahuan Jalan Penyebarangan Orang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Papan pemberitahuan Jalan Penyebarangan Orang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kondisi berbeda justru dirasakan oleh pengguna JPO Asia Afrika. Fasilitas yang memadai dan penerangan yang baik menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung.

“Bagus, penerangannya. Vandalisme juga aku belum pernah lihat sih,” ujar salah satu pengunjung asal Cianjur yang sedang mengabadikan momen di Jalan Asia Afrika, Hilma Nurul Azmi (17).

Selain nyaman, JPO ini juga dinilai memiliki nilai estetika yang kuat.

“Selain unik juga tempat buat fotonya tuh kayak benar-benar kota Bandung banget gitu,” ucap pengunjung lain, Salwa Fadia (19).

Kesan positif juga datang dari pengunjung lain.

“Bersih. Fasilitasnya bagus,” tambah pengunjung asal Cirebon, Ika Safitri (34).

Tak hanya diminati kalangan muda, JPO Asia Afrika juga ramai dilewati oleh pengunjung lanjut usia. Euis (60), pengunjung asal Garut, membagikan pengalamannya.

“Pertama kali. Capek. Sakit. Sudah tua mungkin. (Tangga) nggak terlalu tinggi, cukup,” ungkap Euis.

Selain kedua JPO tersebut, Kota Bandung masih memiliki JPO lain di kawasan strategis, seperti JPO Merdeka di seberang Kantor Pemkot Bandung dan JPO Bandung Indah Plaza (BIP). Kedekatannya dengan pusat pemerintahan dan pusat perbelanjaan membuat kondisi kedua JPO ini relatif terawat.

“Ya, lumayan kok masih bersih semua. Lampu kan kalau malam nyala,” ungkap salah satu warga yang hampir setiap hari melewati JPO Merdeka, Anto (30).

Menurutnya, akses jembatan tersebut cukup ramah bagi pengguna lanjut usia.

“(Aksesnya) mudah sekali banyak orang tua lewat tapi dia tetap berpegangan,” tambahnya.

Jembatan Penyebarangan Orang di Jalan Merdeka, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Jembatan Penyebarangan Orang di Jalan Merdeka, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Di JPO BIP, perawatan terlihat lebih konsisten. Keberadaan petugas kebersihan menjadi penanda adanya pengelolaan rutin. Hal tersebut diamini oleh Sari (50), pedagang yang telah berjualan di kawasan tersebut sejak 2003.

“Sekarang bagus, udah terang. Kalau dulu gelap, tangganya licin, banyak yang jatuh kalau dulu,” ungkapnya.

Ia mengenang kondisi JPO di masa lalu yang jauh dari kata layak.

“(Dulu) banyak yang tidur di sini bawa karung, jorok kan. Nah, Ibu suka marah,” ucapnya dengan nada prihatin.

Perbaikan fasilitas kini terlihat dari tangga yang lebih landai, lantai beton yang stabil, besi penghalang yang tinggi dan kokoh, serta keberadaan tempat sampah, penerangan, dan CCTV yang berfungsi.

“Kalau dulu sering ada copet di atas sini. Sekarang, udah ada CCTV yang ngarah ke sini,” ujar dia.

Kanopi di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jalan Jakarta bolong dimakan usia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Kanopi di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jalan Jakarta bolong dimakan usia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Namun, wajah lain JPO Kota Bandung terlihat di kawasan Jalan Jakarta dan Terminal Cicaheum. Di Jalan Jakarta, JPO masih digunakan pejalan kaki meski kondisi fisiknya menunjukkan tanda-tanda penurunan. Struktur rangka besi masih berdiri, lantai lintasan dapat dilalui, namun karat terlihat jelas di berbagai bagian. Pegangan tangan masih terpasang, tetapi catnya memudar dan mengelupas.

Masalah utama terletak pada bagian atap. Sejumlah titik terlihat berlubang sehingga air hujan dapat masuk ke lintasan. Bahkan, di sisi jembatan yang berdekatan dengan instalasi kabel, atap penutup sudah tidak ada sama sekali. Akibatnya, sebagian lintasan terbuka penuh terhadap panas matahari dan hujan.

Kabel-kabel yang melintang rapat di sekitar struktur jembatan memperkuat kesan semrawut. Coretan vandalisme tampak di beberapa bagian rangka dan atap bagian dalam, menambah kesan kurang terawat.

Anak-anak menonton kendaraan yang melintas dari Jembatan Penyebarangan Orang (JPO) Terminal Cicaheum. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Anak-anak menonton kendaraan yang melintas dari Jembatan Penyebarangan Orang (JPO) Terminal Cicaheum. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Kondisi yang tak kalah memprihatinkan ditemukan di JPO Terminal Cicaheum. Sejak mendekati area tangga, tumpukan sampah terlihat di bagian bawah, disertai bau tidak sedap menyerupai bau pesing. Tangga beton menunjukkan keausan, pegangan tangan tampak kusam, dan dinding di sekitar akses dipenuhi noda serta coretan.

Di bagian atas, lintasan cukup lebar dan masih digunakan, termasuk oleh anak-anak. Namun, tidak adanya atap penutup membuat pengguna terpapar langsung panas matahari dan hujan. Minimnya fasilitas penerangan juga membuat JPO terlihat gelap saat malam hari, memunculkan rasa enggan bagi pejalan kaki untuk menggunakannya.

Dari atas jembatan, arus kendaraan tampak bergerak tanpa henti. Pemandangan ini menegaskan betapa pentingnya fungsi JPO sebagai pemisah antara pejalan kaki dan risiko lalu lintas. Namun, fungsi vital tersebut belum sepenuhnya ditopang oleh kelayakan fasilitas.

Di tengah beragam kondisi JPO di Kota Bandung, warga berharap adanya pemerataan perhatian dan perawatan dari pemerintah kota.

“Harapan aku sih, Bandung bisa lebih maju lagi, tempat-tempatnya mungkin lebih indah lagi nanti ke depannya. Lebih bersih lagi,” tutup Hilma.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)