Puasa Perisai Konsumtif

7 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saat asyik membaca Pikiran Rakyat, tanpa sengaja telingaku menangkap percakapan istri dengan tetangga. Ibu-ibu ini membicarakan pengeluaran rumah tangga yang terasa membengkak setiap kali Ramadan tiba.

Nada bicaranya ringan, tapi isinya dipenuhi kegelisahan. Mengapa bulan yang seharusnya melatih pengendalian diri justru sering menjadi musim meningkatnya konsumsi?

Bahan Makanan Pokok Jadi Pilihan Utama Mayoritas Konsumen Muslim (Sumber: GoodStats | Foto: Istimewa)
Bahan Makanan Pokok Jadi Pilihan Utama Mayoritas Konsumen Muslim (Sumber: GoodStats | Foto: Istimewa)

Tingginya Budaya Konsumtif

Padahal ramadan adalah momen sakral yang mengubah pola konsumsi dan belanja masyarakat Indonesia secara signifikan.

Consumer Funding dan Wealth Business Head PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Ivan Jaya membeberkan "Kami melihat adanya peningkatan signifikan dalam pengeluaran, terutama untuk kebutuhan berbuka puasa, persiapan Lebaran, dan mudik," ujarnya.

Data dari InMobi dan Glance mengungkapkan 40 persen konsumen Indonesia telah memulai persiapan belanja sejak dua minggu sebelum Ramadan.

Mari kita bandingkan dengan laporan dari Ipsos menyatakan pengeluaran individu selama bulan Ramadan meningkat hingga 1,6 kali lipat dibandingkan bulan biasa.

Survei JakPat 2023 menunjukkan 87,3 persen masyarakat berencana untuk mengikuti acara buka puasa bersama dengan keluarga dan kerabat selama Ramadan. (Metro TV, 10 Maret 2025).

Memasuki bulan Ramadan, pola konsumsi dan perilaku belanja masyarakat mengalami perubahan yang cukup signifikan. Ini terlihat pada konsumen Muslim yang cenderung mempersiapkan kebutuhan Ramadan dengan lebih intens dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dalam laporan Populix bertajuk Perilaku Belanja di Bulan Ramadan 2025, sebanyak 34% konsumen Muslim membeli makanan dan minuman dalam jumlah besar pada awal bulan puasa.

Survei ini melibatkan 1.119 responden dari enam agama berbeda, dengan mayoritas responden beragama Islam (89%). Pengumpulan data dilakukan pada 6–9 Desember 2024.

Secara keseluruhan, terdapat 869 responden Muslim yang mengaku membeli lebih banyak makanan dan minuman selama Ramadan. Produk yang paling banyak dibeli adalah bahan makanan pokok seperti beras, gula, minyak, dan mentega.

Temuan ini menegaskan bahwa kebutuhan pangan pokok tetap mendominasi pola belanja masyarakat selama bulan puasa.

Selain bahan pokok, sebanyak 82% responden memprioritaskan pembelian camilan, makanan ringan untuk menu berbuka puasa. Minuman kemasan, seperti teh, sirup, dan jus, dibeli dalam jumlah besar oleh 64% responden.

Terdapat 61% responden membeli produk sumber protein seperti daging sapi, ayam, dan ikan guna menjaga asupan energi selama menjalani puasa.

Dari sisi kepraktisan, 42% responden memilih membeli makanan siap saji (frozen food) dalam jumlah lebih banyak selama Ramadan.

Rupanya alasan di balik pembelian dalam jumlah besar ini beragam. Sebanyak 76% responden menyatakan bahwa mereka ingin mengamankan persediaan makanan dan minuman untuk kebutuhan sahur dan berbuka.

Malahan, 61% responden mengaku melakukan pembelian besar sebagai persiapan menyambut Lebaran, dan 44% lainnya berencana membagikan makanan serta minuman kepada orang lain.

Di sisi lain, 39% responden mengaku terdorong membeli dalam jumlah besar karena faktor diskon, dan 20% lainnya menyebut kebiasaan tahunan sebagai alasan utama.(www.goodstats.id, 20 Februari 2026 pukul 10.00 WIB)

Lozy Big Warehouse Sale Vol 7, agenda rutin yang selalu dinanti para kolektor hijab dan pakaian muslim kualitas premium dengan harga miring. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Lozy Big Warehouse Sale Vol 7, agenda rutin yang selalu dinanti para kolektor hijab dan pakaian muslim kualitas premium dengan harga miring. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Paradoks Memaknai Puasa

Padahal salah satu hikmah dari puasa itu umat Islam diharapkan dapat mengontrol diri dari banyaknya produk yang ditawarkan berbagai perusahaan marketplace.

Pada hakikatnya puasa itu perintah Allah SWT agar kita dapat mengendalikan nafsu seseorang dari perilaku konsumtif. Ingat, ibadah puasa yang dilaksanakan umat Muslim selama Ramadan dengan menahan makan, minum, dan hubungan seksual dapat dimaknai untuk menahan perilaku konsumtif.

Puasa seyogyanya membangun keintiman seorang makhluk dengan Sang Khaliq, mencapai ketakwaan, memompa produktifitas, menyehatkan, menyejahterakan, dan membangun solidaritas.

Pasalnya, saat ibadah puasa seseorang berinteraksi secara langsung, jujur dan spesial dengan Allah Swt, sehingga mendapat ridha-Nya.

Sejatinya saat berpuasa seseorang mengurangi jadwal dan jumlah konsumsi, sehingga lebih sehat, perut lebih stabil, banyak waktu untuk berkarya dan dapat merasakan betapa penderitaan menahan lapar dan haus, hingga terketuk hatinya untuk berbagi sebagai rasa solidaritas kemanusiaan.

Nyatanya fenomena puasa sering kali berlawanan dan paradoks antara nilai dengan realitanya. Acap kali orang berpuasa hanya rutinitas keagamaan tahunan, tidak makan, tidak minum dan tidak bersetubuh di siang hari tetapi prilakunya tidak ada perubahan, pikiran dan hatinya tidak dibersihkan dari rasa hasud. Walhasil, puasa tidak memberi efek perubahan dalam hidupnya.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Uniknya, saat bulan Ramadan seyogyanya bahan pokok lebih murah dan lebih banyak persediaan karena puasa mengurangi kebutuhan konsumsi. Nyatanya, harga bahan pokok dan kebutuhan beranjak naik. Ini menunjukkan bahwa permintaan bahan pokok meningkat sekaligus menimbulkan kenaikan harga. Dengan demikian, pelaksanaan puasa tidak membuat pengurangan konsumsi justru malah meningkat tajam.

Puasa menambah produktivitas tetapi kenapa sering menjadi alasan untuk menghentikan banyak aktivitas karena alasan puasa. Padahal saat berpuasa seseorang menstabilkan konsumsi, memperbanyak gerak dengan banyak beribadah sehingga tubuh dan rohani dibersihkan.

Akan tetapi nyatanya acap kali orang yang berbuka malah “balas dendam” dengan mengkonsumsi makanan yang beraneka ragam dan berlebihan.

Alhasil, saat puasa tak ubahnya hanya merubah jadwal makan di siang hari menjadi makan di malam hari tidak berkurang sedikitpun bahkan bertambah.

Puasa semestinya dapat membangkitkan rasa solidaritas. Sebab saat berpuasa dapat merasakan pedihnya lapar dan haus yang diderita oleh orang yang tidak mampu. Nyatanya, acap kali orang yang berpuasa berlebihan mengkonsumsi saat berbuka dan saat sahur, bahkan banyak makanan yang basi dan terbuang.(Cholil Nafis, 2015:87-89).

Agama Islam mengajarkan pada umatnya untuk tidak taqtir (kikir), israf (boros), tabdzir (membazir), itraf (mewah) dalam menggunakan harta kekayaan, namun Islam mengajarkan kesederhanaan dalam membelanjakan harta kekayaan.

Mahmud Syaltut berpendapat bahwa pemerintah memiliki hak untuk menegakkan maslahah agar bahaya kikir, boros dan mubazir tidak terjadi di kalangan umat. (Syaltut, 1996: 65).

Hasil survei Murtadho Ridwan dan Irsad Andriyanto tentang sikap boros menunjukkan mayoritas konsumsi harian keluarga Muslim di bulan Ramadhan mengalami peningkatan.

Tentunya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan empat sehat lima sempurna. Makanan yang disediakan keluarga Muslim di bulan Ramadhan sesuai dengan kebutuhan, sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia.

Bagi yang memiliki sisa makanan, mereka memanfaatkan untuk hewan peliharaan sehingga tidak termasuk sikap boros. Hanya ada satu responden yang mengaku membuang sisa makanan dengan sia-sia, sehingga perilaku itu termasuk boros yang dilarang Islam. (Al-Amwal: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah 2019 Vol 11 (2): 272-284)

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota 
Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kendalikan Perilaku Mubazir

Alih-alih menahan diri, kita justru tergoda untuk membeli lebih banyak. Ingin menyederhanakan kebutuhan, kita malah memperluas daftar keinginan.

Fenomena konsumtif saat Ramadan bukan berarti tradisi harus dihindari. Berbagi makanan, memberi hadiah, dan berkumpul bersama keluarga adalah bagian dari kebahagiaan yang wajar.

Namun, Ramadan bisa menjadi momentum untuk merefleksikan pola konsumsi. Paling tidak ada 5 langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

Pertama, Menyusun anggaran khusus Ramadan dan Lebaran. Kedua, Membatasi jumlah agenda buka bersama. Ketiga, Memprioritaskan kebutuhan dibanding keinginan. Keempat, Mengingat kembali makna kesederhanaan dalam berpuasa. Kelima, Menahan lapar memang inti dari puasa. Namun, menahan impuls belanja juga merupakan bentuk pengendalian diri yang tidak kalah penting.

Bulan Ramadan bukan tentang seberapa banyak kita beli, melainkan seberapa sadar kita dalam mengambil setiap keputusan finansial. (Kumparan 16 Februari 2026 4:00 WIB)

Allah SWT melarang hambanya untuk berlebih-lebihan, baik dalam urusan ibadah maupun aktivitas sehari-hari, seperti belanja di pasar (supermarket, mall, marketplace).

Dengan adanya puasa Ramadan, setiap Muslim seyogianya mampu melatih diri untuk tidak makan dan minum secara berlebihan, sekaligus berusaha mengendalikan perilaku konsumtif.

Secara sederhana, perilaku konsumtif dapat dilihat dari kebiasaan membeli dan menggunakan barang tanpa pertimbangan kebutuhan yang mendasar, melainkan semata-mata didorong oleh keinginan dan hawa nafsu.

Kecenderungan berlebihan ini kerap dimulai dari pengaturan menu makanan saat berbuka puasa dan sahur, hingga persiapan dalam menyambut Hari Raya Idulfitri.

Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Sabtu 5 April 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Memang, godaan berbelanja menjelang Idulfitri dengan berbagai iklan diskon besar-besaran terasa begitu kuat. Namun, semua itu dapat dikendalikan jika kita menjadikan puasa sebagai tameng untuk menangkal budaya konsumtif.

Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 27 mengingatkan bahwa sikap boros (berlebihan) merupakan perbuatan yang menyerupai saudara setan. Karena itu, kita diperintahkan untuk hidup sederhana dan dianjurkan untuk berbagi, baik dalam keadaan sempit maupun lapang. Selama sebulan berpuasa, berbagi dan bersedekah menjadi amalan istimewa yang mendatangkan banyak kebaikan.

Mari kita jadikan bulan Ramadan sebagai ladang amal, memperbanyak sedekah, berbagi kebahagiaan, dan menebar kedermawanan kepada sesama. Bukan sebaliknya, berpoya-poya dengan membeli barang secara berlebihan. Sudah saatnya kita menjalani puasa dengan sikap sederhana.

Kini saatnya “berpuasa belanja” di era digital dengan membeli secukupnya, sesuai kebutuhan. Ramadan sejatinya menjadi ruang pendidikan batin untuk latihan mengelola hasrat, menajamkan empati, sambil menyadari batas antara kebutuhan dan keinginan. Jangan sampai nilai-nilai ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)