RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Selasa 24 Feb 2026, 11:52 WIB
Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Malam belum sepenuhnya berganti dini hari ketika suara tawa dan obrolan terdengar dari sebuah lahan parkir yang luas. Di tempat itulah anak-anak muda Sekeloa Selatan biasa berkumpul sebelum memulai tradisi bangunin sahur.

Beberapa anggota duduk melingkar, saling menimpali jawaban satu sama lain. Di tengah suasana santai itu, Fajar Tresna (28), salah satu penggiat Sekeloa Selatan, menjadi sosok yang paling banyak menjelaskan tentang kegiatan yang mereka jalankan setiap Ramadan.

Menurut Fajar, tradisi bangunin sahur di wilayahnya bukanlah hal baru.

“Sudah ada sejak 2007. Jadi ini bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul karena sekarang viral. Dulu, waktu saya masih kecil, sudah diajak ikut sama kakak-kakak angkatan sebelumnya. Sekarang kami cuma meneruskan saja. Nanti adik-adik yang sekarang ikut juga akan jadi generasi berikutnya,” ujar Fajar.

Baca Juga: Ulin Barong Sekeloa, Tarian Tua yang Hidup Kembali di Tangan Generasi Z Bandung

Kegiatan biasanya dimulai sekitar pukul 02.15 dini hari. Mereka tidak hanya sekali berkeliling kampung, melainkan dua putaran.

“Putaran pertama biasanya untuk membangunkan orang tuanya dulu, supaya mereka bisa menyiapkan sahur. Habis itu kami istirahat sekitar 10 sampai 15 menit. Setelah itu lanjut lagi putaran kedua, sekalian mengajak anak-anaknya agar ikut bangun dan merasakan suasananya. Biasanya selesai sekitar jam 03.45,” jelasnya.

Setelah rampung, mereka kembali ke balai untuk beristirahat sejenak sebelum waktu Subuh tiba.

Lebih dari Sekadar Membangunkan Sahur

Bagi Fajar dan kawan-kawannya, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan.

“Kalau ditanya tujuannya apa, ya banyak. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini. Ada yang kerja, ada yang sekolah, masing-masing punya kesibukan,” katanya.

Ia mengaku, kadang justru warga yang mempertanyakan jika rombongan mereka tidak melewati satu gang.

“Pernah ada yang bilang, ‘kok kelewat rumah saya?’ Jadi sebenarnya, bagi sebagian warga, ini sudah jadi bagian dari suasana Ramadan. Bukan cuma kami yang merasakan,” ujarnya sambil tersenyum.

Jumlah peserta setiap malam bisa mencapai puluhan orang, tanpa batasan usia.

“Tidak ada batasan umur. Anak kecil boleh, yang sudah kerja juga boleh. Soalnya kalau tidak dibiasakan dari sekarang, nanti bisa padam. Kami tidak mau tradisi ini hilang,” kata Fajar.

Remaja di Sekeloa Selatan berkeliling menyusuri gang sambil melanturkan lagu-lagu untuk membangunkan warganya untuk sahur. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)
Remaja di Sekeloa Selatan berkeliling menyusuri gang sambil melanturkan lagu-lagu untuk membangunkan warganya untuk sahur. (Sumber: Instagram | Foto: @sekeloaselatann)

Respons Warga dan Batasan

Meski berlangsung pada dini hari, Fajar menyebut hingga kini belum ada komplain serius dari warga. Namun, mereka tetap menjaga etika.

“Kalau ada warga yang sedang sakit atau berduka, biasanya kami diberi tahu. Nah, itu kami lewat saja tanpa ribut. Kami harus tahu diri. Jangan sampai niatnya baik malah bikin tidak nyaman,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika suatu hari ada keberatan dari warga, mereka siap berdiskusi.

“Kalau ada yang protes, pasti kami kumpul dulu dan dibicarakan baik-baik. Karena ini kampung sendiri juga. Harus saling menghargai,” ujarnya.

Baca Juga: Saat Homeless Media jadi Rujukan Warga, Cerita di Balik Admin Akun Instagram info.sekeloa

Viral Bukan Tujuan Awal

Nama Sekeloa Selatan mulai ramai diperbincangkan setelah video bangunin sahur mereka tersebar di media sosial. Namun Fajar menegaskan, viral bukanlah tujuan utama.

“Awalnya cuma iseng divideokan. Tidak langsung ramai juga. Beberapa hari biasa saja, lalu tiba-tiba naik. Jadi memang bukan dari awal niat cari viral,” katanya.

Sejak itu, mereka menjadi lebih berhati-hati, terutama dalam memilih lagu.

“Pernah ada kejadian soal lagu yang ternyata punya hak cipta. Dari situ kami belajar. Sekarang lebih hati-hati supaya tidak jadi masalah,” ujar Fajar.

Baginya, media sosial hanyalah dampak, bukan alasan utama mereka bergerak.

“Konten itu bonus. Yang penting ada wadah dulu buat barudak berkarya. Di luar Ramadan juga kami bikin film pendek, podcast, dan kegiatan lain,” katanya menutup obrolan.

Berita Terkait

News Update

Linimasa 05 Mar 2026, 21:19

UIN Bandung Sebelum dan Sesudah Magrib Saat Ramadan

Setiap Ramadan, kawasan UIN Sunan Gunung Djati Bandung berubah ramai oleh mahasiswa yang ngabuburit dan berburu takjil.

Suasana menjelang magrib saat Ramadan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)