Ulin Barong Sekeloa, Tarian Tua yang Hidup Kembali di Tangan Generasi Z Bandung

4 menit baca
Ikbal Tawakal
Ditulis oleh Ikbal Tawakal diterbitkan
Seni Ulin Barong kesenian khas Sekeloa Kelurahan Lebakgede yang usianya sudah lebih dari satu abad. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Seni Ulin Barong kesenian khas Sekeloa Kelurahan Lebakgede yang usianya sudah lebih dari satu abad. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

AYOBANDUNG.ID – Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung yang terus tumbuh menjadi kota modern, masih ada sekelompok anak muda di Sekeloa, Lebakgede, yang memilih jalan berbeda: menjaga denyut tradisi. Mereka adalah bagian dari Lingkung Seni Cahaya Putra Binangkit, pelestari Ulin Barong Sekeloa, kesenian khas yang telah hidup lebih dari satu abad.

Wayang Sunda, Ronggeng Abrag, Suriwit, hingga Opera Sunda kini kian jarang dipentaskan. Namun, bagi Affan Halim Ramadhan (23), Ketua Lingkung Seni Cahaya Putra Binangkit, kesenian bukan sekadar hiburan, melainkan warisan yang wajib dijaga. Ia bertekad agar Ulin Barong Sekeloa tak bernasib sama seperti kesenian lain yang hilang digerus zaman.

Affan bersama sekitar 50 anggota aktif komunitasnya mendedikasikan diri untuk merawat dan melestarikan kesenian yang telah ada sejak 1885. “Kami anak muda Sekeloa sudah akrab sejak kecil dengan Ulin Barong. Kesenian yang sudah turun temurun ini harus kami jaga dan lestarikan. Kalau bukan anak muda, siapa lagi yang akan meneruskan ke generasi selanjutnya,” tegas Affan saat ditemui di Lingkung Seni Cahaya Putra Binangkit, Jumat malam, 24 Oktober 2025.

Ketua Lingkung Senin Cahaya Putra Binangkit Affan Halim Ramadhan saat tampil di pentas Ulin Barong Sekeloa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ketua Lingkung Senin Cahaya Putra Binangkit Affan Halim Ramadhan saat tampil di pentas Ulin Barong Sekeloa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Ulin Barong Sekeloa memiliki kekhasan pada gerakan silat yang berpadu dengan irama musik tradisional. Kepala barongnya dibuat dari serutan bambu, dilapisi kertas dan diwarnai, lalu diberi rambut serta rawis dari karung goni. Bentuknya menyerupai naga dengan kepala barong besar yang digotong oleh dua orang.

Menurut Affan, para sesepuh terdahulu pernah memutuskan membentuk lingkung seni agar kesenian ini tetap hidup. Salah satunya adalah Cahaya Putra Binangkit, yang kini menjadi bagian dari 16 lingkung seni Ulin Barong di bawah naungan Paguyuban Seni Sekeloa.

“Sudah 10 tahun terbentuk sejak 2015. Namun, kami mulai aktif pada 2016,” ucapnya.

Pemilihan nama Cahaya Putra Binangkit, kata Affan, bukan tanpa makna. Nama itu menjadi doa agar semangat dan karya generasi muda Sekeloa terus menyala. “Cahaya itu artinyakan sinar, sesuai dengan harapan kami bahwa adanya lingkung seni ini bisa menjadi sinar di kegelapan yang lahir dari generasi muda di Sekeloa, sedangkan binangkit itu cekatan, sigap, dan sinergitas,” tutur Affan.

Menjelang malam, suasana sanggar semakin hidup. Sekitar 15 pemuda dan pemudi berdatangan, bercakap hangat sambil menyiapkan alat musik dan kostum. Dari total anggota, 80 persen laki-laki dan 20 persen perempuan. Masing-masing memiliki peran: pemain barong, pemusik, penari, hingga bagian artistik. Semua dikerjakan secara gotong royong, bahkan hasil pentas pun ditabung untuk kas bersama.

“Sebagian ditabung untuk keperluan kas. Memang awal-awal terbentuk kami dan tentunya sesepuh udunan (iuran) untuk membeli alat musik, bahan-bahan untuk membuat barong, dan lainnya. Harapannya sih sebetulnya kami lebih diperhatikan pemerintah agar mendapat bantuan dari segi finansial,” tuturnya.

Anak muda di Sekeloa di Kelurahan Lebakgede yang menjadi bagian dari Lingkar Seni Cahaya Putra Binangkit, pelestari Ulin Barong Sekeloa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Anak muda di Sekeloa di Kelurahan Lebakgede yang menjadi bagian dari Lingkar Seni Cahaya Putra Binangkit, pelestari Ulin Barong Sekeloa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Tantangan Kebudayaan

Affan paham, menjaga kesenian tak hanya soal tampil di panggung, tetapi juga menjaga dokumentasi dan eksistensinya di tengah dunia digital. Ia menyesalkan bahwa dulu, banyak kegiatan kesenian tidak terekam dengan baik. Kini, dokumentasi menjadi prioritas agar generasi mendatang punya jejak untuk dipelajari.

Potret Barong Bapak, Barong Ibu, dan Barong Anak dalam Ulin Barong Sekeloa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Potret Barong Bapak, Barong Ibu, dan Barong Anak dalam Ulin Barong Sekeloa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Namun, perhatian pemerintah belum sepenuhnya hadir. “Meski sudah 10 tahun berdiri, perhatian dari Pemkot Bandung itu kurang. Apalagi untuk menembus ke Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Bandung itu susah banget. Kami hanya sampai pada sertifikasi legalitas lingkung seni yang dibantu paguyuban seni sekeloa,” tuturnya.

Affan menyebut Hajat Sekeloa sebagai pesta kebudayaan tahunan yang selalu dinanti. Setiap peringatan 17 Agustus, berbagai lingkung seni menampilkan Ulin Barong Sekeloa. Namun, ia menyayangkan ada salah satu kelompok yang enggan ikut berpartisipasi.

“Untuk tampil di Sekeloa pun mereka enggak mau, mungkin dugaan saya karena mereka sudah dekat dengan Disbudpar. Setiap Hajat Sekeloa seakan menarik diri,” ucapnya.

Meski begitu, Affan memilih fokus pada hal positif. Ia tak ingin perbedaan menghambat cita-cita besar: membawa Ulin Barong Sekeloa tampil di panggung dunia. “Masalah ini sebetulnya sensitif bagi kami, tapi ya sudahlah. Sekarang mah lebih penting menjadikan mimpi kami kenyataan salah satunya bisa menampilkan Ulin Barong Sekeloa di mancanegara. Untuk caranya ya nanti kami cari,” katanya diselingi tawa.

Peran Perempuan

Di antara para pemuda itu, ada sosok Caca (23). Meski awalnya malu-malu bicara, kepiawaiannya menari diiringi musik Ulin Barong Sekeloa sudah tak perlu diragukan. Bekerja sambil mengurus rumah tangga tak membuatnya meninggalkan sanggar yang telah menjadi bagian hidupnya.

“Kami sebagai perempuan ya tugasnya lumayan banyak. Saya misalnya sudah kerja, ngurus rumah, dan ikut kesenian. Nah, anggota perempuan di sini juga dibagi ke berbagai divisi, ada penari hingga yang mengurus administrasi,” ucapnya.

Remaja putri ikut menyemarakan seni Ulin Barong Sekeloa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Remaja putri ikut menyemarakan seni Ulin Barong Sekeloa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Dukungan dari keluarga menjadi alasan Caca tetap aktif. “Tantangannya paling soal izin kerja aja. Selebihnya saling mendukung mulai dari suami juga kan satu sanggar. Saya sebagai penari dan dokumentasi kalau setiap pentas Ulin Barong Sekeloa,” sambungnya.

Sejalan dengan semangat Affan, Caca juga ingin memastikan kesenian ini tak hilang ditelan zaman. Ia meyakini, perempuan memiliki peran penting dalam melahirkan generasi penerus budaya. “Perempuan kan melahirkan. Anggaplah kami juga anggota perempuan di sini bisa melahirkan generasi penerus supaya kesenian ini tidak mati di generasi kami,” tuturnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)