Abah, Buku Bekas, dan Denyut Intelektual

5 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Tahun 2002, Palasari bukan sekadar pasar buku. Ia adalah universitas paralel bagi mahasiswa UIN Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Tahun 2002, Palasari bukan sekadar pasar buku. Ia adalah universitas paralel bagi mahasiswa UIN Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bagi siapa pun yang pernah mengenyam bangku kuliah di IAIN (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung pada rentang tahun 1990 hingga 2017, pasti mengenal sosok pria berkacamata ini yang menjadi bagian dari ingatan kolektif.

Mahasiswa lintas angkatan mengenalnya cukup dengan satu panggilan Abah. Bukan dosen, staf, bukan pula pustakawan kampus.

Sang penjual buku bekas murah yang setia mangkal di depan kampus, tepatnya di gerbang samping kiri tulisan IAIN SGD Bandung, Jalan A. H. Nasution No 105, di bawah pohon rindang (DPR) depan Klinik Pratama yang sekarang ditutup dan hanya ada satu akses (gerbang utama Kampus 1), pos satpam. Kini, mahasiswa dekade 2020-an cukup mengenal DPR berada di samping Fakultas Adab dan Humaniora.

Merawat Ingatan Kolektif

Pemilik nama Famias Syahrudin ini bukan sekadar pedagang buku. Kehadirannya telah menjadi bagian dari perjalanan hidup mahasiswa, menemani asupan dinamika intelektual, memperkaya diskusi, bahkan kerap bersinggungan dengan perjalanan batin dan pengalaman personal para pencari ilmu, kutu buku.

Betapa tidak, Abah hadir sebagai saksi sunyi geliat akademik yang tumbuh dari lembar demi lembar buku bekas di lapaknya. Jadi tempat nongkrong mahasiswa, ya sekedar berhenti sejenak sebelum kembali bergulat dengan diktat, kelas, aksi, tugas, dan mimpi-mimpi besar.

Biasanya, sekitar pukul 09.30 pagi, Abah sudah mulai beberes dan menata lapak di Jalan A. H. Nasution No. 105 Cibiru. Dengan sepeda motor Vespa dan jaket sedikit lusuh kesayangannya, datang membawa tas punggung berisi tumpukan buku, karung-karung diktat fotokopian, dan berbagai bacaan yang siap disambut mahasiswa. Terpal plastik dibentangkan, meja sederhana disusun, lalu buku-buku ditata berlapis bak ikan asin.

Abah membuka lapaknya hampir setiap hari, dari Senin hingga Sabtu. Mulai pukul 10.00 sampai 14.00 WIB, deretan buku digelar sederhana di pinggir jalan. Koleksinya beragam mulai dari buku mata kuliah, agama, filsafat, ekonomi, hingga komik anak-anak.

Tak ketinggalan majalah legendaris seperti Bobo, Hai, Intisari, Ulumul Quran, dan Prisma. Semuanya menjadi sumber bacaan alternatif yang murah, merakyat, dan sarat makna.

Lapak Terjal Jalanan

Dilansir dari Liputan6 (6 Maret 2017), pria kelahiran Bukittinggi ini telah berjualan buku selama kurang lebih 27 tahun. Usianya kala itu 57 tahun, dan hampir separuh hidupnya dihabiskan di pinggir Jalan A. H. Nasution No. 105.

Menjual buku sejak 1990, saat kampus ini masih bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Namun Bandung sudah lebih dulu memanggilnya. Sejak 1975, Abah merantau ke kota kembang ini, sambil mencoba berbagai usaha, dari menjual nasi, baju, hingga jaket.

Sebelum akhirnya menemukan jalan hidupnya di antara tumpukan buku, kertas dan dus bekas.

“Saya jualan buku hampir 30 tahun, Dek. Jualan buku sejak tahun 1990, waktu itu kampus masih bernama IAIN. Saya ke sini sejak tahun 1975,” kenangnya.

Menariknya, meskipun di seberang kampus berdiri beberapa toko buku yang menyediakan buku penunjang perkuliahan, buku umum, dan buku agama, lapak Abah tak pernah sepi.

Hanya bermodalkan terpal plastik dan meja sederhana, lapak kecil itu justru selalu ramai disinggahi mahasiswa. Alasannya sederhana. Harga buku yang jauh lebih murah.

Abah mengaku hanya mengambil untung sekitar Rp3.000 dari setiap buku baru yang didapatkan dari Palasari. Selebihnya buku bekas yang sebagian besar dibeli dari mahasiswa yang telah diwisuda.

“Biasanya mahasiswa jual buku satu lemari, saya beli lima ratus ribu. Kalau dijual lagi bisa jadi satu juta,” katanya sambil tersenyum sederhana.

Buku-buku unik itu pada akhirnya menemukan pemilik baru. Salah satunya Apep Hidayatullah, mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) semester empat. Kerap mencari buku rujukan kuliah, hingga bacaan filsafat, sejarah, politik, dan agama di lapak Abah.

“Bukunya memang lama, tapi masih bagus-bagus. Harganya juga murah, ada yang lima ribu, sepuluh ribu, sampai dua puluh ribu,” ujarnya.

Bagi Abah, menjual buku bukan soal laba besar. Pria yang memiliki dua cucu itu sadar betul kondisi mahasiswa. Jika harga terlalu mahal, buku tak akan laku.

Banyak koleksi yang sengaja jual berasal dari mahasiswa luar Pulau Jawa yang memilih menjual buku ketimbang membawanya pulang ke kampung halaman.

Sumber lain datang dari Palasari, bahkan tukang rongsok, yang kerap menawarkan buku bekas dari perumahan sekitar Bandung dengan harga Rp3.000 per kilogram. Dari tumpukan itulah, Abah memilah buku-buku layak baca, lalu menjualnya kembali dengan harga terjangkau untuk mahasiswa, staf dan dosen. (liputan6, 06 Maret 2017, 14:30 WIB).

Koleksi perpustakaan pribadi alakadarnya pada 14 Agustus 2014. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Koleksi perpustakaan pribadi alakadarnya pada 14 Agustus 2014. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Rindu yang Menggebu

Saat mengurus legalisasi ijazah untuk keperluan sekolah dan pekerjaan, seorang kawan tiba-tiba bertanya, “Abah yang jual buku murah di depan kampus itu masih ada?”

Kujawab singkat, “tos teu aya ayeuna mah.”

Pertanyaan itu langsung membawa pikiranku melayang ke suasana hangat masa lalu, terutama momen berebut buku ketika Abah menurunkan karung-karung dari Vespa tuanya.

Ya, hampir sebagian besar buku di rumah lahir dari tangan dingin Abah, dari Palasari, bazar, hingga bursa buku yang pernah begitu hidup dan luar biasa di Bandung pada masanya.

Lapak Abah pada akhirnya bukan sekadar tempat jual beli buku. Melainkan ruang singgah, tempat obrolan kecil, tempat nongkrong mahasiswa menunggu bus biru DAMRI legendaris sambil menggenggam harapan yang setipis dompet anak kos.

Rupanya, di sanalah banyak mimpi lahir dari buku-buku bekas, dari tangan-tangan sederhana, dari Abah yang setia menjaga denyut intelektual kampus selama puluhan tahun.

Bagiku, buku-buku bekas itu lebih dari sekadar barang murah dari lapak pinggir jalan. Tanpa sadar dari bacaan yang sampulnya kusam, sudut-sudutnya terlipat, baunya bercampur antara debu, waktu, justru menghadirkan jendela dunia ke dalam rumah yang sederhana.

Di sela halaman yang menguning, melahirkan arti pentingnya belajar soal pengetahuan tidak selalu lahir dari ruang kelas, rak toko buku yang terang, melainkan dari tangan-tangan sabar yang memilih, membaca, lalu membagikan (menjualnya) dengan penuh keyakinan.

Dari kebiasaan itulah denyut intelektual perlahan tumbuh, bukan sebagai sesuatu yang gemuruh, justru hadir tenang dan konsisten.

Tanpa sadar Abah mengajarkan ihwal berpikir dari bagian kerja sunyi. Ibarat membaca buku bekas di sore (malam) hari yang berdampak panjang dan mendalam.

Setiap buku yang dibuka menjadi percakapan tak langsung antara generasi, dan dari sana kita memahami ihwal intelektualitas bukan soal gelar, kemewahan, melainkan keberanian untuk terus belajar, tanpa putus, meski dari halaman-halaman yang telah usang, sobek, hilang dan menguap entah kemana. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Jun 2026, 20:07

Depresi pada Remaja dan Urgensi Aplikasi Konseling

Sejumlah remaja berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental karena kehidupan mereka, stigma, dan kurangnya akses terhadap layanan berkualitas.

Ilustrasi Talkshow Kesehatan Jiwa Happiness Project di Cafe Halaman, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Farits)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 18:52

Ketika THR Berubah Menjadi Aset

Meninjau kebijakan PT ANTAM (Persero) Tbk meluncurkan emas tematik edisi Idulfitri 1447H/2026 bertema “Gempita Hari Raya”.

Emas Batangan Edisi Idulfitri 1447H.
Ayo Biz 22 Jun 2026, 17:24

Menempuh Jarak Ratusan Kilometer untuk Melihat Teladan dari 2 Desa BRILian

Dua desa di Kabupaten Sumedang membuktikan bahwa teladan ekonomi desa tidak butuh keistimewaan, justru hanya perlu sistem yang kuat untuk memutar roda nasib.

Siluet dari Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat, di tepian Waduk Jatigede, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 22 Jun 2026, 16:55

Wisata Tembok Ratapan Solo, Destinasi Viral Satire Digital

Fenomena Tembok Ratapan Solo bermula dari satire di Google Maps dan berkembang menjadi arus kunjungan publik ke rumah Jokowi di Solo.

Tembok Ratapan Solo
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 16:49

Cantik yang Mengkhianati: Ketika Aksesori Menjadi Ancaman

Risiko ganda logam saat MRI: luka bakar arus radiofrekuensi dan distorsi gambar pemindaian.

Lepuhan pada kulit pasien akibat arus induksi saat pemindaian MRI. (Foto: Radiology Business)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 16:15

Ketaatan Pengelolaan Risiko Kebakaran

Peran dinas damkar perlu transformasi sehingga paradigmanya berubah dari peran pemadam menjadi fungsi yang proaktif mencegah kebakaran. 

Ilustrasi kebakaran pabrik di daerah Cipadung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Fira Nursyabani)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 15:29

Ekspedisi Karees : Menelusuri Jejak Rel Kereta yang Hilang dari Peta (Part 1)

Beberapa hari yang lalu, saya mencoba menelusuri kembali sisa-sisa rel Karees, memotret kondisinya hari ini, dan merangkai kembali memori kejayaan halteu ini di masa lampau. Yuk, ikut saya blusukan!

Harta karun pertama yang saya temukan! Menyembul di antara tanah di sebelah kiri jalan, membuktikan sejarah menolak terkubur. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 15:13

Copy-Paste Birokrasi: Ketika Sistem Digital Belum Benar-Benar Digital

Saat sistem digital tidak saling terhubung, beban administratif tidak hilang, ia hanya berpindah wujud dari kertas ke layar.

Ilustrasi ekosistem digital yang melingkupi kehidupan modern (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 13:36

Menelusuri Art Deco: Setitik Eropa di Kota Kembang

Melihat kembali bagaimana arsitektur Art Deco di Kota Bandung bermunculan hingga akhirnya dijadikan sebagai bangunan cagar budaya.

Kondisi Gedung Bank DENIS (sekarang digunakan oleh Bank Jawa Barat) pada tahun 2015. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Rochelimit)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 12:25

Penggunaan Wewangian dari Zaman Mesir sampai Sekarang

Perkembangan singkat wewangian dari awal mula ketenarannya di Mesir sampai sekarang.

Pajangan botol parfum berwarna-warni. (Sumber: pexels.com | Foto: Hồng Quang)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 11:30

'Don’t Buy This Jacket' Kampanye Jujur atau Strategi Manipulasi Persepsi?

Membedah paradoks kampanye "Don’t Buy This Jacket" Patagonia:

Penulis sedang menelaah konsep iklan 'Don't Buy This Jacket'.
Wisata & Kuliner 22 Jun 2026, 11:27

Wisata Gratis di Surabaya: Jelajah Taman Bungkul Ikon Kota yang Selalu Ramai

Taman Bungkul menjadi salah satu destinasi wisata gratis paling populer di Surabaya dengan fasilitas lengkap dan suasana nyaman sepanjang hari.

Taman Bungkul Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 09:56

Indonesia dalam Angka

Algoritma Statistik memang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi bukan berarti angka itu disusun hanya demi kepuasan publik. Sehingga fakta yang terjadi hanya sebatas retorika

Ilustrasi angka dalam kalkulator. (Sumber: Pexels | Foto: Yan Krukau)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 09:06

Penggunaan Kendaraan Listrik Dikebut, Tapi Listriknya Sering Padam

Di tengah percepatan adopsi kendaraan listrik melalui berbagai insentif, pemadaman listrik yang masih sering terjadi memunculkan pertanyaan: seberapa siap sistem energi Indonesia?

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf terkait pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa (20/6/2026). (Sumber: Instagram/@pln_id)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 08:58

Ada Apa dengan Tanjakan Emen?

Jalan tanjakan Emen yang berada di Subang tepatnya di Ciater, terkenal dengan misteri seringnya terjadi kecelakaan.

Kondisi sekarang jalan tanjakan Emen. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Haerul Nurjaman)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 18:02

Peran Media Relations dalam Membangun Citra Kolaborasi Brand di Industri Olahraga

Memahami identitas kolaborasi sebagai perpaduan antara motorsport, inovasi, dan gaya hidup modern.

Gambar dari akun Instagram resmi Puma
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 17:37

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Dimas Kurnia Hidayat, kolektor memorabilia Persib Bandung. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 15:26

Bandung Poek, Warga Menjerit, dan Kenangan Menyala

Cibiru Bandung boleh poek untuk dua, tiga, empat, lima jam. Tetapi selama kebersamaan masih hidup, selalu ada cahaya yang tidak pernah padam bila kita rawat dan pupuk bersama.

Ilustrasi Bandung Mati Listrik Bergilir (Sumber: Pixabay)
Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)