Tembok Demokrasi dalam Keadilan Buku-Buku Cetak

6 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Ilustrasi buku cetak. (Sumber: Pexels/Element5 Digital)
Ilustrasi buku cetak. (Sumber: Pexels/Element5 Digital)

Ada yang mengatakan, bahwa hukum yang disusun tanpa partisipasi rakyat, hanyalah formalitas yang sah secara prosedural, tapi gagal secara nurani. Dalam friksi demokrasi, suara rakyat perlu didengarkan dan menjadi bagian penting dari kerangka bangsa.

Kita tentu ingat, bangsa dibesarkan oleh pemikiran bersih; oleh buku; oleh teks-teks sastra yang diperjuangkan pendiri bangsa. Selama ratusan tahun dijajah tanpa punya akses pada bacaan. Saat kemerdekaan, infrastruktur dan suprastruktur tidak terbentuk dengan sempurna di kalangan masyarakat. Lantas, kenapa buku dan suara rakyat harus dipenggal, sementara bangsa menyusun diri kepada demokrasi yang bercermin pada UUD negara RI tahun 1945 dan Pancasila!?

Edward Bernays menulis dalam buku “Propaganda” yang menerangkan bahwa opini publik bukan semata hasil kesadaran kolektif, tapi sering kali buah dari rekayasa yang terencana. Meski rakyat begitu mudah diarahkan dan berkali-kali dikecewakan. Acapkali, rakyat dihadapkan pada pilihan yang sangat dilematis. Karena berharap ada perubahan yang konkret dan nyata.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa bahasa yang menjadi kumpulan kata-kata, tidak hanya sekadar alat komunikasi, melainkan juga instrumen kepemimpinan. Bahasa yang digunakan pemimpin tidak hanya sekadar narasi, tetapi harus layak terdengar dan sekaligus menyentuh. Pada masa yang sangat tua, seorang filsuf bernama Aristoteles telah menulis buku “Retorika”. Buku ini tidak hanya bacaan, tetapi sekaligus juga teori dasar dalam berdemokrasi.

Seorang pemimpin harus paham, bahwa segala ucapannya adalah narasi yang bermakna. Demokrasi tanpa logos, ethos, dan pathos, maka pidato seorang pemimpin hanyalah gema protokoler – didengar, dicatat, tapi tidak pernah diingat. Kondisi ini membuat nilai-nilai demokrasi tidak lagi melihat konteks nyata, tetapi lebih menyuburkan konteks “pencitraan semata”.

Demokrasi itu tidak hanya soal gagasan ide dan imajinasi dalam membaca fenomena yang terjadi dalam sebuah era, tetapi menjadi rentetan peristiwa yang terukur dalam sebuah sejarah. Faktanya, banyak pemimpin yang gagal di mata masyarakat ketika ia selesai masa tugasnya ketika menjabat. Jadi, dalam sistem pemerintahan negara, sangat diperlukan instrumen kepemimpinan.

Dalam prinsip dasar demokrasi, tujuan pokok yang harus tercapai adalah keadilan. Namun retorika tanpa keadilan hanya akan memperindah kekosongan. Jika kita membaca Teori Keadilan karya John Rawls. Di sana, keadilan tidak bicara soal pembagian merata, melainkan soal keberpihakan terhadap yang paling rentan. Karena jika keadilan hanya indah dalam konstitusi tapi hampa dalam kenyataan, rakyat akan mengerti bahwa hukum sering dibuat bukan untuk mereka.

Adanya ketimpangan dalam penegakan demokrasi, ini memperlihatkan kita, bahwa ada sistem yang tidak berintegrasi satu sama lainnya. Secara logika, sistem ini dikendalikan oleh manusia. Maka, ketika sistem ini dianggap tidak lagi berpihak pada kepentingan masyarakat banyak, yang seharusnya sistem itu menjadi pelindung bagi hayat orang banyak, tentunya akan menimbulkan pertentangan – bukan perlawanan.

Salah satu alat dalam penegakan demokrasi adalah bentuk-bentuk protes yang disuarakan secara kolektif. Misalnya dalam bentuk orasi atau demonstrasi. Jika suatu hari suara rakyat terdengar bising dan tidak teratur, jangan buru-buru menyebut mereka tak tahu aturan. Bisa jadi mereka sedang menagih perjanjian yang dilanggar.

Perjanjian yang kerap kali tertulis tanpa hitam-putih dan hanya melalui lisan, selalu saja dimaknai sepihak oleh penguasa (yang diberikan kepercayaan dan amanat. Artinya, kekuasaan itu bukanlah warisan yang berlangsung turun-temurun sebagaimana yang ditulis dalam buku: Social Contract yang dikarang oleh Rousseau menyebutkan bahwa kekuasaan bukan warisan, tapi kontrak. Dan setiap kontrak yang dikhianati, berhak dipertanyakan.

Baca dan Diskusi Kutu Buku di Perpustakaan Bunga di Tembok, Sabtu, 17 Mei 2025. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Baca dan Diskusi Kutu Buku di Perpustakaan Bunga di Tembok, Sabtu, 17 Mei 2025. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Pertanyaan ini adalah bentuk pertanggung-jawaban moral yang harus dijawab oleh penerima kekuasaan. Janji adalah bentuk nyata yang harus dipenuhi dalam perjanjian tersebut.

Untuk melihat lebih luas, lebih lanjut bisa membaca buku Politik karya Andrew Heywood. Buku ini menjelaskan bahwa politik bukan tentang memenangkan kontestasi, tapi mengelola perbedaan. Di setiap kebijakan, tentu banyak perbedaan dalam sudut pandang.

Bagaimana kita melihat kondisi itu hari ini? Sayangnya, banyak pengelolaan hari ini lebih mirip pengendalian. Yang dibentuk bukan kesepahaman, tapi kepatuhan. Dan itu bukan demokrasi. Itu monolog yang dibungkus rapih. Pada titik ini, buku tidak hanya memberi gambaran ilusi. Tapi buku, bukan hanya sebagai teori, tetapi bisa menjadi nilai ukuran dari gambaran demokrasi secara normatif.

Apakah kebuntuan demokrasi itu harus diakhiri dengan kudeta? Ini sepertinya terlalu sarkastis. Karena demokrasi tak selalu mati karena kudeta. Kadang ia mati perlahan, lewat hukum yang dibentuk untuk satu golongan saja. Kita akan lihat itu di Bagaimana Demokrasi Mati karya Levitsky dan Ziblatt. Buku ini telah mengadopsi modernisasi.

Tentunya semua pihak menginginkan pilihan yang tepat. Pilihan selalu tampak elegan, karena sebagian isi dari pilihan itu juga demi martabat bangsa. Demokrasi bisa berakhir dalam senyap—ketika oposisi dilemahkan, dan rakyat diajari takut bertanya.

Di sini, mungkin pembaca akan terjebak dengan narasi-narasi di atas. Apakah ini “konsep menjual produk buku?”. Ini salah besar! Karena buku disini lebih bersifat referensi teori tentang demokrasi. Sebagai kumpulan kata-kata intelektual yang mencintai negara yang tidak sekadar caption.

Jika pemulihan demokrasi tujuannya juga untuk kestabilan ekonomi. Maka kita perlu menyentuh akar ekonominya, baca Wealth of Nations karya Adam Smith. Ia menulis tentang pasar dan moralitas, bukan sekadar laba. Tapi juga harus membaca Capital karya Karl Marx, agar tahu bahwa tak semua pertumbuhan itu netral.

Kadang, yang disebut pembangunan hanya cara lain untuk menjaga struktur ketimpangan. Pembangunan itu tidak hanya membangun mimpi, tetapi bagaimana membangun serta mewujudkan ekonomi kerakyatan. Marginalisasi ekonomi selama ini bertumpuk pada kekuatan kapitalis. Ini tentunya akan menyakiti hati rakyat.

Jika kita tarik garis sejarah, sebelum bicara soal reformasi, mungkin ada baiknya kita perlu menyepi sejenak membaca Republik karya Plato. Ia menulis bahwa pemimpin harus terlebih dahulu menjadi pencari kebenaran. Jika itu hanya sebatas retorika belaka, artinya penerima kekuasaan itu belum memahami secara utuh tentang konsep negara.

Karena negara yang dipimpin oleh mereka yang tak pernah merenung, akan diserat ke arah yang hanya didikte selera pasar dan suara sorak penonton. Lalu bandingkan dengan Politik karya Aristoteles. Di sana, kekuasaan adalah sarana menuju kebaikan bersama—bukan perlombaan cepat-cepat jadi orang terdepan. Pemimpin bukan puncak, tapi pusat. Dan kalau pusatnya keropos, yang runtuh bukan hanya sistem, tapi seluruh harapan.

Dunia ini panggung sandiwara, sebuah lagu yang bisa berkonotasi macam-macam. Apakah negara itu juga sebagai panggung sandiwara? Anekdot liar terkadang perlu untuk menyegarkan suasana, ketika dunia politik sudah disusupi virus-virus yang tumbuh menjadi bom waktu. Bahasa sastrawi, mungkin terlalu santun di tengah impitan hidup, yang dianggap sedang tidak baik-baik saja.

Dan kekuasaan yang dibingkai tanpa makna, akan tampil seperti yang digambarkan Clifford Geertz dalam Negara Teater. Negara jadi panggung, pejabat jadi aktor, rakyat jadi penonton pasif yang hanya diundang saat ada perayaan. Yang dipelihara adalah citra, bukan substansi.

Agar ruang pikir tetap hidup, ruang publik dibuka, tetapi dengan suara yang mulai serak dan hak-hak suara tetap terkendali, bahkan cenderung represif. Seperti kata sastrawan, Taufiq Ismail: “aku (malu) menjadi Indonesia.” Bukan karena sikap nasionalisme yang luntur, tapi tidak lebih dari keprihatinan panjang. Kata-kata sebagai subjektivitas pemikiran bahkan diancam terpenjara.

Demokrasi tak dibangun dari suara mayoritas saja, tapi dari kemampuan yang minor. Buku-buku bukanlah suara mayoritas, yang seyogianya harus dijadikan sumber estetika dan etika dalam keseimbangan ilmu dan pengetahuan. Bukan menjadi alat bukti untuk sebuah tindakan kejahatan. Bagaimana kemudian makna demokrasi itu menjadi kerdil? Meski buku pernah tercatat dalam sejarah, sebagai alat propaganda dalam revolusi.

Ketika semua suara dibungkam kecuali satu, maka yang lahir bukan musyawarah tapi monarki yang disamarkan. Hukum sering terasa tidak adil meski katanya konstitusional, karena hukum yang disusun tanpa partisipasi rakyat, hanyalah formalitas yang sah secara prosedur tapi gagal secara nurani. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)