Garis Merah di Atas Kepala Kita

4 menit baca
Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan
poster film S-Line (Sumber: Video.com)
poster film S-Line (Sumber: Video.com)

Beberapa pekan terakhir, linimasa media sosial seperti TikTok, X (Twitter), dan Instagram diramaikan oleh tren baru: “S-Line.” Di sana, banyak pengguna terutama remaja mengunggah foto dengan garis merah di atas kepala mereka. Tren ini terinspirasi dari drama Korea berjudul S-Line, yang diadaptasi dari Webtoon populer. Dalam drama tersebut, garis merah menjadi simbol jumlah pengalaman seksual seseorang.

Sekilas terlihat lucu, kreatif, bahkan estetik. Namun di balik efek visual itu, ada pertanyaan besar yang layak diajukan: mengapa hal yang seharusnya menjadi privasi kini justru dirayakan di ruang publik?

Tren ini bukan hanya soal hiburan; ia adalah cermin perubahan nilai yang sedang melanda dunia digital. Di satu sisi, masyarakat semakin terbuka dan ekspresif. Namun di sisi lain, batas antara kebebasan dan kehormatan mulai kabur.

Fenomena S-Line sebenarnya bermula dari dunia fiksi, sebuah narasi satir tentang bagaimana manusia modern hidup dalam dunia yang menelanjangi privasi. Namun ketika dunia maya menirunya secara harfiah, makna satir itu berubah menjadi realita yang ironis.

Menurut M. Febriyanto Firman Wijaya, dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya, tren ini bukan sekadar hiburan kosong. “Konsep garis merah ini, meskipun fiktif, seolah memberi pembenaran bahwa aib seseorang bisa diumbar ke publik. Ini sangat berbahaya karena menormalisasi pelanggaran privasi dan membuka ruang bagi penghakiman sosial,” ujarnya (21/7/2025).

Pernyataan ini menegaskan bahwa viralitas sering kali tidak netral. Ia membawa nilai dan arah tertentu. Dalam hal ini, S-Line menandakan pergeseran budaya malu menjadi budaya pamer—di mana sensasi lebih menarik daripada introspeksi, dan klik lebih berharga daripada martabat.

Islam, dalam pandangan moralnya, menempatkan kehormatan dan rasa malu (haya’) sebagai mahkota iman. Rasulullah SAW bersabda:

“Malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna hadis ini bukan sekadar sopan santun sosial, melainkan kesadaran spiritual bahwa setiap nikmat termasuk tubuh dan privasi adalah amanah yang harus dijaga dari pandangan yang tidak pantas.

Dalam konteks S-Line, sekalipun efeknya hanya digital, substansinya tetap sama: menyebarkan sesuatu yang seharusnya ditutupi. Islam mengingatkan dalam QS. An-Nur [24]:19:

“Sesungguhnya orang-orang yang suka agar perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”

Ayat ini menjadi teguran keras bagi siapa pun yang menjadikan kemaksiatan atau aib sebagai bahan hiburan publik.

Mari jujur, kita hidup di zaman di mana “malu” dianggap kuno. Generasi digital tumbuh dalam ekosistem algoritma yang menilai manusia dari likes dan views. Privasi berubah menjadi konten, dan aib menjadi bahan bercanda.

Ibu dan anak yang cuma ikutan tren S-line tanpa tau artinya.
Ibu dan anak yang cuma ikutan tren S-line tanpa tau artinya.

Padahal, dalam etika Islam, menutup aib—baik diri sendiri maupun orang lain—adalah bentuk kasih sayang sosial. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim)

Sayangnya, di dunia digital hari ini, kita justru berlomba-lomba membuka penutup itu sendiri. Ironinya, kita menjadi “mujahirin modern”—orang yang terang-terangan memamerkan dosa—tanpa merasa bersalah, bahkan bangga karena viral.

Fenomena ini menunjukkan betapa budaya “fastabiqul viralat” (berlomba menjadi viral) telah menggantikan semangat fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan). Perubahan kecil dalam orientasi nilai ini berdampak besar: generasi muda lebih cepat memoles citra digitalnya ketimbang mengasah karakter spiritualnya.

Maka, ketika tren seperti S-Line muncul, masalahnya bukan sekadar soal moral individu, tapi krisis arah peradaban digital. Dunia maya kini menjadi arena pertarungan antara etika dan euforia, antara cahaya dan sensasi.

Kita tidak bisa menolak kenyataan bahwa dunia digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Namun, kemajuan teknologi tidak boleh membuat kita kehilangan kendali moral. Islam tidak anti hiburan, tetapi menegaskan batas: jangan sampai hiburan menghapus rasa hormat terhadap nilai kesucian diri.

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, orang yang membanggakan dosanya di depan umum termasuk dalam kategori mujahirin yang diancam tidak mendapat ampunan Allah. Pesan ini relevan untuk era media sosial—di mana dosa bisa di-“upload”, dan aib bisa dijadikan content challenge.

Alih-alih meniru tren yang merendahkan martabat, generasi muda justru perlu menumbuhkan tren yang menghidupkan nurani. Misalnya, konten edukatif tentang akhlak digital, kampanye menjaga privasi, atau ajakan berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

Karena pada akhirnya, medsos hanyalah alat. Yang membuatnya mulia atau tercela adalah niat dan nilai di balik penggunaannya.

Baca Juga: Spirit Fastabiqul Khairat dan Teologi Al-Ma’un dalam Ikhtiar Memajukan Kesejahteraan Bangsa

Fenomena S-Line mungkin akan berlalu, seperti tren viral lainnya. Tapi persoalan yang ia cerminkan akan tetap relevan: ke mana arah moral generasi digital kita?

Garis merah dalam drama mungkin fiksi. Tapi ada garis lain yang lebih nyata: garis antara malu dan bangga, antara iman dan sensasi. Garis itu tidak tampak di atas kepala, tapi ada di dalam hati menjadi pembeda antara mereka yang menjaga marwah dan mereka yang kehilangan arah.

Mari kita jaga garis itu tetap terang. Sebab di tengah derasnya arus dunia digital, malu bukan tanda keterbelakangan, tapi benteng terakhir kemanusiaan.

“Jangan biarkan algoritma menuntun nurani kita. Sebab, imanlah yang seharusnya menjadi filter pertama sebelum jari menekan tombol upload.” (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)