Spirit Fastabiqul Khairat dan Teologi Al-Ma’un dalam Ikhtiar Memajukan Kesejahteraan Bangsa

Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan Selasa 04 Nov 2025, 16:46 WIB
Ilustrasi santri di Indonesia. (Sumber: Unsplash/Muh Makhlad)

Ilustrasi santri di Indonesia. (Sumber: Unsplash/Muh Makhlad)

Di tengah gegap gempita pembangunan mulai jalan tol hingga gedung pencakar langit masih tersisa pertanyaan mendasar yang terus menggema: Apakah kemajuan bangsa ini hanya soal infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, atau juga tentang kualitas hidup manusia?

Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah menjawab pertanyaan itu dengan cara yang tak sekadar retorik, melainkan praksis. Melalui amal usaha pendidikan, kesehatan, dan sosial yang tersebar di seluruh Nusantara, Muhammadiyah menegaskan satu hal penting: kesejahteraan sejati berakar pada kebaikan yang terorganisir, berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) dan teruji oleh pelayanan nyata kepada sesama, sebagaimana diilhami oleh teologi Al-Ma’un.

Milad ke-113 Muhammadiyah bukan sekadar peringatan usia organisasi. Ia adalah cermin perjalanan spiritual dan sosial, sebuah momentum reflektif untuk menegaskan arah perjuangan: bahwa memajukan kesejahteraan bangsa tak berhenti pada peningkatan pendapatan per kapita, melainkan pada peningkatan martabat manusia yang cerdas, sehat, dan berkeadilan.

Istilah Qur’ani fastabiqul khairat (berlomba-lombalah dalam kebaikan) bukan sekadar anjuran moral, melainkan etika produktif. Muhammadiyah mengartikulasikannya sebagai etos kolektif kemajuan: berlomba bukan untuk menonjolkan diri, tetapi untuk memproduksi maslahat sebesar-besarnya bagi umat dan bangsa.

Etos ini tercermin nyata dalam ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang tersebar di seluruh Indonesia. Hingga tahun 2025, Muhammadiyah mengelola sekitar 20.000 lembaga pendidikan, dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah dan pesantren. Di tingkat perguruan tinggi, terdapat 170 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA) yang menaungi lebih dari 600 ribu mahasiswa, sebuah angka yang menempatkan Muhammadiyah sebagai penyelenggara pendidikan swasta terbesar di Indonesia.

Dalam bidang kesehatan, Muhammadiyah juga menjadi pelopor layanan sosial yang berkeadilan. Dengan lebih dari 120 rumah sakit dan 200 klinik kesehatan, jutaan pasien dari berbagai latar belakang dilayani setiap tahun tanpa diskriminasi. Di banyak daerah, rumah sakit Muhammadiyah bahkan menjadi satu-satunya fasilitas kesehatan yang mampu diakses masyarakat kelas bawah.

Etos fastabiqul khairat inilah yang mendorong lahirnya inovasi dalam sistem pendidikan Muhammadiyah. Diawali inovasi pengembangan kurikulum berbasis nilai, pembelajaran proyek sosial (project-based learning), hingga program deep learning yang kini menjadi arah baru pendidikan nasional. Di banyak kampus dan sekolah Muhammadiyah, siswa tidak hanya diajarkan rumus, tetapi diajak memahami makna dan manfaat ilmu bagi kehidupan masyarakat.

Jika fastabiqul khairat menggerakkan semangat kompetisi dalam kebaikan, maka teologi Al-Ma’un memberi arah moral bagi tujuan kebaikan itu. Surat Al-Ma’un, yang menjadi inspirasi pendirian Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan, menegaskan bahwa ibadah sejati tak berhenti di sajadah, melainkan berlanjut pada kepedulian sosial yang konkret: menolong yatim, memberi makan fakir, dan menolak kesewenang-wenangan sosial.

Bagi Muhammadiyah, Al-Ma’un bukan sekadar teks suci yang dibaca dalam doa, tetapi doktrin aksi yang harus diwujudkan dalam praksis sosial. Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi laboratorium etika dan kemanusiaan. Rumah sakit bukan hanya institusi medis, tetapi wadah ibadah sosial yang menyehatkan tubuh dan martabat.

Inilah yang membedakan teologi Al-Ma’un dari teori kesejahteraan modern: ia tak berhenti pada redistribusi ekonomi, tetapi menuntut transformasi nilai dan karakter. Ia mengajarkan bahwa memberi bukanlah kewajiban administratif, melainkan ekspresi iman yang nyata.

Jika fastabiqul khairat adalah daya dorong untuk maju, maka Al-Ma’un adalah kompas moral yang memastikan kemajuan itu tetap berpihak pada yang lemah. Keduanya menjadi dua sayap yang membuat Muhammadiyah terbang tinggi dalam menggerakkan kesejahteraan bangsa.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)

Kesejahteraan, menurut pandangan ini, bukan hanya soal siapa yang unggul, melainkan siapa yang menolong lebih banyak. Dalam konteks ini, pendidikan yang memberdayakan bukanlah pendidikan yang sekadar meluluskan, tetapi pendidikan yang membentuk kemampuan intelektual dan kepedulian moral. Lulusan yang unggul adalah mereka yang berkontribusi pada keadilan sosial, bukan sekadar sukses individual.

Etika ganda ini, unggul dan peduli telah menjelma menjadi DNA gerakan Muhammadiyah. Tak heran jika jejaring sosialnya kini menjangkau hingga pelosok negeri: 35 Pimpinan Wilayah,475 Pimpinan Daerah, 3.900 Pimpinan Cabang, dan lebih dari 14.000 Pimpinan Ranting. Struktur ini bukan hanya menunjukkan organisasi yang kuat, tetapi ekosistem kebajikan yang bekerja secara sistematis dan berkelanjutan.

Namun di tengah capaian besar itu, tantangan tetap mengintai. Kesenjangan mutu pendidikan masih terasa. Data menunjukkan bahwa literasi dan numerasi siswa Indonesia masih di bawah rata-rata OECD. Banyak sekolah di daerah tertinggal kekurangan guru, fasilitas, dan dana operasional yang memadai.

Risiko lain adalah semangat kompetisi yang salah arah. Jika fastabiqul khairat dipahami sempit sebagai “siapa lebih besar dan populer,” maka ia bisa menjelma menjadi ego kolektif yang justru menjauh dari makna sejatinya.

Untuk itu, diperlukan strategi pembaruan gerakan. Pertama, Mengintegrasikan model pendidikan “ilmu–iman–amal” dengan pendekatan deep learning, agar siswa memahami, menghayati, dan mengamalkan ilmu. Kedua, Memperkuat pelatihan guru dan tenaga kesehatan, bukan hanya secara teknis, tetapi juga moral dan spiritual. Ketiga, Mendorong kolaborasi lintas sektor baik pemerintah, ormas, dan dunia usaha untuk mempercepat pemecahan masalah struktural seperti kemiskinan, kesehatan ibu-anak, dan literasi digital. Keempat, Membangun pembiayaan sosial produktif, seperti wakaf produktif dan zakat berbasis pemberdayaan, agar kesejahteraan sosial berkelanjutan. Kelima, Menerapkan sistem evaluasi berbasis hasil (learning outcomes dan dampak sosial), bukan sekadar kepatuhan administratif.

Baca Juga: Beragama di Era AI

Selama lebih dari satu abad, fastabiqul khairat dan teologi Al-Ma’un bukan hanya menjadi jargon spiritual, melainkan peta jalan peradaban. Teologi yang mengajarkan bahwa kemajuan bangsa tidak lahir dari ambisi yang membesar-besarkan diri, tetapi dari kebajikan yang menyejahterakan sesama.

Dari tangan-tangan guru yang sabar di pelosok sekolah Muhammadiyah, dari dokter dan perawat yang melayani tanpa pamrih di rumah sakit, dari relawan MDMC yang hadir di tengah bencana, kita menyaksikan bagaimana iman bekerja dalam bentuk paling nyata.

Kesejahteraan bangsa, dengan demikian, adalah buah dari iman yang bekerja, ilmu yang berdaya, dan amal yang berkelanjutan. Di usia ke-113, Muhammadiyah tidak hanya merayakan sejarah panjang, tetapi juga mengajak bangsa ini untuk menatap masa depan dengan semangat yang sama: Berlomba dalam kebaikan yang cerdas dan tuntas, berkeadilan, dan memuliakan kemanusiaan.

Karena hanya kebaikan yang memberdayakan bukan yang memarjinalkan yang akan menuntun Indonesia menuju kesejahteraan sejati: adil, makmur, dan beradab. Wallohu A’lam. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yudaningsih
Tentang Yudaningsih
Yudaningsih, akademisi Tel-U & aktivis keterbukaan informasi, Tenaga Ahli KI Jabar, eks Komisioner KPU Bandung & KI Jabar, kini S3 SAA UIN SGD.

Berita Terkait

Filsafat Seni Islam

Ayo Netizen 18 Sep 2025, 20:01 WIB
Filsafat Seni Islam

News Update

Beranda 07 Feb 2026, 14:22 WIB

Bukan di Studio Mahal: Pengantin dan Wisudawan Pilih Jalan ABC buat Pamer Cinta dan Gelar

Di Jalan ABC, gaun putih dan toga hitam bukan sekadar pakaian. Keduanya menjadi simbol momen ketika waktu sempat berhenti sejenak.
Pasangan yang akan menikah melakukan sesi foto prewedding di Jalan ABC, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 07 Feb 2026, 12:14 WIB

Potret Pocong QRIS, Potret Kreativitas Jalanan di Tengah Sulitnya Lapangan Kerja

Bagi Toni dan rekan-rekannya sesama pekerja “hantu-hantuan”, yang terpenting adalah ada hasil yang bisa dibawa pulang.
Cosplayer pocong di Lembang memanfaatkan QRIS untuk menerima uang dari warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Jelajah 06 Feb 2026, 21:11 WIB

Polemik Tambang Galian C, Gerus Perbukitan Bandung Setiap Tahun

Walhi mencatat 15–20 hektare perbukitan hilang tiap tahun di Kabupaten Bandung akibat tambang. Kawasan imbuhan air ikut tergerus.
Ilustrasi tambang galian c. (Sumber: Ayobandung)
Bandung 06 Feb 2026, 19:52 WIB

Rahasia Pondok Pesantren di Ciwidey Menjadi Penyelamat Pasokan Pangan Jawa Barat Saat Beban Ekonomi Semakin Berat

Fokus pada sektor domestik, terutama ketahanan pangan, kini menjadi prioritas utama agar guncangan ekonomi dunia tidak langsung memukul daya beli masyarakat di tingkat akar rumput.
Al-Ittifaq bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan telah bertransformasi menjadi "pusat saraf" distribusi pangan yang mampu menggerakkan ekonomi desa secara profesional. (Sumber: instagram.com/alittifaq.coop)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 18:05 WIB

Bahasa Iklan Ramadan: Antara Religiusitas dan Strategi Komersial

Dalam dunia pemasaran, Ramadan adalah musim puncak.
Ilustrasi simbol-simbol Ramadan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Tarazevich)
Bandung 06 Feb 2026, 17:14 WIB

Salon Jadi Galeri, Bentuk Eksperimen Estetika Baru di Bandung ala Grey Hair and Nail Artistry

Grey Hair and Nail Artistry hadir mendobrak sekat kaku antara ruang pameran dan ruang perawatan kecantikan, menciptakan sebuah harmoni visual yang belum pernah ada sebelumnya.
Grey Hair and Nail Artistry hadir mendobrak sekat kaku antara ruang pameran dan ruang perawatan kecantikan, menciptakan sebuah harmoni visual yang belum pernah ada sebelumnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 15:06 WIB

Enak dan Asyik, Munggahan di Sop Kambing 999 Pak Kumis Pasar Segar TKI

Soal harga, Sop Kambing 999 Pak Kumis Pasar Segar Taman Kopo Indah ini bersaing dengan warung sop kambing lainnya.
Soal harga, Sop Kambing 999 Pak Kumis Pasar Segar Taman Kopo Indah ini bersaing dengan warung sop kambing lainnya. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 06 Feb 2026, 14:51 WIB

AI Menjanjikan Kemudahan dan Kecepatan, Tapi Siapa yang Menanggung Risikonya?

Isu AI kerap hanya dijadikan alat untuk memperkuat pujian terhadap kecanggihan teknologi, tanpa membuka ruang kritik yang konstruktif.
Ilustrasi penggunaan mesin AI dalam pekerjaan. (Sumber: Berke Citak on Unsplash)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 14:21 WIB

Tasbih Digital sebagai Sarana Zikir di Tengah Perkembangan Teknologi

Tasbih digital menjadi bukti nyata bagaimana Islam mampu menyesusikan dirinya dengan setiap medan perkembangan zaman yang deras ini
Ilustrasi tasbih yang belum digital. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)
Ayo Jelajah 06 Feb 2026, 13:48 WIB

Jejak Tentara Bayaran Rusia dari Indonesia, Kisah Para Desertir di Bawah Komando Kremlin

Perang ribuan kilometer dari Indonesia tetap menarik warga Indonesia. Dua desertir ini memperlihatkan sisi gelap konflik global dan tekanan hidup personal.
Muhammad Rio (tengah), mantan polisi Indonesia yang menjadi tentara bayaran di Rusia berfoto bersama kesatuannya.
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 13:12 WIB

Hayu Opsih

Tradisi kampung yang terkadang dianggap sederhana, kolot, justru syarat makna yang terdalam.
Tradisi bersih-bersih di Desa Cijambu, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) jelang Ramadan. (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 11:35 WIB

Tanda-Tanda Ramadan dan Berkah di Bulan Suci

Berikut beberapa “rasa” yang saya alami yang menunjukkan semakin dekatnya Ramadan.
Alquran dan kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Masjid Pogung Dalangan)
Ayo Netizen 06 Feb 2026, 08:16 WIB

Bila Munggahan di Bandung: Alhamdulillah Bisa Botram Khidmat di Kebon Binatang

Dalam tradisi Sunda, munggahan memang bukan sekadar makan bersama.
Warga memanfaatkan ruang terbuka hijau di Kebun Binatang Bandung untuk bersantai dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Farisi)
Beranda 06 Feb 2026, 07:26 WIB

Kisah Alun-alun Cicendo yang Masih Ramai oleh Harapan tapi Minim Perhatian

Ruang publik ini berada di persimpangan antara tujuan awal sebagai ruang bersama warga dan realitas pengelolaan yang belum konsisten.
Anak-anak bermain di Alun-alun Cicendo yang kondisinya memprihatinkan karena tidak dirawat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 05 Feb 2026, 21:08 WIB

Jawa Barat Kerahkan Strategi Demi Amankan Stok Pangan dan Stabilitas Harga Jelang Ramadan dan Idulfitri 2026

Menghadapi siklus tahunan lonjakan konsumsi menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, Jawa Barat mulai memperketat pengawasan di sektor riil guna memastikan stabilitas harga di tingkat konsumen.
Menghadapi siklus tahunan lonjakan konsumsi menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, Jawa Barat mulai memperketat pengawasan di sektor riil guna memastikan stabilitas harga di tingkat konsumen. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Bandung 05 Feb 2026, 19:29 WIB

Grey Cube, Nafas Baru di Dago dan Ambisi Memperkuat Jantung Seni Rupa Bandung

Kehadiran Grey Cube menandai babak baru dalam cara masyarakat khususnya Bandung mengapresiasi karya seni kontemporer.
Kehadiran Grey Cube menandai babak baru dalam cara masyarakat khususnya Bandung mengapresiasi karya seni kontemporer. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Jelajah 05 Feb 2026, 18:20 WIB

Sejarah Peristiwa Cimareme 1919, Perlawanan Petani Garut yang Dipicu Krisis Pangan

Krisis pangan Hindia Belanda mengubah kebijakan wajib jual padi menjadi kekerasan. Cimareme 1919 mencatat bagaimana sawah berubah menjadi medan perang.
Wilayah Cimareme Garut tempo dulu (repro dari buku Haji Hasan Arif Riwayat Hidup dan Perjuangannya) (Sumber: NU Online)
Ayo Netizen 05 Feb 2026, 17:25 WIB

10 Netizen Terpilih Januari 2026: Resolusi untuk Bandung 2026

Sepuluh penulis terbaik yang berhasil menorehkan karya-karya berkualitas di kanal Ayo Netizen sepanjang Januari 2026.
Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: uji kanggo gumilang)
Bandung 05 Feb 2026, 17:04 WIB

AyoBandung Gelar Workhsop Pembuatan Konten Media Sosial untuk Umum, Pemula hingga Pelaku UMKM Merapat!

AyoBizz melalui kanal utama AyoBandung.id membuka pendaftaran workshop pembuatan konten media sosial berbasiskan artificial intelligence (AI) bagi pemula, pelaku UMKM, pegiat media sosial, dan lainnya
AyoBizz melalui kanal utama AyoBandung.id membuka pendaftaran workshop pembuatan konten media sosial berbasiskan artificial intelligence (AI) bagi pemula, pelaku UMKM, pegiat media sosial, dan lainnya.
Bandung 05 Feb 2026, 16:49 WIB

Surabi Mang Encu: Jajanan Jadul, Bertahan di Malam Kosambi yang Kian Sepi

Surabi Mang Encu menciptakan momentum dagangnya sejak senja muncul, hingga hampir tengah malam waktu setempat.
Surabi Mang Encu menciptakan momentum dagangnya sejak senja muncul, hingga hampir tengah malam waktu setempat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)