Spirit Fastabiqul Khairat dan Teologi Al-Ma’un dalam Ikhtiar Memajukan Kesejahteraan Bangsa

5 menit baca
Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan
Ilustrasi santri di Indonesia. (Sumber: Unsplash/Muh Makhlad)
Ilustrasi santri di Indonesia. (Sumber: Unsplash/Muh Makhlad)

Di tengah gegap gempita pembangunan mulai jalan tol hingga gedung pencakar langit masih tersisa pertanyaan mendasar yang terus menggema: Apakah kemajuan bangsa ini hanya soal infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, atau juga tentang kualitas hidup manusia?

Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah menjawab pertanyaan itu dengan cara yang tak sekadar retorik, melainkan praksis. Melalui amal usaha pendidikan, kesehatan, dan sosial yang tersebar di seluruh Nusantara, Muhammadiyah menegaskan satu hal penting: kesejahteraan sejati berakar pada kebaikan yang terorganisir, berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) dan teruji oleh pelayanan nyata kepada sesama, sebagaimana diilhami oleh teologi Al-Ma’un.

Milad ke-113 Muhammadiyah bukan sekadar peringatan usia organisasi. Ia adalah cermin perjalanan spiritual dan sosial, sebuah momentum reflektif untuk menegaskan arah perjuangan: bahwa memajukan kesejahteraan bangsa tak berhenti pada peningkatan pendapatan per kapita, melainkan pada peningkatan martabat manusia yang cerdas, sehat, dan berkeadilan.

Istilah Qur’ani fastabiqul khairat (berlomba-lombalah dalam kebaikan) bukan sekadar anjuran moral, melainkan etika produktif. Muhammadiyah mengartikulasikannya sebagai etos kolektif kemajuan: berlomba bukan untuk menonjolkan diri, tetapi untuk memproduksi maslahat sebesar-besarnya bagi umat dan bangsa.

Etos ini tercermin nyata dalam ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang tersebar di seluruh Indonesia. Hingga tahun 2025, Muhammadiyah mengelola sekitar 20.000 lembaga pendidikan, dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah dan pesantren. Di tingkat perguruan tinggi, terdapat 170 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA) yang menaungi lebih dari 600 ribu mahasiswa, sebuah angka yang menempatkan Muhammadiyah sebagai penyelenggara pendidikan swasta terbesar di Indonesia.

Dalam bidang kesehatan, Muhammadiyah juga menjadi pelopor layanan sosial yang berkeadilan. Dengan lebih dari 120 rumah sakit dan 200 klinik kesehatan, jutaan pasien dari berbagai latar belakang dilayani setiap tahun tanpa diskriminasi. Di banyak daerah, rumah sakit Muhammadiyah bahkan menjadi satu-satunya fasilitas kesehatan yang mampu diakses masyarakat kelas bawah.

Etos fastabiqul khairat inilah yang mendorong lahirnya inovasi dalam sistem pendidikan Muhammadiyah. Diawali inovasi pengembangan kurikulum berbasis nilai, pembelajaran proyek sosial (project-based learning), hingga program deep learning yang kini menjadi arah baru pendidikan nasional. Di banyak kampus dan sekolah Muhammadiyah, siswa tidak hanya diajarkan rumus, tetapi diajak memahami makna dan manfaat ilmu bagi kehidupan masyarakat.

Jika fastabiqul khairat menggerakkan semangat kompetisi dalam kebaikan, maka teologi Al-Ma’un memberi arah moral bagi tujuan kebaikan itu. Surat Al-Ma’un, yang menjadi inspirasi pendirian Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan, menegaskan bahwa ibadah sejati tak berhenti di sajadah, melainkan berlanjut pada kepedulian sosial yang konkret: menolong yatim, memberi makan fakir, dan menolak kesewenang-wenangan sosial.

Bagi Muhammadiyah, Al-Ma’un bukan sekadar teks suci yang dibaca dalam doa, tetapi doktrin aksi yang harus diwujudkan dalam praksis sosial. Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi laboratorium etika dan kemanusiaan. Rumah sakit bukan hanya institusi medis, tetapi wadah ibadah sosial yang menyehatkan tubuh dan martabat.

Inilah yang membedakan teologi Al-Ma’un dari teori kesejahteraan modern: ia tak berhenti pada redistribusi ekonomi, tetapi menuntut transformasi nilai dan karakter. Ia mengajarkan bahwa memberi bukanlah kewajiban administratif, melainkan ekspresi iman yang nyata.

Jika fastabiqul khairat adalah daya dorong untuk maju, maka Al-Ma’un adalah kompas moral yang memastikan kemajuan itu tetap berpihak pada yang lemah. Keduanya menjadi dua sayap yang membuat Muhammadiyah terbang tinggi dalam menggerakkan kesejahteraan bangsa.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)

Kesejahteraan, menurut pandangan ini, bukan hanya soal siapa yang unggul, melainkan siapa yang menolong lebih banyak. Dalam konteks ini, pendidikan yang memberdayakan bukanlah pendidikan yang sekadar meluluskan, tetapi pendidikan yang membentuk kemampuan intelektual dan kepedulian moral. Lulusan yang unggul adalah mereka yang berkontribusi pada keadilan sosial, bukan sekadar sukses individual.

Etika ganda ini, unggul dan peduli telah menjelma menjadi DNA gerakan Muhammadiyah. Tak heran jika jejaring sosialnya kini menjangkau hingga pelosok negeri: 35 Pimpinan Wilayah,475 Pimpinan Daerah, 3.900 Pimpinan Cabang, dan lebih dari 14.000 Pimpinan Ranting. Struktur ini bukan hanya menunjukkan organisasi yang kuat, tetapi ekosistem kebajikan yang bekerja secara sistematis dan berkelanjutan.

Namun di tengah capaian besar itu, tantangan tetap mengintai. Kesenjangan mutu pendidikan masih terasa. Data menunjukkan bahwa literasi dan numerasi siswa Indonesia masih di bawah rata-rata OECD. Banyak sekolah di daerah tertinggal kekurangan guru, fasilitas, dan dana operasional yang memadai.

Risiko lain adalah semangat kompetisi yang salah arah. Jika fastabiqul khairat dipahami sempit sebagai “siapa lebih besar dan populer,” maka ia bisa menjelma menjadi ego kolektif yang justru menjauh dari makna sejatinya.

Untuk itu, diperlukan strategi pembaruan gerakan. Pertama, Mengintegrasikan model pendidikan “ilmu–iman–amal” dengan pendekatan deep learning, agar siswa memahami, menghayati, dan mengamalkan ilmu. Kedua, Memperkuat pelatihan guru dan tenaga kesehatan, bukan hanya secara teknis, tetapi juga moral dan spiritual. Ketiga, Mendorong kolaborasi lintas sektor baik pemerintah, ormas, dan dunia usaha untuk mempercepat pemecahan masalah struktural seperti kemiskinan, kesehatan ibu-anak, dan literasi digital. Keempat, Membangun pembiayaan sosial produktif, seperti wakaf produktif dan zakat berbasis pemberdayaan, agar kesejahteraan sosial berkelanjutan. Kelima, Menerapkan sistem evaluasi berbasis hasil (learning outcomes dan dampak sosial), bukan sekadar kepatuhan administratif.

Baca Juga: Beragama di Era AI

Selama lebih dari satu abad, fastabiqul khairat dan teologi Al-Ma’un bukan hanya menjadi jargon spiritual, melainkan peta jalan peradaban. Teologi yang mengajarkan bahwa kemajuan bangsa tidak lahir dari ambisi yang membesar-besarkan diri, tetapi dari kebajikan yang menyejahterakan sesama.

Dari tangan-tangan guru yang sabar di pelosok sekolah Muhammadiyah, dari dokter dan perawat yang melayani tanpa pamrih di rumah sakit, dari relawan MDMC yang hadir di tengah bencana, kita menyaksikan bagaimana iman bekerja dalam bentuk paling nyata.

Kesejahteraan bangsa, dengan demikian, adalah buah dari iman yang bekerja, ilmu yang berdaya, dan amal yang berkelanjutan. Di usia ke-113, Muhammadiyah tidak hanya merayakan sejarah panjang, tetapi juga mengajak bangsa ini untuk menatap masa depan dengan semangat yang sama: Berlomba dalam kebaikan yang cerdas dan tuntas, berkeadilan, dan memuliakan kemanusiaan.

Karena hanya kebaikan yang memberdayakan bukan yang memarjinalkan yang akan menuntun Indonesia menuju kesejahteraan sejati: adil, makmur, dan beradab. Wallohu A’lam. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yudaningsih
Tentang Yudaningsih
Yudaningsih, akademisi Tel-U & aktivis keterbukaan informasi publik, eks Tenaga Ahli KI Jabar, eks Komisioner KPU Bandung & KI Jabar, kini S3 SAA UIN SGD.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)