Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Dari Iseng Jadi Healing, Memukan Bahagia di Setiap Langkah Berlari

Saninatun nazwa
Ditulis oleh Saninatun nazwa diterbitkan Selasa 04 Nov 2025, 07:56 WIB
Zulfi saat berlari (Foto: Dokumentasi pribadi)

Zulfi saat berlari (Foto: Dokumentasi pribadi)

Bagi sebagian orang, lari mungkin cuma olahraga biasa. Tapi bagi Zulfi, setiap langkahnya adalah perjalanan untuk mengenal diri sendiri, setiap orang punya caranya sendiri untuk menenangkan diri.

Bagi Zulfi, jawabannya sederhana yaitu lari. Ia tidak memulainya dengan niat besar atau ambisi tinggi hanya ikut-ikutan teman. Tapi dari langkah kecil itulah, kebiasaan yang dulu terasa ringan kini menjadi bagian penting dari hidupnya.

Akhir-akhir ini aku suka lebih sering lari olahraga. Sebenarnya ini sudah menjadi habit aku sejak 2020. Awalnya aku ikut teman ikut komunitas, aku belum tahu esensi lari apa. Cuma selama jadi kebiasaan setelah menjadi habit aku, aku tahu jadi manfaat lari bisa menghilangkan stres, bisa menambah relasi, dan segala macam banyak manfaatnya. Dari situ akusampai saat ini konsisten lari setiap hari,” ujarnya Zulfiansyah pada saat diwawancarai pada Sabtu (01/11/2025).

Dari cerita itu, terlihat bahwa lari bagi Zulfi bukan cuma soal olahraga fisik, tapi sudah berubah menjadi kebiasaan melakukan aktivitas yang positif. Ia menemukan ketenangan di setiap langkah kakinya dan mendapatkan pertemanan.

Perjalanan Zulfi dengan dunia lari dimulai dari hal sederhana, dari rasa penasaran dan sedikit rasa ingin menantang diri. Ia masih ingat jelas saat pertama kali ikut lari di daerah Joglo. Waktu itu, ia bahkan tak menyangka bisa bertahan melakukan aktivitas larinya sampai sekarang.

Awalnya aku cuma bisa beberapa keliling saja, dan aku ikut tes. Setelah ikut tes, ternyata nilai lari aku itu kecil dan masih lambat. Aku memiliki tekad untuk menargetkan diri aku supaya lari aku bisa jauh dan cepat, daya tahan yang lebih kuat. Oleh karena itu aku bikin target untuk versi latihan aku apa saja setiap harinya, dan aku setiap hari konsisten dan mempunyai target hari ini harus berapa km. Aku terbiasa dan sekarang aku merasa ada peningkatan di setiap harinya,” ungkap Zulfi.

Dari sana, muncul semangat baru dalam dirinya. Ia belajar bahwa proses kecil yang diulang setiap hari bisa menghasilkan perubahan besar. Bagi Zulfi, kemajuan tidak datang tiba-tiba,  tapi lahir dari ketekunan dan rasa ingin berkembang. Menariknya, Zulfi mengaku dirinya dulu bukan tipe anak yang suka olahraga.

Jujur aku dari SD belum benar-benar suka olahraga. Setelah ke sini ke sini, aku mulai iseng saja, aku gak expect sampai detik ini aku masih suka lari. Jadi kayak mungkin sudah terbiasa dan juga aku jadi suka, dan sampai saat ini aku keterusan,” ujar Zulfi.

Baginya, rasa suka terhadap lari datang pelan-pelan. Awalnya hanya karena penasaran, lalu berubah jadi kebiasaan, hingga akhirnya menjadi sesuatu yang ia butuhkan.

Setiap sore, lapangan Siliwangi menjadi tempat favorit Zulfi untuk berlari.

Untuk saat ini aku lari paling favorit di Siliwangi, biasanya aku di lapangan Siliwangi. Dan waktu jam olahraganya itu di jam 4 sampai jam 6 sore. Jadi kalau aku bosan paling keliling Bandung tapi tetap startnya dari lapangan Siliwangi Bandung,” kata Zulfi.

Bagi Zulfi, lapangan Siliwangi bukan sekadar lintasan, tapi tempat yang penuh ketenangan. Di sanalah ia menantang dirinya, sekaligus menemukan banyak wajah baru. Ia mengatakan, hal yang membuatnya semakin cinta pada dunia lari adalah suasana dan kebersamaan bersama teman.

“Yang paling aku suka itu di lari itu yang bikin aku seru, asyik itu banyak teman, banyak komunitas dari kalangan umur. Aku bisa kenal banyak relasi, dan aku lebih suka lari bareng teman-teman. Aku merasa kalau bareng-bareng itu larinya jadinya gak kerasa, dan kalau misalnya dia kencang jadi bagi aku tertarik untuk ikut kencang juga, jadi termotivasi,” ungkap Zulfi. 

Zulfi menilai, lari bersama teman tidak hanya membuat tubuh lebih kuat, tapi juga Ada energi positif yang muncul setiap kali ia berlari beriringan dengan orang lain.

Di saat sebagian orang memilih nongkrong di kafe atau liburan singkat untuk melepas stres, Zulfi punya cara yang berbeda.

Lari baginya adalah ruang pribadi, tempat di mana ia bisa jujur dengan dirinya sendiri. Musik di telinga, udara Bandung yang sejuk, dan langkah kaki yang semuanya berpadu menjadi meditasi alami.

Menurut aku, di sisi lain kadang aku ngerasa kalau lagi burn out, lagi bosan, aku gak ada kegiatan, lagi ingin dengar musik tapi sambil lari, dan aku jadikan healing nya itu lari. Aku jadikan lari itu sebagai pengobatan diri aku sendiri,” ungkap Zulfi.

Ia bahkan merasakan langsung bagaimana lari memengaruhi kebahagiaan dan hormon endorfin dalam tubuhnya.

Aku rasa yang tadi aku bilang, aku kalau lagi bosen, burnout, atau aku lagi stres, aku pasti lari karena bisa sambil mendengarkan musik saat lari, sambil keliling Bandung. Itu sudah suatu kebahagiaan yang tidak tertara, apalagi cuaca di Bandung mendukung. Aku merasa hormon endorfin aku naik dan aku bahagia, jadi aku sering lari karena banyak hal positifnya di lari ini,” ungkap Zulfi.

Seiring waktu, kebiasaan berlari membuat hidup Zulfi lebih teratur. Ia kini lebih memperhatikan waktu istirahat, pola makan, dan kedisiplinan. 

Ini ngaruh banget sih, karena sebagai pelari, jujur walaupun berantakan tidurnya tapi itu benar-benar ngaruh banget sama lari. Bangunnya pun harus pagi-pagi, jangan siang. Dan kalau misalnya aku ingin lari pagi dan event biasanya jam 5 sudah kumpul, jadi kan tidur jadi harus lebih cepat otomatis itu sudah kebentuk lagi habit tidurnya. Dan itu pola makan juga aku orangnya mentingin banget asupan. Aku biasa makan makanan yang protein, dan kalau misalnya tidurnya berantakan, makanannya berantakan, benar-benar ngaruh banget sih. Jadi larinya yang biasanya 10 km kuat tapi ini baru 5 km saja sudah enggak kuat karena pola tidur atau pola makannya yang gak teratur,” ungkap zulfi.

Rutinitas ini membuatnya lebih disiplin dan teratur. Bahkan ketika harus menyesuaikan jadwal dengan kegiatan lain, Zulfi selalu mencari cara agar tetap bisa berlari.

Cara aku ngimbangin gampang sih sebenarnya. Aku lihat H-1 aku sudah punya schedule, aku mau apa saja sudah ada plan dari H-1. Kalau misalnya ada acara begitu atau apa pas di jam biasanya aku lari, aku pasti pindahin larinya jadi di jam pagi, sisanya setelah itu aktivitas seperti biasa. Pokoknya pasti aku sempetin lari setiap hari,” jelas Zulfi.

Konsistensi adalah kunci yang membuat Zulfi tetap bisa menyeimbangkan antara kesibukan dan rutinitasnya. Lari bukan hal yang ia lakukan kalau sempat,  tapi sesuatu yang harus disempatkan. Meski awalnya hanya ikut-ikutan teman, kini Zulfi sering mengikuti event lari di bandung.

Aku sering ikut event, hampir setiap bulan selalu ikut. Kebetulan aku juga diajak teman, tapi kadang dengan inisiatif sendiri aku ikut. Kemarin aku ikut lari di Bandung diadakan di Demokrat, itu aku ikut jaraknya 5 km. Itu pun sendiri dan itu pun gak masalah aku sendiri, cuma lebih seru kalau ada teman,” ujar Zulfi.

Bagi mereka yang menganggap lari itu melelahkan, Zulfi punya pesan sendiri.

Mungkin kebanyakan mereka malas atau baru beberapa lari sedikit sudah capek. Intinya kalian jangan langsung mengejar target untuk lari jauh. Menurut aku, bikin habit-nya dulu. Misalkan kita dari jalan kaki saja setiap hari, nanti bakal lama-lama terbiasa dan enteng. Dan setiap harinya membuat target untuk terus naik-naik-naik sampai bisa terbiasa. Yang penting konsisten sih, dan menyesuaikan juga materi larinya. Buat teman-teman yang masih takut atau bingung untuk lari, better menurut aku mulai dulu dari jalan kaki dulu saja. Karena dulu aku awal-awal pasti jalan 10.000 langkah, lama-lama aku jadi terbiasa dan enak bisa lari,” ujar Zulfi.

Baginya, tidak penting seberapa cepat seseorang berlari, yang terpenting adalah keberanian untuk memulai. Karena langkah kecil hari ini bisa menjadi perubahan besar di masa depan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Saninatun nazwa
Seorang mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam, UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang aktif dan senang menulis berita, dan feature di media digital.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Mar 2026, 08:58

Kartu Lebaran dan Suasana Idulfitri di Bandung Era 1990-an

Menjelang Idulfitri pada dekade 1990-an, suasana Kota Bandung tidak hanya dipenuhi aroma kue Lebaran dan kesibukan orang bersiap mudik.

Kartu Lebaran versi ABG. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)