Berlari Menantang Batas: Egi dan Gita Buktikan Disabilitas Tak Halangi Prestasi

6 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Egi adalah penyandang disabilitas low vision netra, sebuah gangguan penglihatan permanen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Egi adalah penyandang disabilitas low vision netra, sebuah gangguan penglihatan permanen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

AYOBANDUNG.ID — Egi Prasetyo punya mimpi tinggi ketika merantau ke Kota Bandung. Ia ingin menepis stigma negatif terhadap penyandang disabilitas di dunia kerja. Lelaki 20 tahun itu yakin, olahraga bisa menjadi jalan untuk mengubah nasibnya menjadi lebih baik.

Pemuda asal Cilacap, Jawa Tengah itu pertama kali menapakan kaki di kota kembang pada 2024. Tujuan pertamanya di Bandung adalah Sentra Wyata Guna, tempat paling inklusif untuk mereka yang berkebutuhan khusus. 

Egi adalah penyandang disabilitas low vision netra, sebuah gangguan penglihatan permanen. Berbeda dengan tunanetra, Egi masih dapat melihat namun tidak terlalu jelas dalam jarak tertentu. Sebelum menjadi atlet, ia belajar teknik-teknik memijat. Pijakan pertama untuk mendapatkan uang agar bisa menyambung hidup.

Seiring waktu, Egi kerap mendengar cerita bahwa banyak atlet disabilitas yang berlatih di GOR Pajajaran yang lokasinya tepat di seberang Wyata Guna. Egi terpincut. Mulailah ia mencari tahu bagaimana menjadi seorang atlet. 

"Akhirnya saya, 'ih menarik juga ya', terus juga masih muda. Senang juga. Nah itulah akhirnya bisa banyak teman dan jadi atlet," kata dia belum lama ini, ditulis Kamis, 18 September 2025.

Pada awal tahun 2025, Egi mengikuti seleksi sebagai atlet cabang olahraga atletik untuk persiapan Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat yang berlangsung di Kabupaten Indramayu, pada tahun 2026 mendatang. Latihan yang dijalaninya cukup berat sebelum akhirnya lolos seleksi.

“Iya, pertama kali ini. Langsung lolos. Kemarin seleksinya. Nah, sekarang tinggal latihan," ujarnya.

Sebagai seorang lulusan SMK Tata Boga di Cilacap, ia memiliki keahlian memasak. Keahlian itu pernah menjadi sumber mata pencaharian. Tetapi Egi kerap mendapat perlakuan diskriminasi dari rekannya. Padahal, menurutnya, segala tugas telah dilakukan dengan baik. 

Egi Prasetyo tengah berlatih di arena lari di GOR Pajajaran, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Egi Prasetyo tengah berlatih di arena lari di GOR Pajajaran, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

"Sudah mencari pekerjaan ke mana-mana, ditolak. Karena disabilitas itu. Sampai ke Jakarta saya. Sempat bekerja di dunia hotel, saya mendaftar untuk menjadi karyawan itu. Sama dari pihak atasan itu, karena disabilitas itu, sudah diremehkan. Padahal saya sudah bekerja hampir ada setengah tahun. PKL juga di situ,” katanya lirih.

Hal inilah yang memicu keyakinannya bahwa nasib seseorang bisa berubah ketika memiliki tekad yang kuat. Bukan di dapur, bukan di kamar, tapi Egi memilih lewat lintasan lari untuk membuktikan jika dirinya mampu sukses.

"Saya mau buktikan sih, satu ya, membuktikan bahwa saya sebagai disabilitas itu, mampu, terus mempunyai harapan tinggi, bisa seperti orang yang non-disabilitas."

"Terus yang kedua, bisa membanggakan orang tua, dengan prestasi yang saya dapatkan di dunia olahraga. Terus, yang ketiga, harapan sih dari Kemenpora, atau dari pemerintah, lebih memperhatikan disabilitas, lebih baik lagi harapannya," ungkapnya penuh ambisius.

Dukungan Keluarga Jadi Tumpuan Semangat

Tidak seperti Egi yang baru memulai langkah di dunia atletik, perjalanan Gita Riana Tarigan (27) pun tak kalah inspiratif. Ia adalah seorang atlet penyandang disabilitas tunagrahita sekaligus ibu dari satu anak.

Gita menuturkan, kecintaannya pada olahraga sudah terasah sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kini, bersama Egi dan sejumlah atlet lainnya, ia berhasil lolos seleksi untuk mewakili Kota Bandung pada cabang lari sprint 100 dan 200 meter tahun depan.

Mulanya, ia mengaku kurang menyukai olahraga. Namun ketika masih duduk di bangku SD, banyak kegiatan olahraga hingga pada akhirnya jatuh cinta.

“Awalnya ikutan latihan-latihan saja, akhirnya ternyata ada organisasinya NPCI (National Paralympic Committee Indonesia) untuk penyandang disabilitas, jadi saya masuk ke sana gitu. Dari situ ikut latihan-latihan, ikut event akhirnya,” katanya.

Pada awal berdiri sejak 1962, NPCI mulanya bernama Yayasan Pembina Olahraga Cacat (YPOC). Organisasi ini berfungsi untuk melatih, mengoordinasikan, dan membentuk atlet disabilitas yang berkualitas. Mereka dipersiapkan untuk mengikuti berbagai kejuaraan, baik tingkat daerah hingga internasional.

Sampai sekarang, Gita tak pernah berpaling dari dunia lari. Ia menekuninya dengan penuh keikhlasan, jauh dari rasa pesimis. Baginya, kegagalan bukan akhir perjalanan, melainkan batu loncatan untuk meraih langkah berikutnya.

"Kalau kita belum berhasil berarti masih kurang latihannya. Jadi harus lebih ditambah lagi powernya. Apanya nih yang harus ditambah, apanya nih yang harus ditambah. Jadi kita cari-cari aja celah-celah buat, biar power kita tuh stabil," ujarnya.

Buah dari ketekunan itu akhirnya terbayar. Pada 2018, Gita berhasil membawa pulang medali emas setelah menjuarai ajang Praperda. Meski sudah pernah merasakan puncak prestasi, semangatnya tak berhenti di sana. Ia masih menatap target yang lebih tinggi.

Gita tak lupa berterima kasih atas dukungan keluarga. Terutama sang suami, yang selalu menjadi penopang utama dan mendukung sepenuhnya pilihan Gita menekuni dunia olahraga, tanpa terikat pada pandangan patriarki.

Selama puluhan tahun berkecimpung di dunia olahraga, ia menekankan pentingnya kesetaraan dalam perlakuan pemerintah terhadap atlet disabilitas dan non-disabilitas. Menurutnya, hal itu mencakup hal mendasar seperti bonus maupun tunjangan bulanan yang seharusnya tidak dibedakan. 

Ia mengakui, sejak 2018 perhatian pemerintah terhadap atlet disabilitas mulai meningkat, kondisi pun kini jauh lebih baik. Meski begitu, ia berharap kesetaraan tersebut terus dijaga, sebab baik atlet disabilitas maupun non-disabilitas sama-sama mengharumkan nama daerah dan negara.

"Ingin pemerintah tuh lebih memperhatikan lagi. Bukan kurang ya, tapi lebih jangan sampai dibanding-bandingkan atlet yang umum sama atlet disabilitas tuh kayak kadang-kadang dibandingin kayak dari bonus mungkin atau dari uang perbulannya," bebernya.

"Cuma sekarang dari 2018 tuh udah mulai care-lah sama anak disabilitas ternyata pemerintah itu. Sekarang sudah lebih enak lah pemerintah. Kita juga sama-sama membawa nama kota, atau membawa nama Indonesia, atau membawa nama Jawa Barat gitu kan. Jadi jangan sampai dibedain-bedain aja sih," lanjutnya berharap.

Targetkan Gelar Juara

Sementara itu Sekretaris Umum NPCI Kota Bandung, Djumono mengatakan, terdapat 200 atlet dan 100 pelatih yang lolos seleksi pada 2025 yang akan diturunkan dalam Peparda. Namun pada Desember nanti, akan ada seleksi kembali untuk mengevaluasi prestasi atlet selama pelatihan. Mereka yang lolos dalam seleksi tersebut akan masuk tim inti yang diberangkatkan ke Kabupaten Indramayu pada November 2026.

Dia menuturkan, kebanyakan atlet berasal dari Kota Bandung. Tetapi ada juga yang berasal dari luar daerah yang berhasil lolos seleksi. Mereka yang berasal dari luar daerah belum pernah bergabung di NPCI daerah masing-masing.

"Mereka ada yang sudah berpengalaman, ada juga yang baru. Selama memenuhi syarat, mereka bisa ikut seleksi dan menjadi bagian dari Pelatcab NPCI Kota Bandung," kata Djumono.

Ia mengungkapkan, dalam tiga periode terakhir, Kota Bandung absen menjadi juara umum. Padahal sejak 2002 hingga 2014, Kota Bandung selalu masuk sebagai juara.

Karena itu, terdapat wajah-wajah baru dengan prestasi gemilang yang akan memperkuat tim kontingen dari Bandung. Kendati demikian, atlet senior masih mendominasi. Menurut Djumono, setiap atlet yang memiliki peluang mencetak prestasi layak mendapatkan kesempatan bertanding atas nama Kota Bandung.

Dengan ini, targetnya menjadi juara umum. Ia optimistis gelar juara bakal diraih oleh kontingen Kota Bandung. Ini tak terlepas dari para atlet yang memiliki jam terbang cukup tinggi. 

"Kami ingin kembali merebut juara umum," ungkap Djumono dengan optimis.

Ia menyebutkan, sejumlah cabang olahraga menjadi andalan NPCI Kota Bandung, antara lain angkat berat, tenis meja, catur, renang, dan atletik. Cabang voli duduk pun pernah menorehkan prestasi.

Pada ajang Peparda 2022, tim voli duduk putri Kota Bandung berhasil keluar sebagai juara umum meski hanya dipertandingkan di tingkat grup. Namun, capaian itu dinilai belum cukup untuk menarik perhatian lebih dari pemerintah.

Menurutnya, sarana dan prasarana untuk mendukung atlet disabilitas masih terbatas. Karena itu, NPCI Kota Bandung berharap kebutuhan fasilitas latihan dapat segera dipenuhi oleh pemerintah kota.

"Alhamdulillah dukungan sudah cukup bagus, baik pembinaan, pengawasan, maupun bantuan anggaran. Tapi karena atlet memiliki (kekurangan) berbagai fasilitas disabilitas, kami masih membutuhkan sarana dan prasarana tambahan," ujar Djumono.

Ia menambahkan, peralatan khusus seperti kursi roda atletik yang harus diimpor serta perlengkapan lain belum sepenuhnya tersedia. Kondisi itu membuat Kota Bandung tertinggal dibanding daerah pesaing seperti Bekasi dan Bogor. 

"Itu membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah kota dan DPRD agar anggaran bisa mencukupi," sebutnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)