Hak Belajar Pelajar Disabilitas Terancam Proyek Sekolah Rakyat

6 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Pembongkaran gedung C SLBN A Pajajaran pada Jumat, 16 Mei 2025 sore. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Pembongkaran gedung C SLBN A Pajajaran pada Jumat, 16 Mei 2025 sore. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

AYOBANDUNG.ID - Ancaman nyata kembali menghampiri SLBN A Pajajaran, Kota Bandung. Para pelajar berkebutuhan khusus di sekolah ini kini dibayangi risiko kehilangan ruang belajar. Ironisnya, ancaman tersebut muncul akibat proyek pemerintah pusat.

Proyek itu bernama Sekolah Rakyat, sebuah program pendidikan yang diusung Presiden RI, Prabowo Subianto, dengan niat mulia untuk memfasilitasi pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Namun keberadaannya justru berpotensi meleburkan eksistensi SLBN.

Dua bangunan milik SLBN A Pajajaran yang terletak di kompleks Balai Wyata Guna, yakni gedung C dan D, dibongkar oleh Kementerian PUPR. Tujuannya: menyambut program Sekolah Rakyat. Ironisnya, pembongkaran ini dilakukan saat sekolah sedang melaksanakan ujian kenaikan kelas.

Akibatnya, pelaksanaan tes untuk menentukan kelulusan siswa pun terganggu. Wakil Ketua Komite SLBN A Pajajaran, Tri Bagio, mengatakan bahwa pembongkaran mulai dilakukan pada pekan ketiga Mei 2025. Ia bahkan pernah mengajukan permohonan agar waktu pengosongan diundur.

Namun, sesuai berita acara pengosongan gedung C dan D yang ditandatangani oleh Kepala Sentra Sri Harijati, mewakili Kementerian Sosial RI, pengosongan dijadwalkan pada 15 Mei 2025. Informasi ini pun menggemparkan warga sekolah.

“Kami konfirmasi lagi ke Kepala Balai untuk kedua kalinya. Tapi ternyata pengosongan tidak jadi diundur ke 23 Mei. Dari PUPR katanya akan segera membangun,” ujarnya kepada AyoBandung, Jumat, 16 Mei 2025.

Tri pun mempertanyakan kepastian lokasi kegiatan belajar mengajar (KBM) ke depan. Ia mengaku sempat ingin meminjam halaman masjid untuk dijadikan ruang kelas darurat, namun hingga kini belum ada kepastian.

Hak pelajar atas ruang belajar pun makin terkatung-katung. Berdasarkan data, SLBN A Pajajaran memiliki sekitar 111 siswa. Idealnya, sekolah ini membutuhkan 37 kelas. Namun saat ini, hanya tersedia 17 ruang kelas.

Situasi semakin memprihatinkan setelah gedung C dan D dibongkar. Di gedung C terdapat 8–9 ruangan, sementara gedung D memiliki 5 ruangan. Alih-alih menambah ruang belajar, sekolah malah kehilangan fasilitas yang ada. Bahkan, menurut Tri, bangunan baru hasil renovasi kelak tidak bisa digunakan untuk KBM siswa SLBN.

Ketidakjelasan ini membuat komite sekolah mendatangi DPRD untuk mengadu ke anggota Komisi E. Mereka berharap suara ini sampai ke Dinas Pendidikan. Akhirnya, komite bersama para orang tua memutuskan untuk memviralkan persoalan ini.

Kini, hanya satu gedung yang memiliki tiga kelas dan bisa digunakan untuk kegiatan belajar. Gedung A dipakai untuk ruang Tata Usaha (TU) dan guru. Akibatnya, beberapa rombongan belajar (rombel) harus digabungkan dalam satu kelas.

“Digabung-gabung, satu kelas bisa untuk kelas 1, 2, 3, lalu kelas 4, 5, 6 juga digabung. Padahal di sini bukan hanya tunanetra, ada juga siswa dengan disabilitas lain,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa pembelajaran untuk siswa berkebutuhan khusus seharusnya disesuaikan dengan jenis disabilitas mereka. Untuk siswa tunanetra, misalnya, ruang kelas minimal harus berukuran 30 meter persegi, memiliki pencahayaan cukup, dan tidak bising. Jika digabung, maka proses pembelajaran tidak akan efektif.

Tri juga menjelaskan bahwa kompleks Wyata Guna seluas sekitar 4 hektare terdiri dari tiga sertifikat. Dari sertifikat itu, disebutkan ada delapan fungsi penggunaan lahan, salah satunya untuk SLB. Namun, lokasi dan luas spesifik untuk SLB tidak tertulis secara jelas dalam sertifikat.

Selain untuk SLB, lahan itu digunakan sebagai balai percetakan braille, masjid, dan asrama siswa. Tanah tersebut telah disertifikasi oleh Kementerian Sosial sejak 1986. Tri juga menceritakan bahwa lahan ini merupakan hibah dari Wongso Taruno, warga Kelurahan Pasirkaliki.

Lahan tersebut diberikan kepada Kemensos tanpa transaksi jual beli, dengan tujuan mendukung penyelenggaraan pendidikan bagi tunanetra, saat itu bernama Bandoengsche Blinden Instituut, yang kini menjadi SLBN A Pajajaran.

Pantauan di lokasi menunjukkan masih banyak lahan kosong di kompleks Wyata Guna. Jarak antar bangunan juga cukup jauh, bahkan lebih dari 10 meter. Tri menilai bahwa lahan kosong itu masih bisa digunakan untuk membangun gedung tanpa mengorbankan ruang belajar SLB.

“Kompleks Wyata Guna itu luas, banyak lahan kosong, banyak juga gedung yang tidak dipakai. Jadi harapan kami, jangan ganggu dulu SLB. Pakai dulu ruang-ruang yang tidak digunakan untuk kegiatan belajar hari ini,” ujarnya.

AyoBandung sempat meninjau pembongkaran gedung C pada Jumat, 16 Mei 2025 sore. Gedung itu terletak di bagian belakang kompleks Wyata Guna. Perjalanan dimulai dari gerbang utama.

Saat memasuki kompleks, terlihat beberapa satpam berjaga. Sejumlah orang berkebutuhan khusus tampak lalu-lalang, ada yang berjalan sendiri menggunakan tongkat, ada pula yang beriringan sambil berpegangan bahu.

Dari jarak 20 meter, bagian atas gedung tampak berbeda dari yang lain. Atapnya sudah tidak ada, hanya tersisa rangka kayu berbentuk prisma.

Di depan gedung, berserakan balok kayu dan potongan besi. Lorong-lorong dalam bangunan dipenuhi pecahan genteng, puing, dan kayu bekas bangunan.

Meja, kursi, dan lemari sudah tidak tampak di dalam ruang kelas. Sekitar lima pekerja masih tampak sibuk membongkar bangunan.

Sementara itu, gedung kelas yang masih berdiri berada di sisi barat, dekat lapangan. Terdapat tiga ruangan, digunakan untuk kegiatan belajar berbasis teknologi karena terdapat lebih dari tiga komputer.

Pembongkaran SLBN A Pajajaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Jerit Orang Tua Siswa SLBN: Anak Kami Juga Rakyat!

Selain Tri, para orang tua siswa SLBN A Pajajaran juga menyampaikan kekecewaan mereka atas pembongkaran gedung demi proyek Sekolah Rakyat. Mereka menilai program pemerintah pusat ini telah mengorbankan hak anak-anak disabilitas untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Nunik Haerani (47), salah satu orang tua siswa, mengungkapkan kekesalannya setelah sekolah diminta mengosongkan gedung C dan D tepat saat anak-anak menjalani ujian kenaikan kelas. Permintaan mendadak itu membuat orang tua panik dan bingung.

“Katanya ini gedung mau dikosongkan untuk dijadikan Sekolah Rakyat. Kita bingung, ya,” kata Nunik, Sabtu, 17 Mei 2025.

Padahal, SLBN A Pajajaran sudah kekurangan ruang kelas. Dengan total 111 siswa, sekolah seharusnya memiliki 37 kelas, tetapi saat ini hanya ada 17 ruang. Pembongkaran dua gedung memperparah kondisi tersebut.

Awalnya, Nunik tidak mempermasalahkan pembongkaran. Namun kekecewaannya muncul setelah mendapat informasi bahwa gedung yang direnovasi tidak akan dikembalikan untuk digunakan siswa SLB.

“Kita dapat informasi kalau gedung itu nantinya bukan untuk siswa SLB lagi. Padahal, sekolah ini sudah ada sejak 1901. Di sertifikat juga disebutkan bahwa tanah ini diperuntukkan untuk pendidikan, termasuk SLB,” ucapnya.

Ia mempertanyakan mengapa justru anak-anak disabilitas yang harus tersingkir demi program baru. Menurutnya, program Sekolah Rakyat dan hak pendidikan anak disabilitas seharusnya bisa berjalan berdampingan.

“Kami sangat mendukung Sekolah Rakyat. Tapi tolong, pikirkan juga nasib anak-anak kami yang sudah ada dari awal,” ujar Nunik.

Anak-anak SLB, menurutnya, juga bagian dari rakyat Indonesia yang berhak mendapatkan perlakuan dan fasilitas yang setara.

“Anak-anak kami juga rakyat Indonesia yang punya hak yang sama. Kalau ada sekolah rakyat, anak-anak kami juga harus diperhitungkan. Kenapa tidak berdampingan?” tambahnya.

Ira (47), ibu dari siswa kelas 12 SLBN A Pajajaran, juga menyuarakan kegelisahan serupa. Baginya, ini bukan sekadar soal gedung yang dibongkar, tapi tentang masa depan dan keadilan untuk anak-anak yang sering dilupakan.

“Kalau saya googling, Sekolah Rakyat itu program pemerintah. Program Prabowo, katanya untuk rakyat miskin. Tapi jangan usir kita. Kita juga rakyat,” katanya.

Gedung C dan D dibongkar demi program Sekolah Rakyat, namun para orang tua merasa tidak pernah benar-benar dilibatkan dalam diskusi atau sosialisasi.

Ira mengaku tidak pernah menerima penjelasan resmi mengenai rencana tersebut, apalagi mendengar bahwa gedung yang dibangun tidak akan dikembalikan untuk siswa SLB.

“Kenapa anak-anak kami tidak bisa ikut sekolah di Sekolah Rakyat? Kenapa justru mereka yang harus disingkirkan?” katanya, menahan emosi. “Padahal masih banyak lahan kosong, kenapa kami yang disingkirkan?”

Ia kembali menegaskan bahwa berdasarkan sertifikat, lahan 4 hektare tersebut memang untuk kegiatan sosial dan pendidikan, termasuk SLB.

“Kami tidak mau pindah. Di sertifikat itu SLB juga tercatat,” tegasnya.

Namun, kekecewaan terbesarnya bukan hanya karena bangunan, tapi soal kurangnya komunikasi. Menurutnya, program Sekolah Rakyat lahir dengan niat baik, tapi dalam pelaksanaannya justru menimbulkan konflik di masyarakat.

“Kami tidak pernah benar-benar diajak ngobrol. Rasanya seperti pusat dan bawah itu tidak nyambung,” katanya.

“Bahkan, sebelum kami di sini pun, sudah pernah terjadi hal yang sama,” tambahnya.

Para orang tua berharap pemerintah pusat tidak hanya memikirkan pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan nasib anak-anak yang telah lama bersekolah di SLBN A Pajajaran.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:39

Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

Refleksi pernikahan siri di Indonesia.

irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:15

Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Pelajari istilah besar guncangan gempa bumi dalam Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta. Temukan kekayaan kosakata tradisional untuk tingkatan getaran bencana alam kuno Nusantara di sini!

Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)