Sejarah Pieterspark, Taman Tertua di Bandung yang Berdiri Sejak 1885

4 menit baca
Fira Nursyabani
Ditulis oleh Fira Nursyabani diterbitkan
Lukisan Pieterspark Bandung. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)
Lukisan Pieterspark Bandung. (Sumber: Leiden University Libraries Digital Collections)

AYOBANDUNG.ID - Kalau kamu suka jalan-jalan ke Balai Kota Bandung, apalagi yang gemar duduk-duduk cantik di Taman Dewi Sartika sambil menyeruput kopi dari kafe sebelah, coba berhenti sebentar dan bayangkan: di tanah tempatmu duduk itu, seratusan tahun lalu, mungkin ada meneer Belanda berkumis lentik yang sedang asyik membaca koran De Preanger-bode, sambil mengawasi anak-anak pribumi berlarian dekat pohon angsret.

Ya, sebelum jadi Taman Dewi Sartika yang penuh dedaunan Instagramable itu, taman ini punya nama yang lebih ‘Belanda banget’: Pieterspark. Nama yang jika diucapkan sekarang, bisa bikin tukang parkir di sekitar Balai Kota melongo.

Pada masa ketika Jalan Braga masih lebih harum dari kafe-kafe masa kini, dan sepeda ontel menjadi simbol kemajuan, berdirilah sebuah taman yang jadi pelipur lara kaum elite Hindia Belanda. Namanya Pieterspark, didirikan tahun 1885, dua dekade lebih awal dari kelahiran Kota Bandung sebagai Gemeente (kota resmi) pada 1 April 1906.

Sudarsono Katam dalam bukunya Gemeente Huis (Balaikota) Bandung dan Sekitarnya dari Masa ke Masa (2014) menyebut taman ini dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada Pieter Sijthoff, seorang Asisten Residen Priangan. Pieter ini bukan sembarang Pieter. Konon, dia punya jasa besar dalam mengatur wilayah Bandung.

“Tatakota Kota Bandung memang dirancang mengacu kepada konsep kota taman (Garden City) seperti di negara-negara Eropa,” tulis Sudarsono. Dan benar saja, sebelum taman-taman bertema seperti Taman Jomblo dan Taman Film bikin kaum urban hepi-hepi di zaman wali kota yang hobi mengumbar jargon itu, Pieterspark sudah menebar hawa hijau di tengah kota.

Botanikus Belanda bernama R. Teuscher dipercaya sebagai arsitek taman ini. Ia bukan sembarang tukang tanam. Pilihan vegetasinya bisa bikin kebun botani cemburu. Salah satu tanaman andalannya adalah pohon sepatu dewa alias ki angsret (Spathodea campanulata). Bukan hanya cantik, tapi juga cukup eksotis untuk membuat para nona Belanda betah piknik.

Fasilitas air taman? Jangan khawatir. Sungai Cikapayang yang mungil tapi lincah jadi penyuplai utama. Sungai ini merupakan anak manis dari Sungai Cikapundung, si raja arus di Kota Bandung. Dulu, airnya jernih. Sekarang? Ah, mari kita tidak merusak suasana nostalgia.

Baca Juga: Salah Hari Ulang Tahun, Kota Bandung jadi Korban Prank Kolonial Terpanjang

Pada masa jayanya, sekitar 1930-an, Pieterspark adalah jantung hiburan warga. Tempat kongkow. Nongkrong di bangku taman, juga tempat para pemuda menyusun rencana menggoda nona-nona sekolah Hollandsch-Inlandsche School. Bahkan ada delman segala! Lengkap sudah.

Berubah jadi Taman Dewi Sartika

Segala sesuatu yang bau kolonial biasanya tak bertahan lama setelah proklamasi. Maka, pada 1950, nama Pieterspark resmi diganti menjadi Taman Merdeka. Bung Karno mungkin akan tersenyum. Tapi taman ini seperti kehilangan perawatan. Bak wajah mantan yang tak lagi diberi perhatian, Taman Merdeka pun kusut, kumuh, dan bau keringat gelandangan.

Sampah menumpuk. Bangku taman tak lagi romantis, malah lebih mirip properti horor. Bahkan pohon-pohon seperti kehilangan semangat hidup. Taman yang dulu indah itu sempat jadi spot yang lebih cocok buat adegan pembegalan ketimbang lamaran romantis.

Baru pada masa Wali Kota Husen Wangsaatmaja, taman ini kembali dirapikan dan digabung dengan taman di sebelahnya, Taman Badak. Nah, Taman Badak ini punya kisah sendiri. Sudarsono mencatat, di sana ada patung badak putih yang bukan sekadar hiasan. Itu simbol mitos lama.

Taman Dewi Sartika di Balaikota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Taman Dewi Sartika di Balaikota Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Konon, Bupati RA Wiranatakusumah II percaya, lokasi ideal untuk pusat pemerintahan adalah tanah yang bahe ngidul (miring ke selatan), dekat sumber air, dan—ini dia yang bikin kening berkerut—bekas tempat mandi badak putih. Maka, tak heran kalau di area Balai Kota ada patung badak yang tampangnya serius banget.

Tahun 1996, giliran Wali Kota Wahyu Hamijaya mengubah nama taman ini lagi. Kali ini jadi Taman Dewi Sartika, lengkap dengan patung dada sang pahlawan perempuan. Dari Pieterspark ke Taman Merdeka, dan akhirnya jadi Taman Dewi Sartika. Nama boleh ganti, tapi aroma sejarahnya tetap melekat.

Wajah taman makin merona di era Ridwan Kamil, wali kota yang memang gemar meresmikan taman baru. Perubahan paling terasa terjadi sejak Ridwan Kamil menjabat Wali Kota. Katanya, “Waktu Kang Emil jadi Wali Kota, taman ini ditata ulang total. Sekarang luasnya sekitar 4.000 meter persegi dan ada lebih dari 500 jenis tanaman hias.” kata Andri Yulianto, pengurus taman, sekali waktu.

Dari taman yang dulu jadi tempat gelandangan beristirahat dan bangku-bangku patah kaki, kini berubah jadi ruang terbuka hijau yang punya pengolahan sampah organik dan daur ulang. Kursi-kursinya rapi. Tidak ada lagi adegan copet-copetan. Anak-anak bisa main, pasangan bisa piknik, dan fotografer bisa berburu angle.

Satu hal yang patut diacungi jempol: taman ini tetap mempertahankan identitasnya sebagai ruang hijau yang menyenangkan. Dari era Belanda sampai era filter Instagram, Pieterspark atau Taman Dewi Sartika tetap jadi salah satu bukti bahwa Bandung memang kota yang bercita rasa taman.

Baca Juga: Kisah Sedih Teras Cihampelas, Warisan Ridwan Kamil yang Gagal Hidup Berulang Kali

Bandung memang penuh taman—dari Taman Superhero yang dipenuhi figur kartun, hingga Taman Jomblo yang jadi tempat nongkrong kaum jomlo yang (katanya) happy. Tapi Pieterspark, yang kini menyaru jadi Taman Dewi Sartika, adalah nenek moyangnya taman-taman itu.

Bukan sekadar ruang hijau, tapi saksi bisu kota yang tumbuh dari kolonialisme, merdeka, kumuh, lalu bangkit lagi. Taman ini membuktikan bahwa sejarah tak selalu harus ada di museum atau monumen besar. Kadang, ia bisa hadir lewat sebatang pohon, bangku kayu, atau bahkan bau tanah setelah hujan.

Kalau sedang ke Balai Kota, jangan cuma sibuk selfie. Duduklah sebentar, hirup udara dalam-dalam, dan bayangkan Pieter Sijthoff sedang memperhatikan dari balik pepohonan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)