Bandung Kota Termacet Lagi, Jangan Sampai jadi Parkir van Java

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Di Bandung, macet bukan kejadian. Ia lebih seperti musim. Datang dan menetap. Kalau dulu hanya saat liburan, kini setiap hari terasa seperti akhir pekan yang kacau.

Laporan TomTom Traffic Index 2024 seperti menyetel kembali lagu lama yang pernah jadi hits: Bandung macet. Tak hanya termacet di Indonesia, tapi masuk 20 besar dunia, tepatnya di posisi ke-12. Rata-rata, orang perlu 33 menit untuk menempuh jarak 10 kilometer. Jakarta? 'Hanya' 23 menit.

TomTom Traffic Index 2024 baru saja merilis daftar kota paling macet di dunia. Dari 387 kota yang disurvei, Bandung duduk di peringkat ke-12 global—yang paling macet se-Indonesia. Rata-rata perjalanan 10 kilometer di kota ini memakan waktu 33 menit. Untuk jarak yang sama, Jakarta ‘hanya’ butuh 23 menit. Surabaya, Palembang, dan Medan pun lebih cepat.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, tak bersembunyi di balik dalih. “Saya sih malu yah Kota Bandung dicap sebagai Kota termacet se-Indonesia,” katanya, 5 Juli 2025. “Bukan membanggakan, jadi perbaikan utama adalah sistem transportasi.”

Tapi warga sudah lebih dulu merasakannya. Agung, karyawan swasta di Jalan Cihampelas, punya kenangan indah tentang Bandung tempo dulu. “Tahun 2014 mah dari rumah ke kantor cuma setengah jam. Sekarang satu jam juga belum tentu sampai,” ujarnya. “Telat 5 menit dari rumah bisa molor banget sampai ke tempat kerja.”

Kemacetan bukan hanya soal kendaraan yang padat, tapi waktu hidup yang hilang. Rasa letih yang datang sebelum bekerja. Orang Bandung tahu betul: bangun pagi tak cukup, harus bangun lebih pagi dari yang pagi.

Farhan menyebut biang kerok utamanya. Mudah saja ditebak, tapi sulit dicari solusinya. “Kenapa Bandung macet? Karena (warganya) banyak beli kendaraan pribadi mobil, motor, karena transportasi jelek sekali. Ini mah fakta. Jumlah penduduk Kota Bandung 2,6 juta, jumlah kendaraan pribadi nomor D Bandung itu 2,3 juta.”

Data dari World Bank mendukung ucapan Farhan. Hanya 13% warga Bandung yang menggunakan transportasi umum. Sisanya lebih percaya pada motor matik dan mobil LCGC.

Lima tahun lalu, Asian Development Bank (ADB) juga pernah mengumumkan Bandung sebagai kota termacet di Indonesia versi mereka. Dalam survei 2019, Bandung duduk di posisi ke-14 Asia, mengalahkan Jakarta yang di posisi ke-17. Pemerintah sempat cari-cari alasan soal indikator ADB kala itu. Namun angka tetaplah angka. Jalan-jalan kota tak bisa dibantah dengan argumen metodologi. Setiap pagi dan sore, warga Bandung tetap terjebak dalam lautan kendaraan.

Baca Juga: Kematian 7 Satwa di Bandung Zoo, Kisruh Internal dan Bayangan Kasus Kardit yang Belum Hilang

Pasca laporan ADB, Pemkot Bandung menggagas program Bandung Urban Mobility. Program ini digadang-gadang jadi solusi untuk mengurai simpul kemacetan. Koridornya banyak: penambahan bus TMB, aktivasi ulang sepeda sewa Boseh, konversi angkot jadi bus, sampai pembangunan fly over.

Tapi seperti lagu lama yang diputar berulang, judulnya keren, isinya itu-itu juga. Sampai sekarang, tak banyak orang yang tahu ke mana program itu melaju. Apakah masih hidup, sedang koma, atau sudah berganti nama dengan jargon lain yang lebih nyaring di telinga tapi nihil di lapangan.

Omomg-omong soal metodologi, TomTom mengandalkan data pergerakan mobil yang disebut Floating Car Data (FCD). Data ini dikumpulkan dari mobil-mobil yang terhubung internet, aplikasi GPS di HP, alat navigasi dashboard, dan perangkat pelacak di mobil-mobil logistik. Setiap hari, mereka bisa “melihat” 1 dari 4 mobil di jalanan Eropa dan Amerika.

Dari data ini, TomTom menyusun Indeks lalu lintas, termasuk peta kemacetan dunia. Tapi yang menarik, definisi kota mereka bukan berdasarkan peta administrasi, melainkan berdasarkan ke mana orang-orang bepergian. Wilayah kota dibagi jadi petak-petak kecil, lalu dilihat petak mana yang paling sering saling terhubung oleh perjalanan. Daerah dengan 20% perjalanan terpadat disebut pusat kota, sementara yang mencakup 80% jadi wilayah metropolitan.

Kemacetan dihitung dari selisih waktu tempuh aktual dengan waktu tempuh ideal—yakni saat jalanan benar-benar kosong. Kalau misalnya seseorang butuh 30 menit untuk menempuh 10 km padahal waktu idealnya 20 menit, berarti kemacetannya 50%. Angka ini dihitung untuk seluruh ruas jalan di kota itu, lalu dirata-rata.

Kemacetan di Flyover Antapani. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Kemacetan di Flyover Antapani. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Bandung, kota yang jumawa disebut Paris van Java harus cepat beranjak jika tak ingin beroleh gelar “Parkir van Java.” Karena lebih banyak kendaraan yang diam daripada yang bergerak. Wacana dan program silih berganti, tapi kemacetan tetap abadi.

Kemacetan bukan cuma soal kesabaran yang diuji. Ia juga membakar uang secara diam-diam, perlahan tapi pasti. Penelitian oleh RA Hermawan dan R. Haryatiningsih dalam Bandung Conference Series: Economics Studies tahun 2022 menyebut, sepeda motor yang biasanya hanya butuh satu liter pertalite untuk perjalanan normal, bisa menghabiskan hingga dua liter dalam kondisi macet. Artinya, uang yang dikeluarkan pengendara pun ikut berlipat.

Dengan harga pertalite saat ini yang menyentuh Rp10.000 per liter, satu motor bisa merugi Rp10.000 per hari hanya karena harus berhenti-berjalan dalam lalu lintas. Bayangkan jika itu terjadi setiap hari kerja selama sebulan.

Tiga tahun lalu, estimasi kerugian akibat konsumsi bahan bakar di Bandung untuk kendaraan roda dua saja menyentuh angka Rp170 miliar. Dan itu hanya dari pertalite.

Statistik mobil pribadi tentu lebih menyedihkan. Kerugiannya bisa mencapai Rp20.000 hingga Rp40.000 per hari, tergantung bahan bakarnya. Untuk pengguna pertalite, kisarannya sekitar Rp28.000. Tapi kalau pakai V-Shell? Tak perlu kalkulator untuk tahu jawabannya.

Laporan Kementerian Perhubungan pada 2024 bahkan menyebut, total kerugian ekonomi akibat kemacetan di Kota Bandung mencapai Rp12 triliun per tahun.

Ini belum termasuk kerugian yang tak tercatat: polusi udara yang mengganggu paru-paru, stres yang menggigiti kepala, dan waktu hidup yang menguap begitu saja di dashboard kendaraan. Seorang warga Bandung kehilangan sekitar 108 jam per tahun hanya karena terjebak macet.

Jangan kira itu hanya terjadi di pusat kota. Wilayah seperti Bojongsoang yang jadi simpul antara Bandung Selatan dan pusat kota juga sudah jadi korban. Macet kini semakin menjalar seperti demam yang tak kunjung reda.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)