Kisah Sedih Teras Cihampelas, Warisan Ridwan Kamil yang Gagal Hidup Berulang Kali

4 menit baca
Gilang Fathu Romadhan Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan , Hengky Sulaksono diterbitkan
Kondisi Teras Cihampelas terkini, lebih mirip lokasi syuting film horror zombie apokalip. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kondisi Teras Cihampelas terkini, lebih mirip lokasi syuting film horror zombie apokalip. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID — Keramik warna-warni itu masih utuh. Sebagian. Sisanya berlubang seperti ingatan tentang kejayaan masa lalu. Di atas jembatan yang dulu dielu-elukan sebagai skywalk pertama di Indonesia, langkah kaki kini lebih langka dari kunjungan ke museum tekstil. Burung-burung lebih rajin mampir daripada manusia, dan PKL yang dulu direlokasi dengan harapan membangun peradaban baru, malah kabur kembali ke bawah. Ke pinggir jalan. Ke tempat asli mereka mencari nafkah.

Teras Cihampelas, karya besar zaman Ridwan Kamil, sempat dipuja sebagai simbol Bandung yang hipster-friendly, pedestrian-oriented, dan Instagrammable. Tapi hari ini, ia lebih mirip set film horor dengan gaya urban minimalis. Tiangnya kusam, tangganya reyot, keramiknya bopeng, dan vandalisme merajalela seperti graffiti di toilet stasiun. Kalau ini disebut ruang publik, maka publik yang mana dulu yang dimaksud?

Waktu peresmian pada 2017, anggaran Rp48 miliar itu terdengar seperti investasi masa depan. Tapi delapan tahun kemudian, masa depan itu datang dan ternyata, ya begini-begini saja. Proyeknya digadang-gadang bisa atasi macet, relokasi PKL, sekaligus menciptakan Bandung versi Eropa. Padahal tukang cilok pun tahu, Bandung bukan Amsterdam.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sampai usul agar aset ini dilepas. Tapi Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, tidak mau buru-buru. Katanya, “Dijual mah enggak mungkin. Disewakan enggak mungkin. Nah kemungkinan itu (dibongkar). Tapi ini baru usul dari Pak Gubernur.”

Baca Juga: Hikayat Sungai Cikapundung, Pernah Jernih Sebelum Diratap dalam Syair

Ia bilang ini bukan cuma soal macet, tapi masalah tata ruang. "Kata saya mah ada masalah di tata ruang. Bukan masalah macet saja dampaknya adalah bahwa jalan Cihampelas yang bisa kita lestarikan sebagai salah satu jalan bersejarah dengan pagar pohon, dengan ada Teras Cihampelas sempat terganggu," ujarnya. Dalam bahasa awam: dulu maksudnya bagus, tapi lokasinya salah dan konsepnya terlalu mengawang.

Kondisi terkini Teras Cihampelas. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kondisi terkini Teras Cihampelas. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Dalam debat calon gubernur DKI Jakarta 2024, Teras Cihampelas sempat dijadikan pelor untuk menyerang Ridwan Kamil. Calon nomor urut 2, Dharma Pongrekun, menyindir Ridwan Kamil yang saat itu mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta. Dharma bertanya, mengapa RK diam melihat kondisi proyek yang ia rancang sendiri kini mangkrak. "Ternyata apa yang bapak sudah imajinasikan, setelah pandemi COVID-19 mati suri, dan pedagang sekarang malas untuk meneruskan. Bagaimana membuat mereka bangkit kembali?" tanya Dharma.

Ridwan Kamil menanggapi dengan menyalahkan penerusnya di Bandung, yakni almarhum Oded Muhammad Danial. Menurut RK, penerusnya tak melanjutkan promosi dan pemeliharaan. Ia membela diri, menyebut saat dirinya masih menjabat, Teras Cihampelas selalu ramai. "Beda halnya kalau kami membangun, terus gagalnya kami masih saat memimpin, nah itu kan bisa didebatkan," ujarnya. Pernyataan yang menyisakan kesan: kalau gagal, salah yang datang belakangan.

Proyek Juara Reaktivasi

Kalau ada kategori bangunan dengan jumlah reaktivasi terbanyak tapi pengunjung tetap sepi, Teras Cihampelas bisa jadi juara nasional. Bayangkan: dari 2021 sampai 2024, sudah lima kali di-launching ulang. Bukan karena sukses, tapi karena terus gagal hidup.

Teras Cihampelas adalah proyek yang pernah punya banyak nyawa. Sayangnya, tiap kali dihidupkan, hasilnya tetap saja jalan di tempat. Sejak dibangun, sudah lima kali direaktivasi. Terakhir pada Juni 2024. Dan setiap reaktivasi punya pola yang mirip: semangat di awal, sepi di akhir. Dan untuk kesekian kalinya, realitas mengacungkan jempol ke bawah.

Dalam tiap reaktivasi, narasinya selalu sama. Event digelar, peresmian dilakukan, media datang, pedagang dipanggil. Tapi setelah itu, mereka dibiarkan bertarung sendirian dengan sepinya langit-langit Cihampelas.

Saking sepinya, sampai-sampai pencuri lampu pun bisa beroperasi dengan tenang. Pada 5 Oktober 2023, sebanyak 27 lampu raib digondol maling sekitar pukul 04.00 pagi. Aksinya terekam CCTV milik Diskominfo, lalu viral setelah diunggah oleh Dinas SDA dan Bina Marga. Dalam video itu, pelaku beraksi sendiri dengan santai.

Baca Juga: Jejak Bandung Baheula: Dari Dusun Sunyi hingga Kota yang Heurin Ku Tangtung

Teras Cihampelas telah menjelma jadi monumen inkonsistensi urban planning. Di atas kertas terlihat keren, di atas tanah, ia malah terlihat seperti panggung kosong. Dibangun dengan semangat memuliakan PKL, akhirnya malah membuat mereka kembali ke trotoar, lebih karena alasan ekonomi ketimbang nostalgia.

Dede, tukang parkir yang tiap hari nongkrong di sekitar Teras, bilang dengan jujur. “Dulu pengunjung rame pisan, sekarang mah sepi. Mobil sama motor juga jarang pisan,” katanya. Padahal dia jaga dari pagi sampai sore. Kalau dia yang tiap hari di sana bilang sepi, ya kita percaya saja. Dia bukan tim humas.

Didi, satu-satunya penjual minuman di Teras 10 awal tahun, malah bilang suasana sekarang mirip masa PPKM. "Dulu jam 12 siang masih rame. Tapi sejak corona, sepi pisan." Ia tetap jualan, mungkin lebih karena kebiasaan ketimbang harapan. Sementara Jadmiati, pedagang makanan sejak 2018, cuma bisa mengenang masa lalu yang kini terasa seperti mimpi. Omzet dari Rp5 juta ke Rp500 ribu. Itu pun kalau cuaca bersahabat dan pengunjung tidak buru-buru pulang.

Kondisi terkini Teras Cihampelas. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kondisi terkini Teras Cihampelas. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Ironisnya, semua masalah ini bukan baru muncul kemarin sore. Sejak 2019, para pedagang sudah curhat: jualan di atas bikin capek dan sepi pembeli. Orang Bandung mungkin cinta inovasi, tapi tetap ingin jajan di tempat yang tidak perlu naik tangga. Teras ini terlalu futuristik untuk logika kaki lima.

Teras Cihampelas hari ini mungkin hanya tersisa sebagai monumen dari ambisi yang terlalu tinggi tanpa riset perilaku manusia. Sebuah proyek dengan niat baik, tapi pelaksanaan yang, ya, seperti inilah adanya. Kota butuh ruang publik, ya. Tapi jangan lupa: publiknya juga manusia, bukan sekadar titik-titik di peta rencana.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)