Representasi Kemiskinan di Indonesia, Bukan Soal Angka tapi Realitas yang Ada

8 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Bank Dunia lewat sebuah laporan menyebutkan bahwa jumlah masyarakat miskin di indonesia pada 2024 berjumlah 164 juta penduduk atau 68.2% penduduk Indonesia. (Sumber: Pexels/Raiza Azkaril)
Bank Dunia lewat sebuah laporan menyebutkan bahwa jumlah masyarakat miskin di indonesia pada 2024 berjumlah 164 juta penduduk atau 68.2% penduduk Indonesia. (Sumber: Pexels/Raiza Azkaril)

Dalam sebuah konferensi Presiden Prabowo mendapat kabar dari BPS perihal data statistik angka kemiskinan di Indonesia.

Kepala BPS lapor ke saya, angka pengangguran menurun, angka kemiskinan absolut menurun.

Menurut hasil liputan yang dilakukan oleh tempo.co pada tahun 2025 pemerintah menganggarkan dana bantuan sosial (bansos) sebesar 135,6 Triliun. BPS mencatat ada 73 juta keluarga penerima bansos pada 2024 dengan tiga provinsi terbesar di pulau jawa menjadi penerima manfaat terbanyak.

Meski demikian di tahun 2025 ini angka kemiskinan memunculkan isu diskursus yang mencolok. Adanya data yang tak selaras perihal angka kemiskinan antara Analisis Bank Dunia dengan BPS menjadi polemik di masyarakat. Namun Presiden Prabowo dengan bangga dan penuh rasa pecaya diri mengatakan bahwa angka kemiskinan menurun.

Bank Dunia lewat sebuah laporan menyebutkan bahwa jumlah masyarakat miskin di indonesia pada 2024 berjumlah 164 juta penduduk atau 68.2% penduduk Indonesia. Jumlah ini terlampau jauh dengan data yang dikumpulkan versi pemerintah atau BPS per September 2024 yang hanya mencatat 24,06 juta jiwa atau 8.57% warga Indonesia yang miskin.

Perbedaan kedua data di atas dipengaruhi oleh tolak ukur standar garis kemiskinan yang berbeda. Bank Dunia mempunyai acuan garis kemiskinan global melalui cara Purchasing Power Parity (PPP) yaitu sebuah konsep dasar dalam membandingkan harga sekumpulan barang dan jasa yang sama di berbagai negara.

Jika merujuk pada data Bank Dunia jumlah masyarakat Indonesia yang termasuk miskin adalah mereka yang memiliki pengeluaran dibawah Rp. 49.000/ hari atau Rp. 1.470.000/ bulan.

Sementara garis kemiskinan nasional menurut BPS dihitung berdasarkan pemenuhan kebutuhan dasar (Coast Basic Needs) yang terdiri dari komoditas makanan dan non-makanan.

BPS sendiri membuat standar minimal makanan sebanyak 2100 kalori/hari dari 52 jenis komoditas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa masyarakat miskin adalah mereka yang memiliki pengeluaran Rp. 25.000/hari atau Rp. 595.000/bulan.

Namun di balik data tersebut sebetulnya kemiskinan bukan hanya sekedar sekumpulan data statistik tapi fakta dan realitas yang tampak nyata di lapangan.

Lautan Manusia di Tengah Job Fair

Beberapa waktu yang lalu sekumpulan manusia turut berkumpul dalam acara Job Fair yang diadakan oleh Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) di President University Jababeka Convention Center Bekasi.

Tentu di tengah kesulitan mencari lapangan pekerjaan, Job Fair menjadi harapan baik bagi generasi muda atau bagi mereka yang sudah berpengalaman tapi terkena dampak PHK.

Janji menyediakan 19 juta lapangan kerja sepertinya hanya omon belaka. Pada realitasnya pemerintah bukan membuka lapangan kerja baru tapi justru berbagai kebijakannya banyak membuat perusahaan di Indonesia gulung tikar.

Tekanan ekonomi global, penurunan daya beli masyarakat serta beberapa kebijakan pemerintah yang berdampak pada industri Indonesia, membuat pengangguran makin merajalela.

Tanpa perlu data statistik, lautan manusia di atas sudah menjadi bukti bahwa kemiskinan itu nyata bukan isu belaka. Namun rasanya pemerintah selalu menyangkal bahkan menutup mata dengan berbagai macam alasan yang dilontarkan.

Berdasarkan pengalaman saya saat mengikuti acara Job Fair di Bandung pada tahun 2014 silam, awalnya saya kira Job Fair adalah solusi bagi banyak pengangguran. Namun setelah saya merasakan sendiri, nyatanya tenan perusahaan yang hadir seperti hanya formalitas semata.

Saya datang dan para petugas tersenyum dengan pemandangan tumpukan map coklat yang hampir menggunung di atas meja. Mereka dengan sepenuh hati menerima setiap amplop tersebut dari berbagai macam peserta yang hadir.

Satu hal yang janggal tidak ada satu peserta pun yang mendapat kesempatan Walk Interview. Mirisnya pemandangan ini hampir terjadi di seluruh tenan perusahaan yang turut berkontribusi dalam acara tersebut.

Pernyataan di atas ternyata selaras dengan yang disampaikan oleh Jurnalis Senior Media Indonesia dalam sebuah podcast berjudul "Rakyat Susah Cari Kerja, Pemerintah Bisa Apa ? yang tayang di Youtube Media Indonesia pada 3 Juni 2025 berkata:

Kalau menurut para ahli ya, yang sudah pernah melakukan penelitian terhadap ini. Era sekarang itu jauh lebih efektif apakah melalui jobstreet atau linkedin. Pokoknya yang tidak berkumpul sampai berkeringat, berpanas-panasan yang berpotensial saling sikut itu. Karena sekali lagi, kalau betul memang kita telusuri, misalnya banyak sekali job fair itu yang sekedar formalitas untuk menggugurkan kewajiban agar mereka tidak kena denda. Kan sebuah perusahaan swasta di suatu daerah misalnya. Mereka ada kewajiban untuk ikut serta di dalam pameran bursa kerja. Kalau mereka tidak ikut serta maka konsekuesinya akan didenda. Nah daripada didenda , ya sudah buka saja. Nah di job fair itu kan tidak diikuti dengan walk interview, hampir tidak ada peserta job fair yang langsung bisa wawancara disitu. Hal inilah yang membuat perburuan kerja melalui job fair itu tidak efektif

Hastag Kabur Aja Dulu

Seingat saya huru-hara perihal pindah kewarganegaraan sudah ada sejak tahun 2020. Namun mulai ramai kembali di tahun 2025. Tahun ini mengingatkan saya pada sebuah artikel yang sempat saya buat di media online lain.

Saat itu dengan bangga dan rasa percaya diri saya mengatakan tetap "Stay in Indonesia", saya akan setia menjadi warga negara indonesia. Dengan penuh semangat yang membara saya menuliskan bahwa

Kalau bukan kita yang mempertahankan negeri ini siapa lagi. Sudah sepantasnya kita sebagai generasi penerus bangsa tetap teguh berdiri di garda paling depan negara ini. Tak perlulah pergi dari negara ini untuk menetap di negara lain

Jujur saya malu bahkan mempertanyakan kembali kepada diri sendiri, opini macam apakah ini?

Rasanya saat ini saya sudah terlalu pesimis dengan keadaan ekonomi, politik bahkan sosial yang ada di Indonesia yang kian semrawut.

Banyak orang pintar di Indonesia yang memiliki karya untuk kemajuan bangsa tidak pernah dilirik pemerintah. Justru isu prestasi tidak penting seperti joget-joget yang diberi panggung tampil memenuhi layar kaca.

Sebagian anak bangsa yang memiliki sejuta impian dan ide untuk Indonesia lebih baik, nyatanya sering diabaikan. Maka tak heran jika sebagian dari mereka memilih untuk menetap di negara lain yang lebih menghargai karya-karyanya. Tak heran negara-negara maju disana makin eksis berkat kontribusi anak bangsa.

Menurut saya #kaburajadulu bukan hanya sekedar propaganda yang provokatif tapi ini bentuk nyata dari keresahan masyarakat akan kondisi ibu pertiwi yang semakin menghawatirkan.

Menurut data dari Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) terdapat 3912 Warga Negara Indonesia (WNI) yang pindah menjadi Warga Negara Singapura (WNS) dalam periode 2019-2022.

Kepindahan WNI menjadi bukti nyata bahwa Indonesia belum mampu mempertahankan stabilitas negaranya. Kesenjangan pendidikan, sosial dan ekonomi turut serta menjadi keresahan setiap masyarakat yang ada.

Polemik Sekolah Rakyat

Penampakan gedung D SLBN A Pajajaran yang telah direnovasi untuk menunjang fasilitas Sekolah Rakyat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Penampakan gedung D SLBN A Pajajaran yang telah direnovasi untuk menunjang fasilitas Sekolah Rakyat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Sebetulnya ide sekolah rakyat bisa di apresiasi, hanya saja sangat disayangkan proses sosialiasinya terbilang terlalu tergesa-gesa. Ada banyak hal yang semestinya jadi bahan pertimbangan sebelum realisasinya berjalan di lapangan.

Menurut hemat saya dana yang pemerintah gelontorkan untuk sekolah rakyat cukup fantastis yaitu 150 miliar. Padahal daripada membuat sekolah baru, lebih baik maksimalkan sekolah yang ada dengan mengelola fasilitas dan pemantauan dana bantuan yang tepat sasaran.

Selain itu juga bagi saya sistem pembuatan sekolah rakyat nyaris seperti kembali ke era kolonialisme. Dimana saat itu pemerintah Belanda mendirikannya untuk tujuan memberikan pendidikan dasar kepada pribumi di Indonesia.

Saya rasa dengan mengotak-kotakan sekolah ini akan berdampak pada psikologis setiap anak yang masuk ke sekolah rakyat. Kita tahu sendiri bagaimana kondisi pembullyan yang ada dalam rentan anak-anak sekolah. Sekolah rakyat bisa dipandang sebagai bentuk pemisahan status sosial.

Menurut hemat saya kondisi masyarakat miskin tentu sangat rentan dengan rasa 'kepercayaan diri'. Bukankah perbedaan sekolah akan membuat mereka semakin meyakini kalau mereka itu berbeda dengan orang lain. Padahal pemerintah bisa membuat sekolah umum saja yang tentu bisa membentuk karakter masyarakat miskin menjadi lebih baik.

Maraknya Judi Online & Pinjaman Online

Dibalik megahnya media sosial makin banyak kebahagiaan semu yang tampak lewat postingan barang-barang mewah. Padahal seringkali fakta kebohongan dibelakang kegiatan flexing seseorang menjadi data yang jarang terungkap. Meski demikian masyarakat seringkali tetap terbuai untuk mendapatkan uang secara instan untuk memenuhi gaya hidup konsumtif,

Tapi pada beberapa kasus, judol dan pinjol menjadi penyirat kondisi kemiskinan rakyat Indonesia.

Beberapa ada yang terpaksa melakukan hal tersebut demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan mereka yang terlibat didalamnya seringkali gali lobang tutup lobang. Bahkan keputusan mengakhiri hidup seringkali terdengar di media-media yang memberitakan karena terjerat kasus pinjol dan judol.

Kedua fenomena di atas menjadi realitas yang mencerminkan adanya kemiskinan di Indonesia.

Pembatasan Suara Rakyat dan Kekayaan Intelektual

Dulu aksi protes perihal kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap rakyat seringkali ada dalam bentuk demo yang dilakukan oleh para mahasiswa. Seringkali acara tersebut berakhir ricuh antara aparat dengan para mahasiswa. Kadang suara itu didengar tapi kebanyakan lebih sering diabaikan.

Sebetulnya bentuk protes terhadap pemerintah bisa dilakukan lewat media apapun. Bisa dengan aksi demo turun ke lapangan, membuat video di media sosial, berdiskusi dalam forum podcast di youtube, membuat sebuah karya dalam bentuk tulisan digital atau buku dan lewat simbol-simbol yang menginterpretasikan bentuk keresahan.

Salah satu bentuk protes tingkat tinggi menurut saya adalah penyampaian melalui simbol-simbol. Rasanya ini menjadi bentuk nyata bahwa segala upaya protes dalam bentuk lisan maupun tulisan sudah tak didengar oleh pemerintahan.

Seperti fenomena yang saat ini sedang ramai perihal bentuk protes masyarakat terhadap pemasangan bendera karakter manga yaitu One Piece juga bendera Jolly Roger.

Saya rasa simbol-simbol itu sudah menjadi jalan akhir sebagian masyarakat yang ingin menyampaikan rasa kekecewaan terhadap beberapa kebijakan yang dinilai menyengsarakan rakyat. Simbol yang disinyalir sebagai bentuk kebebasan berekspresi ini justru direspon negatif oleh pemerintah.

Tuduhan tidak nasionalisme, radikal, pemecah kesatuan bangsa dan negara terlontar begitu ringan bagi para pemangku kebijikan. Saya rasa jika kekayaaan intelektual yang terejawantahkan melalui bentuk ekspresi dalam sebuah simbol-simbol sudah dirampas. Maka apakah ada hal lain yang bisa mendeskripsikan betapa miskinnya kita sebagai warga negara Indonesia.

Data mungkin saja bisa dimanipulasi tapi realitas kemiskinan yang ada tidak bisa dibohongi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)