Harga Beras Naik, Warga Perkotaan Jabar Kian Terjerat Kemiskinan

4 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Rahmat Kurnia (52) tengah menyiapkan sekantong plastik beras untuk pembeli di Pasar Kosambi, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Rahmat Kurnia (52) tengah menyiapkan sekantong plastik beras untuk pembeli di Pasar Kosambi, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

AYOBANDUNG.ID — Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, dipadati kendaraan bermotor Sabtu, 26 Juli 2025, siang. Agus baru saja menutup dagangannya. Ia bisa beristirahat. Tapi pikirannya riuh oleh harga beras yang naik juga pelanggan yang merosot.

Beras yang ia pakai untuk membuat kupat adalah jenis premium. Dua tahun lalu, harganya hanya berkisar Rp13 ribu per kilogram. Namun saat ini harganya mencapainya Rp17 ribu per kilogram.

"Beli beras yang 17 ribu, jenis ST. Dulu harganya 13 ribu. Udah dua tahun lebih naik. Kalau kosong ya naik harganya," ungkapnya Sabtu, 26 Juli 2025.

Sejak berjualan pada 2020, Agus mematok harga satu porsi kupat tahu sebesar Rp15 ribu. Hingga pandemi Covid-19 berakhir, ia tetap mempertahankan harga tersebut. Bahkan kini harganya pun masih sama.

Dalam sehari, ia bisa mengantongi pendapat kotor sekitar Rp100-200 ribu. Ini belum dipotong oleh modal dan sebagainya.

Di satu sisi, pria 62 tahun itu tak berani menaikkan harga jual. Sebab ia takut pelanggan pada kabur. Meskipun harga beras melonjak cukup drastis.

Untuk mengantisipasi kerugian, ia pun terpaksa mengurangi isi satu porsi kupat tahu. Ini agar usahanya tidak merugi yang bisa membuatnya gulung tikar alias bangkrut.

"Harga jual sama tapi ukuran porsinya dikurangin dari biasanya," ujarnya.

Pedagang beras melayani pembeli di Pasar Sederhana, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Pedagang beras melayani pembeli di Pasar Sederhana, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Tak ada yang banyak bisa ia lakukan jika harga beras naik. Menurunkan kualitas beras menurutnya terlalu beresiko untuk usahanya. Alhasil Agus hanya bisa berharap pemerintah bisa segera menemukan solusinya.

"Harapannya ya pemerintah bisa segera mengatasi ini. Apalagi sekarang lagi sulit ekonomi, pelanggan berkurang," ceritanya sekaligus berharap.

Harga Beras Naik, Pedagang Menjerit

Kenaikan harga beras di tingkat eceran menjadi cerita tersendiri. Rahmat Kurnia (52), pedagang beras generasi ketiga asal Cimahi, mengaku harga beras mulai naik sejak awal Juni.

“Naiknya dari Rp200 sampai akhirnya bulet jadi naik Rp1.000. Sekarang beras paling murah Rp14.000 untuk kualitas medium. Yang premium sekarang paling murah Rp18.000,” ujar Rahmat saat ditemui di kiosnya di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Sabtu, 26 Juli 2025.

Menurutnya, mayoritas konsumennya adalah ibu rumah tangga. Keluhan datang hampir setiap hari dari para pembeli.

"Jelas berat, terutama untuk konsumen. Mereka yang biasa pakai beras Rp13.000 sekarang harus beli Rp14.000-Rp18.000. Pasti komplain mah ada lah," katanya.

Kondisi serupa dialami pedagang lain, Aman (69), yang mengaku stok beras di tokonya menipis drastis. Dulu, ia mengakui stok beras bisa mencapai tiga ton.

"(Sekarang) Tersisa cuma tiga kuintal, itu pun stok terakhir," ungkapnya.

Ia menyebut harga beras premium sempat mencapai Rp18.000 per kilogram, naik signifikan dari harga normal sebelumnya di kisaran Rp15.000–Rp16.000.

"Kalau stok terus terbatas, kemungkinan harga bisa naik lagi," ujarnya khawatir.

Dia bilang, kondisi itu diperparah dengan musim panen yang belum terjadi. Berdasarkan informasi yang ia peroleh, para petani baru saja melakukan penanaman padi belakangan ini.

Aman pun berharap Perum Bulog segera mengeluarkan pasokan dengan kualitas layak dan harga terjangkau. Ini agar beras tidak mengalami kenaikkan secara terus menerus.

"Bulog harus peduli. Jangan asal kasih barang murah tapi kualitas tidak memuaskan," tuturnya.

Warga antre untuk menerima bantuan sosial program keluarga harapan (PKH) di Kantor Pos Cabang Utama, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Jumat 10 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Warga antre untuk menerima bantuan sosial program keluarga harapan (PKH) di Kantor Pos Cabang Utama, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Jumat 10 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Kemiskinan di Jabar Menurun, tapi di Perkotaan Meningkat

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat penurunan tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Barat sebesar 0,06 persen per Maret 2025. Namun, di balik kabar baik itu, muncul sorotan terhadap lonjakan kemiskinan di wilayah perkotaan yang justru meningkat.

Kepala BPS Jabar, Darwis Sitorus, menjelaskan bahwa jumlah penduduk miskin secara total kini berada di angka 3,65 juta orang, atau 7,02 persen dari total populasi Jawa Barat.

Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan 3,67 juta orang pada September 2024. Namun, secara terperinci, wilayah perkotaan justru mengalami peningkatan angka kemiskinan.

"Secara absolut, di perkotaan terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin sebanyak 66,02 ribu orang, sementara di pedesaan turun sebanyak 79,63 ribu orang," kata Darwis dalam keterangannya, Jumat, 25 Juli 2025.

Fenomena ini disinyalir tidak lepas dari memburuknya kondisi ekonomi masyarakat perkotaan yang dibayangi kenaikan harga kebutuhan pokok, termasuk beras. Apalagi saat ini tengah beredar isu adanya beras oplosan. Sehingga Darwis menilai hal tersebut membuat masyarakat memilih beras dengan kualitas premium yang harganya lebih mahal.

"Ya, yang pastinya ngefek, karena harga yang dioplos itu lebih tinggi. Makanya di perkotaan orang cenderung mengkonsumsi beras premium. Kemungkinan ini bisa berkorelasi dengan adanya peningkatan angka kemiskinan," tutur Darwis saat menjawab pertanyaan seputar pengaruh beras oplosan dan kenaikkan harga.

Ia menambahkan bahwa garis kemiskinan (GK) pada Maret 2025 tercatat sebesar Rp547.752 per orang per bulan, naik 2,29 persen dari periode sebelumnya. Dari total itu, pengeluaran makanan berkontribusi 74,88 persen, dengan GK makanan sebesar Rp410.143 dan GK nonmakanan Rp137.609 per bulan.

Massa dari Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Kota Bandung menggelar Konser Kemiskinan dan Kelaparan sebagai bentuk protes terhadap kemiskinan yang masih membelenggu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Massa dari Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Kota Bandung menggelar Konser Kemiskinan dan Kelaparan sebagai bentuk protes terhadap kemiskinan yang masih membelenggu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

"Kemiskinan yang bermasalah itu di perkotaan dari tingkat kedalaman paparan kemiskinan. Ini mungkin ada hubungannya dengan jumlah pengangguran yang secara jumlah orangnya meningkat, meskipun persentasenya menurun,” katanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov Jabar tengah menyiapkan sebuah aplikasi digital yang mempertemukan pencari kerja dan penyedia lowongan.

"Sehingga nanti bisa dikawinkan antara lowongan kerja dengan pencari kerja. Mungkin itu yang dapat menyelesaikan permasalahan di Jawa Barat,” tambah Darwis.

Dengan naiknya kebutuhan dasar seperti beras, masyarakat miskin di perkotaan kini berada dalam tekanan ganda: harga melambung dan lapangan kerja menyusut. Pemerintah dan pemangku kepentingan diminta hadir lebih dekat untuk menjawab tantangan tersebut.(*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)