Ketika Kebudayaan Diminta Selalu Kondusif

4 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Gedung Pusat Kebudayaan Jalan Naripan Bandung. (Foto: Abah Omtris)
Gedung Pusat Kebudayaan Jalan Naripan Bandung. (Foto: Abah Omtris)

Bandung kerap menyebut dirinya kota kreatif, kota budaya, kota gagasan. Kota dengan festival yang meriah, mural yang fotogenik, dan slogan yang tampak selalu siap dirayakan.

Namun di balik keramaian itu, muncul gejala yang patut direnungkan bersama: kebudayaan perlahan diminta untuk bersikap lebih jinak --tidak terlalu kritis, tidak terlalu gaduh, dan sebisa mungkin tidak merepotkan kekuasaan. Sawala Budaya 2024 - 2025 membuka paradoks tersebut dengan cukup terang. Ketika ruang dialog yang seharusnya menjadi jantung kebudayaan justru diuji oleh dorongan menjaga ketertiban, bukan keberanian untuk jujur. Kota bisa tampak hidup di permukaan, tetapi diam-diam kehilangan suaranya sendiri.

Sawala Budaya 2024 - 2025, dengan segala dinamika dan polemiknya, sejatinya menghadirkan ruang refleksi penting bagi Kota Bandung. Ia bukan sekadar forum teknis pemajuan kebudayaan, melainkan cermin yang memantulkan wajah kebudayaan kita apa adanya - lengkap dengan ketegangan, kecemasan, dan kontradiksi yang selama ini tersimpan di balik narasi kemajuan.

Di satu sisi, Sawala menunjukkan bahwa energi deliberatif warga masih bekerja. Seniman, akademisi, dan pegiat komunitas meluangkan waktu, pikiran, dan daya kritis untuk memikirkan arah kebudayaan kota. Namun di sisi lain, dinamika pasca-Sawala juga memperlihatkan betapa rapuhnya ekosistem kebudayaan ketika berhadapan dengan tekanan tafsir kepentingan dan keinginan agar semuanya tetap “kondusif”.

Dalam sejarahnya, kebudayaan justru kerap hadir sebagai gangguan yang sehat. Ia mengusik kebiasaan, mempertanyakan kelaziman, dan menggugat nilai-nilai yang mulai membatu. Kebudayaan yang sepenuhnya rapi, senyap, dan patuh bukanlah tanda kesehatan, melainkan gejala domestikasi. Kota yang matang secara budaya seharusnya mampu menampung ketegangan. Ia tidak alergi pada kritik dan tidak tergesa-gesa menafsir kegelisahan sebagai ancaman. Sebab di sanalah kebudayaan bekerja: sebagai ruang negosiasi nilai, bukan sekadar etalase prestasi.

Sayangnya, dalam praktik kebijakan, kebudayaan kerap diposisikan sebagai pelengkap narasi pembangunan. Ia diharapkan mendukung citra, menguatkan stabilitas, dan menjaga suasana tetap tertib. Bahasa ini terdengar wajar, tetapi menyimpan risiko laten: kebudayaan direduksi menjadi dekorasi kebijakan, bukan sumber koreksi. Padahal, kebudayaan yang kehilangan keberanian moral untuk mengingatkan kekuasaan akan kehilangan fungsi etisnya yang paling mendasar.

Di tengah itu semua, kita juga perlu melihat wajah kota yang lebih besar. Wakil Wali Kota Bandung telah ditetapkan sebagai tersangka penyalahgunaan jabatan. Persoalan sampah tak kunjung selesai—lebih cepat hadir pernyataan pers dibanding armada pengangkut. Banjir datang setiap hujan, seolah menegaskan bahwa kota ini lebih patuh pada gravitasi daripada pada perencanaan. Sementara pelanggaran HAM muncul seperti iklan pop-up: tak diinginkan, tetapi terus berulang. Ini tentu bukan kabar baik bagi kota yang gemar menyebut dirinya kreatif. Sebab kreativitas, pada hakikatnya, adalah kemampuan menciptakan nilai—bukan sekadar konten visual atau slogan kebijakan.

Dalam konteks krisis moral semacam ini, kebudayaan seharusnya tampil bukan sebagai "penghibur", melainkan sebagai "pengingat". Bukan sebagai perpanjangan tangan birokrasi, melainkan sebagai suara etis yang berani mengatakan bahwa ada yang perlu dibenahi. Di sinilah posisi Dewan Kebudayaan menjadi penting. Ia tidak semestinya dipahami semata sebagai penyelenggara acara atau mitra administratif pemerintah. Lebih dari itu, ia adalah salah satu ruang kewarasan publik - penjaga agar kebijakan kota tidak sepenuhnya kehilangan orientasi nilai.

Tidak bisa dimungkiri bahwa kebudayaan bersinggungan dengan ekonomi. Pariwisata, ekonomi kreatif, dan kebudayaan memang bertemu dalam ruang kebijakan yang sama. Namun persoalannya bukan pada pertemuan itu, melainkan pada siapa yang memimpin arah. Ketika logika ekonomi berjalan terlalu jauh di depan, kebudayaan berisiko tertinggal sebagai pembenar. Ia dinilai dari dampak finansialnya, bukan dari daya transformasinya terhadap etika warga.

Paradigma semacam ini tercermin dalam gejala gentrifikasi yang kian meluas di Bandung. Ruang hidup berubah menjadi komoditas, warga lama tersisih oleh estetika baru yang lebih “menjual”, dan ingatan sosial perlahan terhapus oleh logika investasi. Ini bukan semata persoalan tata kota, melainkan persoalan kebudayaan: tentang nilai apa yang dipertahankan dan siapa yang diutamakan. Pada titik inilah Dewan Kebudayaan seharusnya hadir memberi masukan kritis - meski tidak selalu nyaman - agar pembangunan tidak berjalan dengan mengorbankan martabat sosial.

Perlu pula diingat secara jernih bahwa seluruh proses kebijakan, forum, dan kelembagaan kebudayaan ini dibiayai oleh pajak masyarakat. Artinya, kebudayaan publik bukan milik segelintir elite, melainkan tanggung jawab bersama kepada warga kota. Justru karena itulah kebudayaan tidak boleh direduksi menjadi ruang yang sekadar aman dan rapi. Ia harus akuntabel, terbuka terhadap kritik, dan berani menyuarakan kepentingan publik yang lebih luas.

Baca Juga: Menjaga Martabat Kebudayaan di Tengah Krisis Moral

Sawala 2025, dengan segala keterbatasannya, sejatinya merupakan ruang uji keberanian moral. Apakah kebudayaan Bandung berani berdiri sebagai ruang refleksi yang mandiri, ataukah ia akan terus mencari posisi aman di antara kepentingan ? Barangkali Sawala memang seperti pengetuk pintu Balai Kota dengan bahasa yang beradab: ada hal-hal mendasar yang perlu dibenahi, dan kebudayaan tidak boleh diam.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan Bandung hari ini bukanlah kebudayaan yang selalu menenangkan, melainkan kebudayaan yang mampu menjaga martabat kota. Martabat itu lahir dari keberanian menempatkan nilai di atas kenyamanan, etika di atas strategi, dan kepentingan warga di atas citra. Kondusivitas memang penting, tetapi tanpa keberanian moral, ia hanya menjadi selimut tipis yang menutupi persoalan struktural. Kebudayaan, jika sungguh dimuliakan, seharusnya berani menyingkap selimut itu - dengan bahasa yang santun, tetapi sikap yang tegas.

Bandung pernah dikenal sebagai kota gagasan. Tantangannya kini bukan sekadar mempertahankan label, melainkan memastikan bahwa gagasan itu masih memiliki nyali. Dan mungkin, di situlah tugas kebudayaan hari ini: bukan menjaga agar kota selalu tampak baik-baik saja, melainkan memastikan ia tetap jujur pada dirinya sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)