AYOBANDUNG.ID - Warga Desa Cikuda, Kecamatan Pangalengan, April 1941, sedang tidak ingin ribut. Tetapi ribut datang sendiri lewat sebuah pintu rumah yang dibuka paksa. Barang-barang berpindah tangan tanpa salam, tanpa pamit, dan tanpa rasa bersalah. Pagi berikutnya, pemilik rumah mendapati kekosongan, lalu kabar itu berjalan keliling kampung seperti orang keliling yang tidak perlu dipanggil.
Siapa nama pelakunya tidak lama mengambang. Warga menyebutnya sambil mengangguk pelan, aparat menyebutnya sambil membuka ingatan lama. Soehali. Residivis. Bandit kambuhan. Nama yang tidak butuh pengantar. Begitu disebut, semua orang paham ke mana arah cerita ini akan dibawa.
Beberapa hari setelah pembobolan, Soehali ditangkap. Kantor berita De Preangerbode mencatatnya sebagai bagian dari rutinitas, bukan peristiwa istimewa. Dalam arsip kolonial, orang seperti Soehali lebih mirip entri berulang daripada tokoh. Namanya muncul, menghilang, lalu muncul lagi, selalu di kolom yang sama.
Baca Juga: Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi
Setelah penangkapan, urusan belum dianggap selesai. Soehali harus dibawa kembali ke Desa Cikuda untuk dihadapkan kepada lurah. Ini bukan soal keadilan, melainkan soal prosedur. Desa perlu melihat wajah pelakunya. Lurah perlu mencatat kehadirannya. Kertas perlu tanda tangan.
Pengawalan dilakukan dengan cara kampung yang sudah terlatih oleh kebiasaan. Kepala kampung Pataruman ikut serta, supaya urusan tampak sah dan berwibawa. Polisi desa mendampingi, cukup untuk memastikan Soehali tidak belok arah terlalu jauh. Semua berjalan kaki. Tidak tergesa-gesa. Tidak pula santai berlebihan.
Rombongan melewati jalan kampung yang sudah hafal langkah kaki. Tanah lembap, kebun di kiri kanan, udara yang tidak menawarkan apa pun selain rutinitas. Rute itu membawa mereka ke Jembatan Cisangkuy, sebuah jembatan yang selama ini hanya dipakai orang untuk menyeberang dan tidak pernah diberi peran lain.
Di bawah jembatan itu, Sungai Cisangkuy mengalir dengan reputasi sendiri. Airnya deras, warnanya keruh, dan arusnya tidak punya kebiasaan berhenti menunggu. Sungai ini bukan tempat orang berdiri lama-lama, tetapi Soehali tampaknya punya rencana kecil.
Di dekat jembatan, Soehali mengajukan permintaan. Izin sebentar. Ia ingin ke tepi sungai. Permintaan ini tidak memancing kecurigaan berlebihan. Kepala kampung ada di situ. Polisi desa ada di situ. Semua masih dalam jarak pandang. Izin diberikan.
Baca Juga: Hikayat Bandit Rusuh di Ciparay, Bikin Onar Tusuk dan Palak Warga Tionghoa

Soehali bergerak menuju sungai. Ia menuruni tepian. Air mengalir tidak jauh dari kakinya. Rombongan menunggu. Waktu berjalan. Tidak lama, tetapi cukup untuk terasa ganjil. Soehali tidak kembali. Polisi desa mulai bergerak, memeriksa sekitar, memanggil nama yang tidak dijawab.
Kesadaran muncul pelan-pelan, lalu mengeras. Soehali tidak sedang mengambil air. Ia tidak sedang menyelesaikan urusan kecil. Ia sedang pergi.
Pencarian dilakukan tanpa banyak pidato. Semua bergerak ke satu arah yang sama. Sungai Cisangkuy menjadi titik perhatian. Dari atas jembatan, arusnya diperhatikan lama, seolah air bisa diminta memberi tanda atau mengembalikan apa yang ditelannya. Tetapi sungai hanya mengalir, tenang di permukaan, licik di bawahnya.
Tepian disusuri perlahan. Semak-semak ditebas seadanya. Jalur kecil di sekitar sungai dicek satu per satu, termasuk titik titik yang dianggap masuk akal untuk orang bersembunyi atau terpeleset. Tidak ada teriakan nama. Tidak ada jawaban. Usaha ini berlangsung sampai sore, sampai cahaya mulai turun dan pencarian kehilangan alasan untuk diteruskan.
Soehali tidak ditemukan. Hari ditutup tanpa hasil. Aparat pulang dengan urusan yang belum selesai, sementara desa menyimpan cerita itu dalam diam. Orang orang menunggu kabar lanjutan tanpa tahu apa yang sebenarnya mereka harapkan.
Baca Juga: Hikayat Judi Rancaekek Zaman Kolonial, Warga Eropa dan Pribumi Kabur saat Digerebek Polisi
Keesokan paginya, kabar itu datang dari arah yang sama. Seorang anak menemukan mayat di tepi Sungai Cisangkuy. Tubuh itu basah, tidak rapi, dan tidak lagi bergerak. Warga berdatangan, mengerumuni dengan jarak yang ragu. Aparat desa kembali menjalankan perannya, kali ini bukan untuk mencari, melainkan memastikan bahwa pencarian memang telah berakhir.
Setelah diperiksa, tak ada lagi keraguan. Mayat itu adalah Soehali. Bandit kambuhan yang sehari sebelumnya masih berjalan di bawah pengawalan kini terbujur kaku. Dugaan kuat menyebutkan bahwa ia tewas tenggelam ketika berusaha menyeberangi sungai demi melarikan diri.
Tidak ada saksi mata yang melihat langsung detik-detik terakhir Soehali. Pers hanya menyajikan dugaan. Namun dari lokasi penemuan jenazah dan waktu yang berselang, kesimpulan itu terasa masuk akal. Soehali kemungkinan mencoba menyeberang, kehilangan pijakan, lalu terseret arus. Dalam kegelapan dan kepanikan, sungai menang.
Laporan menyebutkan penyebab kematian tanpa tambahan apa pun. Tenggelam. Soehali meninggal ketika mencoba menyeberangi Sungai Cisangkuy dalam usahanya melarikan diri. Air bekerja lebih cepat daripada semua rencana yang sudah disusun sejak penangkapan.
Sungai Cisangkuy bukan sungai kecil yang bisa disepelekan. Alirannya deras, terutama di musim tertentu. Airnya keruh, dasar sungainya licin, dan arusnya sering menipu mata. Bagi orang yang terbiasa, menyeberang mungkin bukan perkara sulit. Namun bagi seseorang yang tergesa, dikejar rasa takut, dan mungkin dibebani borgol atau pakaian berat, sungai bisa berubah menjadi perangkap maut.
