Riwayat Bandit Kambuhan yang Tumbang di Cisangkuy

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi
Ilustrasi

AYOBANDUNG.ID - Warga Desa Cikuda, Kecamatan Pangalengan, April 1941, sedang tidak ingin ribut. Tetapi ribut datang sendiri lewat sebuah pintu rumah yang dibuka paksa. Barang-barang berpindah tangan tanpa salam, tanpa pamit, dan tanpa rasa bersalah. Pagi berikutnya, pemilik rumah mendapati kekosongan, lalu kabar itu berjalan keliling kampung seperti orang keliling yang tidak perlu dipanggil.

Siapa nama pelakunya tidak lama mengambang. Warga menyebutnya sambil mengangguk pelan, aparat menyebutnya sambil membuka ingatan lama. Soehali. Residivis. Bandit kambuhan. Nama yang tidak butuh pengantar. Begitu disebut, semua orang paham ke mana arah cerita ini akan dibawa.

Beberapa hari setelah pembobolan, Soehali ditangkap. Kantor berita De Preangerbode mencatatnya sebagai bagian dari rutinitas, bukan peristiwa istimewa. Dalam arsip kolonial, orang seperti Soehali lebih mirip entri berulang daripada tokoh. Namanya muncul, menghilang, lalu muncul lagi, selalu di kolom yang sama.

Baca Juga: Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Setelah penangkapan, urusan belum dianggap selesai. Soehali harus dibawa kembali ke Desa Cikuda untuk dihadapkan kepada lurah. Ini bukan soal keadilan, melainkan soal prosedur. Desa perlu melihat wajah pelakunya. Lurah perlu mencatat kehadirannya. Kertas perlu tanda tangan.

Pengawalan dilakukan dengan cara kampung yang sudah terlatih oleh kebiasaan. Kepala kampung Pataruman ikut serta, supaya urusan tampak sah dan berwibawa. Polisi desa mendampingi, cukup untuk memastikan Soehali tidak belok arah terlalu jauh. Semua berjalan kaki. Tidak tergesa-gesa. Tidak pula santai berlebihan.

Rombongan melewati jalan kampung yang sudah hafal langkah kaki. Tanah lembap, kebun di kiri kanan, udara yang tidak menawarkan apa pun selain rutinitas. Rute itu membawa mereka ke Jembatan Cisangkuy, sebuah jembatan yang selama ini hanya dipakai orang untuk menyeberang dan tidak pernah diberi peran lain.

Di bawah jembatan itu, Sungai Cisangkuy mengalir dengan reputasi sendiri. Airnya deras, warnanya keruh, dan arusnya tidak punya kebiasaan berhenti menunggu. Sungai ini bukan tempat orang berdiri lama-lama, tetapi Soehali tampaknya punya rencana kecil.

Di dekat jembatan, Soehali mengajukan permintaan. Izin sebentar. Ia ingin ke tepi sungai. Permintaan ini tidak memancing kecurigaan berlebihan. Kepala kampung ada di situ. Polisi desa ada di situ. Semua masih dalam jarak pandang. Izin diberikan.

Baca Juga: Hikayat Bandit Rusuh di Ciparay, Bikin Onar Tusuk dan Palak Warga Tionghoa

Soehali bergerak menuju sungai. Ia menuruni tepian. Air mengalir tidak jauh dari kakinya. Rombongan menunggu. Waktu berjalan. Tidak lama, tetapi cukup untuk terasa ganjil. Soehali tidak kembali. Polisi desa mulai bergerak, memeriksa sekitar, memanggil nama yang tidak dijawab.

Kesadaran muncul pelan-pelan, lalu mengeras. Soehali tidak sedang mengambil air. Ia tidak sedang menyelesaikan urusan kecil. Ia sedang pergi.

Pencarian dilakukan tanpa banyak pidato. Semua bergerak ke satu arah yang sama. Sungai Cisangkuy menjadi titik perhatian. Dari atas jembatan, arusnya diperhatikan lama, seolah air bisa diminta memberi tanda atau mengembalikan apa yang ditelannya. Tetapi sungai hanya mengalir, tenang di permukaan, licik di bawahnya.

Tepian disusuri perlahan. Semak-semak ditebas seadanya. Jalur kecil di sekitar sungai dicek satu per satu, termasuk titik titik yang dianggap masuk akal untuk orang bersembunyi atau terpeleset. Tidak ada teriakan nama. Tidak ada jawaban. Usaha ini berlangsung sampai sore, sampai cahaya mulai turun dan pencarian kehilangan alasan untuk diteruskan.

Soehali tidak ditemukan. Hari ditutup tanpa hasil. Aparat pulang dengan urusan yang belum selesai, sementara desa menyimpan cerita itu dalam diam. Orang orang menunggu kabar lanjutan tanpa tahu apa yang sebenarnya mereka harapkan.

Baca Juga: Hikayat Judi Rancaekek Zaman Kolonial, Warga Eropa dan Pribumi Kabur saat Digerebek Polisi

Keesokan paginya, kabar itu datang dari arah yang sama. Seorang anak menemukan mayat di tepi Sungai Cisangkuy. Tubuh itu basah, tidak rapi, dan tidak lagi bergerak. Warga berdatangan, mengerumuni dengan jarak yang ragu. Aparat desa kembali menjalankan perannya, kali ini bukan untuk mencari, melainkan memastikan bahwa pencarian memang telah berakhir.

Setelah diperiksa, tak ada lagi keraguan. Mayat itu adalah Soehali. Bandit kambuhan yang sehari sebelumnya masih berjalan di bawah pengawalan kini terbujur kaku. Dugaan kuat menyebutkan bahwa ia tewas tenggelam ketika berusaha menyeberangi sungai demi melarikan diri.

Tidak ada saksi mata yang melihat langsung detik-detik terakhir Soehali. Pers hanya menyajikan dugaan. Namun dari lokasi penemuan jenazah dan waktu yang berselang, kesimpulan itu terasa masuk akal. Soehali kemungkinan mencoba menyeberang, kehilangan pijakan, lalu terseret arus. Dalam kegelapan dan kepanikan, sungai menang.

Laporan menyebutkan penyebab kematian tanpa tambahan apa pun. Tenggelam. Soehali meninggal ketika mencoba menyeberangi Sungai Cisangkuy dalam usahanya melarikan diri. Air bekerja lebih cepat daripada semua rencana yang sudah disusun sejak penangkapan.

Baca Juga: Sejarah Pacuan Kuda Tegallega Bandung, Panggung Ratu Wilhelmina yang Jadi Sarang Judi dan Selingkuh Tuan Eropa

Sungai Cisangkuy bukan sungai kecil yang bisa disepelekan. Alirannya deras, terutama di musim tertentu. Airnya keruh, dasar sungainya licin, dan arusnya sering menipu mata. Bagi orang yang terbiasa, menyeberang mungkin bukan perkara sulit. Namun bagi seseorang yang tergesa, dikejar rasa takut, dan mungkin dibebani borgol atau pakaian berat, sungai bisa berubah menjadi perangkap maut.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)