Berkah Caruluk

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Selasa 10 Mar 2026, 20:44 WIB
Penjual kolang kaling. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Tri Junari)

Penjual kolang kaling. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Tri Junari)

Saat asyik membaca berita soal kuliner di Pikiran Rakyat, tiba-tiba Aa Akil, anak kedua (11 tahun), menyela dengan pertanyaan sederhana.

Bah, buat buka nanti ada kolak (kolang-kaling)?”

Sambil mendekat. “Duka, cobi tatosken ka Bu. Pami kolek (sop buah) biasana mah aya,” jawabku.

Aa langsung menimpali dengan nada penuh imajinasi, “Enak kalau dingin-dingin, pakai es, kolang-kalingnya diminum… Seger!”

Ucapan ringan dari bocah kelas lima itu seperti membuka kenangan lama. Ketika membayangkan semangkuk kolak untuk berbuka, pikiran justru melayang jauh ke kampung halaman.

Ramadan tidak hanya tentang hidangan di meja, tetapi tentang perjalanan rasa dan ikhtiar bersama merawat tradisi. Kampung yang terkenal dengan sale dan opak itu memiliki kenangan lain, mulai dari pohon-pohon aren yang menjulang tinggi, tempat orang-orang lembur memanjat sejak pagi, tuturubun ti janari. Suasana mengambil lahang (air nira yang segar) yang diolah dengan kesabaran.

Dapur sederhana dan alakadarnya, tungku (hawu) menyala perlahan. Lahang direbus, sebagian dijadikan gula aren. Ada yang menumbuk caruluk dengan tong kayu khas, drum, termasuk yang menyiapkan opak untuk dijemur di halaman. Semua dikerjakan dengan alakadarnya yang mengikuti jejak orang tua dulu.

Pasalnya, kehadiran cangkaleng, buah aren yang melalui proses panjang sebelum akhirnya sampai di mangkuk (tempat cup) kolak yang manis.

Saat Aa Akil membayangkan segarnya kolang-kaling bercampur es saat berbuka, justru teringat perjalanan caruluk di baliknya. Pohon aren yang tinggi, tangan-tangan yang terampil, api tungku yang setia menyala, dan kesabaran orang-orang kampung yang mengolah alam menjadi berkah, bukan jadi malapetaka.

Kolang-kaling di Pasar Gedebage. (Foto: Ayobandung.com)
Kolang-kaling di Pasar Gedebage. (Foto: Ayobandung.com)

Takjil Favorit Ramadan

Ramadan memang sering menghadirkan kenangan melalui rasa. Kadang dari semangkuk kolak sederhana, kita diingatkan bahwa setiap manis yang kita nikmati hari ini, terlahir dari kerja, waktu, dan tradisi yang panjang.

Kolang-kaling adalah makanan berbentuk lonjong, berwarna putih transparan, yang berasal dari biji buah aren muda (arenga pinnata). Setelah melalui proses perebusan dan perendaman untuk menghilangkan getah dan menjadi kenyal, cangkaleng sering diolah menjadi manisan, campuran es buah, kolak, terutama saat bulan Ramadan.

Dalam 100 gram kolang-kaling, terkandung sekitar 27 kkal. Buah ini juga mengandung nutrisi penting seperti karbohidrat, protein, serat, kalsium, fosfor, zat besi, serta vitamin A, B, dan C. Kadar airnya yang sangat tinggi, sekitar 94% yang dapat membuat cangkaleng menjadi camilan rendah kalori yang cocok untuk pola makan sehat.

9 Manfaat Kolang-Kaling bagi Kesehatan Tubuh

Kandungan nutrisi dan senyawa bioaktif di dalam kolang-kaling menjadikannya sebagai pangan fungsional yang bermanfaat untuk berbagai aspek kesehatan:

1. Dapat melancarkan pencernaan

Kolang kaling memiliki serat yang tinggi sehingga dapat membantu mencegah sembelit dan mendukung kesehatan dalam sistem pencernaan.

2. Menurunkan risiko osteoporosis

Dengan kandungan kalsium sekitar 91 mg per 100 gram, kolang-kaling membantu memperkuat tulang dan mencegah pengeroposan, khususnya pada lansia dan wanita menopause.

3. Mengontrol Kadar Gula Darah

Kandungan galaktomanan dan glukomanan (polisakarida alami) di dalamnya berfungsi menjaga kadar gula darah tetap stabil, sehingga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes jika tidak ditambahkan gula berlebih.

4. Menjaga Kesehatan Jantung

Zat aktif dalam kolang-kaling dapat membantu menurunkan tekanan darah dan kolesterol jahat, sehingga menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke.

5. Mencegah Dehidrasi

Kandungan air yang tinggi membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh, terutama saat cuaca panas atau masa pemulihan.

6. Menyehatkan Kulit dan Mencegah Penuaan Dini

Kandungan antioksidan seperti flavonoid dan polifenol membantu menangkal radikal bebas, menjaga kelembaban kulit, dan mengurangi tanda-tanda penuaan.

7. Meredakan Nyeri Sendi dan Peradangan

Studi oleh Evi Sovia dan Dian Anggraeny (2019) menunjukkan bahwa ekstrak etanol kolang-kaling mengandung alkaloid, flavonoid, dan quinon yang memiliki potensi analgesik (pereda nyeri) dan anti-inflamasi (anti peradangan). Dalam pengujian laboratorium, ekstrak ini mampu mengurangi nyeri dan pembengkakan pada hewan uji, bahkan efektivitasnya sebanding dengan obat anti-nyeri seperti kalium diklofenak.

8. Baik untuk Program Diet

Gelatin alami di dalam kolang-kaling memberikan rasa kenyang lebih lama, sehingga membantu mengontrol nafsu makan dan mendukung penurunan berat badan.

9. Membantu Meredakan Gejala Asam Lambung

Teksturnya yang lembut dan kandungan seratnya dapat membantu melindungi lapisan lambung dan mengurangi iritasi, menjadikannya pilihan tepat untuk penderita asam lambung. Namun, sebaiknya diolah tanpa bahan yang bersifat asam atau tinggi gula.

Bahaya Makan Cangkaleng secara Berlebihan

Meski memiliki banyak manfaat, konsumsi kolang-kaling secara berlebihan dapat menimbulkan efek samping, antara lain:

1. Gangguan pencernaan seperti kembung atau diare, terutama pada individu yang sensitif terhadap serat tinggi.

2. Lonjakan gula darah, jika dikonsumsi dalam bentuk manisan atau kolak yang menggunakan banyak gula.

3. Risiko alergi, meskipun jarang, bisa terjadi pada orang yang sensitif terhadap tanaman jenis palma.

Konsumsilah dalam jumlah wajar dan hindari tambahan gula yang berlebihan agar manfaat kolang-kaling bagi kesehatan dapat dirasakan secara optimal. Jika mengalami reaksi yang tidak biasa (berlebihan) setelah mengkonsumsi cangkaleng, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

Penting untuk selalu mengutamakan saran medis, terutama bila memiliki kondisi kesehatan tertentu (sedang dalam pengobatan). Konsultasi dengan tenaga kesehatan professional dapat membantu memastikan konsumsi kolang-kaling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuhnya. (https://www.biofarma.co.id)

Taufik Mursholi, pengecer kolang-kaling di Pasar Gedebage. (Sumber: Ayobandung.com)
Taufik Mursholi, pengecer kolang-kaling di Pasar Gedebage. (Sumber: Ayobandung.com)

Memupuk Falsafah Kolang-kaling

Saat ngabuburit war takjil di pasar tumpah depan kampus (UIN Bandung), di hidangan meja iftar bulan Ramadan, kolang-kaling hampir selalu hadir. Bentuknya sederhana putih bening, kenyal, kadang mengapung di dalam kolak, es campur.

Tidak mencolok seperti kurma dan tak sepopuler gorengan bala-bala, gehu. Namun, di balik kesederhanaannya, justru cangkaleng menyimpan cerita panjang tentang kesabaran, ketekunan, dan falsafah hidup yang harus jadi pegangan biar berkah dan terarah.

Kolang kaling berasal dari buah pohon aren, kawung (arengan pinnata). Berwarna putih, berbentuk pipih seukuran ibu jari orang dewasa, dan telah menjadi makanan khas di bulan Ramadan.

Cangkaleng dijadikan kolak, lebih sering dicampur dengan es batu dan sirup, jadilah menu takjil yang sangat enak. Pohon aren (kolang-kaling) oleh kebanyakan orang, hanya dianggap sebatas tanaman liar yang banyak tumbuh di lereng gunung, di pinggir-pinggir sungai di antara pepohonan yang rindang.

Walaupun dianggap sebelah mata, pohon caruluk memberikan khidmat kemanfaatan yang luar biasa. Semua bagian pohon bermanfaat bagi kehidupan makhluk lain, khususnya manusia. Pohon ini tidak merasa terganggu bila bagian dari tubuhnya dimanfaatkan oleh makhluk di sekelilingnya.

Hampir seluruh bagian pohon ini dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk yang mempunyai nilai jual dan bernilai ekonomi, mulai dari akar, batang, ijuk, buah, daun, dan bunganya.

Peran dan fungsinya terhadap lingkungan hidup, sangat mendukung kelestarian sumber daya alam, pohon ini memberikan nilai ekonomi yang tak ternilai besarnya karena berfungsi sebagai tanaman konservasi yang sangat efektif dalam penanggulangan degradasi lahan dan reboisasi.

Sumbangsih tanaman perkebunan yang satu ini terhadap kelestarian lingkungan sudah tidak diragukan lagi. Pokoknya sangat cocok digunakan sebagai tanaman dalam pelestarian lahan, air dan lingkungan tumbuh lainnya. Pasalnya, kolang-kaling dapat tumbuh dengan baik pada berbagai ekosistem dan toleran pada pertanaman campuran.

Caruluk memiliki perakaran dan tajuk yang lebat, tidak memerlukan pemeliharaan yang intensif, sehingga cocok digunakan pada lahan marginal. Sungguh tak ternilai manfaat yang dihasilkan oleh sebatang pohon kolang-kaling.

Semua bagian tubuhnya mempunyai nilai ekonomi dan memberikan manfaat bagi manusia serta lingkungan sekitarnya. Memperhatikan filosofi pohon kolang-kaling dan azas manfaat yang dihasilkannya. Memberikan gambaran dan ajakan yang sangat tepat agar manusia bisa belajar dan memaknai hidup seperti pohon aren.

Dalam menjalani hidup tidak membuat dan menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan dalam bentuk apa pun. Sebaliknya harus mampu menjaga, memberikan kelestarian dan kemanfaatan terhadap lingkungan.

Harga kolang-kaling naik drastis pada Ramadhan 2022 dan membuat perajin bisa meraup untung bersih ratusan ribu rupiah per hari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Restu Nugraha)
Harga kolang-kaling naik drastis pada Ramadhan 2022 dan membuat perajin bisa meraup untung bersih ratusan ribu rupiah per hari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Restu Nugraha)

Mari kita bercermin pada batang pohon caruluk yang tumbuh tegap menjulang tinggi, maka pohon kolang-kaling dapat dijadikan sebagai simbol jiwa yang kuat, kokoh, beradab dan kaya akan manfaat.

Maksud kuat, kokoh dan beradab disini adalah mampu mengayomi masyarakat kecil yang lemah (kurang beruntung) di wilayah sekitarnya dan bukan sebaliknya, mentang-mentang kuat dan berkuasa semena-mena untuk menindas sesama (menghimpit dan menekan) masyarakat yang lemah.

Kaya akan manfaat disimbolkan dengan mempunyai penghasilan yang banyak. Kaya akan tetapi tidak kikir dan pelit karena apa yang dimiliki digunakan untuk bisa memberi manfaat positif bagi yang membutuhkannya.

Menarik, sebatang pohon kolang-kaling tidak pernah marah ketika orang mengambil bagian tubuhnya untuk dimanfaatkan dalam keberlangsungan hidup seseorang. Ini melambangkan dan mengajarkan manusia agar tidak protes jika telah bekerja keras, namun hasil dari usahanya dimanfaatkan oleh orang yang lebih membutuhkan.

Filosofi pohon cangkaleng, menggambarkan sesungguhnya tangkal kawung merupakan pohon terkaya dibandingkan dengan pohon lainnya, akan tetapi kehidupannya mencerminkan kesederhanaan. Masih tetap sabar walau ijuknya diambil, buahnya dipetik, daun tuanya ditebas.

Ternyata ini tidak membuatnya menjadi miskin dan menderita. Justru pohon kawung ini menghasilkan buah, buahnya menghasilkan biji yang biasa kita sebut kolang-kaling dan menghasilkan multifungsi.

Ibarat seorang yang bekerja, bagaimana agar hidup dapat memberikan dampak positif terhadap anak buah, atasan dan orang lain di sekelilingnya. Seorang pimpinan jangan mempermasalahkan posisi, jabatannya, tapi tunjukkanlah sikap, prilaku dan perbuatan yang memberikan pengaruh, motivasi dan inspirasi kepada bawahan (orang lain, atasan).

Tangkal Kawung menjadi sahabat yang tidak bisa disakiti, jika menyakitinya, akan membalas dengan sangat menyakitkan. Pada saat mengupas kulitnya, bila tidak berhati-hati, getahnya dapat terkena tangan, saat itulah akan menyerang balik. Getah kawung bisa menimbulkan gatal-gatal luar biasa, susah mencari penawarnya. Jika getah itu menetes di satu bagian tubuh dan digaruk, akan menyebar ke bagian tubuh lain, bahkan bisa ke seluruh tubuh.

Pada bulan Ramadan, cangkaleng yang awalnya dianggap sebelah mata. Kini sering disandingkan dengan buah kurma, buah yang melekat kuat dalam sejarah Islam. Kolang-kaling yang awalnya dianggap buah pinggiran tak berarti, bersanding dengan buah bersejarah dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw.

Kolang-kaling dan kurma disandingkan menjadi makanan pembuka dalam takjil berbuka puasa. Cangkaleng dan kurma memang punya beberapa kemiripan, keduanya merupakan jenis buah-buahan dari pohon yang tipologi dan karakternya hampir sama.

Uniknya, kolang-kaling dan kurma tampak berhubungan dekat, justru karena perbedaannya, misalnya saja cangkaleng berwarna putih, sedangkan kurma coklat kehitam-hitaman, kolang kaling merupakan biji yang dapat dimakan, sementara biji kurma dibuang.

Pesan tersembunyi yang ingin ditunjukan tentang misi rahmatan lil alamin. Islam adalah agama yang memberi ruang terbuka untuk mempertemukan berbagai kemungkinan, bukan cuma soal pertemuan kultur, tapi karakteristik alam, ras, warna kulit dan lain-lain.

Kolang-kaling dan kurma, sebagai jenis buah dari alam yang berbeda, dipertemukan pada satu meja hidangan (menyatu di satu cap) untuk menyambut berbuka puasa. (Pikiran Rakyat, 6 April 2023)

Penjual Kolang Kaling di Jalur Alternatif Garut – Tasik. (Sumber: Ayotasik.com | Foto: Irpan Wahab Muslim)
Penjual Kolang Kaling di Jalur Alternatif Garut – Tasik. (Sumber: Ayotasik.com | Foto: Irpan Wahab Muslim)

Orang tua dulu di kampung halaman yang terkenal dengan Opak dan Kolontong, hasil gula aren. Pernah bilang “Jang ari hirup teh kudu siga caruluk" (Hidup harus seperti pohon aren).

Waktu masih kecil tak tahu apa makna, pesan dan maksud dari salah satu piwuruk nasihat mendalam dari leluhur Ki Sunda. Tentunya, petuah orang tua sangat mulia. Pada intinya bukan soal menjadi pohonnya, melainkan tentang manfaat dan ketangguhan dalam menjalani kehidupan yang serba singkat ini.

1. Menjadi Pribadi yang Serba Guna

Pohon aren adalah salah satu pohon paling dermawan di alam. Hampir tidak ada bagian yang terbuang dari air nira menjadi gula kawung yang manis. Buah (Caruluk) menjadi kolang-kaling yang segar. Ijuk bisa digunakan untuk atap, sapu. Batang menjadi sagu aren, kayu bangunan. Daun menjadi janur (lidi). Di mana pun berada, diharapkan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain (khairunnas anfa’uhum linnas).

2. Mandiri dan Tangguh

Pohon aren biasanya tumbuh secara alami, bukan hasil budidaya yang dimanja. Kuat menahan erosi karena akarnya yang sangat kokoh dan bisa tumbuh di tanah yang miring, sulit sekalipun. Dalam menjalani hidup diharapkan memiliki mental yang kuat, tidak gampang menyerah pada keadaan, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.

3. Rendah Hati, Tidak Sombong

Meskipun memberikan banyak hasil yang bernilai tinggi. Gula aren harganya mahal, pohon aren tidak "berisik". Tumbuh tenang di hutan, lereng gunung tanpa perlu perhatian berlebih. Teruslah berkarya dan memberi manfaat tanpa harus selalu pamer (mencari pujian).

Caruluk Open 8 2023, ajang insan olah raga pingpong untuk menjaga soliditas, silaturahmi, dan memperkuat persatuan (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Istimewa)
Caruluk Open 8 2023, ajang insan olah raga pingpong untuk menjaga soliditas, silaturahmi, dan memperkuat persatuan (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Istimewa)

Ruang Perjumpaan

Untuk di kawasan Bandung Timur, terutama Cibiru, ada satu ruang kecil yang akrab bagi para pecinta tenis meja. PTM Caruluk, klub olahraga yang beralamat di Gang Kujang No.115D, Cipadung. Tempat ini bukan sekadar arena memukul bola kecil di atas meja hijau. Bagi sebagian orang, Caruluk adalah ruang perjumpaan, tempat melepas penat, merawat silaturahmi, sekaligus menghidupkan tradisi kebersamaan warga.

Menjelang senja saat bulan Ramadan, suasana Caruluk terasa berbeda. Ngabuburit tidak selalu harus berjalan-jalan, berburu takjil. Di sini, waktu menjelang berbuka kerap diisi dengan suara “tak… tak… tak…” bola pingpong yang saling berbalas. Selepas salat tarawih, suasana semakin hidup, permainan menjadi lebih seru, percakapan mengalir, dan tawa pecah di sela-sela reli panjang di atas meja.

Dalam liputan bertajuk “Caruluk Open 8, Bersama Ali Santosa Main Pingpong”, disebutkan PTM Caruluk pernah menggelar turnamen untuk divisi 9 dan 10 pada 17–19 November 2023. Turnamen itu bukan sekadar kompetisi, melainkan upaya mempererat silaturahmi antarpecinta tenis meja.

Pemilik PTM Caruluk, Deni Bostom, menjelaskan bahwa turnamen tersebut memiliki sistem yang menarik. Para juara dari setiap divisi dipertemukan kembali untuk memperebutkan gelar juara utama. Menurutnya, sistem seperti ini jarang dilakukan, bahkan diklaim sebagai yang pertama di wilayah Jawa Barat. Tujuannya sederhana untuk meningkatkan kualitas para pemain dan memberi ruang kompetisi yang sehat.

Turnamen itu menarik banyak peserta, tidak hanya dari Kota Bandung, tetapi datang dari berbagai daerah di sekitarnya. Di meja pingpong Caruluk, batas-batas wilayah seakan-akan mencair, yang ada hanyalah semangat olahraga dan persahabatan.

Salah satu peserta, Ali Santosa, Sekretaris PTM Kertajaya, mengaku senang karena mendapat kesempatan bertanding melawan para pemain senior. Baginya, tenis meja bukan sekadar olahraga fisik.

“Kesempatan bertemu dengan pemain-pemain yang lebih berpengalaman akan menambah khazanah keilmuan dalam pingpong. Karena olahraga ini bukan hanya soal teknik, tetapi soal berpikir keras saat menerima atau mengembalikan bola kepada lawan,” ujarnya.

Dari sana kita belajar bahwa tenis meja, seperti kehidupan, adalah tentang membaca arah datangnya bola, menimbang langkah, lalu memutuskan respons terbaik. (Ayo Bandung Jumat, 17 November 2023 | 20:00 WIB)

Setelah sahur ke-20, tepatnya bada salat Subuh, Selasa (10/3/2026), ketika mencoba mencari aktivitas PTM Caruluk di media sosial, instagram @ptmcaruluk, Aa Akil, tiba-tiba berkomentar ringan dengan penuh rasa penasaran.

Sebentar Bah, inikah teman Aa yang suka main pingpong dan sering juara katanya?”

Kutersenyum membaca komentar bocah kelas lima itu. “Wah, saé atuh!” gumamku.

Baca Juga: Dua Visi Keberlanjutan dalam Ibadah Ramadan

Rasa penasaran itu membuatku mengirim pesan kepada seorang kawan yang masih aktif bermain di Caruluk.

Salam. Mang punten ngawagel, pami bari ngabuburit atanapi tos taraweh sok aya nu maen di Caruluk? Ieu rencangan naroskeun. Nuhun.”

Tak lama berselang jawabannya datang dengan singkat dan mantap,

“Engké malam, tos taraweh aya nu main!”

Sejurus kubalas cepat, “Ashiap, nuhun infona!”

Bila kolang-kaling hadir sebagai pembuka takjil. Cangkaleng bukan sekadar menjadi percakapan singkat di layar ponsel. Caruluk menjelma ruang kebersamaan, tempat orang-orang larut dalam canda dan semangat saat bermain bola pingpong.

Orang tua dulu sering berpesan, “hirup téh kudu siga caruluk.” Jadilah manusia yang bermanfaat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tangguh menghadapi berbagai ujian hidup, dan tetap rendah hati dalam menjalani kehidupan yang serba singkat ini. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Mar 2026, 20:44

Berkah Caruluk

Orang tua dulu sering berpesan, “hirup téh kudu siga caruluk.” Jadilah manusia yang bermanfaat dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Penjual kolang kaling. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Tri Junari)
Bandung 10 Mar 2026, 20:44

Cerita Kimirai Fashion Menjemput Peluang di Tengah Semarak Pameran Menjelang Lebaran

UMKM yang berkesempatan untuk unjuk gigi dalam pameran adalah Kimirai, brand lokal fashion yang menyediakan berbagai jenis outfit lucu hingga busana muslim, dari usia remaja hingga dewasa.

UMKM yang berkesempatan untuk unjuk gigi dalam pameran adalah Kimirai, brand lokal fashion yang menyediakan berbagai jenis outfit lucu hingga busana muslim, dari usia remaja hingga dewasa. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 20:01

Dua Visi Keberlanjutan dalam Ibadah Ramadan

Ramadan menjadi ruang refleksi untuk memandang masa depan.

Seorang laki-laki sedang tilawah al-Qur'an. (Sumber: Pixabay)
Linimasa 10 Mar 2026, 18:55

Open Iftar Trafalgar Square, Buka Bersama Puasa Ramadan di Jantung London

Open Iftar di Trafalgar Square bermula dari tenda kecil mahasiswa SOAS dan kini menjadi tradisi buka puasa Ramadan terbesar di London.

Suasana Open Iftar di Trafalgar Square, London.
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 17:45

Piala Dunia 1986 Digelar Bersamaan dengan Bulan Ramadan

FIFA World Cup '86 yang digelar di Meksiko berbarengan dengan bulan suci Ramadan.

Halaman muka surat kabar terbitan Bandung, Gala dan Mandala yang menyoroti perhelatan Piala Dunia 1986 di Meksiko. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 16:13

Belanja atau Investasi? Mengelola THR di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

THR dapat menjadi kesempatan tidak hanya merayakan Lebaran, tetapi juga memperkuat keuangan rumah tangga.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)
Sejarah 10 Mar 2026, 14:59

Sejarah Supersemar, Dokumen Kontroversial Fondasi 3 Dekade Kekuasaan Rezim Orde Baru

Supersemar 11 Maret 1966 menjadi dasar politik lahirnya Orde Baru dan awal kekuasaan Soeharto selama lebih dari tiga dekade.

Ilustrasi Supersemar, dokumen yang hingga kini keberadaannya kontroversial.
Beranda 10 Mar 2026, 12:47

Balap Lari Tengah Malam di Gudsel dan Ciumbuleuit, Cara Anak Muda Bandung Menunggu Sahur

Balap lari jalanan Gudsel Run Race di Gudang Selatan Bandung menjadi hiburan malam Ramadan bagi anak muda, menghadirkan lomba lari spontan yang ramai penonton hingga menjelang sahur.

Suasana balap lari jalanan di Jalan Gudang Selatan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 12:08

Ngabuburit Membaca Buku 'Ramadhan di Priangan'

Buku–buku sejarah Bandung karya sang kuncen Bandung bapak Haryoto Kunto.

Ramadhan di Priangan karya Haryoto Kunto. (Foto: Istimewa)
Linimasa 10 Mar 2026, 10:37

Menyoal Kebiasaan Melawan Arus di Rancaekek

Jalan Raya Bandung–Garut di Rancaekek kerap dipenuhi pengendara motor yang melawan arus. Selain membahayakan, kebiasaan ini dipicu jarak putaran kendaraan yang jauh serta minimnya pengawasan.

Para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 09:29

Puasa Ramadan: Modal Spiritual Membangun Integritas

Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga.

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 10 Mar 2026, 06:47

Generasi Muda Angkat Suara di Hari Perempuan Internasional: Ketimpangan Masih Nyata

Bagi sebagian dari mereka, peringatan IWD bukan sekadar agenda tahunan, melainkan kesempatan untuk memahami dan menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi perempuan.

Maura dan Nazwa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 09 Mar 2026, 20:37

Demi Pemudik! Ayo Benahi Destinasi Wisata dan Kedai Kopi

Para pemudik libur lebaran sebagian besar menuju ke desa perlu disambut dengan pertunjukan budaya dan produk industri kreatif serta kuliner lokal.

Suasana destinasi ekowisata di Bukit Senyum, Kabupaten Bandung Barat, saat libur lebaran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Mar 2026, 19:13

Islam itu Agama yang Main Fisik (?): Bandung dan Kemarahan pada Kolonialisme

Agama ini memperlakukan manusia lain dengan adil, menolak penindasan, dan membebaskan mereka yang terjajah.

Bangunan Masjid Cipaganti zaman baheula. (Sumber: IBT Locale Techniek)
Linimasa 09 Mar 2026, 18:05

Sejarah Tarawih Kilat di Indonesia, Kontroversi Ibadah Ramadan yang Bertahan Lebih dari Seabad

Tarawih kilat di sebuah pesantren di Blitar telah berlangsung sejak 1907, dengan 23 rakaat yang selesai dalam sekitar 13 menit.

Tarawih kilat di Ponpes Mambaul Hikam atau Pondok Mantenan, Blitar.
Bandung 09 Mar 2026, 18:00

Berburu Fashion Lebaran 2026, Intip Pesona Scarf Premium dan Essential Lotion dari âmes!

Lengkapi koleksi fashion Lebaran 2026 dengan scarf premium dan essential lotion dari brand âmes yang elegan serta multifungsi.

Lengkapi koleksi fashion Lebaran 2026 dengan scarf premium dan essential lotion dari brand âmes yang elegan serta multifungsi. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 09 Mar 2026, 16:42

Merajut Asa di Persis Ramadhan Expo 2026: Saat Dakwah, Pendidikan, dan Ekonomi Melebur Jadi Satu

Menjadi momentum inklusif, PERSIS Ramadhan Expo 2026 yang digelar pada 6–8 Maret 2026 menjadi panggung besar bagi kolaborasi tiga pilar utama yaitu dakwah, pendidikan, dan ekonomi.

Menjadi momentum inklusif, PERSIS Ramadhan Expo 2026 yang digelar pada 6–8 Maret 2026 menjadi panggung besar bagi kolaborasi tiga pilar utama yaitu dakwah, pendidikan, dan ekonomi.
Beranda 09 Mar 2026, 15:07

Dari Femisida hingga Hak Reproduksi: 110 Tuntutan Perempuan Disuarakan di Kota Bandung

Peringatan IWD 2026 di Bandung memunculkan 110 tuntutan terkait kekerasan gender, femisida, hak buruh perempuan, kesehatan reproduksi, dan kebebasan sipil.

Ratusan orang berkumpul memperingati International Women’s Day (IWD) 2026 di Jalan Kawasan Asia Afrika Kota Bandung, Minggu (8/3) (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 09 Mar 2026, 14:23

Sebelum Menjelajah Gunung, Ketahui Dulu Grade-nya

Jalur pendakian gunung memiliki tingkat kesulitan berbeda. Kenali grade gunung dari yang paling mudah hingga paling berat sebelum memulai pendakian.

Ilustrasi gunung. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Mar 2026, 12:16

Mengasah Keahlian Negosiasi saat Ramadan, di Antara Keteguhan Hati dan Wawasan Seluas Samudera

Seni bernegosiasi perlu dikembangkan dalam pribadi masing-masing.

Ilustrasi proses negosiasi. (Sumber: Meta AI | Foto: Arif Minardi)