Berkah Caruluk

12 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Penjual kolang kaling. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Tri Junari)
Penjual kolang kaling. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Tri Junari)

Saat asyik membaca berita soal kuliner di Pikiran Rakyat, tiba-tiba Aa Akil, anak kedua (11 tahun), menyela dengan pertanyaan sederhana.

Bah, buat buka nanti ada kolak (kolang-kaling)?”

Sambil mendekat. “Duka, cobi tatosken ka Bu. Pami kolek (sop buah) biasana mah aya,” jawabku.

Aa langsung menimpali dengan nada penuh imajinasi, “Enak kalau dingin-dingin, pakai es, kolang-kalingnya diminum… Seger!”

Ucapan ringan dari bocah kelas lima itu seperti membuka kenangan lama. Ketika membayangkan semangkuk kolak untuk berbuka, pikiran justru melayang jauh ke kampung halaman.

Ramadan tidak hanya tentang hidangan di meja, tetapi tentang perjalanan rasa dan ikhtiar bersama merawat tradisi. Kampung yang terkenal dengan sale dan opak itu memiliki kenangan lain, mulai dari pohon-pohon aren yang menjulang tinggi, tempat orang-orang lembur memanjat sejak pagi, tuturubun ti janari. Suasana mengambil lahang (air nira yang segar) yang diolah dengan kesabaran.

Dapur sederhana dan alakadarnya, tungku (hawu) menyala perlahan. Lahang direbus, sebagian dijadikan gula aren. Ada yang menumbuk caruluk dengan tong kayu khas, drum, termasuk yang menyiapkan opak untuk dijemur di halaman. Semua dikerjakan dengan alakadarnya yang mengikuti jejak orang tua dulu.

Pasalnya, kehadiran cangkaleng, buah aren yang melalui proses panjang sebelum akhirnya sampai di mangkuk (tempat cup) kolak yang manis.

Saat Aa Akil membayangkan segarnya kolang-kaling bercampur es saat berbuka, justru teringat perjalanan caruluk di baliknya. Pohon aren yang tinggi, tangan-tangan yang terampil, api tungku yang setia menyala, dan kesabaran orang-orang kampung yang mengolah alam menjadi berkah, bukan jadi malapetaka.

Kolang-kaling di Pasar Gedebage. (Foto: Ayobandung.com)
Kolang-kaling di Pasar Gedebage. (Foto: Ayobandung.com)

Takjil Favorit Ramadan

Ramadan memang sering menghadirkan kenangan melalui rasa. Kadang dari semangkuk kolak sederhana, kita diingatkan bahwa setiap manis yang kita nikmati hari ini, terlahir dari kerja, waktu, dan tradisi yang panjang.

Kolang-kaling adalah makanan berbentuk lonjong, berwarna putih transparan, yang berasal dari biji buah aren muda (arenga pinnata). Setelah melalui proses perebusan dan perendaman untuk menghilangkan getah dan menjadi kenyal, cangkaleng sering diolah menjadi manisan, campuran es buah, kolak, terutama saat bulan Ramadan.

Dalam 100 gram kolang-kaling, terkandung sekitar 27 kkal. Buah ini juga mengandung nutrisi penting seperti karbohidrat, protein, serat, kalsium, fosfor, zat besi, serta vitamin A, B, dan C. Kadar airnya yang sangat tinggi, sekitar 94% yang dapat membuat cangkaleng menjadi camilan rendah kalori yang cocok untuk pola makan sehat.

9 Manfaat Kolang-Kaling bagi Kesehatan Tubuh

Kandungan nutrisi dan senyawa bioaktif di dalam kolang-kaling menjadikannya sebagai pangan fungsional yang bermanfaat untuk berbagai aspek kesehatan:

1. Dapat melancarkan pencernaan

Kolang kaling memiliki serat yang tinggi sehingga dapat membantu mencegah sembelit dan mendukung kesehatan dalam sistem pencernaan.

2. Menurunkan risiko osteoporosis

Dengan kandungan kalsium sekitar 91 mg per 100 gram, kolang-kaling membantu memperkuat tulang dan mencegah pengeroposan, khususnya pada lansia dan wanita menopause.

3. Mengontrol Kadar Gula Darah

Kandungan galaktomanan dan glukomanan (polisakarida alami) di dalamnya berfungsi menjaga kadar gula darah tetap stabil, sehingga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes jika tidak ditambahkan gula berlebih.

4. Menjaga Kesehatan Jantung

Zat aktif dalam kolang-kaling dapat membantu menurunkan tekanan darah dan kolesterol jahat, sehingga menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke.

5. Mencegah Dehidrasi

Kandungan air yang tinggi membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh, terutama saat cuaca panas atau masa pemulihan.

6. Menyehatkan Kulit dan Mencegah Penuaan Dini

Kandungan antioksidan seperti flavonoid dan polifenol membantu menangkal radikal bebas, menjaga kelembaban kulit, dan mengurangi tanda-tanda penuaan.

7. Meredakan Nyeri Sendi dan Peradangan

Studi oleh Evi Sovia dan Dian Anggraeny (2019) menunjukkan bahwa ekstrak etanol kolang-kaling mengandung alkaloid, flavonoid, dan quinon yang memiliki potensi analgesik (pereda nyeri) dan anti-inflamasi (anti peradangan). Dalam pengujian laboratorium, ekstrak ini mampu mengurangi nyeri dan pembengkakan pada hewan uji, bahkan efektivitasnya sebanding dengan obat anti-nyeri seperti kalium diklofenak.

8. Baik untuk Program Diet

Gelatin alami di dalam kolang-kaling memberikan rasa kenyang lebih lama, sehingga membantu mengontrol nafsu makan dan mendukung penurunan berat badan.

9. Membantu Meredakan Gejala Asam Lambung

Teksturnya yang lembut dan kandungan seratnya dapat membantu melindungi lapisan lambung dan mengurangi iritasi, menjadikannya pilihan tepat untuk penderita asam lambung. Namun, sebaiknya diolah tanpa bahan yang bersifat asam atau tinggi gula.

Bahaya Makan Cangkaleng secara Berlebihan

Meski memiliki banyak manfaat, konsumsi kolang-kaling secara berlebihan dapat menimbulkan efek samping, antara lain:

1. Gangguan pencernaan seperti kembung atau diare, terutama pada individu yang sensitif terhadap serat tinggi.

2. Lonjakan gula darah, jika dikonsumsi dalam bentuk manisan atau kolak yang menggunakan banyak gula.

3. Risiko alergi, meskipun jarang, bisa terjadi pada orang yang sensitif terhadap tanaman jenis palma.

Konsumsilah dalam jumlah wajar dan hindari tambahan gula yang berlebihan agar manfaat kolang-kaling bagi kesehatan dapat dirasakan secara optimal. Jika mengalami reaksi yang tidak biasa (berlebihan) setelah mengkonsumsi cangkaleng, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

Penting untuk selalu mengutamakan saran medis, terutama bila memiliki kondisi kesehatan tertentu (sedang dalam pengobatan). Konsultasi dengan tenaga kesehatan professional dapat membantu memastikan konsumsi kolang-kaling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuhnya. (https://www.biofarma.co.id)

Taufik Mursholi, pengecer kolang-kaling di Pasar Gedebage. (Sumber: Ayobandung.com)
Taufik Mursholi, pengecer kolang-kaling di Pasar Gedebage. (Sumber: Ayobandung.com)

Memupuk Falsafah Kolang-kaling

Saat ngabuburit war takjil di pasar tumpah depan kampus (UIN Bandung), di hidangan meja iftar bulan Ramadan, kolang-kaling hampir selalu hadir. Bentuknya sederhana putih bening, kenyal, kadang mengapung di dalam kolak, es campur.

Tidak mencolok seperti kurma dan tak sepopuler gorengan bala-bala, gehu. Namun, di balik kesederhanaannya, justru cangkaleng menyimpan cerita panjang tentang kesabaran, ketekunan, dan falsafah hidup yang harus jadi pegangan biar berkah dan terarah.

Kolang kaling berasal dari buah pohon aren, kawung (arengan pinnata). Berwarna putih, berbentuk pipih seukuran ibu jari orang dewasa, dan telah menjadi makanan khas di bulan Ramadan.

Cangkaleng dijadikan kolak, lebih sering dicampur dengan es batu dan sirup, jadilah menu takjil yang sangat enak. Pohon aren (kolang-kaling) oleh kebanyakan orang, hanya dianggap sebatas tanaman liar yang banyak tumbuh di lereng gunung, di pinggir-pinggir sungai di antara pepohonan yang rindang.

Walaupun dianggap sebelah mata, pohon caruluk memberikan khidmat kemanfaatan yang luar biasa. Semua bagian pohon bermanfaat bagi kehidupan makhluk lain, khususnya manusia. Pohon ini tidak merasa terganggu bila bagian dari tubuhnya dimanfaatkan oleh makhluk di sekelilingnya.

Hampir seluruh bagian pohon ini dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk yang mempunyai nilai jual dan bernilai ekonomi, mulai dari akar, batang, ijuk, buah, daun, dan bunganya.

Peran dan fungsinya terhadap lingkungan hidup, sangat mendukung kelestarian sumber daya alam, pohon ini memberikan nilai ekonomi yang tak ternilai besarnya karena berfungsi sebagai tanaman konservasi yang sangat efektif dalam penanggulangan degradasi lahan dan reboisasi.

Sumbangsih tanaman perkebunan yang satu ini terhadap kelestarian lingkungan sudah tidak diragukan lagi. Pokoknya sangat cocok digunakan sebagai tanaman dalam pelestarian lahan, air dan lingkungan tumbuh lainnya. Pasalnya, kolang-kaling dapat tumbuh dengan baik pada berbagai ekosistem dan toleran pada pertanaman campuran.

Caruluk memiliki perakaran dan tajuk yang lebat, tidak memerlukan pemeliharaan yang intensif, sehingga cocok digunakan pada lahan marginal. Sungguh tak ternilai manfaat yang dihasilkan oleh sebatang pohon kolang-kaling.

Semua bagian tubuhnya mempunyai nilai ekonomi dan memberikan manfaat bagi manusia serta lingkungan sekitarnya. Memperhatikan filosofi pohon kolang-kaling dan azas manfaat yang dihasilkannya. Memberikan gambaran dan ajakan yang sangat tepat agar manusia bisa belajar dan memaknai hidup seperti pohon aren.

Dalam menjalani hidup tidak membuat dan menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan dalam bentuk apa pun. Sebaliknya harus mampu menjaga, memberikan kelestarian dan kemanfaatan terhadap lingkungan.

Harga kolang-kaling naik drastis pada Ramadhan 2022 dan membuat perajin bisa meraup untung bersih ratusan ribu rupiah per hari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Restu Nugraha)
Harga kolang-kaling naik drastis pada Ramadhan 2022 dan membuat perajin bisa meraup untung bersih ratusan ribu rupiah per hari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Restu Nugraha)

Mari kita bercermin pada batang pohon caruluk yang tumbuh tegap menjulang tinggi, maka pohon kolang-kaling dapat dijadikan sebagai simbol jiwa yang kuat, kokoh, beradab dan kaya akan manfaat.

Maksud kuat, kokoh dan beradab disini adalah mampu mengayomi masyarakat kecil yang lemah (kurang beruntung) di wilayah sekitarnya dan bukan sebaliknya, mentang-mentang kuat dan berkuasa semena-mena untuk menindas sesama (menghimpit dan menekan) masyarakat yang lemah.

Kaya akan manfaat disimbolkan dengan mempunyai penghasilan yang banyak. Kaya akan tetapi tidak kikir dan pelit karena apa yang dimiliki digunakan untuk bisa memberi manfaat positif bagi yang membutuhkannya.

Menarik, sebatang pohon kolang-kaling tidak pernah marah ketika orang mengambil bagian tubuhnya untuk dimanfaatkan dalam keberlangsungan hidup seseorang. Ini melambangkan dan mengajarkan manusia agar tidak protes jika telah bekerja keras, namun hasil dari usahanya dimanfaatkan oleh orang yang lebih membutuhkan.

Filosofi pohon cangkaleng, menggambarkan sesungguhnya tangkal kawung merupakan pohon terkaya dibandingkan dengan pohon lainnya, akan tetapi kehidupannya mencerminkan kesederhanaan. Masih tetap sabar walau ijuknya diambil, buahnya dipetik, daun tuanya ditebas.

Ternyata ini tidak membuatnya menjadi miskin dan menderita. Justru pohon kawung ini menghasilkan buah, buahnya menghasilkan biji yang biasa kita sebut kolang-kaling dan menghasilkan multifungsi.

Ibarat seorang yang bekerja, bagaimana agar hidup dapat memberikan dampak positif terhadap anak buah, atasan dan orang lain di sekelilingnya. Seorang pimpinan jangan mempermasalahkan posisi, jabatannya, tapi tunjukkanlah sikap, prilaku dan perbuatan yang memberikan pengaruh, motivasi dan inspirasi kepada bawahan (orang lain, atasan).

Tangkal Kawung menjadi sahabat yang tidak bisa disakiti, jika menyakitinya, akan membalas dengan sangat menyakitkan. Pada saat mengupas kulitnya, bila tidak berhati-hati, getahnya dapat terkena tangan, saat itulah akan menyerang balik. Getah kawung bisa menimbulkan gatal-gatal luar biasa, susah mencari penawarnya. Jika getah itu menetes di satu bagian tubuh dan digaruk, akan menyebar ke bagian tubuh lain, bahkan bisa ke seluruh tubuh.

Pada bulan Ramadan, cangkaleng yang awalnya dianggap sebelah mata. Kini sering disandingkan dengan buah kurma, buah yang melekat kuat dalam sejarah Islam. Kolang-kaling yang awalnya dianggap buah pinggiran tak berarti, bersanding dengan buah bersejarah dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw.

Kolang-kaling dan kurma disandingkan menjadi makanan pembuka dalam takjil berbuka puasa. Cangkaleng dan kurma memang punya beberapa kemiripan, keduanya merupakan jenis buah-buahan dari pohon yang tipologi dan karakternya hampir sama.

Uniknya, kolang-kaling dan kurma tampak berhubungan dekat, justru karena perbedaannya, misalnya saja cangkaleng berwarna putih, sedangkan kurma coklat kehitam-hitaman, kolang kaling merupakan biji yang dapat dimakan, sementara biji kurma dibuang.

Pesan tersembunyi yang ingin ditunjukan tentang misi rahmatan lil alamin. Islam adalah agama yang memberi ruang terbuka untuk mempertemukan berbagai kemungkinan, bukan cuma soal pertemuan kultur, tapi karakteristik alam, ras, warna kulit dan lain-lain.

Kolang-kaling dan kurma, sebagai jenis buah dari alam yang berbeda, dipertemukan pada satu meja hidangan (menyatu di satu cap) untuk menyambut berbuka puasa. (Pikiran Rakyat, 6 April 2023)

Penjual Kolang Kaling di Jalur Alternatif Garut – Tasik. (Sumber: Ayotasik.com | Foto: Irpan Wahab Muslim)
Penjual Kolang Kaling di Jalur Alternatif Garut – Tasik. (Sumber: Ayotasik.com | Foto: Irpan Wahab Muslim)

Orang tua dulu di kampung halaman yang terkenal dengan Opak dan Kolontong, hasil gula aren. Pernah bilang “Jang ari hirup teh kudu siga caruluk" (Hidup harus seperti pohon aren).

Waktu masih kecil tak tahu apa makna, pesan dan maksud dari salah satu piwuruk nasihat mendalam dari leluhur Ki Sunda. Tentunya, petuah orang tua sangat mulia. Pada intinya bukan soal menjadi pohonnya, melainkan tentang manfaat dan ketangguhan dalam menjalani kehidupan yang serba singkat ini.

1. Menjadi Pribadi yang Serba Guna

Pohon aren adalah salah satu pohon paling dermawan di alam. Hampir tidak ada bagian yang terbuang dari air nira menjadi gula kawung yang manis. Buah (Caruluk) menjadi kolang-kaling yang segar. Ijuk bisa digunakan untuk atap, sapu. Batang menjadi sagu aren, kayu bangunan. Daun menjadi janur (lidi). Di mana pun berada, diharapkan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain (khairunnas anfa’uhum linnas).

2. Mandiri dan Tangguh

Pohon aren biasanya tumbuh secara alami, bukan hasil budidaya yang dimanja. Kuat menahan erosi karena akarnya yang sangat kokoh dan bisa tumbuh di tanah yang miring, sulit sekalipun. Dalam menjalani hidup diharapkan memiliki mental yang kuat, tidak gampang menyerah pada keadaan, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.

3. Rendah Hati, Tidak Sombong

Meskipun memberikan banyak hasil yang bernilai tinggi. Gula aren harganya mahal, pohon aren tidak "berisik". Tumbuh tenang di hutan, lereng gunung tanpa perlu perhatian berlebih. Teruslah berkarya dan memberi manfaat tanpa harus selalu pamer (mencari pujian).

Caruluk Open 8 2023, ajang insan olah raga pingpong untuk menjaga soliditas, silaturahmi, dan memperkuat persatuan (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Istimewa)
Caruluk Open 8 2023, ajang insan olah raga pingpong untuk menjaga soliditas, silaturahmi, dan memperkuat persatuan (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Istimewa)

Ruang Perjumpaan

Untuk di kawasan Bandung Timur, terutama Cibiru, ada satu ruang kecil yang akrab bagi para pecinta tenis meja. PTM Caruluk, klub olahraga yang beralamat di Gang Kujang No.115D, Cipadung. Tempat ini bukan sekadar arena memukul bola kecil di atas meja hijau. Bagi sebagian orang, Caruluk adalah ruang perjumpaan, tempat melepas penat, merawat silaturahmi, sekaligus menghidupkan tradisi kebersamaan warga.

Menjelang senja saat bulan Ramadan, suasana Caruluk terasa berbeda. Ngabuburit tidak selalu harus berjalan-jalan, berburu takjil. Di sini, waktu menjelang berbuka kerap diisi dengan suara “tak… tak… tak…” bola pingpong yang saling berbalas. Selepas salat tarawih, suasana semakin hidup, permainan menjadi lebih seru, percakapan mengalir, dan tawa pecah di sela-sela reli panjang di atas meja.

Dalam liputan bertajuk “Caruluk Open 8, Bersama Ali Santosa Main Pingpong”, disebutkan PTM Caruluk pernah menggelar turnamen untuk divisi 9 dan 10 pada 17–19 November 2023. Turnamen itu bukan sekadar kompetisi, melainkan upaya mempererat silaturahmi antarpecinta tenis meja.

Pemilik PTM Caruluk, Deni Bostom, menjelaskan bahwa turnamen tersebut memiliki sistem yang menarik. Para juara dari setiap divisi dipertemukan kembali untuk memperebutkan gelar juara utama. Menurutnya, sistem seperti ini jarang dilakukan, bahkan diklaim sebagai yang pertama di wilayah Jawa Barat. Tujuannya sederhana untuk meningkatkan kualitas para pemain dan memberi ruang kompetisi yang sehat.

Turnamen itu menarik banyak peserta, tidak hanya dari Kota Bandung, tetapi datang dari berbagai daerah di sekitarnya. Di meja pingpong Caruluk, batas-batas wilayah seakan-akan mencair, yang ada hanyalah semangat olahraga dan persahabatan.

Salah satu peserta, Ali Santosa, Sekretaris PTM Kertajaya, mengaku senang karena mendapat kesempatan bertanding melawan para pemain senior. Baginya, tenis meja bukan sekadar olahraga fisik.

“Kesempatan bertemu dengan pemain-pemain yang lebih berpengalaman akan menambah khazanah keilmuan dalam pingpong. Karena olahraga ini bukan hanya soal teknik, tetapi soal berpikir keras saat menerima atau mengembalikan bola kepada lawan,” ujarnya.

Dari sana kita belajar bahwa tenis meja, seperti kehidupan, adalah tentang membaca arah datangnya bola, menimbang langkah, lalu memutuskan respons terbaik. (Ayo Bandung Jumat, 17 November 2023 | 20:00 WIB)

Setelah sahur ke-20, tepatnya bada salat Subuh, Selasa (10/3/2026), ketika mencoba mencari aktivitas PTM Caruluk di media sosial, instagram @ptmcaruluk, Aa Akil, tiba-tiba berkomentar ringan dengan penuh rasa penasaran.

Sebentar Bah, inikah teman Aa yang suka main pingpong dan sering juara katanya?”

Kutersenyum membaca komentar bocah kelas lima itu. “Wah, saé atuh!” gumamku.

Baca Juga: Dua Visi Keberlanjutan dalam Ibadah Ramadan

Rasa penasaran itu membuatku mengirim pesan kepada seorang kawan yang masih aktif bermain di Caruluk.

Salam. Mang punten ngawagel, pami bari ngabuburit atanapi tos taraweh sok aya nu maen di Caruluk? Ieu rencangan naroskeun. Nuhun.”

Tak lama berselang jawabannya datang dengan singkat dan mantap,

“Engké malam, tos taraweh aya nu main!”

Sejurus kubalas cepat, “Ashiap, nuhun infona!”

Bila kolang-kaling hadir sebagai pembuka takjil. Cangkaleng bukan sekadar menjadi percakapan singkat di layar ponsel. Caruluk menjelma ruang kebersamaan, tempat orang-orang larut dalam canda dan semangat saat bermain bola pingpong.

Orang tua dulu sering berpesan, “hirup téh kudu siga caruluk.” Jadilah manusia yang bermanfaat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tangguh menghadapi berbagai ujian hidup, dan tetap rendah hati dalam menjalani kehidupan yang serba singkat ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Jul 2026, 13:01

Memahami Wajah Lain El Nino di Jawa Barat

El Nino bukan fenomena baru. Yang baru adalah intensitas dan dampaknya yang semakin terasa. Ini seharusnya menjadi dasar untuk membangun strategi jangka panjang.

Kemarau panjang yang terjadi dalam beberapa bulan terkahir, membuat kekeringan melanda di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 31 Jul 2026, 12:01

Bandung, Kota dengan Budaya Sepak Bola yang Kental

Bandung memiliki budaya sepakbola yang kuat, mulai dari Monumen Sepakbola, Persib Bandung, hingga lapangan dan SSB yang tersebar di berbagai wilayah.

Monumen Sepak Bola di persimpangan Jalan Tamblong dan Jalan Lembong. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 11:01

Integrasi Wisata Sungai Citarik, Taman Sumaba dan Stadion GBLA

Masyarakat desa di sekitar Citarik setuju jika desanya bertransformasi menjadi ekowisata.

Pemandangan sempadan anak sungai Citarik dan pematang sawah di daerah aliran sungai. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 10:18

Ci Mahi, Sungai yang Mengalirkan Air Susu Keagungan dan Kemuliaan

Toponim Cimahi berasal dari dua kata bahasa Sunda, yaitu ci atau cai, dan mahi.

Muara Sungai Mahi di Teluk Kambhat, Laut Arab. (Sumber: Istimewa)
Beranda 31 Jul 2026, 09:26

Dalam 43 Hari Dua Pesepeda Tewas di Jalan Soekarno Hatta, B2W Bandung Desak Jalur Terproteksi

B2W Bandung desak pemerintah bangun jalur sepeda terproteksi di Soekarno Hatta setelah dua pesepeda tewas dalam rentang waktu kurang dari dua bulan.

Kecelakaan di Jalan Soekarno-Hatta pada Rabu, 29 Juli 2026 mengakibatkan seorang pesepeda meninggal dunia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 09:16

Perlindungan Pekerja Migran Dimulai dari Tata Kelola, Bukan Sekadar Penindakan

Perlindungan terhadap pekerja migran semestinya tidak dimulai ketika masalah sudah terjadi, melainkan sejak negara mengelola proses keberangkatan mereka.

Perlindungan terhadap pekerja migran semestinya tidak dimulai ketika masalah sudah terjadi, melainkan sejak negara mengelola proses keberangkatan mereka. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Jul 2026, 08:32

Jalan Raya Kita Bukan untuk Pesepeda

Negara kita khsusunya Kota Bandung memang belum siap menjadikan jalan raya sebagai tempat yang ramah dengan sepeda.

Pengecatan ulang jalur khusus sepeda untuk meningkatkan kenyamanan dan juga meningkatkan keselamatan lalulintas pengguna sepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 30 Jul 2026, 18:40

Panduan Wisata Dieng: Sunrise Sikunir, Kawah Sikidang, hingga Candi Tertua di Jawa Tengah

Panduan lengkap wisata Dieng mulai Bukit Sikunir, Kawah Sikidang, Telaga Warna, Candi Arjuna, harga tiket terbaru, rute, dan tips berkunjung.

Panorama Dieng. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 18:30

Dari Singkong Menjadi Taart: Jejak Kedaulatan Pangan dari Bandung Tahun 1972

Melalui sentuhan-sentuhan, singkong tidak lagi tampil sebagai bahan pangan sederhana, melainkan sajian dengan kedalaman rasa dan istimewa.

Ilustrasi singkong. (Sumber: Pexels | Foto: Matheus Bertelli)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 17:05

Wujudkan 'Bandung Kota Perkedel' supaya Petani Kentang Makmur

Kota Bandung perlu menjadikan menu perkedel sebagai kuliner unggulan dari usaha kaki lima hingga restoran dan hotel berbintang.

Ilustrasi wujudkan Bandung Kota Perkedel (Sumber: Ayobandung.com dan resepkoki.id)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 16:32

Romantisme Membaca Majalah Jakarta Jakarta: Menyusuri Jejak Peristiwa Era 1990-an

Salah satu majalah yang meninggalkan jejak kuat dalam sejarah pers Indonesia adalah Majalah Jakarta Jakarta atau yang akrab disingkat JJ.

Majalah Jakarta Jakarta, salah satu majalah berita bergambar yang paling diminati masyarakat Indonesia pada era 1990-an. (Sumber: Koleksi Majalah Jakarta Jakarta | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 30 Jul 2026, 16:18

Bukan Sekadar Menangkap Begal, Mengembalikan Rasa Aman Warga Lebih Penting

Maraknya aksi begal di Bandung Raya memicu kecemasan warga yang beraktivitas malam dan polemik terkait kebijakan sayembara penangkapan pelaku yang dinilai berisiko memicu aksi main hakim sendiri.

Polrestabes Bandung tangkap 19 orang pelaku kejahatan jalanan yang terjadi sejak 1 hingga 21 Juli 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 15:15

Putri Noong Tahun 1980-an

Kuliner khas di Bandung tahun 1980-an.

Putri noong, salah satu kuliner legendaris di Jawa Barat. (Sumber: Youtube | Foto: Dapur Marlia)
Bandung 30 Jul 2026, 15:04

Suguhkan Sentuhan Seni dan Wangi Teh Pemium nan Otentik, Yuk Nikmati Cerita Baru CHAGEE di Jantung Kota Bandung

CHAGEE merancang gerai flagship secara khusus untuk menampilkan jiwa Kota Bandung yang dikenal berani, ekspresif, kreatif, namun tetap mengakar kuat pada warisan budaya.

CHAGEE secara resmi menjejakkan kakinya untuk pertama kali di Bandung, membawa angin segar bagi lanskap tempat nongkrong di Kota Parijs van Java. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 15:00

Pelajaran 'Zero Waste' dari Stadion Persib Bandung

Jika stadion macam GBLA bisa dianggap sebagai “laboratorium” dalam pengelolaan sampah, maka kota adalah “ekosistem hidup” yang membutuhkan integrasi lintas sektor.

Stadion GBLA yang menjadi kandang Persib Maung Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 12:02

Menjelajah Gastronomi Pasundan dalam Mustikarasa: Kesegaran Alami di Lanskap Kuliner Nusantara

Pada tahun 1967, atas arahan Presiden Soekarno, terbitlah sebuah karya monumental bertajuk Mustikarasa.

Ilustrasi Sukarno dan buku Mustikarasa. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 30 Jul 2026, 11:46

Batagor Tamim, Legenda Kuliner Kaki Lima Bandung yang Bertahan dari Gerobak Sederhana

Batagor Tamim menawarkan batagor kering dan kuah dengan bumbu kacang khas serta rasa ikan yang kuat. Cari tahu lokasi, harga, dan jam bukanya.

Batagor Tamim Bandung.
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 08:47

Harus Menunggu Berapa Korban? Jalan Soekarno-Hatta Harus Punya Jalur Sepeda Terproteksi

Kematian pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung kembali menegaskan perlunya jalur sepeda terproteksi.

Kecelakaan maut yang menewaskan seorang pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta, tepatnya di seberang Terminal Leuwipanjang pada Rabu (29/7/2026). (Sumber: Instagram/@ayobandung_official)
Wisata & Kuliner 29 Jul 2026, 23:55

Sejarah Sop Konro, Kuliner Kuah Hitam dari Kluwek yang Kental dengan Sejarah Sulawesi Selatan

Kenali sejarah Sop Konro Makassar, kuah hitam dari kluwek, asal-usulnya, hingga cara penyajian dengan burasa dan ketupat.

Sop Konro Makassar. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 29 Jul 2026, 18:01

Batas Antara Ojek Online dan Ojek Pangkalan

Permasalahan transportasi di Bandung memang seringkali memunculkan persaingan yang tidak sehat antara moda transportasi yang satu dengan yang lainnya.

Ribuan pengemudi ojek dan taksi online melakukan unjukrasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)