Dua Visi Keberlanjutan dalam Ibadah Ramadan

Ridwan Rustandi
Ditulis oleh Ridwan Rustandi diterbitkan Selasa 10 Mar 2026, 20:01 WIB
Seorang laki-laki sedang tilawah al-Qur'an. (Sumber: Pixabay)

Seorang laki-laki sedang tilawah al-Qur'an. (Sumber: Pixabay)

Mengapa kita harus mengulang rutinitas yang sama setiap kali ramadan datang? Shaum di siang hari, salat di malam hari, makan sahur, tilawah al-Qur’an, sedekah, zakat, dan lain sebagainya. Rutinitas ini bukan sebatas pengulangan tanpa makna. Ia adalah sebuah laboratorium peradaban yang mendidik manusia untuk merawat kebaikan hari ini dan mengimajinasikan kebaikan hari esok. Ramadan adalah momentum bertemunya dua visi besar dalam siklus kehidupan manusia.

Selama satu bulan penuh, kita melaksanakan amal saleh dengan penuh antusias. Bulan ramadan menjadi momentum istimewa yang mendorong manusia beriman untuk mengoptimalkan beragam kebaikan. Padahal, kita menyadari bahwa ibadah-ibadah tersebut kita lakukan sepanjang tahun. Salat lima waktu? Sepanjang tahun kita laksanakan. Membaca al-Qur’an? Rutinitas terjadwal yang biasa dilakukan. Zakat, sedekah dan infak? Menjadi perhatian kita setiap masanya.  Ramadan adalah sprint perbaikan diri yang terprogram dengan sangat cermat. Tidur lebih teratur karena sahur, makan lebih terkontrol karena shaum, pikiran lebih fokus karena berkurangnya gangguan konsumsi.

Ramadan adalah momentum untuk membangun inovasi yang bukan dari nol. Ia tidak merombak kebiasaan kita secara total, melainkan mengoptimalkan amalan saleh agar lebih bermakna. Dalam dunia inovasi, ada sebuah konsep yang sering diremehkan, sustaining innovation, yakni inovasi yang bukan menciptakan hal baru dari nol, melainkan memperbaiki, mengoptimalkan, dan merawat apa yang sudah ada agar tetap relevan, kuat, dan bermakna. Ramadan adalah ruang perawatan intensif terhadap sistem yang berjalan. Laiknya mesin kendaraan, ramadan berupaya menguatkan sistem yang sudah berjalan dari mulai keimanan, kebiasaan dan karakter. Ia berupaya merawat kebaikan, agar keimanan yang tertanam tidak mogok di jalan.

Namun demikian, pada saat bersamaan, ramadan menjadi ruang reflektif bagi manusia beriman untuk mengimajinasikan kebaikan selanjutnya. Ramadan menjadi momentum paling subur untuk merencanakan amalan-amalan berkelanjutan. Inilah dimensi envisioning futures dalam dunia inovasi. Yakni, kemampuan untuk membayangkan dan mulai menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah terpikir sebelumnya. Ramadan menciptakan ruang kosong (white space) untuk berpikir lebih jernih dan merasa lebih dalam. Dengan mengurangi makan, mengurangi hiburan, mengurangi waktu sia-sia, ramadan membebaskan kapasitas mental kita untuk melihat jauh ke depan.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)

Visi yang Dipanjatkan

Ramadan adalah momen bertemunya dua visi peradaban secara epik, sustaining innovation dan envisioning futures. Ia menguatkan ritual yang telah ada (sustaining innovation) sekaligus sebuah perjalanan batin untuk mencapai kemenangan masa depan (envisioning futures). Dalam sustaining innovation, ramadan memosisikan amalan keberlanjutan bukan hanya tentang bertahan hidup. Ia tentang memastikan yang baik tetap baik, bahkan menjadi lebih baik, dari satu musim ke musim berikutnya (QS. 11: 112; 02: 148). Dalam envisioning futures, ramadan menjadi ruang reflektif agar kita menyiapkan amalan di masa mendatang (QS. 59: 18; 28: 77).

Ramadan menjadi waktu untuk mengevaluasi perjalanan amal, sekaligus menyusun komitmen baru agar kehidupan setelahnya lebih bermakna. Kedua visi ini bertemu dalam setiap ritual ramadan yang bermuara pada perwujudan kebaikan bersama. Salat tarawih, misalnya. Ia adalah sustaining innovation, ritual yang diperbarui intensitasnya setiap malam. Tapi ia juga envisioning futures, setiap rakaat adalah perjalanan batin yang membuka ruang bagi kemungkinan baru dalam diri kita. Zakat dan sedekah adalah sustaining tatanan sosial yang sudah ada, sekaligus envisioning dunia di mana kesenjangan itu bisa dikurangi, sedikit demi sedikit, dengan tangan-tangan yang bergerak bersamaan.

Baca Juga: Belanja atau Investasi? Mengelola THR di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Shaum ramadan adalah latihan paling fundamental yang mencerminkan keduanya. Secara sustaining, shaum adalah latihan mempertahankan kendali, nilai dan komitmen. Secara envisioning, shaum membuktikan kepada diri bahwa dengan kendali diri yang dilatih akan mengubah persona dan mentalitas kita untuk menjadi pribadi yang bertakwa.

Sustaining ramadan tercermin pula dalam beberapa kondisi. Sahur memaksa kita bangun lebih awal. Iftar mengatur jam makan. Tarawih mendisiplinkan malam. Ramadan men-upgrade jadwal harian kita tanpa mengubah strukturnya. Sabar yang mungkin mulai retak, kembali diperbarui. Syukur yang tumpul, diasah lagi. Empati yang membeku oleh rutinitas, dicairkan oleh lapar bersama.

Envisioning ramadan tampil dalam beberapa momentum. Lailatul qadr, peristiwa monumental. Malam seribu bulan yang bukan saja metafora soal waktu. Ia adalah simbol bahwa dalam satu momen keheningan yang penuh kesadaran, manusia bisa melihat kemungkinan-kemungkinan yang mengubah segalanya. Setiap doa yang dipanjatkan di sepertiga malam adalah latihan envisioning, membayangkan masa depan yang lebih baik, lalu secara aktif memintanya terwujud. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ridwan Rustandi
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)