Hijrah, Ubah, dan Arah

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Senin 15 Jun 2026, 13:17 WIB
Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)

Di era digital, hijrah adalah pilihan sadar untuk berubah dan menata ulang arah hidup. Hijrah digital bukan sekadar berpindah ke platform baru, tetapi berusaha untuk menuju pembentukan makna hidup yang lebih dalam.

Kini, hijrah tidak lagi terbatas pada perpindahan tempat, melainkan pergeseran cara pandang, perubahan kebiasaan, dan penetapan tujuan hidup yang lebih bermakna. Di tengah derasnya arus informasi, hijrah menemukan bentuk barunya. Semacam hadir dalam keputusan untuk memilih konten yang menenangkan hati, mengikuti akun yang mendidik jiwa, dan meninggalkan jejak digital yang lebih bermakna dan memberi nilai.

Jejak Hijrahfest 2018 - 2025 (Sumber: instagram @hijrahfest)
Jejak Hijrahfest 2018 - 2025 (Sumber: instagram @hijrahfest)

Jejak Hijrah

Belakangan ini marak kita temui kampanye gerakan hijrah di media sosial. Hijrah telah menjadi istilah populer yang akhir-akhir ini terdengar di televisi dan artikel popular. Tidak jelas siapa yang memulai gerakan ini.

Sebagai sebuah fenomena, hijrah sebenarnya sudah muncul sejak lama, dimulai dari kalangan musisi seperti Gito Rollies, Harry Moekti, Sakti 'Sheila On 7', Mohammad Kautsar Hikmat yang lebih dikenal dengan nama Uki 'NOAH', Teuku Wisnu, Irwansyah, Shireen Sungkar.

Meskipun perubahan yang mereka lakukan secara substansial adalah hijrah, tapi masyarakat dan media kala itu tidak pernah menyebutnya demikian. Justru penyebutan hijrah untuk perubahan seperti yang dilakukan para musisi dan artis sinetron di atas baru terjadi belakangan ini.

Konsep hijrah sendiri sejatinya bukanlah istilah baru. Istilah hijrah telah familiar pada kalangan umat Muslim. Hijrah sendiri merupakan peristiwa historis Rasulullah saw dan para pengikutnya untuk bereksodus ke luar Mekkah karena adanya ancaman, resistensi, intimidasi, dan bahkan persekusi yang dilakukan masyarakat Mekkah terhadap Nabi Muhammad saw dan pengikutnya.

Secara historis, setidaknya tercatat ada dua periode gelombang hijrah. Pertama, para pengikut awal Rasulullah saw pernah melakukan hijrah di Habasyah (Ethiopia) untuk menghindari kekerasan dan persekusi yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy Mekkah. Kedua, saat Rasulullah saw dan pengikutnya berpindah dari Mekkah ke kota Yasrib (Madinah) setelah adanya ancaman dan perlakuan tidak manusiawi yang diterima umat Muslim oleh para penguasa zalim di Mekkah.

Rupanya aktivitas hijrah digunakan sebagai sebutan untuk menamai sebuah gerakan yang mengajak kaum muslim, khususnya anak muda, demi "berpindah” menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara meningkatkan ketaatan dalam menjalankan syariat agama.

Namun, konsep hijrah saat ini diindentikkan dengan transformasi dari orang yang kurang religius menjadi lebih saleh. Perubahan secara umumnya terlihat melalui pilihan busana muslimah, yakni memilih untuk memakai pakaian sejenis gaya Arab (kerudung dengan jubah yang menjuntai). Sedangkan laki-laki yang berhijrah identik dengan menghindari mengenakan celana panjang di bawah mata kaki (isbal) dan mengadopsi janggut panjang (lihyah).

Fenomena hijrah yang disponsori oleh kalangan selebriti dilatari oleh cara pandang agama yang hanya sebatas diartikan baju panjang yang menutupi semua tubuh, panjangnya jenggot dan sorban di kepala.

Agama dipersempit hanya dalam fashion semata, milenial yang berhijrah identik dengan perubahan yang signifikan terhadap cara berpakaian yang awalnya ketat kini berubah menjadi lebih syarli dengan kerudung panjang dan lebar menutupi dada dan baju longgar.

E-poster Hijrah itu Karena Allah (Sumber: researchgate.net @myousrealf, 15 Oktober 2019)
E-poster Hijrah itu Karena Allah (Sumber: researchgate.net @myousrealf, 15 Oktober 2019)

Walhasil, ada yang rela meninggalkan pekerjaannya untuk mengikuti apa yang mereka sebut sebagai gaya hidup hijrah total. Ciri-ciri fenomena ini sudah terlihat di ruang publik Indonesia sejak awal 2000-an.

Hamzah Fansuri, dalam artikelnya 'Gerakan Hijrah dan Kontestasi Ruang Publik Indonesia', menjelaskan telah menunjukkan bagaimana kaum muda Muslim Indonesia memiliki kesadaran baru tentang ruang publik perkotaan sebagai arena kontestasi strategis, terutama dalam menggemakan kesalehan performatif dan mempromosikan gerakan hijrah.

Kesadaran ini pula yang mendorong mereka, yang terorganisir dalam komunitas-komunitas Muslim baru dan berjejaring di berbagai kota, untuk merebut ruang-ruang publik perkotaan seperti alun-alun, taman, jalan, trotoar, dan pusat perbelanjaan.

Di ruang-ruang publik ini, mereka telah memprakarsai beberapa ritual keagamaan seperti salat, iftar, dan pengajian untuk mendapatkan simpati dan dukungan luas dari kaum Muslim urban, meskipun terdapat beberapa kontroversi.

Kesadaran dan upaya untuk merebut ruang publik tersebut antara lain datang dari ingatan historis mereka sejak Indonesia merdeka dan masa Orde Baru yang represif, di mana umat Islam terus memperjuangkan agar Islam menjadi budaya dan praktik dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Dengan kata lain, penegakan syariat Islam dan bahkan perjuangan untuk mendirikan negara Islam. Diskontinuitas pada generasi baru ini lebih pada kurangnya minat mereka dalam perjuangan politik.

Karena generasi baru Muslim muda ini tidak bisa lepas dari gaya hidup perkotaan, mereka berusaha menyelaraskan budaya perkotaan sekuler dengan kesalehan Islam. Mereka mengikuti tren gaya hidup yang berkembang, namun tetap tampil dengan nuansa Islami. Mereka berpendapat bahwa itu adalah bagian dari cara untuk merespon perubahan zaman dan strategi yang paling menarik dalam mendakwahkan Islam kepada masyarakat luas. Dengan demikian, tidak cukup lagi menamakan fenomena ini sebagai banalitas pengamalan Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Sidiq Notonegoro, ada tiga faktor yang dapat menjadi alasan bagi mereka melakuan hijrah tersebut. Pertama, tumbuhnya kesadaran mereka akan pentingnya untuk menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan dunia yang kian sekuler. Mereka mengalami kesadaran bahwa jalan hidup yang dipilihnya selama ini menjauh dari nilai-nilai religiusitas. Kedua, hijrah sebagai jalan pelarian diri dari kehidupan dunia yang menjenuhkan. Ketiga, hijrah sebagai gaya hidup setelah sejumlah selebritis yang diidolakan terlebih dahulu melakuan hijrah.

Hadirnya fenomena hijrah dapat menjadi hal yang positif, yaitu munculnya gerakan untuk kembali ke jiwa religius. Namun fenomena hijrah ini juga bisa berdampak negatif jika migrasi ini salah jalur. Tidak dipungkiri bahwa gerakan hijrah pun menjadi incaran kaum radikalis-teroris. Karena itu, kehadiran kelompok-kelompok moderat untuk aktif mengisi cawan-cawan kosong milenial sangat diharapkan. Media sosial yang selama ini menjadi sarana utama kaum muda milenial dalam menggali informasi keagamaan, termasuk tentang hijrah harus berhasil didominasi oleh kelompok moderat. (MAARIF, Vol. 17, No. 2, Desember 2022, hlm. 5–7)

Hijrah bukan cuma soal penampilan (Sumber: instagram @maryamcollege.id)
Hijrah bukan cuma soal penampilan (Sumber: instagram @maryamcollege.id)

Tren dan Ekspresi Keberagamaan

Dalam buku Hijrah: Tren Keberagamaan Kaum Milenial di Indonesia, dijelaskan gerakan hijrah meraih momentum dan popularitas di Indonesia. Fenomena hijrah menjadi tren yang cukup menonjol dalam keberagamaan kaum muda Tanah Air. Konsep hijrah, yang mulanya merujuk kepada migrasi dari Mekkah ke Madinah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya untuk menghindari opresi kaum kafir, diinterpretasi ulang ke dalam pengertian yang baru, dengan lebih berorientasi spiritual.

Hijrah kini dimaknai sebagai perubahan seorang Muslim untuk menjadi lebih taat (religius) daripada sebelumnya. Kebiasaan ini terus berkembang seiring dengan menguatnya gelombang konservatisme beragama, baik di Indonesia maupun di dunia global. Konservatisme beragama ini mengambil bentuk dan tingkatan yang beragam.

Popularitas gerakan hijrah menjadi semakin signifikan dengan banyaknya para pesohor dari kalangan selebriti yang terlibat di dalamnya. Beberapa di antaranya adalah pasangan suami-istri, seperti Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar; Irwansyah dan Zaskia Sungkar; Arie Untung dan Fenita Arie; Dimas Seto dan Dini Aminarti; Dude Herlino dan Alyssa Soebandono, dan lain-lain. Mereka ikut memopulerkan gerakan hijrah melalui platform media sosial.

Uniknya gerakan hijrah digaungkan melalui kegiatan yang bersifat extravaganza, seperti Hijrah Festival pada tahun 2018, yang menghadirkan sejumlah kelompok hijrah dan bisnis berbasis Islam, seperti perumahan Islam, perbankan Islam, dan kuliner halal. Gerakan hijrah ini biasanya diisi oleh anak- anak muda yang tidak, atau tepatnya sedikit, memiliki pengetahuan agama.

Namun, saat sudah berhijrah, ada kecenderungan mereka untuk menyampaikan pesan-pesan agama seperti halnya ustaz atau tokoh agama, meski dengan pengetahuan yang terbatas. Tidak jarang hal ini akhirnya menimbulkan polemik (Polemik Pernyataan Five Vi, 2020; Sebut Kirim Alfatihah untuk Orang Meninggal Bidah, Teuku Wisnu Ditegur KPI, 2015).

Menariknya bahwa para anggota gerakan hijrah ini pun ada yang berasal dari komunitas hobi yang tidak berbasis agama, seperti musisi, bikers, pemain bola jalanan, bahkan grup parkour. Mereka, misalnya, banyak ditemukan pada komunitas Pemuda Hijrah yang berbasis di Kota Bandung.

Dari hasil penelusuran awal penelitian ini, ditemukan lebih dari 50 komunitas hijrah yang tersebar di dua kota saja, yakni Jakarta dan Bandung. Kelompok ini memiliki jumlah pengikut (follower) yang beragam.

Selama ini cara termudah untuk melihat seberapa besar pengaruh komunitas hijrah adalah dengan melihat jumlah follower mereka di media sosial. Di antara 50 komunitas yang dikaji dalam penelitian pendahuluan ini, terungkap bahwa komunitas dengan pengikut terbanyak adalah SHIFT atau Pemuda Hijrah yang bermarkas di Bandung dengan lebih dari dua juta pengikut di Instagram.

Kajian MuSawarah dengan 870 ribu pengikut; Berani Hijrah dengan 175 ribu pengikut; dan The Stranger Al-Ghuroba dengan 120 ribu pengikut. Di antara 50 komunitas hijrah tersebut, ada di antaranya yang mengambil segmen perempuan, seperti Hijabers Community dan Niqab Squad. Kedua komunitas ini juga memiliki jumlah pengikut yang tidak sedikit, yaitu 115 ribu pengikut dan 528 ribu pengikut. (Windy Triana, dkk, Hamid Nasuhi [Editor], 2021:1-2)

Dalam buku Beragama di Ruang Digital: Konfigurasi Ideologi dan Ekspresi Keberagamaan Masyarakat Virtual, dijelaskan ekspresi keagamaan di ruang maya memunculkan fenomena networked religion (Campbell). Fenomena ini ditandai dengan kemunculan komunitas seperti pemuda hijrah, dakwah salafi, dan pejuang tauhid yang membentuk lingkaran eksklusif dengan tuntutan “serba pasti” dan “satu circle”.

Artikulasi keagamaan di dunia digital membuka wawasan tentang tren baru keberagamaan, sekaligus memperlihatkan terjadinya pergeseran dari afiliasi tradisional menuju jejaring berbasis kesamaan ideologis dan kultural.

Media digital berperan besar dalam konstruksi identitas keagamaan yang lebih empiris. Potongan teks, flyer, video pendek, hingga jejaring konten daring menjadi pusat interaksi dan pembentukan pengetahuan.

Internet turut mendemokratisasi akses terhadap ilmu keislaman, tetapi juga menggeser otoritas ulama tradisional. Siapa pun kini dapat bicara soal agama, termasuk mereka yang belum memiliki kapabilitas. Muzakka mencatat bahwa masyarakat kini lebih tertarik mengikuti fatwa personal dari figur individu dibandingkan fatwa resmi kelembagaan (Achmad Muhibin Zuhri, 2021: 4–6).

Orang beriman yang mengetahui dampak negatif media sosial harus berhijrah secara literatif dan menjadikan teknologi sebagai alat untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)

Transformasi Diri

Dalam konteks kekinian, hijrah dapat dimaknai secara lebih luas, termasuk sebagai bentuk transformasi digital. Hijrah digital berarti meninggalkan kebiasaan-kebiasaan negatif di dunia maya, seperti doomscrolling, mengonsumsi konten destruktif, menyebarkan hoaks dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih konstruktif, mulai dari belajar agama, menyebarkan konten edukatif, sampai membangun relasi sosial yang sehat secara daring.

Hijrah digital adalah proses perubahan diri melalui platform digital dengan niat tulus untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Proses ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana, misalnya membatasi waktu penggunaan media sosial, mengikuti akun-akun yang memberi pengaruh positif, membentuk rutinitas online yang mendukung pertumbuhan spiritual dan kesehatan mental.

Lebih dari sekadar perubahan teknis, hijrah digital menyentuh aspek psikologis dan sosial yang mendalam. Di tengah banjir informasi, setiap detik kita dibombardir notifikasi dari berbagai aplikasi, berita viral, opini publik, hingga gosip selebriti. Tantangan terbesar dalam hijrah digital adalah memilah informasi, mana yang benar-benar berguna, mana yang justru menyesatkan.

Terlalu lama terpapar konten negatif dapat menurunkan kesadaran diri (self-awareness) dan menjauhkan seseorang dari tujuan hidup yang bermakna.

Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika RI mencatat, lebih dari 60 persen masyarakat Indonesia masih kesulitan membedakan antara informasi valid dan hoaks. Di sisi lain, fenomena perbandingan sosial (social comparison) yang kerap terjadi di media sosial bisa memicu stres, rasa tidak bersyukur, hingga krisis identitas. Harvard Health Publishing menyebut hal ini sebagai dampak dari overstimulasi digital.

Karena itu, dalam proses hijrah digital, penting melatih kesadaran dalam menggunakan teknologi, tahu kapan harus log in dan kapan harus log out, demi menjaga kewarasan mental dan ketenangan spiritual. (IDN Times, 25 Juni 2025, 11:16 WIB)

Perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Sering kali, tumbuh dari hal-hal kecil, mulai membiasakan diri untuk menyaring informasi, membatasi waktu layar, dan menata ulang apa yang kita konsumsi di media sosial. Dari situlah arah hidup mulai dibentuk agar lebih terarah.

Dengan demikian, hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan. Pasalnya, yang menentukan arah dan kualitas perubahan hidup bukanlah seberapa canggih perangkat yang kita gunakan, melainkan seberapa sadar kita terhadap tujuan hidup dan hanya kepada Dia yang Maha Menggerakkan, kita semua akan kembali. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 10:01

Mengenal DISPUSIPDA: Pusat Perpustakaan dan Pengarsipan di Bumi Priangan

DISPUSIPDA JABAR, merupakan perpustakaan dan pusat pengarsipan terbesar di Provinsi Jawa Barat.

Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Raffi Islam Madina)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 09:06

BBM Naik, Rakyat Kian Tercekik: Alarm bagi Kita Semua

Ketika semua harga naik, biasanya ada sesuatu yang harus "diturunkan".

Sebuah SPBU di Jl. Surapati Kota Bandung. (Foto: Abah Omtris)
Bandung 13 Jun 2026, 20:44

Sektor Perdagangan dan Industri Loyo, Kredit UMKM Jabar Sentuh Rp186,4 Triliun

Total kredit UMKM Jawa Barat tembus Rp186,4 triliun per Maret 2026. Namun, sektor perdagangan besar dan industri pengolahan justru mengalami kontraksi yoy.

Ilustrasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 13 Jun 2026, 19:45

Gaya Hidup Serba Cepat, Begini Cara Wanita Modern Pilih Tas Multifungsi yang Sesuai Jati Diri

Wanita urban masa kini cenderung mencari keseimbangan antara fungsionalitas yang tinggi dan pesan personal yang ingin mereka sampaikan kepada dunia melalui penampilan mereka.

Tren terbesar yang mendominasi panggung mode sehari-hari saat ini adalah tingginya permintaan terhadap tas yang bersifat multifungsi atau versatile. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 13 Jun 2026, 09:16

Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

Pemutaran film Menolak Punah di Bandung mengungkap dampak tersembunyi industri fast fashion, dari limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik bagi manusia.

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 20:23

Kenaikan Harga BBM, Peningkatan Biaya Operasional Kendaraan, dan Peluang Perpindahan Moda Transportasi

Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya operasional kendaraan dan membuka peluang perpindahan moda transportasi, asalkan didukung dengan angkutan umum yang berkualitas.

Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamina jenis Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026. (Sumber: Dok. Penulis)