Hijrah, Ubah, dan Arah

9 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)

Di era digital, hijrah adalah pilihan sadar untuk berubah dan menata ulang arah hidup. Hijrah digital bukan sekadar berpindah ke platform baru, tetapi berusaha untuk menuju pembentukan makna hidup yang lebih dalam.

Kini, hijrah tidak lagi terbatas pada perpindahan tempat, melainkan pergeseran cara pandang, perubahan kebiasaan, dan penetapan tujuan hidup yang lebih bermakna. Di tengah derasnya arus informasi, hijrah menemukan bentuk barunya. Semacam hadir dalam keputusan untuk memilih konten yang menenangkan hati, mengikuti akun yang mendidik jiwa, dan meninggalkan jejak digital yang lebih bermakna dan memberi nilai.

Jejak Hijrahfest 2018 - 2025 (Sumber: instagram @hijrahfest)
Jejak Hijrahfest 2018 - 2025 (Sumber: instagram @hijrahfest)

Jejak Hijrah

Belakangan ini marak kita temui kampanye gerakan hijrah di media sosial. Hijrah telah menjadi istilah populer yang akhir-akhir ini terdengar di televisi dan artikel popular. Tidak jelas siapa yang memulai gerakan ini.

Sebagai sebuah fenomena, hijrah sebenarnya sudah muncul sejak lama, dimulai dari kalangan musisi seperti Gito Rollies, Harry Moekti, Sakti 'Sheila On 7', Mohammad Kautsar Hikmat yang lebih dikenal dengan nama Uki 'NOAH', Teuku Wisnu, Irwansyah, Shireen Sungkar.

Meskipun perubahan yang mereka lakukan secara substansial adalah hijrah, tapi masyarakat dan media kala itu tidak pernah menyebutnya demikian. Justru penyebutan hijrah untuk perubahan seperti yang dilakukan para musisi dan artis sinetron di atas baru terjadi belakangan ini.

Konsep hijrah sendiri sejatinya bukanlah istilah baru. Istilah hijrah telah familiar pada kalangan umat Muslim. Hijrah sendiri merupakan peristiwa historis Rasulullah saw dan para pengikutnya untuk bereksodus ke luar Mekkah karena adanya ancaman, resistensi, intimidasi, dan bahkan persekusi yang dilakukan masyarakat Mekkah terhadap Nabi Muhammad saw dan pengikutnya.

Secara historis, setidaknya tercatat ada dua periode gelombang hijrah. Pertama, para pengikut awal Rasulullah saw pernah melakukan hijrah di Habasyah (Ethiopia) untuk menghindari kekerasan dan persekusi yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy Mekkah. Kedua, saat Rasulullah saw dan pengikutnya berpindah dari Mekkah ke kota Yasrib (Madinah) setelah adanya ancaman dan perlakuan tidak manusiawi yang diterima umat Muslim oleh para penguasa zalim di Mekkah.

Rupanya aktivitas hijrah digunakan sebagai sebutan untuk menamai sebuah gerakan yang mengajak kaum muslim, khususnya anak muda, demi "berpindah” menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara meningkatkan ketaatan dalam menjalankan syariat agama.

Namun, konsep hijrah saat ini diindentikkan dengan transformasi dari orang yang kurang religius menjadi lebih saleh. Perubahan secara umumnya terlihat melalui pilihan busana muslimah, yakni memilih untuk memakai pakaian sejenis gaya Arab (kerudung dengan jubah yang menjuntai). Sedangkan laki-laki yang berhijrah identik dengan menghindari mengenakan celana panjang di bawah mata kaki (isbal) dan mengadopsi janggut panjang (lihyah).

Fenomena hijrah yang disponsori oleh kalangan selebriti dilatari oleh cara pandang agama yang hanya sebatas diartikan baju panjang yang menutupi semua tubuh, panjangnya jenggot dan sorban di kepala.

Agama dipersempit hanya dalam fashion semata, milenial yang berhijrah identik dengan perubahan yang signifikan terhadap cara berpakaian yang awalnya ketat kini berubah menjadi lebih syarli dengan kerudung panjang dan lebar menutupi dada dan baju longgar.

E-poster Hijrah itu Karena Allah (Sumber: researchgate.net @myousrealf, 15 Oktober 2019)
E-poster Hijrah itu Karena Allah (Sumber: researchgate.net @myousrealf, 15 Oktober 2019)

Walhasil, ada yang rela meninggalkan pekerjaannya untuk mengikuti apa yang mereka sebut sebagai gaya hidup hijrah total. Ciri-ciri fenomena ini sudah terlihat di ruang publik Indonesia sejak awal 2000-an.

Hamzah Fansuri, dalam artikelnya 'Gerakan Hijrah dan Kontestasi Ruang Publik Indonesia', menjelaskan telah menunjukkan bagaimana kaum muda Muslim Indonesia memiliki kesadaran baru tentang ruang publik perkotaan sebagai arena kontestasi strategis, terutama dalam menggemakan kesalehan performatif dan mempromosikan gerakan hijrah.

Kesadaran ini pula yang mendorong mereka, yang terorganisir dalam komunitas-komunitas Muslim baru dan berjejaring di berbagai kota, untuk merebut ruang-ruang publik perkotaan seperti alun-alun, taman, jalan, trotoar, dan pusat perbelanjaan.

Di ruang-ruang publik ini, mereka telah memprakarsai beberapa ritual keagamaan seperti salat, iftar, dan pengajian untuk mendapatkan simpati dan dukungan luas dari kaum Muslim urban, meskipun terdapat beberapa kontroversi.

Kesadaran dan upaya untuk merebut ruang publik tersebut antara lain datang dari ingatan historis mereka sejak Indonesia merdeka dan masa Orde Baru yang represif, di mana umat Islam terus memperjuangkan agar Islam menjadi budaya dan praktik dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Dengan kata lain, penegakan syariat Islam dan bahkan perjuangan untuk mendirikan negara Islam. Diskontinuitas pada generasi baru ini lebih pada kurangnya minat mereka dalam perjuangan politik.

Karena generasi baru Muslim muda ini tidak bisa lepas dari gaya hidup perkotaan, mereka berusaha menyelaraskan budaya perkotaan sekuler dengan kesalehan Islam. Mereka mengikuti tren gaya hidup yang berkembang, namun tetap tampil dengan nuansa Islami. Mereka berpendapat bahwa itu adalah bagian dari cara untuk merespon perubahan zaman dan strategi yang paling menarik dalam mendakwahkan Islam kepada masyarakat luas. Dengan demikian, tidak cukup lagi menamakan fenomena ini sebagai banalitas pengamalan Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Sidiq Notonegoro, ada tiga faktor yang dapat menjadi alasan bagi mereka melakuan hijrah tersebut. Pertama, tumbuhnya kesadaran mereka akan pentingnya untuk menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan dunia yang kian sekuler. Mereka mengalami kesadaran bahwa jalan hidup yang dipilihnya selama ini menjauh dari nilai-nilai religiusitas. Kedua, hijrah sebagai jalan pelarian diri dari kehidupan dunia yang menjenuhkan. Ketiga, hijrah sebagai gaya hidup setelah sejumlah selebritis yang diidolakan terlebih dahulu melakuan hijrah.

Hadirnya fenomena hijrah dapat menjadi hal yang positif, yaitu munculnya gerakan untuk kembali ke jiwa religius. Namun fenomena hijrah ini juga bisa berdampak negatif jika migrasi ini salah jalur. Tidak dipungkiri bahwa gerakan hijrah pun menjadi incaran kaum radikalis-teroris. Karena itu, kehadiran kelompok-kelompok moderat untuk aktif mengisi cawan-cawan kosong milenial sangat diharapkan. Media sosial yang selama ini menjadi sarana utama kaum muda milenial dalam menggali informasi keagamaan, termasuk tentang hijrah harus berhasil didominasi oleh kelompok moderat. (MAARIF, Vol. 17, No. 2, Desember 2022, hlm. 5–7)

Hijrah bukan cuma soal penampilan (Sumber: instagram @maryamcollege.id)
Hijrah bukan cuma soal penampilan (Sumber: instagram @maryamcollege.id)

Tren dan Ekspresi Keberagamaan

Dalam buku Hijrah: Tren Keberagamaan Kaum Milenial di Indonesia, dijelaskan gerakan hijrah meraih momentum dan popularitas di Indonesia. Fenomena hijrah menjadi tren yang cukup menonjol dalam keberagamaan kaum muda Tanah Air. Konsep hijrah, yang mulanya merujuk kepada migrasi dari Mekkah ke Madinah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya untuk menghindari opresi kaum kafir, diinterpretasi ulang ke dalam pengertian yang baru, dengan lebih berorientasi spiritual.

Hijrah kini dimaknai sebagai perubahan seorang Muslim untuk menjadi lebih taat (religius) daripada sebelumnya. Kebiasaan ini terus berkembang seiring dengan menguatnya gelombang konservatisme beragama, baik di Indonesia maupun di dunia global. Konservatisme beragama ini mengambil bentuk dan tingkatan yang beragam.

Popularitas gerakan hijrah menjadi semakin signifikan dengan banyaknya para pesohor dari kalangan selebriti yang terlibat di dalamnya. Beberapa di antaranya adalah pasangan suami-istri, seperti Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar; Irwansyah dan Zaskia Sungkar; Arie Untung dan Fenita Arie; Dimas Seto dan Dini Aminarti; Dude Herlino dan Alyssa Soebandono, dan lain-lain. Mereka ikut memopulerkan gerakan hijrah melalui platform media sosial.

Uniknya gerakan hijrah digaungkan melalui kegiatan yang bersifat extravaganza, seperti Hijrah Festival pada tahun 2018, yang menghadirkan sejumlah kelompok hijrah dan bisnis berbasis Islam, seperti perumahan Islam, perbankan Islam, dan kuliner halal. Gerakan hijrah ini biasanya diisi oleh anak- anak muda yang tidak, atau tepatnya sedikit, memiliki pengetahuan agama.

Namun, saat sudah berhijrah, ada kecenderungan mereka untuk menyampaikan pesan-pesan agama seperti halnya ustaz atau tokoh agama, meski dengan pengetahuan yang terbatas. Tidak jarang hal ini akhirnya menimbulkan polemik (Polemik Pernyataan Five Vi, 2020; Sebut Kirim Alfatihah untuk Orang Meninggal Bidah, Teuku Wisnu Ditegur KPI, 2015).

Menariknya bahwa para anggota gerakan hijrah ini pun ada yang berasal dari komunitas hobi yang tidak berbasis agama, seperti musisi, bikers, pemain bola jalanan, bahkan grup parkour. Mereka, misalnya, banyak ditemukan pada komunitas Pemuda Hijrah yang berbasis di Kota Bandung.

Dari hasil penelusuran awal penelitian ini, ditemukan lebih dari 50 komunitas hijrah yang tersebar di dua kota saja, yakni Jakarta dan Bandung. Kelompok ini memiliki jumlah pengikut (follower) yang beragam.

Selama ini cara termudah untuk melihat seberapa besar pengaruh komunitas hijrah adalah dengan melihat jumlah follower mereka di media sosial. Di antara 50 komunitas yang dikaji dalam penelitian pendahuluan ini, terungkap bahwa komunitas dengan pengikut terbanyak adalah SHIFT atau Pemuda Hijrah yang bermarkas di Bandung dengan lebih dari dua juta pengikut di Instagram.

Kajian MuSawarah dengan 870 ribu pengikut; Berani Hijrah dengan 175 ribu pengikut; dan The Stranger Al-Ghuroba dengan 120 ribu pengikut. Di antara 50 komunitas hijrah tersebut, ada di antaranya yang mengambil segmen perempuan, seperti Hijabers Community dan Niqab Squad. Kedua komunitas ini juga memiliki jumlah pengikut yang tidak sedikit, yaitu 115 ribu pengikut dan 528 ribu pengikut. (Windy Triana, dkk, Hamid Nasuhi [Editor], 2021:1-2)

Dalam buku Beragama di Ruang Digital: Konfigurasi Ideologi dan Ekspresi Keberagamaan Masyarakat Virtual, dijelaskan ekspresi keagamaan di ruang maya memunculkan fenomena networked religion (Campbell). Fenomena ini ditandai dengan kemunculan komunitas seperti pemuda hijrah, dakwah salafi, dan pejuang tauhid yang membentuk lingkaran eksklusif dengan tuntutan “serba pasti” dan “satu circle”.

Artikulasi keagamaan di dunia digital membuka wawasan tentang tren baru keberagamaan, sekaligus memperlihatkan terjadinya pergeseran dari afiliasi tradisional menuju jejaring berbasis kesamaan ideologis dan kultural.

Media digital berperan besar dalam konstruksi identitas keagamaan yang lebih empiris. Potongan teks, flyer, video pendek, hingga jejaring konten daring menjadi pusat interaksi dan pembentukan pengetahuan.

Internet turut mendemokratisasi akses terhadap ilmu keislaman, tetapi juga menggeser otoritas ulama tradisional. Siapa pun kini dapat bicara soal agama, termasuk mereka yang belum memiliki kapabilitas. Muzakka mencatat bahwa masyarakat kini lebih tertarik mengikuti fatwa personal dari figur individu dibandingkan fatwa resmi kelembagaan (Achmad Muhibin Zuhri, 2021: 4–6).

Orang beriman yang mengetahui dampak negatif media sosial harus berhijrah secara literatif dan menjadikan teknologi sebagai alat untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)

Transformasi Diri

Dalam konteks kekinian, hijrah dapat dimaknai secara lebih luas, termasuk sebagai bentuk transformasi digital. Hijrah digital berarti meninggalkan kebiasaan-kebiasaan negatif di dunia maya, seperti doomscrolling, mengonsumsi konten destruktif, menyebarkan hoaks dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih konstruktif, mulai dari belajar agama, menyebarkan konten edukatif, sampai membangun relasi sosial yang sehat secara daring.

Hijrah digital adalah proses perubahan diri melalui platform digital dengan niat tulus untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Proses ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana, misalnya membatasi waktu penggunaan media sosial, mengikuti akun-akun yang memberi pengaruh positif, membentuk rutinitas online yang mendukung pertumbuhan spiritual dan kesehatan mental.

Lebih dari sekadar perubahan teknis, hijrah digital menyentuh aspek psikologis dan sosial yang mendalam. Di tengah banjir informasi, setiap detik kita dibombardir notifikasi dari berbagai aplikasi, berita viral, opini publik, hingga gosip selebriti. Tantangan terbesar dalam hijrah digital adalah memilah informasi, mana yang benar-benar berguna, mana yang justru menyesatkan.

Terlalu lama terpapar konten negatif dapat menurunkan kesadaran diri (self-awareness) dan menjauhkan seseorang dari tujuan hidup yang bermakna.

Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika RI mencatat, lebih dari 60 persen masyarakat Indonesia masih kesulitan membedakan antara informasi valid dan hoaks. Di sisi lain, fenomena perbandingan sosial (social comparison) yang kerap terjadi di media sosial bisa memicu stres, rasa tidak bersyukur, hingga krisis identitas. Harvard Health Publishing menyebut hal ini sebagai dampak dari overstimulasi digital.

Karena itu, dalam proses hijrah digital, penting melatih kesadaran dalam menggunakan teknologi, tahu kapan harus log in dan kapan harus log out, demi menjaga kewarasan mental dan ketenangan spiritual. (IDN Times, 25 Juni 2025, 11:16 WIB)

Perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Sering kali, tumbuh dari hal-hal kecil, mulai membiasakan diri untuk menyaring informasi, membatasi waktu layar, dan menata ulang apa yang kita konsumsi di media sosial. Dari situlah arah hidup mulai dibentuk agar lebih terarah.

Dengan demikian, hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan. Pasalnya, yang menentukan arah dan kualitas perubahan hidup bukanlah seberapa canggih perangkat yang kita gunakan, melainkan seberapa sadar kita terhadap tujuan hidup dan hanya kepada Dia yang Maha Menggerakkan, kita semua akan kembali. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 17:07

Mengapa Kampanye Mi Nyemek Jogja Mudah Diingat?

Menganalisis bagaimana Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang dipublikasikan dengan pesan yang konsisten, sehingga informasi produk dapat diterima publik secara luas dan jelas.

Ilustrasi mie nyemek Jogja. (Sumber: Youtube | Foto: DewiRistiyaniKitchen)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 16:00

Dari Kasus Penebangan Pohon hingga Persib-Persija, Isu Menarik Pekan Ini untuk Ayo Netizen

Bagi penulis Ayo Netizen yang masih mencari ide segar, berikut beberapa isu yang layak diangkat dalam beberapa hari ke depan.

Lokasi pohon-pohon yang diduga ditebang tanpa izin pemerintah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 15:02

Mengapa Kampanye Jumbo Mudah Diingat? Jawabannya Ada pada Konsistensi Pesan

Kolaborasi antara Fore Coffe dan film animasi Jumbo menjadi salah satu strategi pemasaran yang menarik untuk di teliti karena menghadirkan pengalaman yang baru bagi konsumen.

Ilustrasi kampanye film Jumbo yang masih tetap konsisten sampai saat ini. (Istimewa)
Sejarah 03 Agu 2026, 13:10

Sejarah Peuyeum Ketan Kuningan, Tradisi Fermentasi yang jadi Identitas Daerah

Peuyeum ketan Kuningan lahir dari tradisi kampung, berkembang menjadi oleh-oleh populer, dan tetap mempertahankan proses fermentasi tradisional.

Peuyeum atau tape ketan Kuningan.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 12:38

Momentum Agustus 2026: Saatnya Menggali Cerita dari Kemerdekaan hingga Budaya Bandung

Bulan Agustus selalu menghadirkan banyak momentum yang layak dijadikan bahan tulisan.

Sejumlah ibu rumah tangga mengikuti berbagai lomba 17 Agustus di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 10:05

Mengenang Acara Radio Favorit GANESHA IWAN FALS (GIF)

Lagu-lagu Iwan Fals menyebar dari kaset, panggung konser, hingga gelombang radio.

Sosok musisi legendaris Iwan Fals menghiasi berbagai halaman depan tabloid dan majalah musik populer sepanjang era 1990-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)