AYOBANDUNG.ID - Jarum jam menunjukkan pukul 13.47 WIB. Seorang kurir JNE, Hasan Al Nazhari, 26 tahun, duduk berteduh dari derasnya hujan di depan garasi rumah di Jalan Maksudi, RW 04, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung.
Langit yang sejak pagi tampak tak ramah, menumpahkan air tanpa ampun. Hujan deras untuk kedua kalinya pada Minggu, 3 Mei 2026.
Jalanan basah. Tak ada anak-anak main bola. Suasana sunyi dari lalu-lalang warga. Orang-orang memilih berteduh, berdiam diri di dalam rumah. Begitupun dengan Hasan, memilih berteduh di tempat sempit itu, agar paket yang dibawanya tak basah terguyur hujan.
Hasan jongkok sembari bersandar pada gerbang garasi. Sesekali mengusap wajahnya yang basah. Helm masih melekat di kepalanya. Matanya tertuju melihat ponsel, mengecek daftar alamat tujuan berikutnya. Jari-jarinya bergerak menelusuri satu per satu lokasi pelanggan yang akan dituju.
Seketika, kesendiriannya buyar. Empat orang pria mengendarai dua sepeda motor tiba-tiba berhenti tidak jauh dari tempatnya berteduh. Hasan mengira mereka datang seperti dirinya, berteduh dari hujan. Tak ada kecurigaan sedikitpun di benaknya.
Namun ada yang berbeda. Gerak-gerik gerombolan itu sungguh mencurigakan. Hasan masih berpikir positif. Hingga salah satu dari mereka, pria berkaus putih menghampirinya dengan cepat.
“Awalnya pria yang berkaus putih meminta kresek (plastik), katanya untuk membungkus handphone biar enggak kehujanan. Tapi saya bilang enggak punya,” kata Hasan bercerita kepada AyoBandung.id, Jumat 11 Juni 2026.

Pria tersebut kemudian kembali menghampiri ketiga temannya. Hasan masih tak menaruh curiga. Hingga selang beberapa detik, secepat kilat pria tersebut kembali mendekat, sembari mengeluarkan benda tajam dan langsung menghujamkan kepadanya.
Hasan yang terkejut bergerak reflek berusaha menghindar. Namun apa daya, tangannya terkena benda tajam, luka. Rasa perih menjalar. Di tengah kepanikan itu, Hasan tidak lagi memikirkan motornya. Tidak pula paket yang dibawanya, tapi yang terlintas bagaimana menyelamatkan nyawanya, wajah sang istri dan keluarga. Hasan lari sekuat tenaga menjauh dari empat pria yang mendekatinya.
Para pelaku kemudian mengambil alih sepeda motor matik putih milik Hasan berikut karung berisi 13 paket yang tersimpan di bagian depan kendaraan.
Mereka kabur menggunakan tiga sepeda motor. Hasan berlari dan berteriak, namun tak berdaya. Gerombolan itu pun menghilang dari pandangan mata, seiring tak lagi terdengar deru suara sepeda motor di tikungan gang yang basah itu.
Yamaha Mio 2013 itu hilang seketika. Kuda besi yang selama satu tahun tak henti menemaninya. Bahkan menjadi kendaraan yang dipakai bersama oleh ayah, ibu, dan adiknya.
“Saya bersyukur masih diberikan keselamatan, walaupun ada luka di bagian tangan karena menahan hujaman benda tajam yang diarahkan ke badan,” kisahnya.
Baginya, nyawa dan keselamatan adalah hal utama dari hanya sekadar sepeda motor. Ada istrinya yang baru enam bulan dinikahinya. Ada harapan akan anak yang kelak akan lahir ke dunia bisa melihat sosok yang ayah. Pun ayah, ibu, dan adik yang menampukkan harapan padanya.
Hasan selamat. Kembali pulang ke tengah-tengah keluarga. Pria jangkung berkacamata tebal ini, kini telah kembali bekerja. Dia bersyukur, kasus tersebut mendapat pendampingan dari perusahaan, mulai dari proses hukum hingga penggantian kendaraan.
Aksi kekerasan yang dialami Hasan kemudian viral di media sosial. Peristiwa tersebut membuat masyarakat terheran-heran. Di siang bolong terjadi aksi pembegalan di permukiman warga. Polisi pun bergerak cepat dan berhasil menangkap para pelaku, berbekal plat nomor yang terekam CCTV.

Titipan yang Terenggut
Selain bersyukur atas keselamatan yang diberikan Tuhan kepadanya, satu hal yang membuat Hasan sedih adalah barang kiriman yang dibawa oleh para pelaku. Setidaknya ada 13 paket milik customer yang hilang.
“Kebetulan daerah tersebut adalah kawasan terakhir yang saya tuju untuk mengirimkan paket, jadi jumlahnya sedikit. Tapi tetap saja, paket-paket itu adalah barang berharga yang kehadirannya sangat dinantikan customer,” ujar dia.
Baginya, paket yang dibawanya adalah barang berharga yang harus dijaga. Ibarat berlian yang mesti diberlakukan dengan baik. Karena, bisa jadi, di paket itu ada barang berisi kebutuhan rumah tangga yang ditunggu ibu-ibu di rumah. Barang dagangan yang menjadi harapan pelaku usaha kecil atau kiriman sederhana yang mungkin menjadi tanda cinta dari seseorang.
Bisa jadi paket tersebut telah melewati banyak moda transportasi, menyebrang pulau, menembus langit, dan menerjang derasnya badai di lautan. Namun apa daya, nyawanya terancam. Bahkan dia tak tahu apakah takdirnya akan berakhir sampai di sana.
Hasan bercerita, tak ada firasat apapun pada hari kejadian tersebut. Dia hanya menjalani hari seperti biasa. Rutinitasnya dimulai dengan bangun pagi, mandi, datang ke Cabang JNE Jalan Naripan, mendistribusikan barang, dan kembali ke rumah berkumpul bersama keluarga tercinta.
Seperti hari lainnya, Hasan bergerak menyusuri jalanan Kota Bandung, menuju Jalan Jenderal Sudirman hingga Astana Anyar. Dia bercerita, pagi itu cuaca mendung dan perlahan berubah menjadi gerimis. Sempat pulang ke rumah karena ada kendala teknis. Berangkat lagi dan berhenti sejenak untuk berteduh ketika hujan. Kemudian kembali melanjutkan perjalanan.
“Setelah kejadian itu, saya diundang ke Jakarta bertemu dengan Pak Feriadi Soeprapto, selaku Presiden Direktur JNE. Banyak pesan yang dititipkan ke saya, salah satunya soal keselamatan adalah yang utama,” kenangnya.
Sebagai pekerja lapangan, diakuinya banyak suka dan duka. Baginya, cuaca adalah sahabat kesehariannya. Panas terik maupun hujan deras adalah bagian dari pekerjaan yang harus diterima dengan lapang dada. Setiap tikungan memiliki cerita tersendiri. Masuk gang-gang kecil, sempit, kumuh, atau bahkan menikmati indahnya kawasan perumahan elit.
Menjemput Rezeki
Profesinya sebagai kurir telah dilaluinya sejak satu tahun lalu. Awalnya, Hasan hanyalah pekerja freelance sebagai operator photobooth atau videobooth. Namun pekerjaannya yang tak menentu membuatnya harus mencari penghasilan tetap, hingga akhirnya diterima bekerja di JNE.
Sebagai kurir, hari-harinya diisi dengan mobilitas tinggi. Dia harus bergerak dari satu alamat ke alamat lainnya tanpa mengenal lelah. Dalam sehari, jumlah paket yang diantarkan ke pelanggan bisa lebih dari seratus buah. Pada momen tertentu, seperti hari belanja online nasional, jumlah paket bahkan bisa melonjak hingga lebih dari dua ratus paket.
Dia paham, pekerjaannya menuntut tenaga, ketelitian, dan keuletan. Tidak semua alamat mudah ditemukan. Tidak semua pelanggan bisa langsung ditemui. Belum lagi cuaca yang sering berubah tanpa kompromi. Namun Hasan mengaku menikmati pekerjaan tersebut.
Dia mengaku memahami risiko dan tantangan sejak pertama kali memilih profesi sebagai kurir. Karena itu, setiap kendala yang muncul dianggap sebagai bagian dari pekerjaan yang harus dijalani.
Ada satu hal yang membuatnya menikmati pekerjaan ini, yaitu bisa berinteraksi dengan banyak orang. Baginya, menjadi kurir bukan sekadar mengantar barang, tetapi bisa bersilaturahmi dengan banyak cerita kehidupan dari semua lapisan masyarakat.
Ada pelanggan yang menyambut dengan ramah. Ada ibu-ibu yang mengajaknya mengobrol kendati sebentar. Ada pula pelanggan yang sudah begitu akrab hingga terasa seperti keluarga sendiri. Banyak teman, banyak saudara.
"Saya banyak belajar bagaimana kita bersosialisasi, mengerjakan pekerjaan dengan tanggung jawab, serta bekerja secara tepat dan terstruktur," ujar pria kelahiran Mei 2000 lalu itu.
Sebelum menjadi kurir, jalan hidup Hasan berbeda. Dia adalah sarjana diploma empat (D4) Politeknik Manufaktur Bandung. Pernah menekuni dunia kreatif sebagai fotografer freelance, operator photobooth, dan operator videobooth. Namun penghasilan yang tak menentu, membuatnya mencoba melamar ke JNE dan mendapat kesempatan menjadi kurir.
Di sela kesibukannya bekerja, Hasan masih menyempatkan diri membantu usaha orang tuanya berjualan nasi kuning. Semua dia lakukan demi keluarga semata wayang yang baru dibangunnya enam bulan lalu. Cita-citanya mandiri bersama istri dan anak tercintanya kelak.

Saat Dukungan Hadir
Tak lama setelah musibah itu terjadi, Hasan tidak dibiarkan menghadapi semuanya sendiri. Di tengah rasa syok dan kehilangan sepeda motor, dukungan datang dari perusahaan tempatnya bekerja.
JNE bergerak cepat memberikan pendampingan. Bahkan mengganti kendaraan operasional Hasan yang hilang dibawa pelaku pembegalan. Bantuan tersebut menjadi angin segar bagi Hasan untuk kembali bangkit dan menjalankan tugasnya sebagai kurir.
Penyerahan sepeda motor dilakukan oleh Kepala Cabang Utama JNE Bandung, Iyus Rustandi pada Jumat 12 Juni 2026. "Kendaraan operasional ini kami serahkan kepada Pak Hasan, salah satu kurir JNE Bandung yang beberapa waktu lalu menjadi korban tindak kriminal saat sedang menjalankan amanah pengiriman," ujar Iyus.
Iyus berharap, kendaraan tersebut bisa menjadi sarana bagi Hasan untuk kembali bekerja dengan aman dan nyaman. "Semoga diberikan kesehatan, keselamatan, dan semangat baru dalam mengemban amanah pengiriman, sehingga dapat terus memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan serta menjadi inspirasi bagi rekan-rekan JNE untuk tetap bekerja dengan dedikasi, profesionalisme, dan penuh tanggung jawab," katanya.
Menurut dia, bantuan yang diberikan kepada Hasan bukan sekadar penggantian kendaraan yang hilang. Akan tetapi ada nilai kekeluargaan yang selama ini dijaga perusahaan kepada karyawan JNE yang akrab disapa Ksatria dan Srikandi.
Bahkan, Hasan juga telah diundang ke Jakarta bertemu langsung dengan Presiden Direktur PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), Feriadi Soeprapto. Feriadi mengatakan, seluruh Ksatria dan Srikandi JNE merupakan bagian dari keluarga besar perusahaan yang harus mendapatkan perhatian ketika menghadapi kesulitan.
"Di JNE, kami memandang seluruh Ksatria dan Srikandi sebagai bagian dari keluarga besar perusahaan. Ketika mereka menghadapi kesulitan dalam menjalankan tugas, sudah menjadi tanggung jawab kami untuk hadir memberikan dukungan, baik secara moral maupun pendampingan yang diperlukan," ujarnya.
Bantuan kepada Hasan merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap karyawan yang telah menunjukkan dedikasi dan integritas dalam menjalankan pekerjaannya. Dia ingin memastikan, karyawan JNE tetap dapat menjalankan aktivitas dan pekerjaannya dengan baik serta merasa bahwa perusahaan selalu hadir mendampinginya.
Komitmen tersebut, lanjut Feriadi, menjadi bagian dari nilai yang dipegang JNE selama lebih dari tiga dekade melayani masyarakat Indonesia. "Bagi JNE, keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari bagaimana kami menjaga dan memperhatikan orang-orang yang menjadi bagian dari perjalanan JNE," tuturnya.
Para Penjaga Amanah
Hasan hanyalah satu dari sekian banyak cerita tentang para kurir. Mereka yang dengan tanggung jawab mengantarkan barang berharga kepada para pelanggannya. Setidaknya ada ribuan kurir yang menjadi ujung tombak JNE di seluruh Indonesia.
Di Bandung Raya, JNE didukung lebih dari 2.000 Ksatria dan Srikandi. Secara nasional, jumlah karyawan JNE mencapai lebih dari 50.000 orang, tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Iyus Rustandi, kurir berperan penting dalam mendukung operasional perusahaan. Mereka menjadi garda terdepan yang setiap hari menghubungkan kebahagiaan melalui layanan pengiriman ke berbagai pelosok negeri.
"Kurir merupakan ujung tombak perusahaan sekaligus duta atau ambassador JNE, mereka yang berinteraksi langsung dengan pelanggan setiap harinya," ujar Iyus.
Menurut dia, tugas kurir tidak sebatas mengantarkan paket. Tetapi membawa kepercayaan, harapan, bahkan kebahagiaan yang dititipkan pelanggan melalui setiap kiriman. Makanya, para Ksatria dan Srikandi JNE dituntut selalu bekerja dengan penuh tanggung jawab, profesional, dan berintegritas.
Iyus menjelaskan, para kurir menjadi representasi nyata nilai-nilai perusahaan di lapangan. Keberadaan mereka sangat strategis dalam menjaga kualitas layanan sekaligus membangun kepercayaan masyarakat kepada JNE.
"Ksatria dan Srikandi JNE ini memiliki peran penting sebagai wajah perusahaan yang menghadirkan pengalaman terbaik bagi pelanggan serta mewujudkan semangat Connecting Happiness," tutur Iyus.
Merawat Para Ksatria
Sebagai bentuk apresiasi kepada Ksatria dan Srikandi, JNE menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan para kurir. Berbagai fasilitas dan perlindungan diberikan kepada karyawan sebagai bentuk perhatian perusahaan terhadap keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi mereka.
Menurut Iyus, kesejahteraan karyawan merupakan fondasi penting dalam menjaga kualitas pelayanan pelanggan. Sebagai bentuk perhatian terhadap kesejahteraan karyawan, JNE memberikan fasilitas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, uang transportasi, serta bantuan beras sebanyak 10 kilogram setiap bulan.
JNE juga menyediakan berbagai program pengembangan kompetensi dan pelatihan kerja untuk meningkatkan kemampuan para karyawannya.
Tak hanya itu, perusahaan juga memberikan apresiasi bagi karyawan yang telah mengabdi lebih dari 12 tahun, berupa kesempatan menjalankan ibadah umrah atau perjalanan ke holyland. Program ini dilakukan setiap tahun dengan memberangkatkan puluhan karyawan.
Menurut Iyus, komitmen JNE memberikan perlindungan kepada para kurir, tidak terlepas dari nilai-nilai yang diwariskan oleh pendiri perusahaan, yaitu almarhum Soeprapto Soeparno.
"Nilai-nilai perusahaan yang diwariskan oleh pendiri JNE yaitu semangat berbagi, memberi, dan menyantuni yang hingga saat ini menjadi budaya dan tradisi perusahaan. Kami percaya, karyawan yang sehat, aman, dan sejahtera akan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat," ujarnya.
Penghubung Ekonomi Negeri
Semangat kekeluargaan yang di bangun JNE ternyata memberikan dampak positif bagi perusahaan. Di mana, JNE mencatat kinerja positif sepanjang tahun 2025. Di tengah persaingan industri logistik yang semakin ketat, volume maupun transaksi kiriman JNE mengalami pertumbuhan sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Sepanjang 2025, JNE mencatat pertumbuhan positif dan berkelanjutan. Secara konsisten, volume maupun transaksi kiriman mengalami peningkatan sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya," ujar Iyus.
Menurut dia, pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari perkembangan perdagangan digital yang terus meningkat di Indonesia. Aktivitas belanja online yang semakin masif turut mendorong kebutuhan masyarakat terhadap layanan logistik yang cepat, aman, dan terpercaya.
Selain itu, kepercayaan pelanggan yang terus terjaga menjadi salah satu faktor utama yang mendukung peningkatan kinerja perusahaan. JNE juga terus melakukan penguatan jaringan distribusi serta peningkatan kualitas layanan di berbagai wilayah Indonesia. Hal itu untuk menjawab kebutuhan pelanggan yang semakin beragam.
Pencapaian tersebut, lanjut dia, tidak hanya menjadi keberhasilan perusahaan dari sisi bisnis, tetapi juga menunjukkan kontribusi sektor logistik dalam mendukung aktivitas ekonomi nasional. Kelancaran distribusi barang memiliki peran penting dalam menjaga perputaran ekonomi, khususnya bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang mengandalkan layanan pengiriman untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Karena itu, JNE berkomitmen untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pelanggan melalui berbagai inovasi layanan. "Pencapaian ini menjadi motivasi bagi JNE untuk terus berinovasi dan memberikan layanan terbaik kepada masyarakat, sekaligus memperkuat peran perusahaan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," imbuhnya.
Penggerak Roda Usaha
Di balik setiap paket yang diantarkan kurir, terdapat roda usaha yang terus berputar. Hal itu dirasakan langsung oleh salah seorang pelaku UMKM di Kota Bandung Ferdina. Dia merasa dalam menjalankan aktivitas penjualan peralatan rumah tangga dan produk pecah belah premium.
Bagi Ferdina, keberadaan layanan kurir dan perusahaan logistik seperti JNE bukan lagi sekadar jasa pengiriman barang, melainkan mitra penting yang membantu kelangsungan usahanya setiap hari. Menurut dia, kemudahan pengiriman sangat membantu pelaku usaha kecil untuk fokus mengembangkan bisnis.
Apalagi produk yang dijual Ferdina bukan barang biasa, yaitu produk pecah belah premium yang membutuhkan penanganan khusus selama proses pengiriman. Kesalahan kecil saja dapat menyebabkan kerusakan dan menimbulkan kerugian bagi penjual maupun pembeli.
"Saya merasa tenang kalau kirim barang lewat JNE. Pelayanannya bagus, barang diperlakukan dengan baik sehingga kami sebagai penjual merasa lebih aman," katanya.
Pengalaman tersebut membuat Ferdina menilai layanan yang diberikan JNE terasa seperti layanan ekspedisi premium. Selain mengutamakan ketepatan waktu, perusahaan juga dinilai memberikan perhatian terhadap keamanan barang yang dikirim pelanggan.
"Sebagai penjual barang pecah belah premium, saya tentu sangat memperhatikan bagaimana barang diperlakukan selama perjalanan. Pengalaman saya menggunakan JNE sejauh ini sangat baik," tuturnya.
Menurut Ferdina, kelancaran distribusi barang melalui jasa logistik telah membantu pelaku UMKM menjangkau pasar yang lebih luas. Produk yang sebelumnya hanya dipasarkan di sekitar Bandung kini dapat dikirim ke berbagai daerah di Indonesia dengan lebih mudah dan aman.
Karena itu, dia menilai peran kurir dan sektor logistik memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan usaha kecil dan menengah. Bahwa di balik setiap paket yang sampai ke tangan pelanggan, terdapat rantai ekonomi yang terus bergerak, mulai dari pelaku UMKM, pekerja logistik, hingga konsumen yang menunggu barang kebutuhannya tiba.
Nadi Ekonomi Bangsa
Sirkular ekonomi tak hanya di tataran Hasan sebagai kurir dan Ferdina sebagai pelaku UMKM, akan tetapi membantu mendorong ekonomi bangsa. Di mana, sektor logistik semakin menunjukkan peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Tidak hanya berfungsi sebagai penghubung arus barang dari produsen ke konsumen, sektor ini kini menjadi salah satu motor utama yang mendorong aktivitas perdagangan, investasi, industri, hingga daya saing bangsa.
Data menunjukkan, sektor transportasi dan pergudangan terus tumbuh lebih cepat dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi tersebut mencerminkan semakin besarnya kebutuhan terhadap layanan logistik seiring berkembangnya aktivitas bisnis, industri manufaktur, perdagangan digital, serta ekspor-impor.
Pada 2025, sektor transportasi dan pergudangan menyumbang pertumbuhan ekonomi dengan capaian 8,78 persen serta memberikan kontribusi lebih dari 6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi mengatakan, pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan selama beberapa tahun terakhir secara konsisten berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Berdasarkan analisis SCI terhadap data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor ini tumbuh sebesar 19,87 persen pada 2022, kemudian 13,96 persen pada 2023, dan 8,69 persen pada 2024. Sementara pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama berada pada kisaran 5 persen.
"Ini menunjukkan bahwa aktivitas logistik berkembang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara umum. Ini menandakan sektor logistik semakin penting dalam mendukung aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi masyarakat," kata Setijadi.
Kontribusi sektor transportasi dan pergudangan terhadap PDB juga terus meningkat. Pada 2022 kontribusinya tercatat sebesar 5,02 persen, naik menjadi 5,89 persen pada 2023 dan mencapai 6,13 persen pada 2024. SCI memproyeksikan kontribusi tersebut akan meningkat menjadi 6,83 persen pada 2026.
“Peningkatan ini menunjukkan bahwa logistik bukan lagi sekadar sektor pendukung, melainkan menjadi salah satu fondasi utama perekonomian nasional. Kelancaran distribusi barang menentukan keberhasilan berbagai sektor usaha, mulai dari industri manufaktur, perdagangan ritel, pertanian, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah,” ujarnya.
Saat ini, peran logistik menjadi semakin vital. Pertumbuhan transaksi e-commerce mendorong peningkatan kebutuhan pengiriman barang ke berbagai daerah. Aktivitas tersebut, kata dia, tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan bagi kurir, pengemudi, operator gudang, dan tenaga distribusi lainnya, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di berbagai wilayah Indonesia.
Sektor logistik juga berpengaruh besar terhadap investasi. Realisasi investasi Indonesia pada 2025 tercatat mencapai Rp1.931,2 triliun atau meningkat 12,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Infrastruktur logistik yang efisien menjadi salah satu faktor penting yang dipertimbangkan investor dalam menentukan lokasi investasi dan pengembangan usaha.
Setijadi menjelaskan, kawasan industri yang terintegrasi dengan fasilitas logistik modern akan mampu menarik lebih banyak investasi. Saat ini terdapat 175 kawasan industri di Indonesia dengan total luas lebih dari 98 ribu hektare yang menampung hampir 12 ribu perusahaan dan menyerap sekitar 2,35 juta tenaga kerja.
Meski demikian, tantangan sektor logistik masih cukup besar. Berdasarkan data Bappenas, biaya logistik domestik masih mencapai sekitar 14,1 persen dari harga barang, sementara biaya logistik ekspor mencapai 8,98 persen dari nilai barang yang dikirim. “Tingginya biaya tersebut menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar produk Indonesia semakin kompetitif di pasar global,” ujarnya.
Oleh karenanya, Setijadi terus mendorong percepatan pembangunan infrastruktur logistik, integrasi transportasi multimoda, digitalisasi rantai pasok, hingga pengembangan pusat konsolidasi barang di luar Pulau Jawa. Langkah tersebut dinilai penting untuk mempercepat distribusi, menekan biaya operasional, serta mengurangi ketimpangan ekonomi antarwilayah. ***
