1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

5 menit baca
Naufal Syauqi Ramdany
Ditulis oleh Naufal Syauqi Ramdany diterbitkan Minggu 14 Jun 2026, 12:51 WIB
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865. Angka tersebut adalah rekor nilai tertinggi melemahnya rupiah terhadap dolar dalam beberapa tahun terakhir. “Rakyat desa tidak pake dolar” begitu ucapan Presiden Prabowo menanggapi rupiah melemah ketika pidato kemarin, namun Bahtra Banong Wakil Ketua Komisi II DPR RI menyebutkan bahwa yang dimaksud Prabowo itu ia berharap masyarakat tidak usah panik karena fundamental ekonomi Indonesia kuat. 

Masalahnya terletak pada bergantungnya bahan baku impor pada sektor produksi barang atau jasa di Indonesia. Badan Pusat Statistik menegaskan bahwa Indonesia mengimpor bahan baku dalam jumlah besar untuk membantu sektor perindustrian demi membantu majunya perekonomian Indonesia, 70% perusahaan lokal menggunakan barang bahan baku impor untuk memproduksi barang atau jasa berdasarkan Laporan Data Statistik (BPS). Otomatis ada kenaikan cost of production (biaya produksi) sehingga keuntungan perusahaan menipis akibat kenaikan biaya produksi.

Rupiah melemah bukan tanpa sebab, ada banyak faktor yang menimbulkan rupiah melemah hingga hari ini. Dilansir dari ajaib.co.id penyebab rupiah melemah adalah ketidakpastian konflik geopolitik, harga minyak global kian meninggi, pengeluaran anggaran yang lebih besar dibanding pendapatan negara, serta peninjauan ulang status pasar Indonesia, tingginya permintaan dolar US untuk membayar utang negara dan repatriasi dividen sehingga keuangan negara membengkak akibat ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran anggaran.

Keadaan-keadaan tersebut yang menjadi alasan mengapa kurs dolar menguat dari rupiah. Menurut Aliman Syahmi yang merupakan dosen Universitas Islam Negeri Batusangkar mengatakan bahwa nilai tukar rupiah ini perlu ditangani dengan serius sebab isu rupiah melemah serta ketergantungan bahan baku impor bukan hal sepele yang akan menjadi bom waktu dalam jangka berkepanjangan. Walaupun kita merasakan hari hari biasa saja, namun sebenarnya perekonomian di negara kita rapuh terutama pada kelas menengah dan kelas pekerja.

Efek Domino dari Lesunya Rupiah terhadap Dolar

Ketergantungan impor pada bahan baku serta dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah ke dolar tidak sepele, sebab berdampak terhadap biaya hidup masyarakat terutama kelas menengah yang tergerus akibat lonjakan biaya kebutuhan sehari-hari. Walaupun sengaja pemerintah Indonesia mengendalikan harga jenis bahan bakar minyak (BBM) subsidi pertalite dan solar menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar menjaga daya beli masyarakat sementara untuk nonsubsidi pertamax, pertamax green, pertamax turbo, dexlite naik.

Dilansir dari media Kompas bahwasanya dengan kenaikan BBM nonsubsidi para masyarakat berpindah ke BBM subsidi yaitu pertalite dan solar yang menyebabkan antrian panjang bahkan kelangkaan di sejumlah wilayah. Anggota Komisi VI DPR RI Budi S Kanang menegaskan bahwa kenaikan BBM dan lemahnya rupiah ini sangat berdampak kepada kelas menengah yang paling rentan karena tidak mendapatkan perlindungan. Sebab kelas menengah ke bawah masih memiliki perlindungan dari pemerintah seperti subsidi, operasi pasar, dan lain sebagainya. Namun kelas menengah tidak mendapatkan bantuan seperti kelas menengah kebawah sehingga berpotensi menekan daya beli masyarakat kelas menengah.

Harga bahan baku produksi sejumlah pangan mengalami kenaikan. Kedelai mengalami kenaikan pasca lesunya rupiah dari 8.700 rupiah menjadi 11.000 rupiah per kilogramnya. Akibatnya, para produsen tempe atau tahu terpaksa harus mengurangi ukuran produk atau menaikkan harga jual. Harga pakan ternak pun terkena imbas juga, para petani kewalahan dengan keuntungan yang menipis sebab pangan ternak melambung tinggi, sedangkan biaya terbesar dalam peternakan adalah pakan ternak. Selain itu, efek dolar menguat menyebabkan perusahaan tercekik biaya operasional yang melambung tinggi.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)

Sektor yang sangat terdampak adalah perusahaan yang bertransaksi menggunakan mata uang dolar: manufaktur, barang konsumsi (consumer goods), farmasi dan otomotif, penerbangan, properti dan konstruksi, emiten ritel. Namun ada beberapa sektor yang justru menguntungkan dalam posisi seperti ini contohnya komoditas eksportir. Posisi ketidakpastian perekonomian Indonesia saat ini perusahaan melakukan strategi agar tetap berjalan yaitu memotong biaya operasional seminimal mungkin untuk mengurangi tingginya biaya produksi baik itu memangkas fasilitas, memotong gaji karyawan, menghilangkan bonus, jika kondisi terparah perusahaan terpaksa mengurangi karyawan demi kelangsungan perusahaan.

Keadaan rupiah melemah sangat terpukul bagi masyarakat dengan upah begitu-begitu saja sehingga masyarakat mengurangi membeli barang atau jasa. Masyarakat menengah dan bawah mulai menggunakan tabungan mereka untuk menutupi biaya kehidupan yang tinggi mulai mahalnya bahan pokok seperti susu, telur, daging, tempe, tahu dan kebutuhan pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, pajak akibatnya terpaksa mengorbankan kebutuhan-kebutuhan yang tidak perlu bahkan kebutuhan pokok sekalipun, sebab sedikitnya lapangan pekerjaan yang berkualitas dengan tingginya biaya hidup sehingga daya beli masyarakat kini cenderung menurun.

Solusi dan Penutup

Penjelasan tentang efek domino yang berbahaya sebab pelemahan rupiah dan bergantungnya bahan baku impor ini, seharusnya menjadi pembelajaran dan segera mencari solusi daripada membiarkan kelas menengah dan pekerja menderita akibat bengkaknya biaya hidup. Solusinya adalah melakukan penguatan mata uang dengan cara Local Currency Transaction (LCT) yaitu melakukan perdagangan antar negara dengan mata uang masing-masing negara agar memperkuat nilai mata uang sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masing-masing negara ucap Kementerian Koordinator Perekonomian Ferry Irawan.

Selanjutnya yaitu mengganti barang bahan baku impor dengan memproduksi sendiri dengan petani lokal. Pemerintah wajib mendanai biaya riset selama pemgembangan hilirisasi komoditas lokal berjalan, hingga tercapainya target sehingga tidak bergantung pada produsen bahan baku impor. Contohnya orgum, dan singkong modifikasi untuk menggantikan spesifikasi terigu dengan begitu, produsen manufaktur makanan dapat menggantikan gandum impor dengan hasil produk hilirisasi lokal dan lebih murah.

Konsumsi produk lokal baik itu pangan, pakaian, rekreasi, penginapan hingga kebutuhan sehari-hari, agar membantu memajukan industri dan ekonomi Indonesia. Sementara pada sektor industri serta pengusaha menggunakan bahan baku lokal agar memajukan dan menguntungkan para pengusaha lokal. Mengurangi bahan bakar minyak berlebihan dan mengurangi polusi dengan pemerintah memberikan fasilitas umum yang mumpuni serta layak agar masyarakat antusias menggunakan transportasi umum.

Walaupun masyarakat desa tidak menggunakan rupiah dalam kehidupan sehari hari, tetapi mereka merasakan dampak dari melemahnya rupiah terhadap dolar. Menjadikan harga makan 1 piring, pakan ternak, pupuk dan biaya hidup sehari-hari jadi lebih mahal. Biaya operasional perusahaan yang ikut naik. Berdampak pada menipisnya keuntungan perusahaan yang menciptakan hilangnya bonus gaji, pengurangan gaji, jika biaya operasional terdesak terpaksa perusahaan melakukan PHK.

Sementara pekerja yang memiliki uang pas pasan,namun ketika biaya kebutuhan pokok, pendidikan anak, kesehatan melambung tinggi, maka ada kebutuhan yang harus dikorbankan demi kelangsungan kehidupan sehari hari. Sebab kaum menengah paling rentan bergeser ke garis kemiskinan karena tidak mendapatkan perlindungan seperti masyarakat menengah kebawah. Hal ini juga berdampak pada penurunan daya beli masyarakat terhadap barang atau jasa lokal. Sehingga dengan melemahnya rupiah ini keadaan kita sama sekali tidak baik baik saja. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Naufal Syauqi Ramdany
Mahasiswa Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik (UNPAR) yang senang sekali menambah wawasan serta pengalaman baru.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 10:01

Mengenal DISPUSIPDA: Pusat Perpustakaan dan Pengarsipan di Bumi Priangan

DISPUSIPDA JABAR, merupakan perpustakaan dan pusat pengarsipan terbesar di Provinsi Jawa Barat.

Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Raffi Islam Madina)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 09:06

BBM Naik, Rakyat Kian Tercekik: Alarm bagi Kita Semua

Ketika semua harga naik, biasanya ada sesuatu yang harus "diturunkan".

Sebuah SPBU di Jl. Surapati Kota Bandung. (Foto: Abah Omtris)
Bandung 13 Jun 2026, 20:44

Sektor Perdagangan dan Industri Loyo, Kredit UMKM Jabar Sentuh Rp186,4 Triliun

Total kredit UMKM Jawa Barat tembus Rp186,4 triliun per Maret 2026. Namun, sektor perdagangan besar dan industri pengolahan justru mengalami kontraksi yoy.

Ilustrasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 13 Jun 2026, 19:45

Gaya Hidup Serba Cepat, Begini Cara Wanita Modern Pilih Tas Multifungsi yang Sesuai Jati Diri

Wanita urban masa kini cenderung mencari keseimbangan antara fungsionalitas yang tinggi dan pesan personal yang ingin mereka sampaikan kepada dunia melalui penampilan mereka.

Tren terbesar yang mendominasi panggung mode sehari-hari saat ini adalah tingginya permintaan terhadap tas yang bersifat multifungsi atau versatile. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 13 Jun 2026, 09:16

Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

Pemutaran film Menolak Punah di Bandung mengungkap dampak tersembunyi industri fast fashion, dari limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik bagi manusia.

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 20:23

Kenaikan Harga BBM, Peningkatan Biaya Operasional Kendaraan, dan Peluang Perpindahan Moda Transportasi

Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya operasional kendaraan dan membuka peluang perpindahan moda transportasi, asalkan didukung dengan angkutan umum yang berkualitas.

Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamina jenis Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 19:34

Dari Tjilakiplein ke Taman Lansia Kota Bandung

Perkembangan Taman Lansia dari masa Kolonial Belanda hingga masa kini yang menjadi taman ramah bagi lanjut usia yang inklusif.

Warga saat berada di Taman Lansia, Kota Bandung, Jumat 30 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 18:11

CRISPR-Cas9: Teknologi Penghasil Beras Unggul yang Dikembangkan Peneliti di China

Bisakah padi lokal yang berbulir kecil “diubah” menjadi bulir panjang? Pertanyaan ini mungkin terlihat seperti fiksi ilmiah.

Ilustrasi beras bulir panjang bersih dan minim zat kapur. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 17:17

Urgensi Drone untuk Mitigasi dan Penanggulangan Gempa

Pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sama dengan industri drone yang sudah memiliki sertifikasi atau mendapatkan pengesahan Design Organization Approval (DOA).

Ilustrasi drone untuk menanggulangi bencana gempa bumi. (Sumber: Meta AI | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 12 Jun 2026, 16:46

Itinerary Wisata Bandung 1–2 Hari, Jelajah Kota Kembang dalam Dua Zona yang Berbeda

Panduan itinerary Bandung 1–2 hari dengan rute wisata pusat kota dan Lembang. Cocok untuk liburan singkat tanpa menghabiskan banyak waktu di jalan.

Suasana Bandung dari ketinggian. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 16:16

Banjir Bandung: Bencana Kebijakan, Bukan Bencana Alam

Banjir tahunan di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang sudah bukan kejutan lagi, banjir datang setiap musim hujan, dan merendam puluhan ribu jiwa.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 15:32

Bojongmalaka, Tanjung yang Ditumbuhi Pohon Malaka

Pohon malaka itu batangnya bengkok-bengkok, tingginya antara 10 m sampai 19m.

Pohon malaka yang sedang berbuah lebat di puncak Gunung Pipisan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. (Foto: Ganjar Wigun)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 14:47

Disabilitas Antara Kemanusiaan dan Egaliter

Kaum disabilitas acapkali hanya dijadikan jargon politik, bahwa manusia adalah setara.

Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 13:21

Mandi Kembang sebagai Cara Perempuan Masa Kini Mengapresiasi Tubuh

Tren amandazahraism sebagai sarana pelestarian budaya, menjadikan mandi bunga yang dulunya dianggap mistis dan kolot sebagai bentuk self-care.

Ilustrasi mandi kembang. (Sumber: "Spa in DVN" by Dennis Wong)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 13:09

Mengenal Dunia Pelayanan Sosial Melalui Magang Berdampak

Mahasiswa Pendidikan Masyarakat UPI melaksanakan Program Magang Mandiri Berdampak di Dinas Sosial Kota Bandung.

Kegiatan Penjemputan Mahasiswa Magang oleh Pihak Kampus & Pihak Mitra.