1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

5 menit baca
Naufal Syauqi Ramdany
Ditulis oleh Naufal Syauqi Ramdany diterbitkan
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865. Angka tersebut adalah rekor nilai tertinggi melemahnya rupiah terhadap dolar dalam beberapa tahun terakhir. “Rakyat desa tidak pake dolar” begitu ucapan Presiden Prabowo menanggapi rupiah melemah ketika pidato kemarin, namun Bahtra Banong Wakil Ketua Komisi II DPR RI menyebutkan bahwa yang dimaksud Prabowo itu ia berharap masyarakat tidak usah panik karena fundamental ekonomi Indonesia kuat. 

Masalahnya terletak pada bergantungnya bahan baku impor pada sektor produksi barang atau jasa di Indonesia. Badan Pusat Statistik menegaskan bahwa Indonesia mengimpor bahan baku dalam jumlah besar untuk membantu sektor perindustrian demi membantu majunya perekonomian Indonesia, 70% perusahaan lokal menggunakan barang bahan baku impor untuk memproduksi barang atau jasa berdasarkan Laporan Data Statistik (BPS). Otomatis ada kenaikan cost of production (biaya produksi) sehingga keuntungan perusahaan menipis akibat kenaikan biaya produksi.

Rupiah melemah bukan tanpa sebab, ada banyak faktor yang menimbulkan rupiah melemah hingga hari ini. Dilansir dari ajaib.co.id penyebab rupiah melemah adalah ketidakpastian konflik geopolitik, harga minyak global kian meninggi, pengeluaran anggaran yang lebih besar dibanding pendapatan negara, serta peninjauan ulang status pasar Indonesia, tingginya permintaan dolar US untuk membayar utang negara dan repatriasi dividen sehingga keuangan negara membengkak akibat ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran anggaran.

Keadaan-keadaan tersebut yang menjadi alasan mengapa kurs dolar menguat dari rupiah. Menurut Aliman Syahmi yang merupakan dosen Universitas Islam Negeri Batusangkar mengatakan bahwa nilai tukar rupiah ini perlu ditangani dengan serius sebab isu rupiah melemah serta ketergantungan bahan baku impor bukan hal sepele yang akan menjadi bom waktu dalam jangka berkepanjangan. Walaupun kita merasakan hari hari biasa saja, namun sebenarnya perekonomian di negara kita rapuh terutama pada kelas menengah dan kelas pekerja.

Efek Domino dari Lesunya Rupiah terhadap Dolar

Ketergantungan impor pada bahan baku serta dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah ke dolar tidak sepele, sebab berdampak terhadap biaya hidup masyarakat terutama kelas menengah yang tergerus akibat lonjakan biaya kebutuhan sehari-hari. Walaupun sengaja pemerintah Indonesia mengendalikan harga jenis bahan bakar minyak (BBM) subsidi pertalite dan solar menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar menjaga daya beli masyarakat sementara untuk nonsubsidi pertamax, pertamax green, pertamax turbo, dexlite naik.

Dilansir dari media Kompas bahwasanya dengan kenaikan BBM nonsubsidi para masyarakat berpindah ke BBM subsidi yaitu pertalite dan solar yang menyebabkan antrian panjang bahkan kelangkaan di sejumlah wilayah. Anggota Komisi VI DPR RI Budi S Kanang menegaskan bahwa kenaikan BBM dan lemahnya rupiah ini sangat berdampak kepada kelas menengah yang paling rentan karena tidak mendapatkan perlindungan. Sebab kelas menengah ke bawah masih memiliki perlindungan dari pemerintah seperti subsidi, operasi pasar, dan lain sebagainya. Namun kelas menengah tidak mendapatkan bantuan seperti kelas menengah kebawah sehingga berpotensi menekan daya beli masyarakat kelas menengah.

Harga bahan baku produksi sejumlah pangan mengalami kenaikan. Kedelai mengalami kenaikan pasca lesunya rupiah dari 8.700 rupiah menjadi 11.000 rupiah per kilogramnya. Akibatnya, para produsen tempe atau tahu terpaksa harus mengurangi ukuran produk atau menaikkan harga jual. Harga pakan ternak pun terkena imbas juga, para petani kewalahan dengan keuntungan yang menipis sebab pangan ternak melambung tinggi, sedangkan biaya terbesar dalam peternakan adalah pakan ternak. Selain itu, efek dolar menguat menyebabkan perusahaan tercekik biaya operasional yang melambung tinggi.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)

Sektor yang sangat terdampak adalah perusahaan yang bertransaksi menggunakan mata uang dolar: manufaktur, barang konsumsi (consumer goods), farmasi dan otomotif, penerbangan, properti dan konstruksi, emiten ritel. Namun ada beberapa sektor yang justru menguntungkan dalam posisi seperti ini contohnya komoditas eksportir. Posisi ketidakpastian perekonomian Indonesia saat ini perusahaan melakukan strategi agar tetap berjalan yaitu memotong biaya operasional seminimal mungkin untuk mengurangi tingginya biaya produksi baik itu memangkas fasilitas, memotong gaji karyawan, menghilangkan bonus, jika kondisi terparah perusahaan terpaksa mengurangi karyawan demi kelangsungan perusahaan.

Keadaan rupiah melemah sangat terpukul bagi masyarakat dengan upah begitu-begitu saja sehingga masyarakat mengurangi membeli barang atau jasa. Masyarakat menengah dan bawah mulai menggunakan tabungan mereka untuk menutupi biaya kehidupan yang tinggi mulai mahalnya bahan pokok seperti susu, telur, daging, tempe, tahu dan kebutuhan pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, pajak akibatnya terpaksa mengorbankan kebutuhan-kebutuhan yang tidak perlu bahkan kebutuhan pokok sekalipun, sebab sedikitnya lapangan pekerjaan yang berkualitas dengan tingginya biaya hidup sehingga daya beli masyarakat kini cenderung menurun.

Solusi dan Penutup

Penjelasan tentang efek domino yang berbahaya sebab pelemahan rupiah dan bergantungnya bahan baku impor ini, seharusnya menjadi pembelajaran dan segera mencari solusi daripada membiarkan kelas menengah dan pekerja menderita akibat bengkaknya biaya hidup. Solusinya adalah melakukan penguatan mata uang dengan cara Local Currency Transaction (LCT) yaitu melakukan perdagangan antar negara dengan mata uang masing-masing negara agar memperkuat nilai mata uang sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masing-masing negara ucap Kementerian Koordinator Perekonomian Ferry Irawan.

Selanjutnya yaitu mengganti barang bahan baku impor dengan memproduksi sendiri dengan petani lokal. Pemerintah wajib mendanai biaya riset selama pemgembangan hilirisasi komoditas lokal berjalan, hingga tercapainya target sehingga tidak bergantung pada produsen bahan baku impor. Contohnya orgum, dan singkong modifikasi untuk menggantikan spesifikasi terigu dengan begitu, produsen manufaktur makanan dapat menggantikan gandum impor dengan hasil produk hilirisasi lokal dan lebih murah.

Konsumsi produk lokal baik itu pangan, pakaian, rekreasi, penginapan hingga kebutuhan sehari-hari, agar membantu memajukan industri dan ekonomi Indonesia. Sementara pada sektor industri serta pengusaha menggunakan bahan baku lokal agar memajukan dan menguntungkan para pengusaha lokal. Mengurangi bahan bakar minyak berlebihan dan mengurangi polusi dengan pemerintah memberikan fasilitas umum yang mumpuni serta layak agar masyarakat antusias menggunakan transportasi umum.

Walaupun masyarakat desa tidak menggunakan rupiah dalam kehidupan sehari hari, tetapi mereka merasakan dampak dari melemahnya rupiah terhadap dolar. Menjadikan harga makan 1 piring, pakan ternak, pupuk dan biaya hidup sehari-hari jadi lebih mahal. Biaya operasional perusahaan yang ikut naik. Berdampak pada menipisnya keuntungan perusahaan yang menciptakan hilangnya bonus gaji, pengurangan gaji, jika biaya operasional terdesak terpaksa perusahaan melakukan PHK.

Sementara pekerja yang memiliki uang pas pasan,namun ketika biaya kebutuhan pokok, pendidikan anak, kesehatan melambung tinggi, maka ada kebutuhan yang harus dikorbankan demi kelangsungan kehidupan sehari hari. Sebab kaum menengah paling rentan bergeser ke garis kemiskinan karena tidak mendapatkan perlindungan seperti masyarakat menengah kebawah. Hal ini juga berdampak pada penurunan daya beli masyarakat terhadap barang atau jasa lokal. Sehingga dengan melemahnya rupiah ini keadaan kita sama sekali tidak baik baik saja. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)