Di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, ada romantisme yang sulit tergantikan ketika membuka lembar demi lembar majalah cetak lawas. Aroma kertas, kualitas cetakan, tata letak yang artistik, hingga foto-foto eksklusif menghadirkan pengalaman membaca yang berbeda. Salah satu majalah yang meninggalkan jejak kuat dalam sejarah pers Indonesia adalah Majalah Jakarta Jakarta atau yang akrab disingkat JJ.
Majalah berita bergambar ini begitu populer pada era 1980–1990-an. Dengan motto yang legendaris, "Panas Gambarnya, Hangat Beritanya", Jakarta Jakarta berhasil memadukan jurnalisme, fotografi artistik, dan liputan mendalam mengenai dunia hiburan, sosial, budaya, hingga peristiwa nasional maupun internasional.
Rubrik andalannya, "Nama & Peristiwa", selalu menjadi bagian yang paling dinanti pembaca. Di sanalah berbagai kisah para artis, penyanyi, model, tokoh masyarakat, hingga figur dunia diulas secara menarik, menjadikan setiap edisi terasa istimewa.
Tampilan sampul muka Majalah Jakarta Jakarta era 1990-an memperlihatkan bagaimana wajah-wajah populer pada zamannya menghiasi halaman depan. Bukan sekadar majalah hiburan, setiap edisi kini menjadi arsip sejarah yang merekam denyut kehidupan masyarakat Indonesia pada masanya. Bagi kolektor media cetak, majalah ini merupakan harta karun yang menyimpan kenangan sekaligus dokumentasi perjalanan dunia jurnalistik dan industri hiburan Tanah Air.
Salah satu edisi yang menarik untuk dikenang adalah Majalah Jakarta Jakarta terbitan 12–18 Februari 1994, yang kini telah berusia 32 tahun. Sampul depannya menampilkan Ida Royani, sosok multitalenta yang dikenal sebagai penyanyi, bintang film, model, sekaligus perancang busana muslim. Foto-foto sosok cantik Ida Royani diabadikan oleh wartawan foto senior Ray Bachtiar Drajat yang juga kakak kandung penyanyi Arman Maulana, vokalis band GIGI.
Lahir di Jakarta pada 24 Maret 1953 dengan nama Ida Daniar, Ida Royani mencapai puncak popularitas pada era 1970-an sebagai pasangan duet legendaris Benyamin Sueb di layar lebar maupun panggung hiburan. Lagu-lagu Gambang Kromong seperti Di Sini Aje dan Hujan Gerimis menjadi bagian dari perjalanan musik Betawi yang hingga kini masih dikenang.
Di dunia film, Ida membintangi sejumlah judul populer, di antaranya Tarzan Kota dan Benyamin Biang Kerok. Ia kemudian menikah dengan musisi Keenan Nasution, dan hingga kini tetap aktif sebagai perancang busana muslim serta anggota Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).
Edisi ini juga memuat kabar mengenai Muthia Datau, Runner-up None Jakarta 1976 yang pernah dikenal sebagai penjaga gawang tim sepak bola putri. Setelah meninggalkan dunia olahraga, Muthia berkarier sebagai manajer operasional sebuah bank dan kemudian menikah dengan aktor Herman Felani. Kehidupan rumah tangganya dikaruniai tiga orang putra.
Sementara itu, penyanyi Yuni Shara menjadi sorotan setelah pernikahannya dengan Raymond Manthey pada Oktober 1993. Pernikahan yang digelar dengan adat Jawa tersebut kemudian ramai diberitakan karena berbagai persoalan rumah tangga yang berujung pada perpisahan.
Aktris Ria Irawan juga menghiasi halaman berita. Saat itu ia dikabarkan tengah menjalani pemulihan kesehatan sekaligus berusaha bangkit dari trauma setelah kehilangan sang kekasih, Aldi, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan.

Rinto Harahap, Sang Raja Lagu Melankolis.
Nama Rinto Harahap tentu tidak asing bagi pencinta musik Indonesia. Musisi kelahiran Sibolga, 10 Maret 1949 ini dikenal sebagai pencipta lagu-lagu pop melankolis yang mewarnai industri musik Indonesia sejak era 1970-an.
Setelah sukses bersama grup The Mercy's, Rinto mendirikan Lolypop Group dan PT Lolypop Records, yang melahirkan banyak penyanyi populer seperti Iis Sugianto, Betharia Sonatha, dan Nia Daniaty.
Begitu identiknya Rinto dengan lagu-lagu bernuansa sendu, hingga muncul ungkapan yang sangat populer pada era 1980–1990-an:
"Tampang Rambo, Hati Rinto."
Ungkapan itu menjadi simbol seseorang yang tampak garang di luar, tetapi sesungguhnya berhati lembut dan romantis.
Musisi nyentrik asal Bandung, Harry Roesli, juga menjadi bagian dari pemberitaan. Dikenal sebagai pemimpin Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) dan pencipta lagu-lagu bertema kritik sosial, Harry menjajal dunia akting lewat sinetron None karya sastrawan sekaligus sutradara Putu Wijaya. Menariknya, Harry mengaku sangat menikmati pengalaman memerankan tokoh perampok dalam sinetron tersebut.
Tak banyak yang mengetahui bahwa Harry Roesli merupakan cucu dari sastrawan besar Indonesia, Marah Roesli.
Rubrik musik internasional mengulas konser Sting di Jakarta. Mantan vokalis dan basis The Police itu sukses memukau ribuan penggemarnya lewat lagu-lagu seperti Fields of Gold, If I Ever Lose My Faith in You, Every Breath You Take, Englishman in New York, Sister Moon, hingga Roxanne.

Konser tersebut menjadi salah satu momen yang membuktikan besarnya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap musisi kelas dunia sejak awal 1990-an.
Dari panggung internasional, Jakarta Jakarta juga mengangkat profil Ratu Noor, permaisuri Raja Hussein dari Yordania. Lahir di Amerika Serikat dengan nama Elizabeth Najeeb Halaby, Ratu Noor merupakan lulusan arsitektur Universitas Princeton yang kemudian aktif mempromosikan seni dan budaya Yordania melalui berbagai pameran internasional.
Dunia perfilman Hollywood saat itu juga tengah diramaikan oleh kesuksesan Sharon Stone melalui film Basic Instinct (1992). Film tersebut melambungkan namanya menjadi salah satu aktris paling populer sekaligus dengan bayaran tertinggi pada masanya.
Karier Sharon terus menanjak lewat film-film seperti Sliver dan The Immortals, menjadikannya salah satu ikon perfilman Hollywood pada dekade 1990-an.

Membaca kembali Majalah Jakarta Jakarta bukan sekadar mengenang para selebritas atau berita lama. Setiap halaman menghadirkan potongan sejarah yang memperlihatkan bagaimana media mengabadikan sebuah zaman. Dari dunia hiburan, musik, film, olahraga, hingga peristiwa internasional, semuanya tersimpan rapi dalam lembaran-lembaran majalah yang kini menjadi koleksi berharga.
Bagi para kolektor media cetak, setiap eksemplar Jakarta Jakarta adalah kapsul waktu yang mengajak pembacanya kembali ke era ketika berita dinikmati dengan lebih perlahan, lebih mendalam, dan penuh rasa. Itulah romantisme membaca majalah, sebuah pengalaman yang mungkin tak lagi banyak ditemui di era digital, tetapi selalu menghadirkan kenangan yang hangat setiap kali lembarannya dibuka kembali. (*)