Pelajaran 'Zero Waste' dari Stadion Persib Bandung

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Stadion GBLA yang menjadi kandang Persib Maung Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Stadion GBLA yang menjadi kandang Persib Maung Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

ADALAH pemandangan yang kerap terjadi di negeri ini ketika dalam satu pertandingan sepakbola, ribuan orang datang ke stadion, makan, minum, menonton sajian pertandingan, lalu pulang. Dan lantas, meninggalkan jejak sampah yang selama ini dianggap sebagai konsekuensi tak terhindarkan. 

Namun, ketika pola kebiasaan ini kemudian diintervensi melalui sistem pengelolaan sampah terpadu, kita sesungguhnya sedang menguji ihwal apakah kota bisa belajar dari stadion sepakbola dalam pengelolaan sampahnya.

Model zero waste to landfill yang sedang diterapkan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) saat ini setidaknya menunjukkan satu hal penting bahwa sampah bukan persoalan akhir, melainkan persoalan desain sistem. 

Ambil, pakai, dan buang

Selama ini, pendekatan pengelolaan sampah di banyak kota di Indonesia masih linear, yakni ambil, pakai, buang. Nah, stadion GBLA, yang menjadi home base Persib Maung Bandung, mencoba membalik logika tersebut menjadi sirkular.

Dari perspektif ekologi, pendekatan ini menggeser cara kita melihat sampah. Pasalnya, sampah organik bukan lagi limbah, melainkan biomassa yang bisa kembali ke tanah. 

Adapun sampah anorganik bukan beban, tetapi sumber daya sekunder. Bahkan, residu sekalipun diposisikan sebagai sisa dari sistem yang terus disempurnakan, bukan kegagalan total.

Namun, replikasi pendekatan tersebut ke tingkat kota atau nasional mungkin tidak bakal sesederhana menyalin prosedur teknis. Tersebab, stadion memiliki satu keunggulan yang jarang dimiliki kota, yaitu kontrol. 

Di dalam stadion, alur masuk-keluar barang dan manusia bisa diatur dengan relatif ketat. Adapun kota adalah ruang terbuka dengan ribuan variabel yang cenderung tak terkendali.

Jika stadion macam GBLA bisa dianggap sebagai “laboratorium” dalam pengelolaan sampah, maka kota adalah “ekosistem hidup” yang membutuhkan integrasi lintas sektor.

Sistem pengelolaan sampah tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus terhubung dengan tata ruang, transportasi, pola konsumsi, hingga kebijakan ekonomi.

Desain perilaku

Salah satu pelajaran penting dari pengelolaan sampah di stadion adalah pentingnya desain perilaku. Tempat sampah terpilah, signage yang jelas, serta edukasi kepada penonton menjadi bagian dari arsitektur sistem. 

Dalam konteks kota, ini berarti bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada bagaimana warga diarahkan untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah.

Sayangnya, banyak kebijakan pengelolaan sampah di Indonesia masih terlalu menekankan aspek teknis tanpa cukup memperhatikan dimensi perilaku. Padahal, tanpa perubahan kebiasaan, teknologi secanggih apa pun akan berakhir sebagai fasilitas yang tidak optimal.

Replikasi model stadion sepak bola  ke skala kota juga menuntut adanya desentralisasi pengelolaan. Stadion bekerja karena ada titik pengumpulan yang jelas. Maka, kota perlu menciptakan banyak “mikro-stadion” dalam bentuk bank sampah, TPS terpadu, atau fasilitas pengolahan di tingkat komunitas.

Di sisi lain, ada dimensi ekonomi yang tidak boleh diabaikan. Sistem zero waste hanya akan berkelanjutan jika ada insentif ekonomi yang jelas. Di stadion, hal ini bisa dikelola melalui kemitraan dengan pihak pengelola sampah. Di kota, skema ini harus diperluas menjadi ekosistem industri daur ulang yang hidup.

Didesain seperti organisme

Kota modern menempatkan konsep circular economy sebagai prinsip dasar dalam merancang sistem perkotaan. Ini berarti bahwa perencanaan kota tidak lagi sekadar mengatur zonasi, tetapi juga mengelola aliran material agar limbah ditekan dan penggunaan ulang dimaksimalkan.

Namun, tantangan terbesar justru terletak pada tata kelolanya. Stadion memiliki satu operator utama yang bisa mengambil keputusan cepat. Kota memiliki banyak aktor. Ada pemerintah, swasta, komunitas, dan warga. Tanpa koordinasi yang kuat, sistem akan terfragmentasi.

Oleh sebab itu, kebijakan publik harus memainkan peran strategis. Pemerintah tidak cukup hanya membuat regulasi, tetapi juga harus menjadi orkestrator yang memastikan semua pihak bergerak dalam arah yang sama. Ini termasuk menyediakan insentif, standar, dan mekanisme evaluasi yang jelas.

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Gedebage yang diproyeksikan jadi kandang Persib.
Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Gedebage yang diproyeksikan jadi kandang Persib.

Dari sudut pandang ekologi perkotaan, keberhasilan penerapan zero waste di stadion juga menunjukkan bahwa skala bukanlah penghalang utama. Yang lebih penting adalah konsistensi dan integrasi. Kota yang besar sekalipun bisa bergerak menuju zero waste jika memiliki sistem yang terkoordinasi.

Namun, kita juga perlu bersikap realistis. Tidak semua kota memiliki kapasitas yang sama. Kota-kota kecil mungkin lebih fleksibel, tetapi memiliki keterbatasan sumber daya. Sedangkan kota besar memiliki sumber daya, tetapi sering terjebak dalam kompleksitas birokrasi.

Karena itu, pendekatan replikasi harus adaptif, bukan seragam. Model stadion bisa menjadi referensi, tetapi implementasinya harus disesuaikan dengan konteks lokal. Tidak ada satu solusi yang sama untuk semua.

Hal lain yang sering terlewat adalah dimensi sosial. Sampah bukan hanya isu teknis atau lingkungan, tetapi juga isu keadilan. Siapa yang mengelola sampah? Siapa yang mendapatkan manfaat dari daur ulang? Dan siapa yang menanggung beban residu?

Dalam banyak kasus, pekerja informal seperti pemulung justru menjadi aktor utama dalam sistem daur ulang. Kebijakan yang baik harus mengintegrasikan mereka, bukan menggantikannya.

Kemasan ramah lingkungan

Penerapan konsep zero waste juga membuka peluang untuk merancang ruang publik yang lebih berkelanjutan. Misalnya, mengurangi penggunaan material sekali pakai dalam event, atau mendorong vendor untuk menggunakan kemasan ramah lingkungan.

Jika ditarik lebih jauh, ini berkaitan dengan bagaimana kita mendesain pengalaman urban. Kota yang berkelanjutan bukan hanya menyangkut infrastruktur, tetapi juga menyangkut budaya. 

Stadion telah menunjukkan bahwa budaya baru bisa dibentuk dalam waktu relatif singkat jika ada sistem yang mendukung.

Namun, budaya tidak bisa dipaksakan. Ia harus tumbuh melalui kombinasi edukasi, insentif, dan contoh nyata. Dalam hal ini, peran simbolik klab sepak bola menjadi sangat penting. Mereka memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku publik.

Inilah yang membuat inisiatif seperti yang dilakukan Persib bersama mitranya dalam mengelola sampah di GBLA menjadi relevan secara nasional. Ia bukan hanya proyek lingkungan, tetapi juga proyek budaya. Ia juga menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang yang tidak terduga.

Soal visi

Jika kita melihat tren global, banyak kota mulai mengadopsi pendekatan serupa dalam skala yang lebih luas. Mereka menyadari bahwa krisis sampah tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan dan cara-cara lama.

Indonesia memiliki peluang untuk melompat lebih jauh dengan memanfaatkan momentum ini. Namun, ini membutuhkan keberanian untuk mengubah paradigma, bukan sekadar memperbaiki sistem yang ada.

Replikasi model zero waste dari stadion ke level kota pada akhirnya adalah soal visi. Apakah kita melihat sampah sebagai masalah yang harus dibuang, atau sebagai sumber daya yang harus dikelola?

Jika jawabannya adalah yang kedua, maka stadion GBLA telah memberi kita blueprint awal. Tinggal bagaimana sekarang kita menerjemahkannya ke dalam kebijakan yang konkret, konsisten, dan berkelanjutan.

Kota yang ideal bukanlah kota yang bersih karena sampahnya disembunyikan, tetapi kota yang cerdas karena mampu mengelola siklus sampahnya secara utuh.

Dan mungkin, perubahan besar dalam mengelola siklus sampah itu memang harus dimulai dari tempat yang paling bising -- sebuah stadion sepak bola -- lalu perlahan merembes ke seluruh wajah kota. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)