Dari Singkong Menjadi Taart: Jejak Kedaulatan Pangan dari Bandung Tahun 1972

6 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Ilustrasi singkong. (Sumber: Pexels | Foto: Matheus Bertelli)
Ilustrasi singkong. (Sumber: Pexels | Foto: Matheus Bertelli)

Di tengah arus kehidupan modern, meja makan kita perlahan dikuasai oleh ketergantungan pada terigu impor. Dari sepotong roti saat sarapan hingga aneka kudapan di sore hari, gandum seakan menjadi penguasa yang nyaris tak tergantikan. Tanpa disadari, kita pun mulai menjauh dari kekayaan pangan yang tumbuh subur di tanah sendiri. Namun, sebuah literatur kuliner dari masa lalu mengajak kita menengok kembali zaman ketika kemandirian pangan bukan sekadar seruan, melainkan pengetahuan hidup yang diolah, diwariskan, dan dipraktikkan dengan penuh kreativitas serta keanggunan.

Buku mungil berjudul Resep Masakan Kuwe Singkong karya Ny. H. Oeis hadir layaknya harta karun kuliner yang kembali ditemukan setelah lama tersembunyi. Diterbitkan oleh PT Alma’arif Bandung, buku ini tidak hanya memuat petunjuk teknis untuk mengolah makanan, tetapi juga menyimpan jejak budaya yang terasa semakin relevan di tengah menguatnya semangat kedaulatan pangan saat ini.

Dari lembar ke lembar, pembaca diajak menyaksikan keajaiban singkong—bahan pangan sederhana yang tumbuh dekat dengan kehidupan masyarakat—diolah menjadi beragam sajian dengan permainan rasa dan tekstur yang memikat. Pada masa ketika terigu mulai mendominasi, singkong justru tampil percaya diri, menjelma menjadi hidangan istimewa yang anggun menghiasi meja-meja pesta era 1970-an.

Singkong Bukan Pangan “Kelas Dua”

Membaca kata pengantar buku ini serasa membuka kembali jejak sebuah diplomasi kuliner yang tumbuh dari ruang-ruang domestik. Buku tersebut diterbitkan untuk menyambut Hari Ulang Tahun ke-27 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Badan Koordinasi Seksi Wanita Regol, Kotamadya Bandung. Kehadirannya bukan sekadar untuk mendokumentasikan resep, melainkan menjadi pernyataan sikap para perempuan dan ibu rumah tangga bahwa bahan pangan lokal memiliki nilai, kehormatan, dan daya cipta yang tidak kalah dari bahan pangan mancanegara.

Semangat itu terangkum dalam kesimpulan dewan juri setelah menilai perlombaan membuat kue berbahan singkong. Mereka menegaskan bahwa kue-kue dari singkong tidak kalah lezat dibandingkan kue berbahan terigu dan bahan lainnya. Pernyataan tersebut terdengar sederhana, tetapi menyimpan pesan yang kuat: singkong mampu berdiri sejajar, bukan sekadar menjadi pengganti ketika bahan lain sulit diperoleh.

Sejak 1972, para perempuan di Regol, Bandung, telah menunjukkan kepercayaan diri kuliner yang mengagumkan. Melalui kreativitas di dapur, mereka menolak pandangan yang menempatkan singkong sebagai makanan “kelas dua”. Bahan pangan yang kerap dianggap bersahaja itu justru diangkat menjadi sajian bernilai, membanggakan, dan layak hadir di meja perayaan.

Keberanian untuk memuliakan hasil bumi sendiri merupakan warisan penting yang patut kita hidupkan kembali. Sebab, identitas kuliner yang autentik tidak lahir dari ketergantungan pada bahan dari luar, melainkan dari keyakinan bahwa tanah sendiri telah menyediakan kekayaan yang pantas diolah, dirayakan, dan dibanggakan.

Saat Singkong Menjelma Menjadi Taart, Spekkoek, hingga Sajian Pesta

Salah satu daya tarik terbesar dalam kurasi resep Ny. H. Oeis terletak pada kecerdasannya mempertemukan tradisi lokal dengan gaya kuliner Eropa. Ia tidak sekadar meniru bentuk-bentuk kue Barat, tetapi melakukan pembaruan yang berani dengan menggantikan gandum—bahan mahal yang lekat dengan warisan kolonial—menggunakan singkong yang tumbuh dekat dengan kehidupan masyarakat. Hasilnya adalah deretan sajian bernama prestisius, seperti Ontbijtkoek Singkong, Mariner Cake dari Singkong, Spekkoek Singkong, dan Taart Singkong Buah-Buahan, yang membuktikan bahwa bahan pangan lokal pun mampu tampil anggun tanpa kehilangan jati dirinya.

Kecermatan itu tampak jelas dalam resep Taart Singkong Buah-Buahan. Ny. H. Oeis memadukan adonan singkong yang telah diolah secara halus dengan aneka buah lokal, seperti belimbing, kedondong, nanas, dan mangga muda. Perpaduan tersebut melahirkan rasa yang segar, berani, dan kaya nuansa.

Singkong diparut, diperas kandungan patinya, lalu diperkaya dengan mentega serta telur hingga menghasilkan tekstur lembut yang menyerupai kue berbahan tepung premium. Di tangan yang terampil, umbi sederhana itu mengalami metamorfosis: dari pangan sehari-hari menjadi sajian berkelas yang layak menghiasi meja perayaan.

Warga kampung adat Cirendeu membuat produk makanan olahan dari singkong di Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, Sabtu 5 Agustus 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Warga kampung adat Cirendeu membuat produk makanan olahan dari singkong di Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, Sabtu 5 Agustus 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Keistimewaan singkong dalam buku ini tidak berhenti pada kue-kue manis. Ny. H. Oeis memperlihatkan betapa lenturnya bahan tersebut dalam menjelma menjadi aneka hidangan, dari kudapan gurih hingga pencuci mulut yang memikat mata. Singkong hadir sebagai bakwan renyah dengan perpaduan udang dan taoge, lalu berubah menjadi kulit risoles dan lumpia yang lembut. Pada resep Risoles, singkong kukus yang dihaluskan digunakan untuk membungkus ragout berisi daging sapi cincang, wortel, dan buncis, menciptakan susunan rasa yang gurih, padat, dan berlapis.

Selain rasa, unsur keindahan juga mendapat tempat penting. Resep seperti Kuwe Talam Pelangi dan Puteri Noong menunjukkan bahwa sajian berbahan singkong dapat tampil penuh warna dan daya tarik visual. Lapisan merah dan hijau yang cerah menjadikan makanan bukan hanya lezat ketika disantap, tetapi juga menggoda sejak pertama kali dipandang.

Di sinilah singkong membuktikan keluwesannya; mampu tampil sederhana sebagai teman minum teh di teras rumah, sekaligus menjelma menjadi hidangan istimewa yang pantas disajikan dalam pesta-pesta resmi.

Ketelitian Dapur Lama dan Masa Depan yang Berakar pada Singkong

Keberhasilan berbagai resep dalam buku ini tidak lahir dari peralatan canggih, melainkan dari ketekunan, ketelitian, dan pemahaman mendalam terhadap karakter setiap bahan. Di tengah budaya memasak modern yang serba cepat dan instan, teknik-teknik tersebut mengingatkan kita bahwa cita rasa terbaik seringkali dibentuk oleh proses yang sabar. Setiap tahap dikerjakan dengan perhitungan, mulai dari memilih bahan hingga menentukan cara pengolahan yang tepat agar rasa, aroma, dan tekstur singkong dapat berkembang secara maksimal.

Ketelitian itu tampak dalam penggunaan bahan yang sangat spesifik. Pada resep Ontbijtkoek Singkong, misalnya, telur itik disarankan sebagai alternatif telur ayam untuk menghadirkan aroma yang lebih kuat sekaligus tekstur yang lebih kaya. Pemilihan ini memperlihatkan bahwa bahan pelengkap bukan sekadar tambahan, melainkan bagian penting yang menentukan keutuhan karakter sebuah hidangan.

Teknik yang digunakan pun menunjukkan kecerdikan para peracik resep pada masa itu. Dalam pembuatan Spekkoek Singkong dan lumpia, parutan singkong diratakan setipis mungkin di atas tutup panci yang ditempatkan di atas air mendidih. Cara sederhana tetapi presisi ini menghasilkan lembaran adonan yang tipis, lentur, dan cukup kuat untuk digulung. Tanpa mesin modern, mereka mampu menciptakan hasil yang sulit dicapai apabila prosesnya dilakukan secara tergesa-gesa.

Perhatian terhadap detail juga terlihat pada penggunaan mata ula, yakni santan yang sangat kental, serta kinca gula merah yang dimasak bersama tiga lembar daun pandan hingga mencapai kekentalan sempurna. Kehadiran bumbu spekkoek semakin memperkaya aroma dengan lapisan rempah yang hangat dan mewah. Melalui sentuhan-sentuhan tersebut, singkong tidak lagi tampil sebagai bahan pangan sederhana, melainkan berubah menjadi sajian dengan kedalaman rasa dan wibawa yang istimewa.

Menelusuri kembali resep-resep Ny. H. Oeis dari tahun 1972 membuat kita menyadari bahwa gagasan tentang kedaulatan pangan sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Jawabannya telah lama tumbuh di dalam tanah, menunggu untuk digali dan dihargai kembali. Dahulu, kemewahan rasa lahir dari tangan-tangan yang tekun memarut, memeras pati, mengukus, dan mengolah bahan dengan penuh kesabaran. Kini, di tengah kebiasaan serba praktis, kita justru berisiko kehilangan pengetahuan berharga yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kenyataan bahwa masyarakat pada tahun 1972 telah mampu menciptakan taart dan spekkoek mewah dari singkong menjadi pengingat kuat di tengah tingginya ketergantungan kita pada gandum saat ini. Catatan tersebut tidak sekadar membangkitkan nostalgia, tetapi juga mengajak kita meninjau kembali pilihan pangan serta keberanian dalam memanfaatkan kekayaan bahan lokal.

Sudah saatnya kita menoleh ke masa lalu bukan untuk berhenti di sana, melainkan untuk menemukan arah menuju masa depan. Mengangkat kembali singkong dan hasil bumi lokal bukan hanya perkara menciptakan makanan yang lezat. Di dalamnya terdapat keberanian untuk mempercayai kemampuan sendiri, menjaga warisan pengetahuan, serta menegakkan harga diri bangsa yang bermula dari apa yang kita sajikan di meja makan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)