Perlindungan Pekerja Migran Dimulai dari Tata Kelola, Bukan Sekadar Penindakan

4 menit baca
Caca Cariwan
Ditulis oleh Caca Cariwan diterbitkan
Perlindungan terhadap pekerja migran semestinya tidak dimulai ketika masalah sudah terjadi, melainkan sejak negara mengelola proses keberangkatan mereka. (Sumber: Istimewa)
Perlindungan terhadap pekerja migran semestinya tidak dimulai ketika masalah sudah terjadi, melainkan sejak negara mengelola proses keberangkatan mereka. (Sumber: Istimewa)

*Diltulis oleh Caca Cariwan

Selama ini kita melihat pembahasan mengenai Pekerja Migran Indonesia (PMI) hampir selalu mengemuka ketika muncul persoalan. Perdagangan orang, keberangkatan nonprosedural, eksploitasi tenaga kerja, hingga kasus kekerasan di negara tujuan menjadi isu yang berulang menghiasi pemberitaan.

Padahal, perlindungan terhadap pekerja migran semestinya tidak dimulai ketika masalah sudah terjadi, melainkan sejak negara mengelola proses keberangkatan mereka.

Pandangan itu semakin menguat ketika mengikuti Rapat Koordinasi Tim Pengawasan Orang Asing (Tim PORA) Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2026 yang diselenggarakan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jawa Barat di Hotel Green Forest, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (30/7). Forum tersebut memang membahas pengawasan terhadap orang asing, tetapi saya menangkap pesan yang lebih luas, yakni pentingnya membangun tata kelola Pekerja Migran Indonesia sebagai bagian dari upaya mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Pendekatan seperti ini jauh lebih relevan dibanding hanya mengandalkan penindakan setelah kejahatan terjadi. Pencegahan selalu lebih murah, lebih manusiawi, dan lebih efektif daripada penanganan ketika korban sudah berjatuhan.

Dalam forum tersebut hadir berbagai anggota Tim PORA dari instansi di Jawa Barat. Tenaga Ahli Utama Bidang Ketenagakerjaan Kedeputian IV Kantor Staf Presiden, Bodro Pambuditomo, memaparkan materi mengenai perbaikan tata kelola dan perlindungan PMI sebagai langkah preventif terhadap TPPO. Sementara itu, Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jawa Barat, Iman Adianto, memperkenalkan Aplikasi Pelaporan Orang Asing (APOA) sebagai instrumen digital untuk mendukung pengawasan keimigrasian.

Jawa Barat memang memiliki tantangan yang tidak sederhana. Di satu sisi, provinsi ini menjadi wilayah dengan mobilitas warga negara asing yang tinggi. Di sisi lain, Jawa Barat juga menjadi salah satu daerah penyumbang Pekerja Migran Indonesia terbesar di tanah air. Dua kondisi tersebut menuntut pemerintah tidak hanya memperkuat pengawasan keimigrasian, tetapi juga memastikan masyarakat yang bekerja ke luar negeri memperoleh perlindungan sejak awal.

Hal tersebut juga disampaikan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jawa Barat, Syahrioma Delavino.

"Kita membutuhkan sinergi lintas instansi yang semakin kuat melalui pertukaran informasi yang cepat, akurat, dan berkesinambungan. Dengan kolaborasi seluruh anggota Tim PORA, pengawasan keimigrasian dan perlindungan masyarakat akan semakin optimal," ujar Syahrioma Delavino.

Kita pun bisa memahami pernyataan tersebut sebagai pengingat bahwa pengawasan keimigrasian saat ini tidak lagi dapat dijalankan oleh satu institusi secara sendiri-sendiri. Mobilitas manusia yang semakin tinggi membuat pertukaran informasi menjadi kebutuhan utama. Tanpa koordinasi yang baik, celah penyalahgunaan dokumen maupun keberangkatan pekerja migran secara nonprosedural akan tetap terbuka.

Hal lain yang menarik adalah penegasan bahwa perlindungan PMI sebenarnya dimulai dari pelayanan paspor. Selama ini masyarakat sering menganggap penerbitan paspor hanya sebagai pelayanan administrasi. Padahal, di balik proses tersebut terdapat fungsi pengawasan yang sangat penting untuk mendeteksi potensi penyalahgunaan dokumen perjalanan.

Data yang dipaparkan dalam forum tersebut memperlihatkan hal itu. Sepanjang Semester I Tahun 2026, sepuluh Kantor Imigrasi di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jawa Barat menerima 242.342 permohonan paspor dan menerbitkan 229.181 paspor. Pada periode yang sama, terdapat 1.639 permohonan paspor yang ditunda sebagai langkah pencegahan terhadap penyalahgunaan dokumen perjalanan, keberangkatan PMI nonprosedural, maupun potensi TPPO.

Angka tersebut bukan sekadar statistik pelayanan publik. Di balik setiap penundaan permohonan paspor terdapat upaya negara mencegah seseorang berangkat melalui jalur yang berisiko. Bisa jadi sebagian keputusan itu menyelamatkan calon pekerja migran dari praktik perdagangan orang atau eksploitasi tenaga kerja di kemudian hari.

Paparan Bodro Pambuditomo juga memberi perspektif lain bahwa persoalan pekerja migran tidak dapat dilepaskan dari kondisi ketenagakerjaan di dalam negeri. Tantangan berupa kualitas sumber daya manusia, ketersediaan lapangan pekerjaan, hingga belum optimalnya keterhubungan antara pencari kerja dan penyedia kerja menjadi faktor yang mendorong masyarakat mencari peluang di luar negeri.

Karena itu, saya sependapat bahwa perbaikan tata kelola PMI tidak cukup dilakukan oleh satu kementerian atau lembaga. Integrasi data antara Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan melalui Direktorat Jenderal Imigrasi, Kementerian Ketenagakerjaan, serta Kementerian Luar Negeri menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Pendataan juga harus dibuat sederhana sehingga tidak justru menyulitkan masyarakat yang ingin bekerja secara legal.

Saya juga tertarik pada pandangan bahwa migrasi merupakan bagian dari hak asasi manusia. Setiap orang memiliki hak untuk bergerak, memperoleh kehidupan yang lebih baik, dan mendapatkan perlindungan hukum. Karena itu, negara bukan hanya bertugas mengawasi, tetapi juga memastikan setiap calon pekerja migran memperoleh informasi yang benar sehingga keputusan untuk bekerja di luar negeri benar-benar diambil secara sadar dan melalui prosedur yang sah.

Selain isu pekerja migran, saya melihat sosialisasi Aplikasi Pelaporan Orang Asing (APOA) menjadi salah satu langkah yang patut diapresiasi. Digitalisasi pelaporan tamu warga negara asing oleh pengelola tempat penginapan tidak hanya mempermudah pemenuhan kewajiban sesuai Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, tetapi juga mempercepat pertukaran informasi antarpemangku kepentingan. Dalam konteks pengawasan keimigrasian, kecepatan memperoleh data sering kali menjadi faktor penentu efektivitas pengawasan.

Pada akhirnya, saya memandang rapat koordinasi seperti ini tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Nilai terbesarnya justru terletak pada tindak lanjut yang lahir setelah para pemangku kepentingan duduk bersama. Rekomendasi yang dihasilkan harus benar-benar diterjemahkan menjadi langkah nyata di lapangan.

Saya optimistis bahwa sinergi antara pemerintah daerah, Direktorat Jenderal Imigrasi, BP2MI, aparat penegak hukum, TNI, Polri, serta berbagai instansi terkait akan memperkuat perlindungan terhadap Pekerja Migran Indonesia. Pada saat yang sama, kolaborasi tersebut juga akan memperkuat pengawasan keimigrasian sehingga Jawa Barat tetap menjadi wilayah yang aman, tertib, dan kondusif. Bagi saya, keberhasilan perlindungan pekerja migran tidak diukur dari banyaknya kasus yang berhasil ditangani, melainkan dari semakin sedikitnya warga negara yang menjadi korban karena negara mampu mencegah risikonya sejak awal. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Caca Cariwan
Tentang Caca Cariwan
Pendidikan S1,seorang penulis aktif di wilayah Bandung Raya dan Jawa Barat

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)