Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)

Tanpa kita sadari, di era digital ini, kita mulai terjebak dengan situasi yang diistilahkan sebagai alone together. Kita merasa nyaman dengan interaksi sosial di ruang maya. Tapi, kita mulai kehilangan rasa empati terhadap sesama manusia.

Tentu, kita tidak bisa menampik kemajuan teknologi informasi yang tumbuh secara pesat dan tumbuh bagai jamur. Ini sebuah revolusi industri serta logika, yang kurang lebih dianggap sebagai bagian dari perubahan zaman menuju posmodernis. Dampaknya, dalam sebuah revolusi pasti ada kaum yang termarjinalkan.

Apakah revolusi logika telah membawa kita kepada situasi yang lebih nyaman? Atau memang kita dipaksakan menerima peradaban yang serba abstrak? Jika kita kilas balik sejarah masa lalu, Revolusi Perancis menjadi kebangkitan pemikiran moderat yang akhirnya meminggirkan kaum buruh yang termarjinalkan. Tumbuhnya mesin kapitalis secara besar-besaran.

Pemikiran-pemikiran kuno yang masih terpengaruh oleh konsep mitologi, dianggap rendah dan tidak mampu bersaing dengan konsep hidup yang berorientasi pada kemajuan zaman. Budaya lama yang sarat dengan kemurnian tradisi lokal, dianggap tidak lagi sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman. Indonesia sendiri mengalami lompatan budaya setelah kemerdekaan.

Sebagaimana sejarah yang kita baca, sebelum kemerdekaan Indonesia, budaya lokal yang mempertahankan nilai-nilai tradisional, yang cara penyebaran informasinya dilakukan secara lisan menjadikan sebagian besar masyarakat merasa tertinggal dengan perubahan zaman yang semakin modern. Sementara lebih dari sebagian besar masyarakat Indonesia masih dalam taraf buta huruf.

Kita dipaksakan menerima zaman modern, tanpa sempat melewati fase demi fase dalam menyeimbangkan kultur nenek moyang dengan kultur modern yang sudah dibungkus oleh gerakan kapitalisme.

Munculnya stigma modern, telah mengubah cara dan karakteristik masyarakat. Cara-cara konvensional yang bertransformasi ke sistem digital, telah mengubah perilaku manusia yang lebih cenderung kepada budaya konsumtif. Ruang publik semakin mudah dijangkau lewat ruang maya (siber), tanpa keharusan kita harus melewati pendidikan khusus. Siapa saja bisa menjangkaunya.

Kenapa akhirnya kita terjebak dalam situasi alone together? Teknologi telah mengubah kita berinteraksi dan menghubungkan diri dengan orang lain. Media sosial sering membuat kita lebih nyaman berinteraksi dengan teknologi dari pada manusia sesungguhnya.

Hal ini mengurangi interaksi tatap muka; menurunkan empati dan menghambat kemampuan kita untuk membantu hubungan yang bermakna. Kita menjadi lebih terhubung dengan bahasa-bahasa simbol yang digunakan secara umum pada media sosial (jejaring sosial), yang mungkin kita sendiri tidak paham maknanya (makna denotatif). Kita terbiasa dengan kebiasaan copy paste, karena ruang siber selalu bersifat universal.

Fenomena alone together (sendiri namun bersama) menggambarkan keadaan ketika seseorang secara fisik berada di tengah banyak orang atau terhubung dengan banyak orang melalui media sosial, tetapi secara emosional merasa kesepian, terasing, atau tidak memiliki hubungan yang mendalam. Istilah ini dipopulerkan oleh Sherry Turkle dalam bukunya “Alone Together”.

Hal tersebut menjadikan kita masuk dalam situasi “alone together”. Silang pendapat ini mengacu pada situasi dimana kita merasa terhubung dengan orang lain melalui teknologi. Namun, pada saat yang sama merasa kesepian dan kurangnya pendekatan emosional yang sebenarnya.

Kita, perlu untuk merenungkan dampak teknologi pada kehidupan sosial kita dan mencari keseimbangan antara koneksitas digital dan kebutuhan akan hubungan manusia yang nyata. Apakah kita masuk dalam situasi “alone together”?

Mengapa kita sering terjebak dalam situasi “Alone Together”?

Menurut Sherry Turkle, teknologi digital menawarkan kemudahan untuk selalu terhubung, tetapi sering kali mengurangi kualitas percakapan yang mendalam. Kita memiliki banyak kontak, tetapi sedikit hubungan yang benar-benar intim.

“Kita mengharapkan lebih banyak dari teknologi dan lebih sedikit dari sesama manusia.”

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)

Media sosial membuat interaksi menjadi cepat, singkat, dan instan. Akibatnya, hubungan sosial cenderung dangkal dan kurang memberikan dukungan emosional yang nyata (koneksi menggantikan relasi).

Pemikir sosiologi Erving Goffman menjelaskan bahwa manusia cenderung menampilkan “panggung depan” dalam kehidupan sosial. Di media sosial, kecenderungan ini semakin kuat. Orang lebih banyak menampilkan versi terbaik dirinya daripada realitas yang sebenarnya.

Akibatnya, banyak pengguna merasa: harus selalu terlihat bahagia; Takut menunjukkan kelemahan; Sulit membangun hubungan yang autentik. Ini yang diistilahkan sebagai budaya pencitraan diri.

Teori perbandingan sosial dari Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Di media sosial, kita melihat: kesuksesan orang lain; liburan orang lain; prestasi orang lain. Namun jarang melihat perjuangan di baliknya. Hal ini dapat memicu perasaan kurang berharga dan kesepian (perbandingan sosial yang berlebihan).

Menurut penelitian yang sering dikutip dalam kajian komunikasi digital, kehadiran telepon genggam saat percakapan berlangsung dapat menurunkan kualitas kedekatan emosional karena perhatian terbagi.

Seseorang bisa duduk bersama keluarga atau teman, tetapi pikirannya berada di ruang digital lain. Secara fisik hadir, secara psikologis tidak sepenuhnya hadir (interaksi digital mengurangi kehadiran nyata).

Media sosial sering mendorong relasi menjadi Aku-Itu: orang dipandang sebagai profil, angka pengikut, atau sumber validasi, bukan sebagai pribadi yang utuh.

Dampak fenomena alone together: meningkatnya rasa kesepian meskipun memiliki banyak teman daring; menurunnya kualitas komunikasi tatap muka; kecemasan sosial dan ketergantungan pada validasi digital; berkurangnya empati dan kemampuan mendengarkan; menurunnya kesehatan mental pada sebagian pengguna.

Ada beberapa solusi yang ditawarkan para ahli, antara lain:

Sherry Turkle menekankan pentingnya percakapan langsung (face-to-face conversation). Percakapan mendalam melatih empati, kesabaran, dan kemampuan memahami orang lain. Teori ini untuk mengembalikan budaya percakapan.

Fokuslah pada kualitas hubungan, bukan jumlah pengikut atau teman. Beberapa sahabat yang benar-benar memahami kita sering lebih bermakna daripada ratusan koneksi digital. Secara umum bermakna membangun relasi yang autentik.

Gunakan teknologi secara sadar: batasi waktu media sosial; hindari penggunaan gawai saat makan bersama keluarga; tetapkan waktu bebas layar setiap hari. Ini adalah konsep digital mindfulness.

Bergabung dengan komunitas seni, sastra, pendidikan, keagamaan, atau kegiatan sosial dapat memperkuat rasa memiliki dan mengurangi keterasingan. Pengembangan dari komunitas nyata.

Ketika berbicara dengan seseorang: dengarkan tanpa terganggu notifikasi, berikan perhatian penuh, bangun dialog yang jujur dan terbuka. Konsep ini untuk membangun empati dan kehadiran secara nyata.

Fenomena alone together muncul karena teknologi memudahkan koneksi tetapi tidak selalu menghasilkan kedekatan. Kita hidup dalam paradoks: semakin mudah berkomunikasi, semakin besar pula risiko merasa kesepian jika komunikasi tersebut kehilangan kedalaman. Solusinya bukan meninggalkan teknologi, melainkan menggunakannya secara lebih manusiawi—menjadikan teknologi sebagai sarana memperkuat hubungan, bukan pengganti hubungan itu sendiri. Dalam pendidikan dan kehidupan sosial, tantangan abad digital bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi, melainkan juga cara tetap menjadi manusia yang mampu hadir, mendengar, dan memahami sesamanya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)