AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

5 menit baca
Nikita Inggrida Gotami
Ditulis oleh Nikita Inggrida Gotami diterbitkan
Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)

Dunia seni visual kini tengah menghadapi perubahan besar seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang sanggup menciptakan gambar hanya dalam beberapa detik. Generator gambar berbasis AI seperti Midjourney dan Stable Diffusion sering dipandang sebagai terobosan yang membuat kreativitas lebih mudah diakses oleh banyak orang. Akan tetapi, di balik kemudahan menghasilkan visual secara instan, efisiensi tersebut juga memunculkan kekhawatiran yang mendalam di kalangan komunitas kreatif dunia.

AI tidak mampu menciptakan karya dari kekosongan; sistem ini harus dilatih menggunakan miliaran karya buatan seniman manusia yang dikumpulkan dari internet tanpa persetujuan langsung. Kondisi tersebut memunculkan perdebatan etis dan hukum mengenai batas antara kemajuan teknologi dan bentuk eksploitasi. Walaupun AI Art menawarkan kecepatan dan efisiensi, lemahnya regulasi serta penggunaan data tanpa izin menjadikannya ancaman nyata yang berpotensi “mengambil” sumber penghidupan sekaligus mengikis nilai orisinalitas seniman pada masa mendatang.

Salah satu momen penting dalam perkembangan generator gambar berbasis kecerdasan buatan terjadi pada tahun 2021 ketika DALL-E, model text-to-image yang dikembangkan oleh OpenAI, diperkenalkan kepada publik (History of generative AI, 2026). Pada tahap awal, kemampuan DALL-E masih cukup terbatas sehingga gambar yang dihasilkannya kerap terlihat kurang rinci, tidak konsisten, atau belum sepenuhnya mencerminkan deskripsi yang diberikan pengguna. Meski demikian, teknologi ini berhasil menarik perhatian yang sangat luas.

DALL-E menjadi salah satu sistem pertama yang dapat mengubah instruksi berbentuk teks menjadi gambar secara otomatis, sehingga membuka peluang baru dalam penciptaan karya visual. Di samping itu, akses yang relatif mudah terhadap teknologi tersebut memungkinkan masyarakat umum menghasilkan visual tanpa harus menguasai keterampilan menggambar atau desain secara mendalam. Kehadiran DALL-E kemudian menandai awal meningkatnya popularitas generator gambar berbasis AI dan mendorong munculnya berbagai platform serupa dengan kemampuan yang lebih maju pada tahun-tahun berikutnya.

Salah satu kritik utama terhadap AI Art berkaitan dengan penggunaan karya seni sebagai data pelatihan tanpa izin ataupun persetujuan dari para penciptanya. Isu ini menjadi kontroversial karena model AI image generator dilatih menggunakan jutaan hingga miliaran gambar yang dihimpun dari internet. Melalui proses tersebut, AI mempelajari beragam pola, teknik, serta gaya visual untuk menghasilkan gambar baru berdasarkan perintah pengguna. Walaupun output yang dihasilkan bukan merupakan salinan langsung, banyak seniman menilai bahwa penggunaan karya mereka tanpa persetujuan tetap menimbulkan persoalan etis dan dapat merugikan hak serta nilai ekonomi dari karya kreatif yang mereka buat (Julia, 2025).

Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)

Salah satu seniman yang sering dikaitkan dengan fenomena AI Art adalah Hayao Miyazaki, pendiri Studio Ghibli. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak gambar hasil AI menampilkan karakter visual yang mirip dengan gaya khas karyanya, seperti ilustrasi bernuansa animasi Jepang, penggunaan warna hangat yang cenderung kekuningan, serta latar fantasi yang kuat. Karakteristik tersebut telah lama menjadi identitas visual yang melekat pada berbagai karya Studio Ghibli. Miyazaki sendiri pernah menyampaikan penolakan dan kritik terhadap penggunaan AI dalam proses penciptaan seni. Karena itu, pemanfaatan gaya visual yang menyerupai karyanya tanpa izin dipandang sebagai salah satu kontroversi dalam perkembangan AI Art (European Innovation Council and SMEs Executive Agency, 2025).

Dari perspektif hukum, keadaan ini memunculkan sejumlah pertanyaan penting. Walaupun “gaya” seorang seniman pada dasarnya tidak memperoleh perlindungan hukum kekayaan intelektual, karya yang mewujudkan gaya tersebut tetap dilindungi. Berdasarkan Konvensi Bern yang mengatur hak cipta secara internasional, reproduksi, adaptasi, maupun transformasi sebuah karya memerlukan izin dari pemegang hak cipta. Karena itu, jika model AI dilatih menggunakan gambar milik Studio Ghibli yang dilindungi hak cipta tanpa persetujuan, tindakan tersebut berpotensi dikategorikan sebagai pelanggaran hak cipta. (European Innovation Council and SMEs Executive Agency, 2025).

Perkembangan AI Art juga memunculkan kekhawatiran bahwa teknologi ini dapat mempersempit peluang kerja bagi seniman dan pekerja di sektor kreatif. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan ilustrator, desainer grafis, atau concept artist kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit melalui generator gambar berbasis AI dengan biaya yang jauh lebih murah. Akibatnya, sebagian perusahaan maupun individu mungkin lebih memilih menggunakan AI daripada merekrut tenaga kreatif manusia.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa profesi kreatif akan semakin kehilangan nilai, terutama bagi pekerja lepas dan seniman pemula yang mengandalkan komisi atau proyek sebagai sumber penghasilan. Walaupun AI dapat dimanfaatkan sebagai alat yang membantu meningkatkan produktivitas, banyak pihak menilai bahwa penggunaannya perlu disertai perlindungan bagi pekerja kreatif agar kemajuan teknologi tidak mengancam keberlangsungan profesi di bidang seni dan desain (Good Law Project, 2025).

Salah satu kritik yang sering diarahkan kepada AI Art adalah pandangan bahwa karya yang dihasilkannya tidak memiliki “jiwa” sebagaimana karya yang dibuat manusia. Pada umumnya, sebuah karya seni bukan hanya menampilkan hasil visual, tetapi juga merefleksikan emosi, pengalaman hidup, nilai, serta sudut pandang penciptanya. Sebaliknya, AI menghasilkan gambar berdasarkan pola dan data yang dipelajari dari jutaan karya yang sudah ada tanpa memiliki perasaan, kesadaran, ataupun pengalaman pribadi. Walaupun hasilnya dapat terlihat memukau dan secara teknis sangat baik, banyak seniman serta penikmat seni beranggapan bahwa AI Art belum mampu menghadirkan kedalaman makna dan ekspresi personal yang menjadi inti dari sebuah karya seni (Williams, n.d).

AI Art merupakan inovasi yang menghadirkan berbagai manfaat, termasuk meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi dalam proses berkarya. Namun, perkembangan teknologi ini yang belum didukung oleh regulasi yang memadai berpotensi menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari pelanggaran hak cipta hingga devaluasi proses kreatif dan berkurangnya kesempatan kerja bagi seniman. Oleh sebab itu, diperlukan aturan yang etis untuk melindungi hak para kreator sekaligus membangun ekosistem kreatif yang sehat. Pada akhirnya, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat pendukung dalam berkarya, bukan sebagai pengganti seniman, karena kreativitas, emosi, dan pengalaman manusia tidak dapat sepenuhnya direplikasi oleh kecerdasan buatan.

Untuk menjaga keberlanjutan ekosistem seni di era AI Art, perlu ada kampanye yang mengajak masyarakat untuk lebih menghargai serta mendukung karya seniman lokal maupun kreator manusia. Kampanye tersebut dapat dijalankan melalui media sosial, pameran, dan berbagai program edukasi yang menyoroti pentingnya proses kreatif. Dengan meningkatnya apresiasi terhadap karya manusia, perkembangan teknologi AI dan keberlangsungan profesi seniman dapat tumbuh secara lebih seimbang. (*)

Daftar Pustaka

  • European Innovation Council and SMEs Executive Agency. (2025, April 15). Studio Ghibli vs AI: Tribute or copyright infringement? IP Helpdesk. https://intellectual-property-helpdesk.ec.europa.eu/news-events/news/studio-ghibli-vs-ai-tribute-or-copyright-infringement-2025-04-15_en
  • Good Law Project. (2025, April 11). AI giants are stealing our creative work. https://goodlawproject.org/ai-giants-are-stealing-our-creative-work/
  • History of generative AI. (2026, March 19). https://toloka.ai/blog/history-of-generative-ai/
  • Williams, J. (n.d.). A.I. art is soulless. The Communicator. https://chscommunicator.com/93344/opinion/2024/05/a-i-art-is-soulless/
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nikita Inggrida Gotami
College student who writes essays for fun!

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 12:36

Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama.

Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)