AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

5 menit baca
Nikita Inggrida Gotami
Ditulis oleh Nikita Inggrida Gotami diterbitkan Minggu 14 Jun 2026, 15:00 WIB
Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)

Dunia seni visual kini tengah menghadapi perubahan besar seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang sanggup menciptakan gambar hanya dalam beberapa detik. Generator gambar berbasis AI seperti Midjourney dan Stable Diffusion sering dipandang sebagai terobosan yang membuat kreativitas lebih mudah diakses oleh banyak orang. Akan tetapi, di balik kemudahan menghasilkan visual secara instan, efisiensi tersebut juga memunculkan kekhawatiran yang mendalam di kalangan komunitas kreatif dunia.

AI tidak mampu menciptakan karya dari kekosongan; sistem ini harus dilatih menggunakan miliaran karya buatan seniman manusia yang dikumpulkan dari internet tanpa persetujuan langsung. Kondisi tersebut memunculkan perdebatan etis dan hukum mengenai batas antara kemajuan teknologi dan bentuk eksploitasi. Walaupun AI Art menawarkan kecepatan dan efisiensi, lemahnya regulasi serta penggunaan data tanpa izin menjadikannya ancaman nyata yang berpotensi “mengambil” sumber penghidupan sekaligus mengikis nilai orisinalitas seniman pada masa mendatang.

Salah satu momen penting dalam perkembangan generator gambar berbasis kecerdasan buatan terjadi pada tahun 2021 ketika DALL-E, model text-to-image yang dikembangkan oleh OpenAI, diperkenalkan kepada publik (History of generative AI, 2026). Pada tahap awal, kemampuan DALL-E masih cukup terbatas sehingga gambar yang dihasilkannya kerap terlihat kurang rinci, tidak konsisten, atau belum sepenuhnya mencerminkan deskripsi yang diberikan pengguna. Meski demikian, teknologi ini berhasil menarik perhatian yang sangat luas.

DALL-E menjadi salah satu sistem pertama yang dapat mengubah instruksi berbentuk teks menjadi gambar secara otomatis, sehingga membuka peluang baru dalam penciptaan karya visual. Di samping itu, akses yang relatif mudah terhadap teknologi tersebut memungkinkan masyarakat umum menghasilkan visual tanpa harus menguasai keterampilan menggambar atau desain secara mendalam. Kehadiran DALL-E kemudian menandai awal meningkatnya popularitas generator gambar berbasis AI dan mendorong munculnya berbagai platform serupa dengan kemampuan yang lebih maju pada tahun-tahun berikutnya.

Salah satu kritik utama terhadap AI Art berkaitan dengan penggunaan karya seni sebagai data pelatihan tanpa izin ataupun persetujuan dari para penciptanya. Isu ini menjadi kontroversial karena model AI image generator dilatih menggunakan jutaan hingga miliaran gambar yang dihimpun dari internet. Melalui proses tersebut, AI mempelajari beragam pola, teknik, serta gaya visual untuk menghasilkan gambar baru berdasarkan perintah pengguna. Walaupun output yang dihasilkan bukan merupakan salinan langsung, banyak seniman menilai bahwa penggunaan karya mereka tanpa persetujuan tetap menimbulkan persoalan etis dan dapat merugikan hak serta nilai ekonomi dari karya kreatif yang mereka buat (Julia, 2025).

Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)

Salah satu seniman yang sering dikaitkan dengan fenomena AI Art adalah Hayao Miyazaki, pendiri Studio Ghibli. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak gambar hasil AI menampilkan karakter visual yang mirip dengan gaya khas karyanya, seperti ilustrasi bernuansa animasi Jepang, penggunaan warna hangat yang cenderung kekuningan, serta latar fantasi yang kuat. Karakteristik tersebut telah lama menjadi identitas visual yang melekat pada berbagai karya Studio Ghibli. Miyazaki sendiri pernah menyampaikan penolakan dan kritik terhadap penggunaan AI dalam proses penciptaan seni. Karena itu, pemanfaatan gaya visual yang menyerupai karyanya tanpa izin dipandang sebagai salah satu kontroversi dalam perkembangan AI Art (European Innovation Council and SMEs Executive Agency, 2025).

Dari perspektif hukum, keadaan ini memunculkan sejumlah pertanyaan penting. Walaupun “gaya” seorang seniman pada dasarnya tidak memperoleh perlindungan hukum kekayaan intelektual, karya yang mewujudkan gaya tersebut tetap dilindungi. Berdasarkan Konvensi Bern yang mengatur hak cipta secara internasional, reproduksi, adaptasi, maupun transformasi sebuah karya memerlukan izin dari pemegang hak cipta. Karena itu, jika model AI dilatih menggunakan gambar milik Studio Ghibli yang dilindungi hak cipta tanpa persetujuan, tindakan tersebut berpotensi dikategorikan sebagai pelanggaran hak cipta. (European Innovation Council and SMEs Executive Agency, 2025).

Perkembangan AI Art juga memunculkan kekhawatiran bahwa teknologi ini dapat mempersempit peluang kerja bagi seniman dan pekerja di sektor kreatif. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan ilustrator, desainer grafis, atau concept artist kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit melalui generator gambar berbasis AI dengan biaya yang jauh lebih murah. Akibatnya, sebagian perusahaan maupun individu mungkin lebih memilih menggunakan AI daripada merekrut tenaga kreatif manusia.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa profesi kreatif akan semakin kehilangan nilai, terutama bagi pekerja lepas dan seniman pemula yang mengandalkan komisi atau proyek sebagai sumber penghasilan. Walaupun AI dapat dimanfaatkan sebagai alat yang membantu meningkatkan produktivitas, banyak pihak menilai bahwa penggunaannya perlu disertai perlindungan bagi pekerja kreatif agar kemajuan teknologi tidak mengancam keberlangsungan profesi di bidang seni dan desain (Good Law Project, 2025).

Salah satu kritik yang sering diarahkan kepada AI Art adalah pandangan bahwa karya yang dihasilkannya tidak memiliki “jiwa” sebagaimana karya yang dibuat manusia. Pada umumnya, sebuah karya seni bukan hanya menampilkan hasil visual, tetapi juga merefleksikan emosi, pengalaman hidup, nilai, serta sudut pandang penciptanya. Sebaliknya, AI menghasilkan gambar berdasarkan pola dan data yang dipelajari dari jutaan karya yang sudah ada tanpa memiliki perasaan, kesadaran, ataupun pengalaman pribadi. Walaupun hasilnya dapat terlihat memukau dan secara teknis sangat baik, banyak seniman serta penikmat seni beranggapan bahwa AI Art belum mampu menghadirkan kedalaman makna dan ekspresi personal yang menjadi inti dari sebuah karya seni (Williams, n.d).

AI Art merupakan inovasi yang menghadirkan berbagai manfaat, termasuk meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi dalam proses berkarya. Namun, perkembangan teknologi ini yang belum didukung oleh regulasi yang memadai berpotensi menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari pelanggaran hak cipta hingga devaluasi proses kreatif dan berkurangnya kesempatan kerja bagi seniman. Oleh sebab itu, diperlukan aturan yang etis untuk melindungi hak para kreator sekaligus membangun ekosistem kreatif yang sehat. Pada akhirnya, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat pendukung dalam berkarya, bukan sebagai pengganti seniman, karena kreativitas, emosi, dan pengalaman manusia tidak dapat sepenuhnya direplikasi oleh kecerdasan buatan.

Untuk menjaga keberlanjutan ekosistem seni di era AI Art, perlu ada kampanye yang mengajak masyarakat untuk lebih menghargai serta mendukung karya seniman lokal maupun kreator manusia. Kampanye tersebut dapat dijalankan melalui media sosial, pameran, dan berbagai program edukasi yang menyoroti pentingnya proses kreatif. Dengan meningkatnya apresiasi terhadap karya manusia, perkembangan teknologi AI dan keberlangsungan profesi seniman dapat tumbuh secara lebih seimbang. (*)

Daftar Pustaka

  • European Innovation Council and SMEs Executive Agency. (2025, April 15). Studio Ghibli vs AI: Tribute or copyright infringement? IP Helpdesk. https://intellectual-property-helpdesk.ec.europa.eu/news-events/news/studio-ghibli-vs-ai-tribute-or-copyright-infringement-2025-04-15_en
  • Good Law Project. (2025, April 11). AI giants are stealing our creative work. https://goodlawproject.org/ai-giants-are-stealing-our-creative-work/
  • History of generative AI. (2026, March 19). https://toloka.ai/blog/history-of-generative-ai/
  • Williams, J. (n.d.). A.I. art is soulless. The Communicator. https://chscommunicator.com/93344/opinion/2024/05/a-i-art-is-soulless/
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nikita Inggrida Gotami
College student who writes essays for fun!

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 10:01

Mengenal DISPUSIPDA: Pusat Perpustakaan dan Pengarsipan di Bumi Priangan

DISPUSIPDA JABAR, merupakan perpustakaan dan pusat pengarsipan terbesar di Provinsi Jawa Barat.

Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Raffi Islam Madina)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 09:06

BBM Naik, Rakyat Kian Tercekik: Alarm bagi Kita Semua

Ketika semua harga naik, biasanya ada sesuatu yang harus "diturunkan".

Sebuah SPBU di Jl. Surapati Kota Bandung. (Foto: Abah Omtris)
Bandung 13 Jun 2026, 20:44

Sektor Perdagangan dan Industri Loyo, Kredit UMKM Jabar Sentuh Rp186,4 Triliun

Total kredit UMKM Jawa Barat tembus Rp186,4 triliun per Maret 2026. Namun, sektor perdagangan besar dan industri pengolahan justru mengalami kontraksi yoy.

Ilustrasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 13 Jun 2026, 19:45

Gaya Hidup Serba Cepat, Begini Cara Wanita Modern Pilih Tas Multifungsi yang Sesuai Jati Diri

Wanita urban masa kini cenderung mencari keseimbangan antara fungsionalitas yang tinggi dan pesan personal yang ingin mereka sampaikan kepada dunia melalui penampilan mereka.

Tren terbesar yang mendominasi panggung mode sehari-hari saat ini adalah tingginya permintaan terhadap tas yang bersifat multifungsi atau versatile. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 13 Jun 2026, 09:16

Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

Pemutaran film Menolak Punah di Bandung mengungkap dampak tersembunyi industri fast fashion, dari limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik bagi manusia.

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 20:23

Kenaikan Harga BBM, Peningkatan Biaya Operasional Kendaraan, dan Peluang Perpindahan Moda Transportasi

Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya operasional kendaraan dan membuka peluang perpindahan moda transportasi, asalkan didukung dengan angkutan umum yang berkualitas.

Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamina jenis Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 19:34

Dari Tjilakiplein ke Taman Lansia Kota Bandung

Perkembangan Taman Lansia dari masa Kolonial Belanda hingga masa kini yang menjadi taman ramah bagi lanjut usia yang inklusif.

Warga saat berada di Taman Lansia, Kota Bandung, Jumat 30 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 18:11

CRISPR-Cas9: Teknologi Penghasil Beras Unggul yang Dikembangkan Peneliti di China

Bisakah padi lokal yang berbulir kecil “diubah” menjadi bulir panjang? Pertanyaan ini mungkin terlihat seperti fiksi ilmiah.

Ilustrasi beras bulir panjang bersih dan minim zat kapur. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 17:17

Urgensi Drone untuk Mitigasi dan Penanggulangan Gempa

Pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sama dengan industri drone yang sudah memiliki sertifikasi atau mendapatkan pengesahan Design Organization Approval (DOA).

Ilustrasi drone untuk menanggulangi bencana gempa bumi. (Sumber: Meta AI | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 12 Jun 2026, 16:46

Itinerary Wisata Bandung 1–2 Hari, Jelajah Kota Kembang dalam Dua Zona yang Berbeda

Panduan itinerary Bandung 1–2 hari dengan rute wisata pusat kota dan Lembang. Cocok untuk liburan singkat tanpa menghabiskan banyak waktu di jalan.

Suasana Bandung dari ketinggian. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 16:16

Banjir Bandung: Bencana Kebijakan, Bukan Bencana Alam

Banjir tahunan di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang sudah bukan kejutan lagi, banjir datang setiap musim hujan, dan merendam puluhan ribu jiwa.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 15:32

Bojongmalaka, Tanjung yang Ditumbuhi Pohon Malaka

Pohon malaka itu batangnya bengkok-bengkok, tingginya antara 10 m sampai 19m.

Pohon malaka yang sedang berbuah lebat di puncak Gunung Pipisan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. (Foto: Ganjar Wigun)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 14:47

Disabilitas Antara Kemanusiaan dan Egaliter

Kaum disabilitas acapkali hanya dijadikan jargon politik, bahwa manusia adalah setara.

Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 13:21

Mandi Kembang sebagai Cara Perempuan Masa Kini Mengapresiasi Tubuh

Tren amandazahraism sebagai sarana pelestarian budaya, menjadikan mandi bunga yang dulunya dianggap mistis dan kolot sebagai bentuk self-care.

Ilustrasi mandi kembang. (Sumber: "Spa in DVN" by Dennis Wong)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 13:09

Mengenal Dunia Pelayanan Sosial Melalui Magang Berdampak

Mahasiswa Pendidikan Masyarakat UPI melaksanakan Program Magang Mandiri Berdampak di Dinas Sosial Kota Bandung.

Kegiatan Penjemputan Mahasiswa Magang oleh Pihak Kampus & Pihak Mitra.