Belanja atau Investasi? Mengelola THR di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

4 menit baca
Nurfarahim Sugih Lestari
Ditulis oleh Nurfarahim Sugih Lestari diterbitkan
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)

Setiap menjelang Hari Raya, jutaan pekerja di Indonesia menerima Tunjangan Hari Raya (THR). Bagi banyak orang, dana ini identik dengan belanja: membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan Lebaran, atau membiayai perjalanan mudik.

Namun di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini, muncul pertanyaan yang semakin relevan: apakah seluruh THR sebaiknya dihabiskan untuk konsumsi, atau justru sebagian perlu disisihkan untuk memperkuat kondisi keuangan di masa depan?

Kondisi ekonomi global saat ini juga memengaruhi keputusan keuangan rumah tangga. Laporan World Economic Outlook Update dari International Monetary Fund memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 berada di kisaran 3,3 persen. Angka ini menunjukkan bahwa ekonomi global masih tumbuh, tetapi tidak dalam fase ekspansi yang kuat.

Para ekonom sering menggambarkan situasi ini sebagai kondisi yang relatif stabil, tetapi tetap rapuh. Di satu sisi, pertumbuhan didorong oleh perkembangan teknologi dan investasi besar di sektor kecerdasan buatan. Di sisi lain, berbagai risiko masih membayangi, mulai dari ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan internasional, hingga tingginya utang pemerintah di banyak negara.

Konflik di berbagai kawasan juga berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memicu fluktuasi harga energi. Dalam situasi seperti ini, ekonomi dunia memang tidak sedang berada dalam krisis, tetapi juga jauh dari kondisi yang sepenuhnya aman.

Bagi rumah tangga, ketidakpastian global tersebut mungkin terasa jauh. Namun dampaknya dapat muncul secara tidak langsung, misalnya melalui perubahan harga barang, nilai tukar, atau dinamika lapangan pekerjaan. Dalam konteks inilah keputusan mengenai penggunaan dana tambahan seperti THR menjadi semakin penting.

Mengapa THR Hampir Selalu Habis untuk Konsumsi?

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sulit menemukan orang yang menghabiskan sebagian besar THR mereka untuk kebutuhan Lebaran. Fenomena ini sebenarnya dapat dijelaskan melalui teori ekonomi mengenai perilaku konsumsi.

Ekonom John Maynard Keynes menjelaskan bahwa ketika pendapatan seseorang meningkat, sebagian dari tambahan pendapatan tersebut cenderung digunakan untuk meningkatkan konsumsi. Dengan kata lain, bonus atau tunjangan sering kali langsung diterjemahkan menjadi pengeluaran tambahan.

Dalam konteks Hari Raya, dorongan konsumsi ini menjadi semakin kuat. Lebaran tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pribadi, tetapi juga dengan tradisi sosial: membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan bagi keluarga, memberi hadiah kepada kerabat, atau berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

Dari sudut pandang ekonomi, peningkatan konsumsi tersebut bukanlah sesuatu yang negatif. Justru dalam banyak kasus, belanja masyarakat saat hari raya ikut menggerakkan roda ekonomi.

Tanpa punya rupiah di dompet, kehadiran paylater menambah lapisan “keajaiban” baru, kita bisa membeli hari ini dan membayarnya nanti. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Tanpa punya rupiah di dompet, kehadiran paylater menambah lapisan “keajaiban” baru, kita bisa membeli hari ini dan membayarnya nanti. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)

Konsumsi sebagai Penggerak Ekonomi

Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu pilar utama perekonomian Indonesia. Lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berasal dari aktivitas konsumsi masyarakat.

Momentum Hari Raya biasanya menjadi salah satu periode ketika aktivitas ekonomi meningkat signifikan. Permintaan terhadap berbagai barang dan jasa naik, mulai dari makanan, pakaian, transportasi, hingga sektor pariwisata. Pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga sektor jasa turut merasakan dampak dari meningkatnya perputaran uang di masyarakat.

Dalam konteks ini, belanja menggunakan THR sebenarnya juga berkontribusi pada dinamika ekonomi yang lebih luas. Konsumsi masyarakat membantu menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak, terutama bagi sektor usaha kecil yang sangat bergantung pada momentum musiman seperti Lebaran.

Namun demikian, konsumsi yang berlebihan tanpa perencanaan juga dapat menimbulkan risiko bagi kondisi keuangan rumah tangga, terutama jika diikuti dengan penggunaan utang atau pengeluaran impulsif.

Belanja atau Investasi?

Pertanyaan mengenai apakah THR sebaiknya digunakan untuk belanja atau investasi sebenarnya tidak harus dijawab secara hitam-putih. Dalam praktiknya, keputusan finansial yang sehat biasanya berada di antara keduanya.

Momentum Hari Raya tetap menjadi waktu yang tepat untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan mempererat hubungan sosial. Namun pada saat yang sama, kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian juga mengingatkan pentingnya membangun ketahanan finansial.

Di sinilah pentingnya melihat THR bukan hanya sebagai dana untuk konsumsi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperbaiki kondisi keuangan jangka panjang. Sebagian orang mungkin memilih menyisihkan sebagian THR untuk tabungan, dana darurat, atau investasi sederhana seperti emas atau reksa dana.

Pendekatan seperti ini tidak berarti menghilangkan makna perayaan Hari Raya. Sebaliknya, ia justru mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan keamanan finansial di masa depan.

Warga saat berbelanja pada gelaran Pasar Tani Di Pelataran Parkir Kantor Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Jalan Surapati, Kota Bandung, Jumat, 6 September 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga saat berbelanja pada gelaran Pasar Tani Di Pelataran Parkir Kantor Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Jalan Surapati, Kota Bandung, Jumat, 6 September 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pada akhirnya, THR memang identik dengan kebahagiaan menjelang Hari Raya. Ia menjadi simbol kerja keras selama setahun sekaligus kesempatan untuk berbagi dengan orang-orang terdekat.

Namun, di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian dana tambahan ini juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat kondisi keuangan pribadi. Tidak semua THR harus dihabiskan sekaligus. Menyisihkan sebagian kecil saja untuk tabungan atau investasi dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun ketahanan finansial di masa depan.

Dengan cara itu, THR tidak hanya menghadirkan kebahagiaan sesaat saat Lebaran, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih panjang bagi kesejahteraan ekonomi rumah tangga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)