Ngabuburit Membaca Buku 'Ramadhan di Priangan'

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Ramadhan di Priangan karya Haryoto Kunto. (Foto: Istimewa)
Ramadhan di Priangan karya Haryoto Kunto. (Foto: Istimewa)

Kegiatan “Ngabuburit “ adalah menghabiskan waktu menunggu berbuka puasa. Biasanya dilakukan sambil berjalan sore atau sekedar melakukan aktifitas yang membuat waktu terasa cepat berlalu, hingga tak terasa kumandang adzan Magrib telah terdengar. 

Namun, di tahun ini cuaca setiap menjelang waktu “Ngabuburit“ didominasi oleh awan mendung, hujan dan angin yang kencang, sehingga untuk keluar rumah melakukan aktivitas “Ngabuburit” sepertinya harus saya urungkan.

Namun saya memiliki cara lain yang menyenangkan dalam menunggu waktu bedug tiba, salah satunya dengan membaca beberapa koleksi buku, terutama buku–buku sejarah Bandung karya sang kuncen Bandung bapak Haryoto Kunto. Salah satu buku yang sesuai dengan keadaan puasa saat ini adalah buku beliau yang berjudul “Ramadhan di Priangan” yang diterbitkan PT. Granesia pada tahun 2007 (cetakan kedua).

Banyak sekali hal menarik dalam buku ini yang akan membawa kita ke dimensi Bandung masa lalu saat bulan puasa tiba. Dan saya akan coba menceritakan beberapa bagian favorit saya dalam buku ini.

Pada halaman 21 diceritakan bahwa sampai tahun 1920 di kota Bandung ini masih sunyi sepi, belum ramai dengan hinar – binar kota padat seperti sekarang ini, bahkan tahun 1920 Bandung belum pantas disebut Parijs van Java, alias kota yang bermandikan cahaya, penuh pesona dan jantung kota yang terus berdenyut terus – menerus selama 24 jam.

Bandung pada saat itu hanya ramai di pagi hari saja, lewat Ashar atau sekitar pukul 4 sore, orang–orang sudah banyak yang bergegas pulang ke rumah mereka masing–masing. Kala itu, menurut banyak para sepuh Sunda disebut  “Jaman di imah betah ku rupa–rupa larangan, jeung bisi pamali“ (jaman betah di rumah nan penuh segala larangan, berbagai “pamali” dan kecemasan yang mungkin saja terjadi).

Salah satu contohnya adalah  terjatuh akibat naik pepohonan, tertusuk duri akibat bermain di kebun, jangan main dekat sumur nanti tenggelam, dan masih banyak kecemasan lainnya yang terkadang dibungkus oleh “pamali”. 

Oleh karena itu bisa dibayangkan betapa bosannya orang Bandung pada masa itu untuk menghabiskan waktu selama berpuasa. Namun, anak–anak Bandung pada saat itu sesekali ingin kabur bersama teman, sedikit jauh dari rumah dan kawasan kampungnya.

Bila menjelang petang, anak – anak belum pulang, kaum ibu selalu cemas, jangan–jangan si Ujang atau si Nyai hilang digondol kalong. Kalong yang dimaksud pada saat itu adalah sebangsa makhluk halus yang suka menculik anak–anak dengan tipuannya dalam menyerupai ibu, ayah atau saudara si anak.

Pada tahun 1920-an kawasan jalan Otista sekarang masih merupakan kawasan yang seram temaram penuh dengan pohon–pohon besar yang membuat bulu kuduk warga yang melintasinya merinding. Kebanyakan mereka takut akan begal yang suka bersembunyi di pepohonan tua itu. Sedangkan di ujung jalan Braga yang kala itu masih terkenal dengan sebutan Karrenweg atau jalan pedati, pada lokasi sekitar Bank Indonesia sekarang, ditumbuhi banyak pohon karet munding yang besar dan akar–akarnya yang menjuntai, dan jalan Braga utara itu pada masa tahun 1920-an disebut jalan Culik. 

Pada saat itu juga di sepanjang jalan Asia Afrika, Banceuy, Pasar Baru dan Braga, pada kanan dan kiri jalannya masih di tumbuhi pohon Asam, Kenari, Beringin, Huni, Tanjung, Angsanan nan teduh, rindang dan agak menyeramkan. Sehingga pada dekade tahun 1920-an jarang sekali ditemukan warga melakukan aktivitas “ Ngabuburit “ seperti kita sekarang, dan sudah menjadi aktivitas yang sangat umum dilakukan di bulan puasa. 

Bandung baheula itu dipenuhi kuburan, seperti yang terdapat di belakang Masjid Agung, Sitimunigar, Gang Asmi, Kalipah Apo, Ancol, Banceuy, Kebon Kawung, Cicendo, Kebon Jahe (Gor Pajajaran, sekarang), dan yang paling jarang diinformasikan bahwa di lahan sebelum timur Balai Kota  Bandung, dahulunya adalah sebuah kuburan lama warga kota ini. Sehingga yang paling sering didapati di saat bulan puasa terutama saat menjelang puasa dan menjelang Lebaran adalah para warga berbondong–bondong untuk membersihkan para makam tua tersebut dan mendoakannya. 

Baca Juga: Puasa Ramadan: Modal Spiritual Membangun Integritas

Selain itu aktivitas yang dahulu banyak ditemui di Bandung menjelang puasa adalah mandi beramai- ramai di sungai untuk membersihkan diri karena esok hari akan menghadapi hari pertama puasa. Warga berbondong–bondong ke arah sungai terdekat terutama Cikapundung yang saat itu airnya masih jernih untuk “ bebersih diri” menyambut bulan puasa.

Tradisi yang sejak dahulu telah populer dan sekarang masih dijalankan adalah tradisi “ munggah”, yaitu makan – makan bersama – sama dengan handai taulan dalam rangka menyambut bulan puasa. Dahulu di kota Bandung tradisi itu dilakukan sambil menggelar tikar di kawasan terbuka seperti alun–alun. Tradisi munggah identik dengan botram yang ternyata lahir karena pada saat masa kolonial para warga pribumi melihat banyak warga Eropa yang piknik di lapangan terbuka dan menyajikan makanan yang umumnya berupa butter dan ham, sehingga terdengar di telinga para pribumi yang melintas adalah “ botram”.

Bandung tempo dulu yang sepi, jauh dari hinar binar seperti sekarang telah banyak bertransformasi, bahkan sangat jauh berbeda. Dengan “ Ngabuburit” sambil membaca kisah masa lalu kita jadi dapat melihat hal dengan sudut pandang yang berbeda, dan juga mengisi pengetahuan kita tentang kota Bandung tercinta ini, dan tak terasa adzan pun berkumandang, “Ngabuburit” saya di tahun ini sungguh sangat menyenangkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)