Ngabuburit Membaca Buku 'Ramadhan di Priangan'

Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Selasa 10 Mar 2026, 12:08 WIB
Ramadhan di Priangan karya Haryoto Kunto. (Foto: Istimewa)

Ramadhan di Priangan karya Haryoto Kunto. (Foto: Istimewa)

Kegiatan “Ngabuburit “ adalah menghabiskan waktu menunggu berbuka puasa. Biasanya dilakukan sambil berjalan sore atau sekedar melakukan aktifitas yang membuat waktu terasa cepat berlalu, hingga tak terasa kumandang adzan Magrib telah terdengar. 

Namun, di tahun ini cuaca setiap menjelang waktu “Ngabuburit“ didominasi oleh awan mendung, hujan dan angin yang kencang, sehingga untuk keluar rumah melakukan aktivitas “Ngabuburit” sepertinya harus saya urungkan.

Namun saya memiliki cara lain yang menyenangkan dalam menunggu waktu bedug tiba, salah satunya dengan membaca beberapa koleksi buku, terutama buku–buku sejarah Bandung karya sang kuncen Bandung bapak Haryoto Kunto. Salah satu buku yang sesuai dengan keadaan puasa saat ini adalah buku beliau yang berjudul “Ramadhan di Priangan” yang diterbitkan PT. Granesia pada tahun 2007 (cetakan kedua).

Banyak sekali hal menarik dalam buku ini yang akan membawa kita ke dimensi Bandung masa lalu saat bulan puasa tiba. Dan saya akan coba menceritakan beberapa bagian favorit saya dalam buku ini.

Pada halaman 21 diceritakan bahwa sampai tahun 1920 di kota Bandung ini masih sunyi sepi, belum ramai dengan hinar – binar kota padat seperti sekarang ini, bahkan tahun 1920 Bandung belum pantas disebut Parijs van Java, alias kota yang bermandikan cahaya, penuh pesona dan jantung kota yang terus berdenyut terus – menerus selama 24 jam.

Bandung pada saat itu hanya ramai di pagi hari saja, lewat Ashar atau sekitar pukul 4 sore, orang–orang sudah banyak yang bergegas pulang ke rumah mereka masing–masing. Kala itu, menurut banyak para sepuh Sunda disebut  “Jaman di imah betah ku rupa–rupa larangan, jeung bisi pamali“ (jaman betah di rumah nan penuh segala larangan, berbagai “pamali” dan kecemasan yang mungkin saja terjadi).

Salah satu contohnya adalah  terjatuh akibat naik pepohonan, tertusuk duri akibat bermain di kebun, jangan main dekat sumur nanti tenggelam, dan masih banyak kecemasan lainnya yang terkadang dibungkus oleh “pamali”. 

Oleh karena itu bisa dibayangkan betapa bosannya orang Bandung pada masa itu untuk menghabiskan waktu selama berpuasa. Namun, anak–anak Bandung pada saat itu sesekali ingin kabur bersama teman, sedikit jauh dari rumah dan kawasan kampungnya.

Bila menjelang petang, anak – anak belum pulang, kaum ibu selalu cemas, jangan–jangan si Ujang atau si Nyai hilang digondol kalong. Kalong yang dimaksud pada saat itu adalah sebangsa makhluk halus yang suka menculik anak–anak dengan tipuannya dalam menyerupai ibu, ayah atau saudara si anak.

Pada tahun 1920-an kawasan jalan Otista sekarang masih merupakan kawasan yang seram temaram penuh dengan pohon–pohon besar yang membuat bulu kuduk warga yang melintasinya merinding. Kebanyakan mereka takut akan begal yang suka bersembunyi di pepohonan tua itu. Sedangkan di ujung jalan Braga yang kala itu masih terkenal dengan sebutan Karrenweg atau jalan pedati, pada lokasi sekitar Bank Indonesia sekarang, ditumbuhi banyak pohon karet munding yang besar dan akar–akarnya yang menjuntai, dan jalan Braga utara itu pada masa tahun 1920-an disebut jalan Culik. 

Pada saat itu juga di sepanjang jalan Asia Afrika, Banceuy, Pasar Baru dan Braga, pada kanan dan kiri jalannya masih di tumbuhi pohon Asam, Kenari, Beringin, Huni, Tanjung, Angsanan nan teduh, rindang dan agak menyeramkan. Sehingga pada dekade tahun 1920-an jarang sekali ditemukan warga melakukan aktivitas “ Ngabuburit “ seperti kita sekarang, dan sudah menjadi aktivitas yang sangat umum dilakukan di bulan puasa. 

Bandung baheula itu dipenuhi kuburan, seperti yang terdapat di belakang Masjid Agung, Sitimunigar, Gang Asmi, Kalipah Apo, Ancol, Banceuy, Kebon Kawung, Cicendo, Kebon Jahe (Gor Pajajaran, sekarang), dan yang paling jarang diinformasikan bahwa di lahan sebelum timur Balai Kota  Bandung, dahulunya adalah sebuah kuburan lama warga kota ini. Sehingga yang paling sering didapati di saat bulan puasa terutama saat menjelang puasa dan menjelang Lebaran adalah para warga berbondong–bondong untuk membersihkan para makam tua tersebut dan mendoakannya. 

Baca Juga: Puasa Ramadan: Modal Spiritual Membangun Integritas

Selain itu aktivitas yang dahulu banyak ditemui di Bandung menjelang puasa adalah mandi beramai- ramai di sungai untuk membersihkan diri karena esok hari akan menghadapi hari pertama puasa. Warga berbondong–bondong ke arah sungai terdekat terutama Cikapundung yang saat itu airnya masih jernih untuk “ bebersih diri” menyambut bulan puasa.

Tradisi yang sejak dahulu telah populer dan sekarang masih dijalankan adalah tradisi “ munggah”, yaitu makan – makan bersama – sama dengan handai taulan dalam rangka menyambut bulan puasa. Dahulu di kota Bandung tradisi itu dilakukan sambil menggelar tikar di kawasan terbuka seperti alun–alun. Tradisi munggah identik dengan botram yang ternyata lahir karena pada saat masa kolonial para warga pribumi melihat banyak warga Eropa yang piknik di lapangan terbuka dan menyajikan makanan yang umumnya berupa butter dan ham, sehingga terdengar di telinga para pribumi yang melintas adalah “ botram”.

Bandung tempo dulu yang sepi, jauh dari hinar binar seperti sekarang telah banyak bertransformasi, bahkan sangat jauh berbeda. Dengan “ Ngabuburit” sambil membaca kisah masa lalu kita jadi dapat melihat hal dengan sudut pandang yang berbeda, dan juga mengisi pengetahuan kita tentang kota Bandung tercinta ini, dan tak terasa adzan pun berkumandang, “Ngabuburit” saya di tahun ini sungguh sangat menyenangkan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)