Hikayat Pasar Buku Palasari Bandung, Terus Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

5 menit baca
Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Mildan Abdalloh diterbitkan
Kondisi Pasar Buku Palasari Bandung kini, terus bertahan di tengfah gempuran perubahan zaman. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Kondisi Pasar Buku Palasari Bandung kini, terus bertahan di tengfah gempuran perubahan zaman. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

AYOBANDUNG.ID — Generasi 90-an sudah tidak asing lagi dengan Pasar Buku Palasari, Kota Bandung. Pada masanya, deretan ratusan kios di pasar ini menjadi buruan para mahasiswa, pelajar, juga kutu buku dari seantero Jawa Barat.

Pasar Buku Palasari ada sejak era 80-an, ketika Pemerintah Kota Bandung pada waktu itu memindahkan pedagang buku-buku bekas yang biasa berjualan di sekitar Cikapundung.

Setidaknya itu yang diingat oleh Andri Candra, seorang pedagang buku Palasari, saat ayobandung menyambanginya, Rabu, 4 Februari 2026.

“Mungkin pemerintah Bandung ingin memusatkan perdagangan buku di Palasari, makanya pedagang dari Cikapundung dipindahkan ke sini,” ucapnya.

Kawasan Cikapundung memang pada waktu itu sudah terkenal dengan pasar berbau kertas. Selain penjualan buku-buku, baik baru maupun bekas, kawasan ini juga menjadi sentra perputaran koran di Kota Bandung.

Baca Juga: Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Masa Keemasan

Pemindahan para pedagang buku dari Cikapundung menjadikan Palasari sebagai pusat perputaran buku di Kota Kembang.

Sentra buku ini sempat menjelma sebagai tujuan para mahasiswa, pelajar, juga kutu buku untuk berburu buku-buku. Selama beberapa dekade, Palasari menjadi pusat penjualan buku di Bandung.

Pada waktu itu, satu kios saja bisa menjual puluhan eksemplar buku pelbagai judul kepada pelanggan. Tidak heran, setiap harinya Palasari selalu ramai dikunjungi para pembeli buku sejak pagi hingga sore hari.

“Kelebihan kami itu harganya lebih murah dibandingkan dengan buku yang dijual di toko buku,” katanya.

Kata murah tersebut memang masih melekat pada Pasar Buku Palasari hingga saat ini. Murahnya harga buku dikarenakan tidak hanya buku baru yang dijual, buku bekas pun tidak sulit untuk dicari di tempat ini. Selain itu, biaya produksi yang lebih rendah dibandingkan dengan toko buku besar yang harus menggaji karyawan juga memengaruhi harga.

Dengan branding sebagai pusat buku murah di Bandung, Palasari menjadi tujuan para pencari buku. Tak heran, pada dekade 80-an sampai awal 2000-an, Palasari selalu dijejali pencari buku. Para pedagang yang menempati sekitar 400 kios setiap harinya bisa menjual ribuan eksemplar buku.

“Satu kios saja dulu bisa menjual sampai 30 eksemplar buku,” ungkap pria paruh baya tersebut.

Baca Juga: Menghilangnya 'Tugu Sepatu' Ikonik Sentra Sepatu Cibaduyut

 (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
(Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Pusat Buku Klasik

Sebagai pasar yang dihuni oleh mantan penjual buku bekas di Cikapundung, Palasari memang banyak menjual buku-buku bekas, walaupun saat ini tidak sedikit pula buku baru yang dijajakan.

Namun, dengan latar belakang penjual buku bekas, Pasar Palasari bisa dikatakan sebagai pusat buku klasik. Buku-buku lawas pelbagai judul bisa didapatkan di pasar ini. Termasuk buku-buku yang sulit didapat di toko buku bermerek, yang justru bisa tersedia dengan mudah di Palasari.

Buku-buku filsafat yang relatif sulit ditemukan pun bisa tersedia di Palasari, tentu saja dengan harga yang lumayan miring.

“Salah satu keunikan kami itu, selain murah, juga banyak buku klasik yang jarang ditemukan,” ucapnya.

Buku lawas tersebut didapatkan dengan pelbagai cara, mulai dari stok lama hingga hasil pembelian dari pemilik lama atau buku bekas. Tidak heran jika Palasari bisa dikatakan sebagai pusat buku klasik Bandung.

Baca Juga: Hikayat Odading Mang Oleh, Legenda Internet Indonesia di Masa Pandemi

Masa-masa Sulit

Perkembangan zaman menjadikan Palasari turut tergerus. Bukan karena tidak lagi menjadi pusat buku, melainkan karena banyak faktor yang memengaruhi bisnis buku hingga menjadi jauh lebih sepi.

Perubahan zaman membawa banyak pengaruh terhadap bisnis buku. Kemajuan teknologi, khususnya, turut berkontribusi terhadap perubahan pola beli masyarakat.

Sebelum era 2000-an, hampir seluruh kebutuhan masih menggunakan kertas sebagai media, baik untuk pencetakan buku maupun keperluan lainnya.

Namun, kemunculan ebook yang membuat buku tidak harus dibeli dalam bentuk cetakan kertas, melainkan bisa dibeli secara digital, membuat penjualan buku di Palasari merosot tajam.

Kebijakan pemerintah yang melarang sekolah mewajibkan pembelian buku kepada siswa juga berdampak besar. Ditambah lagi bermunculannya aplikasi ebook gratis yang turut menggerus bisnis buku tradisional.

Kini, dari raksasa, Palasari berubah menjadi kutu yang hampir sulit untuk bertahan.

“Sekarang sehari kadang-kadang tidak menjual satu buku pun,” imbuh Andri.

Kondisi ini terlihat nyata. Jika pada dekade 2000-an Palasari dipenuhi sesak oleh pelanggan, saat ini justru terlihat sangat sepi. Bahkan, pedagang harus rela memanggil orang-orang yang lewat untuk sekadar melihat buku yang dijajakan.

Baca Juga: Jejak Sejarah Peuyeum Bandung, Kuliner Fermentasi Sunda yang Bertahan Lintas Zaman

 (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
(Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Mulai Merambah Penjualan Daring

Secara prinsip, para pedagang buku di Palasari masih melakukan pengelolaan secara tradisional. Bahkan dalam pengelolaan stok pun masih mengandalkan ingatan si penjual.

Tidak ada penataan khusus yang dilakukan pedagang di kiosnya. Hampir seluruhnya mengandalkan ingatan pemilik kios atau penjaga kios apabila ada pelanggan yang menanyakan judul buku tertentu.

Komputasi pun hanya dilakukan oleh kios-kios besar. Keterbatasan ruang menjadi alasan pedagang masih melakukan pengelolaan secara tradisional.

“Kiosnya kan kecil, bukunya banyak. Kalau ditata seperti toko buku besar, agak sulit dilakukan,” ucapnya.

Kendati demikian, bukan berarti para pedagang menolak perubahan zaman. Mereka justru sadar bahwa jika seluruh pola bisnis hanya mengandalkan cara konvensional, kondisi mereka akan semakin terpuruk.

Hampir seluruh pedagang saat ini tidak hanya mengandalkan penjualan secara konvensional dengan menunggu pembeli datang ke kios. Mereka sudah mulai menjual buku secara daring, baik melalui media sosial maupun marketplace.

Baca Juga: Sejarah Bandung jadi Pusat Tekstil, Serambi Kota Dolar yang Tergerus Zaman

“Kalau tidak menjual di marketplace, kios-kios yang ada di belakang sudah gulung tikar sejak lama,” katanya.

Walaupun sedikit terlambat, Andri pun melakukan hal yang sama. Selama ini, kios bukunya memang berada di pinggir jalan sehingga masih ada pembeli, meski harus susah payah. Namun, dengan kondisi pasar yang kini serba daring, Andri berupaya beradaptasi dengan mencoba peruntungan menjual buku secara online.

Terlepas dari mulai merambahnya pedagang Pasar Buku Palasari menjajakan buku di dunia maya, pasar ini tetap mempertahankan jati dirinya sebagai kios-kios yang menumpuk buku murah.

Mereka menolak ditaklukkan zaman dengan terus menjual buku-buku yang kini jarang dibeli masyarakat, bahkan pelajar, baik karena perubahan teknologi maupun menurunnya minat baca.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)