AYOBANDUNG.ID — Generasi 90-an sudah tidak asing lagi dengan Pasar Buku Palasari, Kota Bandung. Pada masanya, deretan ratusan kios di pasar ini menjadi buruan para mahasiswa, pelajar, juga kutu buku dari seantero Jawa Barat.
Pasar Buku Palasari ada sejak era 80-an, ketika Pemerintah Kota Bandung pada waktu itu memindahkan pedagang buku-buku bekas yang biasa berjualan di sekitar Cikapundung.
Setidaknya itu yang diingat oleh Andri Candra, seorang pedagang buku Palasari, saat ayobandung menyambanginya, Rabu, 4 Februari 2026.
“Mungkin pemerintah Bandung ingin memusatkan perdagangan buku di Palasari, makanya pedagang dari Cikapundung dipindahkan ke sini,” ucapnya.
Kawasan Cikapundung memang pada waktu itu sudah terkenal dengan pasar berbau kertas. Selain penjualan buku-buku, baik baru maupun bekas, kawasan ini juga menjadi sentra perputaran koran di Kota Bandung.
Baca Juga: Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban
Masa Keemasan
Pemindahan para pedagang buku dari Cikapundung menjadikan Palasari sebagai pusat perputaran buku di Kota Kembang.
Sentra buku ini sempat menjelma sebagai tujuan para mahasiswa, pelajar, juga kutu buku untuk berburu buku-buku. Selama beberapa dekade, Palasari menjadi pusat penjualan buku di Bandung.
Pada waktu itu, satu kios saja bisa menjual puluhan eksemplar buku pelbagai judul kepada pelanggan. Tidak heran, setiap harinya Palasari selalu ramai dikunjungi para pembeli buku sejak pagi hingga sore hari.
“Kelebihan kami itu harganya lebih murah dibandingkan dengan buku yang dijual di toko buku,” katanya.
Kata murah tersebut memang masih melekat pada Pasar Buku Palasari hingga saat ini. Murahnya harga buku dikarenakan tidak hanya buku baru yang dijual, buku bekas pun tidak sulit untuk dicari di tempat ini. Selain itu, biaya produksi yang lebih rendah dibandingkan dengan toko buku besar yang harus menggaji karyawan juga memengaruhi harga.
Dengan branding sebagai pusat buku murah di Bandung, Palasari menjadi tujuan para pencari buku. Tak heran, pada dekade 80-an sampai awal 2000-an, Palasari selalu dijejali pencari buku. Para pedagang yang menempati sekitar 400 kios setiap harinya bisa menjual ribuan eksemplar buku.
“Satu kios saja dulu bisa menjual sampai 30 eksemplar buku,” ungkap pria paruh baya tersebut.
Baca Juga: Menghilangnya 'Tugu Sepatu' Ikonik Sentra Sepatu Cibaduyut

Pusat Buku Klasik
Sebagai pasar yang dihuni oleh mantan penjual buku bekas di Cikapundung, Palasari memang banyak menjual buku-buku bekas, walaupun saat ini tidak sedikit pula buku baru yang dijajakan.
Namun, dengan latar belakang penjual buku bekas, Pasar Palasari bisa dikatakan sebagai pusat buku klasik. Buku-buku lawas pelbagai judul bisa didapatkan di pasar ini. Termasuk buku-buku yang sulit didapat di toko buku bermerek, yang justru bisa tersedia dengan mudah di Palasari.
Buku-buku filsafat yang relatif sulit ditemukan pun bisa tersedia di Palasari, tentu saja dengan harga yang lumayan miring.
“Salah satu keunikan kami itu, selain murah, juga banyak buku klasik yang jarang ditemukan,” ucapnya.
Buku lawas tersebut didapatkan dengan pelbagai cara, mulai dari stok lama hingga hasil pembelian dari pemilik lama atau buku bekas. Tidak heran jika Palasari bisa dikatakan sebagai pusat buku klasik Bandung.
Baca Juga: Hikayat Odading Mang Oleh, Legenda Internet Indonesia di Masa Pandemi
Masa-masa Sulit
Perkembangan zaman menjadikan Palasari turut tergerus. Bukan karena tidak lagi menjadi pusat buku, melainkan karena banyak faktor yang memengaruhi bisnis buku hingga menjadi jauh lebih sepi.
Perubahan zaman membawa banyak pengaruh terhadap bisnis buku. Kemajuan teknologi, khususnya, turut berkontribusi terhadap perubahan pola beli masyarakat.
Sebelum era 2000-an, hampir seluruh kebutuhan masih menggunakan kertas sebagai media, baik untuk pencetakan buku maupun keperluan lainnya.
Namun, kemunculan ebook yang membuat buku tidak harus dibeli dalam bentuk cetakan kertas, melainkan bisa dibeli secara digital, membuat penjualan buku di Palasari merosot tajam.
Kebijakan pemerintah yang melarang sekolah mewajibkan pembelian buku kepada siswa juga berdampak besar. Ditambah lagi bermunculannya aplikasi ebook gratis yang turut menggerus bisnis buku tradisional.
Kini, dari raksasa, Palasari berubah menjadi kutu yang hampir sulit untuk bertahan.
“Sekarang sehari kadang-kadang tidak menjual satu buku pun,” imbuh Andri.
Kondisi ini terlihat nyata. Jika pada dekade 2000-an Palasari dipenuhi sesak oleh pelanggan, saat ini justru terlihat sangat sepi. Bahkan, pedagang harus rela memanggil orang-orang yang lewat untuk sekadar melihat buku yang dijajakan.
Baca Juga: Jejak Sejarah Peuyeum Bandung, Kuliner Fermentasi Sunda yang Bertahan Lintas Zaman

Mulai Merambah Penjualan Daring
Secara prinsip, para pedagang buku di Palasari masih melakukan pengelolaan secara tradisional. Bahkan dalam pengelolaan stok pun masih mengandalkan ingatan si penjual.
Tidak ada penataan khusus yang dilakukan pedagang di kiosnya. Hampir seluruhnya mengandalkan ingatan pemilik kios atau penjaga kios apabila ada pelanggan yang menanyakan judul buku tertentu.
Komputasi pun hanya dilakukan oleh kios-kios besar. Keterbatasan ruang menjadi alasan pedagang masih melakukan pengelolaan secara tradisional.
“Kiosnya kan kecil, bukunya banyak. Kalau ditata seperti toko buku besar, agak sulit dilakukan,” ucapnya.
Kendati demikian, bukan berarti para pedagang menolak perubahan zaman. Mereka justru sadar bahwa jika seluruh pola bisnis hanya mengandalkan cara konvensional, kondisi mereka akan semakin terpuruk.
Hampir seluruh pedagang saat ini tidak hanya mengandalkan penjualan secara konvensional dengan menunggu pembeli datang ke kios. Mereka sudah mulai menjual buku secara daring, baik melalui media sosial maupun marketplace.
Baca Juga: Sejarah Bandung jadi Pusat Tekstil, Serambi Kota Dolar yang Tergerus Zaman
“Kalau tidak menjual di marketplace, kios-kios yang ada di belakang sudah gulung tikar sejak lama,” katanya.
Walaupun sedikit terlambat, Andri pun melakukan hal yang sama. Selama ini, kios bukunya memang berada di pinggir jalan sehingga masih ada pembeli, meski harus susah payah. Namun, dengan kondisi pasar yang kini serba daring, Andri berupaya beradaptasi dengan mencoba peruntungan menjual buku secara online.
Terlepas dari mulai merambahnya pedagang Pasar Buku Palasari menjajakan buku di dunia maya, pasar ini tetap mempertahankan jati dirinya sebagai kios-kios yang menumpuk buku murah.
Mereka menolak ditaklukkan zaman dengan terus menjual buku-buku yang kini jarang dibeli masyarakat, bahkan pelajar, baik karena perubahan teknologi maupun menurunnya minat baca.
